
"Pak Awan Surya Atmaja?"
Tiba di resto Pondok Bambu, Langit langsung menuju ke sebuah gazebo yang berada di dekat kolam ikan koi. Restoran dengan konsep back to nature sehingga tidak heran jika banyak gazebo yang berjajar di tempat ini. Langit harus menyapa lelaki yang tengah berada di dalam gazebo ini terlebih dahulu karena ia khawatir jika sampai salah orang.
"Pak Langit? Mari silakan duduk!"
Awan yang sebelumnya sibuk berselancar di dunia maya, kini pandangannya tertuju pada Langit. Ia abaikan sejenak ponselnya dan mempersilakan Langit untuk duduk.
"Terima kasih Pak."
Langit melepas alas kakinya dan masuk ke dalam gazebo. Kini dua lelaki itu duduk bersila dan saling berhadapan.
"Bagaimana perjalanan ke sini Pak? Apakah macet?" tanya Awan membuka pembicaraan. Ia mengeluarkan rokok dari saku celananya dan menawarkannya kepada Langit. "Rokok Pak?"
Langit tersenyum kecil seraya menolak dengan halus tawaran Awan ini. "Mohon maaf Pak, saya tidak merokok."
"Oh tidak merokok? Tapi tidak apa-apa kan Pak kalau saya sambil merokok? Takutnya Bapak alergi asap rokok," ujar Awan menjelaskan.
"Tidak apa-apa Pak. Silakan jika Bapak ingin merokok." Awan mengeluarkan ponsel dan juga tablet yang ia bawa. "Oh iya, menurut informasi dari Pak Ardi, Pak Awan ini sedang mencari rumah? Apakah itu betul?"
Awan menganggukkan kepalanya. "Betul sekali Pak Langit, saya ingin mencari rumah untuk saya hadiahkan kepada istri saya. Ya bahasa kerennya ingin memberikan kejutan untuk istri saya."
"Wah, pak Awan ini romantis dan sayang istri sekali ya, sampai-sampai ingin memberikan kejutan untuk istrinya," puji Langit dengan tawa lirih. "Lantas, rumah dengan nuansa seperti apa yang Pak Awan inginkan?"
"Untuk nuansa, mungkin tipe Skandinavia ya Pak. Tapi apapun itu tidaklah masalah, yang terpenting modern. Namun ada poin yang jauh lebih penting Pak," ucap Awan namun masih sedikit menggantung.
"Apa itu Pak? Katakan saja. Barangkali bisa saya realisasikan."
"Saya ingin rumah itu berada di daerah yang masih sepi, sunyi, dan asri. Kalau perlu dekat-dekat area persawahan agar lebih asri."
"Area persawahan? Serius Pak Awan ingin di daerah persawahan?" tanya Langit menegaskan.
"Memang ada yang salah jika saya menginginkan daerah persawahan, Pak?" tanya Awan balik. Ia sedikit heran mengapa lelaki bernama Langit ini seakan tidak percaya jika ia menginginkan area persawahan.
Langit hanya tersenyum simpul. Sejatinya tidak masalah jika client nya ini meminta di daerah persawahan namun Langit khawatir dengan lingkungan sekitar.
"Sebenarnya tidak masalah Pak, tapi saya khawatir akan keselamatan Bapak dan keluarga. Saya khawatir jika tiba-tiba ada binatang seperti ular yang memasuki rumah Pak Awan."
"Lantas, menurut Anda di kawasan seperti apa jika saya ingin suasana yang sunyi, sepi, astri dan sejuk?"
"Pak Awan tenang saja. Saya sudah ada pandangan kawasan tempat tinggal yang Bapak inginkan. Masih di daerah pedesaan Pak, di mana hawa dan suasananya terasa begitu asri." Langit memperlihatkan sebuah file yang ada di dalam tablet yang ia bawa. "Seperti ini Pak bentuk rumah dan keadaan sekitarnya. Saya jamin masih asri dan sunyi."
Awan memperhatikan dengan seksama foto rumah yang ditunjukkan oleh Langit. Sebuah rumah megah yang dikelilingi oleh pohon-pohon yang rimbun. Sangat sesuai dengan apa yang ia mau. Wajahnya berbinar terang. Ia seakan jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap rumah ini.
