
Pesawat yang ditumpangi oleh Langit mendarat dengan sempurna tanpa ada satu hambatan pun. Lelaki itu menggeret kopernya dan bersegera menuju ke salah satu kafetaria yang masih berada di area bandara. Di sanalah ia meminta Angkasa untuk menjemputnya.
"Pak Langit!"
Suara bariton dari dalam kafe membuat perhatian Langit sedikit teralihkan. Ia menoleh ke arah sumber suara. Senyum mengembang kala sosok Angkasa sudah tiba di tempat ini. Langit segera mendekat ke arah salah satu orang kepercayaannya ini.
"Sudah dari tadi Ang?" tanya Langit membuka pembicaraan seraya mendaratkan bokongnya di kursi yang sudah tersedia.
Langit memesan kopi Espreso kepada waitress untuk ia nikmati di tanah kelahirannya ini. Kali ini, Langit bisa sedikit lebih tenang karena semalam, sang adik memberikan kabar jika keadaan sang papa mulai stabil meskipun masih belum sadarkan diri. Di tempat ini pula lah, ia ingin menyampaikan sesuatu kepada Angkasa.
"Baru sepuluh menit yang lalu saya tiba di sini Pak."
"Syukurlah karena belum terlalu lama kamu menunggu. Bagaimana keadaan perusahaan Ang? Semua lancar kan?"
"Alhamdulillah semua lancar Pak. Kami di sini tengah mempersiapkan segala keperluan untuk membangun proyek perumahan bersubsidi yang akan dimulai awal bulan depan."
"Alhamdulillah jika semua lancar Ang. Aku yakin betul jika kamu memang bisa aku andalkan." Langit menjeda sejenak ucapannya kala seorang waitress datang ke mejanya dengan membawa secangkir kopi Espreso pesannya. "Terima kasih Mbak!"
Waitress itu mengulas senyumnya seraya menundukkan wajah. "Silakan dinikmati Pak!"
"Pak Langit sendiri bagaimana? Apakah di Jogja perusahaan juga berkembang pesat?"
"Ya, alhamdulillah Ang. Ada saja rezeki dari Allah yang Dia berikan untuk perusahaanku yang baru beberapa bulan aku bangun di Jogja." Langit menghela napas sejenak dan ia hembuskan pelan. "Apa kamu sudah mendengar kabar tentang papaku?"
"Sudah Pak. Bahkan kemarin saya menyempatkan diri untuk ke rumah sakit menjenguk Pak Cakra."
"Karena itulah aku sengaja memintamu untuk kemari selain menjemputku, Ang."
"Maksud Pak Langit bagaimana?"
Langit menyeruput pelan kopi yang ia pesan. Rasa tenang dan rileks seketika dirasakan oleh lelaki itu kala kopi itu mengaliri kerongkongannya.
"Aku minta untuk sementara waktu kamu pindah ke Jogja. Tolong handle semua pekerjaan yang ada di sana. Aku harus berada di sini setidaknya sampai keadaan papa pulih kembali, Ang. Kasihan mama dan juga adikku jika tidak ada aku yang mendampingi mereka. Bagaimana? Kamu tidak keberatan bukan?"
Sejenak Angkasa memikirkan permintaan atasannya ini. Sejatinya ia juga merasa berat karena di sini pun ia memiliki tanggung jawab yang besar kepada keluarganya. Namun mau bagaimana lagi, mau tidak mau ia harus menerima perintah dari sang atasan.
__ADS_1
"Baiklah Pak, saya siap pindah ke Jogja untuk sementara waktu."
"Bagus Ang. Aku sangat berterima kasih kepadamu. Sejatinya aku tidak menginginkan semua menjadi seperti ini, namun mau bagaimana lagi? Tiba-tiba papaku mengalami kecelakaan seperti itu dan mengharuskanku mendampingi keluargaku."
Angkasa tersenyum penuh arti. Meskipun nantinya ia juga akan meninggalkan keluarganya, namun ia percaya jika semua akan baik-baik saja.
"Tidak apa-apa Pak. Memang sudah menjadi kewajiban seorang anak pertama untuk mendampingi keluarganya ketika mendapatkan ujian kehidupan."
"Sekali lagi aku ucapkan terima kasih Ang. Semoga di tanganmu, perusahaan yang ada di Jogja juga semakin berkembang pesat."
***
Cahya terlihat sibuk dengan laptop yang ada di hadapannya. Netra wanita itu sesekali terasa memanas hingga menimbulkan titik-titik bening di sudut mata kala melihat apa yang terpampang di hadapannya.
Dengan hati dan jiwa yang tegar, Cahya mencoba untuk tetap kuat menggabungkan beberapa video yang nantinya akan ia putar di saat acara ulang tahun perusahaan sang suami. Video-video yang tetap tersimpan rapi di dalam memori laptop sejak pertama kali Awan merintis perusahaannya.
Rasa sesak tiba-tiba menyergap dada wanita berusia dua puluh delapan tahun itu. Dalam memori otaknya masih tersimpan jelas bagaimana jatuh bangunnya ia dan suami mencoba untuk merintis dan membesarkan perusahaan ekspedisi ini.
"Kamu bahkan sudah lupa siapa yang menemani dan mendampingimu ketika kamu belum menjadi siapa-siapa Mas. Aku kira dengan limpahan rezeki yang Allah beri, memiliki dua putri yang pintar-pintar dan cantik, dan memiliki istri yang senantiasa setia mendampingimu apapun keadaanmu bisa memperbesar rasa syukurmu. Tapi ternyata yang terjadi adalah sebaliknya."