"Segera antarkan saya ke sana Pak!" titah Awan bersemangat. Ia merasa sudah cocok dengan desain rumah dan suasana yang ditunjukkan oleh Langit melalui tablet yang ia bawa.
"Kapan Pak?" ujar Langit memastikan.
__ADS_1
"Hari ini juga Pak. Saya sungguh tidak sabar untuk bisa segera memiliki rumah itu. Istri saya pasti sangat senang sekali!" terang Awan dengan wajah yang berbinar.
"Baiklah Pak, hari ini juga saya akan mengajak Pak Awan untuk melihat rumahnya secara langsung. Oh iya, pak Awan ini apakah pemilik PT N3P?"
Sebuah pertanyaan yang sedari tadi berada di dalam hati Langit pada akhirnya ia sampaikan juga. Langit ingin tahu apakah Awan yang duduk di hadapannya ini merupakan suami dari Cahya atau bukan.
Awan tentu menganggukkan kepala karena dia memang pemilik ekspedisi itu. "Betul sekali Pak Langit, saya memang pemilik PT N3P, ada apa ya Pak?"
Langit hanya bisa tersenyum kecil. "Tidak apa-apa Pak. Ternyata yang bertemu saya ini adalah salah satu pengusaha sukses di kota ini. Dan yang lebih mengagumkan lagi pak Awan terlihat begitu so sweet kepada istrinya."
"Hahaha pak Langit ini bisa saja. Ya, karena hasil kerja keras saya dan kepintaran otak dalam berbisnis, membuat saya berhasil dan sukses seperti ini."
Perkataan Awan terdengar biasa saja namun jika dipahami secara mendalam terbesit satu kesombongan di dalam sana. Awan sama sekali tidak melibatkan nama Allah dalam keberhasilannya ini. Bahkan lelaki itu sampai lupa jika kesuksesan yang ia raih merupakan salah satu bentuk dari kasih sayang Allah yang diberikan kepada hambaNya.
Langit tersenyum simpul. Ia merasa sudah terlalu jauh memberikan penilaian terhadap sesama manusia. Ia juga baru mengerti ternyata lelaki bernama Awan ini memang suami dari wanita yang ia tolong pagi tadi.
Meskipun terkesan sombong namun Langit tetap respect dengan keromantisan yang Awan tunjukkan. Lelaki ini sampai ingin memberi kejutan untuk sang istri dengan membelikan rumah. Ia merasa istri manapun pasti akan bahagia memiliki sosok suami seperti Awan ini.
"Semoga selalu lancar ya Pak bisnisnya," ucap Langit mengakhiri obrolannya dengan Awan saat terlihat dua orang waitress datang dengan membawa menu yang dipesan.
***
"Inilah rumah yang saya tawarkan Pak, bagaimana? Apakah sesuai dengan keinginan?"
Setelah bertemu di restoran Pondok Bambu, Langit mengajak Awan untuk melihat secara langsung rumah yang ia tawarkan. Rumah yang berada di pinggiran kota dengan suasana yang masih terasa begitu asri karena banyak terdapat pohon-pohon besar yang rimbun sekali.
Wajah Awan berbinar terang. Lelaki itu mengangguk-anggukkan kepala sebagai pertanda jika ia begitu puas akan rumah yang ditawarkan oleh Langit.
Tanpa banyak berpikir lagi, Awan langsung membuat keputusan untuk membeli rumah ini. Ia sudah sangat tidak sabar untuk memberikannya kepada Mega. Ia berencana, setelah Mega pulang dari kampung halaman, ia akan mengajak kekasihnya itu untuk melihat secara langsung rumah ini.
"Deal ya Pak?" ucap Langit seraya mengulurkan tangannya.
"Deal!" balas Awan sembari berjabat tangan dengan Langit.
"Untuk perjanjian jual belinya, mungkin tiga hari lagi ya Pak. Saya siapkan notaris terlebih dahulu."
"Tidak masalah Pak, karena rencananya baru tiga hari mendatang saya akan kembali kemari untuk melihat rumah ini dengan istri saya. Sekalian transaksi jual beli ini agar juga bisa disaksikan oleh istri saya."
"Baik Pak, nanti saya follow up lagi."