"Ternyata semurah itu marwahmu sebagai seorang suami. Kamu rela menukar kehormatanmu dengan kenikmatan sesaat dari wanita yang bahkan baru beberapa hari kamu kenal. Mata dan hatimu telah dibutakan oleh na*fsu sesaat yang kapanpun bisa menjadi jalan kehancuranmu!"
Dengan derai air mata yang masih mengalir membingkai wajahnya, Cahya kembali melanjutkan aktivitasnya menggunakan laptop ini. Sudut bibir wanita itu terangkat ke atas kala menggabungkan video terakhir yang ia miliki.
"Bersiaplah untuk kehancuranmu Mas. Kamu sudah menghancurkan rumah tangga yang sudah kita bina dan jangan terkejut jika karirmu pun juga akan hancur hingga hanya menyisakan puing-puing seperti luka yang berserakan di dasar jiwa!"
Cahya menutup laptop. Ia beranjak dari posisi duduknya seraya mengusap air matanya. Ia berjalan ke arah dapur untuk mengambil air minum. Namun pada saat ia melintas di depan kamar Marni, ia urungkan sejenak niatnya ke dapur. Wanita itu memilih untuk melihat apa yang tengah dilakukan oleh mertuanya di kamar.
Cahya hanya bisa tersenyum tipis kala melihat Marni yang tengah tertidur pulas. Entah perasaan apa yang menggelayuti hatinya. Ada satu sisi ia merasa tidak tega jika harus meninggalkan sang mertua jika nanti ia berpisah dari Awan. Namun di sisi lain, ia tetap tidak bisa untuk melanjutkan pernikahan ini. Di mana tidak ada lagi kesetiaan di dalamnya.
"Semoga ibu sehat selalu dan semoga kelak Mega bisa dengan ikhlas merawat dan melayani ibu."
Cahya kembali mengayunkan tungkai kakinya untuk menuju dapur. Di sela-sela ia meneguk air minum itu, tiba-tiba muncul sebuah keinginan untuk mengirimkan makan siang untuk Awan. Cahya bergegas untuk membuatkan menu kesukaan Awan yang nantinya akan ia antarkan ke kantor Awan.
"Sepertinya bukan ide yang buruk jika aku mengirimkan makan siang untuk Mas Awan sembari membawa anak-anak. Ya, sebelum semuanya berakhir, aku akan menggunakan waktu yang tersisa ini untuk memperlihatkan kebaikan-kebaikan di depan mas Awan."
***
__ADS_1
"Haaaaahhhh .... Rasanya aku sudah mulai bosan jalan-jalan sendirian seperti ini. Ke mana lagi ya sekarang?"
Mobil yang dikemudikan oleh Mega berhenti di persimpangan jalan di mana lampu lalu lintas menyala merah. Ia nampak kebingungan akan pergi ke mana setelah puas menghabiskan uang yang diberikan oleh Awan untuk shopping di mall.
Mega celingak-celinguk sembari memikirkan arah tujuannya hingga wajahnya pun nampak berbinar terang.
"Ahaaaa ... Kenapa aku tidak ke kantor Mas Awan saja? Di sana pasti aku tidak akan bosan seperti ini. Mas Awan pasti juga akan senang jika aku datangi. Ya, lebih baik aku ke kantor Mas Awan. Tidak ada salahnya juga kan kalau aku bertandang ke sana? Aku kan kekasih Mas Awan!"
Mega semakin mantap untuk bertandang ke kantor Awan. Sejauh ini, wanita itu memang belum pernah mengunjungi kantor Awan. Ia ingin sekali melihat bagaimana situasi dan kondisi perusahaan sang kekasih. Beberapa menit berada di perjalanan, akhirnya Mega tiba di depan kantor Awan.
Dengan melenggak-lenggok, Mega memasuki area lobi. Di sana ia berpapasan dengan seorang wanita yang nampak lumayan cantik.
"Mbak permisi!" sapa Mega di depan wanita ini.
Wanita yang tak lain adalah Dina itu hanya bisa mengernyitkan dahi kala melihat sosok wanita yang berpenampilan seksi datang ke tempat kerjanya ini.
"Iya Mbak, ada yang bisa saya bantu?"
"Ruangan pak Awan di sebelah mana ya? Saya sudah ada janji bertemu dengan pak Awan."
Dina nampak ragu dengan ucapan wanita seksi yang ada di hadapannya. Ia sampai bertanya dalam hati sejak kapan bos besar perusahaan ini memiliki relasi yang berpenampilan seperti ini. Rok mini di atas lutut dan blouse ketat yang membentuk lekuk-lekuk tubuhnya. Namun cepat-cepat Dina memupus segala pikiran buruknya.
"Oh, Mbaknya lurus saja lalu belok kiri. Nanti di sisi kanan ada ruangan pak Awan."
Mega tersenyum manis. "Oke. Terima kasih banyak Mbak!"
Mega melenggang pergi meninggalkan lobi. Persis seorang model yang berjalan di atas catwalk bokong wanita melenggak-lenggok. Dina yang melihat hal itupun hanya bisa mencebikkan bibir.
"Issshhhh ... Itu relasi bisnis atau purel? Tapi masa iya pak Awan ada janji bertemu dengan purel di kantor ini?"
.
.
.
Purel : Wanita penghibur
__ADS_1