***
Mobil Awan melaju menembus rintik air hujan yang sudah mulai turun dari langit. Lelaki itu fokus dengan jalanan yang ada di depan sembari bersiul riang. Ia seakan sudah tidak sabar untuk menantikan momen dimana ia memperlihatkan rumah yang baru saja ia beli di hadapan Mega.
Awan melirik ke arah paper bag kecil yang berada di bangku samping kemudiannya. Di dalam paper bag itu terdapat dua kotak warna merah yang berisikan perhiasan. Ia ambil satu kotak dan ia tatap dengan lekat.
"Yang ini untuk Mega. Kalung dan gelang berlian dengan harga empat puluh puluh juta. Sedangkan yang masih ada di dalam paper bag itu untuk Cahya. Untuk Cahya cukup emas biasa saja dengan harga sepuluh juta."
Awan bermonolog lirih sembari tergelak pelan. Ia simpan kotak perhiasan itu di dalam dashboard. Awan yakin di dashboard mobil merupakan tempat yang paling aman untuk menyimpan perhiasan yang akan ia hadiahkan kepada Mega.
__ADS_1
Mobil yang dikemudikan oleh Awan telah tiba di halaman rumah. Ia masukkan mobil itu ke dalam garasi dan kepulangannya sudah di sambut oleh anak-anak dan istrinya.
"Yeeaaaahhhh .... Ayah pulang!"
Malika terlihat kegirangan saat melihat sang ayah sudah tiba di rumah. Layaknya anak gadis yang begitu merindukan sosok sang ayah karena sudah lama tidak berjumpa.
Awan tersenyum. Ia perlihatkan kantong plastik khas minimarket yang berisikan aneka frozen food, cokelat dan juga es krim. Setelah pulang dari toko perhiasan, Awan memang sengaja mampir ke minimarket untuk membelikan anak-anaknya ini buah tangan.
"Taraaaaaa ... Coba lihat, Ayah bawa apa untuk kalian?"
"Wah ... Ini pasti es krim ya Yah?" tebak Malika.
Awan menganggukkan kepala. "Ini sebagai permintaan maaf Ayah karena tadi pagi tidak bisa mengantarkan kalian ke sekolah ya Sayang."
"Kalau seperti ini Malika sudah tidak kesal lagi sama Ayah," ucap gadis kecil itu.
Awan melirik ke arah si sulung yang masih tetap menampakkan wajah datar. "Kakak, kenapa diam saja? Kakak tidak senang dibawakan es krim sama Ayah?"
"Biasa saja. Tadi pagi Bunda juga sudah membelikan es krim. Jadi, Alina tidak terlalu gembira."
Tanpa banyak kata Alina berlalu pergi untuk masuk ke dalam. Hal itulah yang membuat Awan semakin dibuat bertanya-tanya ada apa gerangan.
"Kok Alina terlihat berbeda seperti itu Ay?"
Aya sendiri sejatinya juga sedikit kebingungan namun ia berupaya untuk tetap tenang agar Awan tidak terlalu khawatir.
"Mungkin dia masih sedikit kecewa kepadamu, Mas. Tapi lambat laun sikapnya pasti bisa kembali seperti sedia kala. Kamu buktikan saja jika perhatianmu tidak berkurang untuk mereka."
"Baiklah, tiga hari ke depan, aku yang akan mengantarkan mereka ke sekolah." Awan merogoh saku celananya. Ia ambil kotak warna merah yang berisikan kalung emas untuk Cahya. "Aku punya sesuatu untukmu Ay. Dipakai ya!"
Cahya menerima kotak warna merah itu. Ia buka dan betapa terkejutnya ia saat melihat kalung emas berada di dalam sana.
"Mas, ini...."
"Ya, ini spesial untuk istri dan ibu dari anak-anakku!"
Hati Cahya serasa dibuat meleleh untuk kejutan yang diberikan oleh Awan. Ia pun memeluk erat tubuh lelakinya ini.
"Terima kasih banyak Mas. Terima kasih. Aku sungguh bahagia."
Awan mengusap-usap punggung Cahya dengan lembut. "Sama-sama Ay. Semoga kamu menyukainya!"
Marni yang tengah berada di ruang tamu, meneteskan air matanya. Ia merasa terharu sekaligus bahagia saat melihat hubungan anak dan menantunya kembali harmonis.
Terima kasih ya Allah, karena Engkau sudah mengembalikan Awan ku yang dulu.
.
.
__ADS_1
.