
"Sayang .... Aku datang!!!!"
Dengan suara lantang, Mega membuka pintu ruangan Awan tanpa permisi, hingga membuat beberapa relasi Awan yang tengah berada di ruangan ini ikut menoleh ke arah sumber suara. Ia hentikan langkah kakinya saat mendapati ada beberapa orang yang tengah berbincang dengan Awan.
"Mega!!!" pekik Awan dengan raut wajah yang penuh dengan keterkejutan. Ia sungguh tidak menyangka jika kekasih gelapnya ini masuk ke dalam ruangan tanpa permisi.
"Uppppsss ... Ada tamu toh? Maaf, maaf, saya tidak tahu!" ucap Mega sedikit merasa bersalah.
Awan menjadi salah tingkah. Raut gusar juga terlihat jelas di wajahnya karena merasa tidak enak di hadapan para relasi bisnisnya. Bisa-bisanya sang kekasih gelap datang ke kantor tanpa memberi kabar terlebih dahulu.
"Maaf ya Bapak-Bapak semua. Saya tinggal sebentar."
Para tamu Awan saling melempar pandangan. Mereka seolah paham jika wanita yang baru saja datang merupakan simpanan Awan.
"Psssstt ... Ayo kita pulang. Sepertinya pak Awan sedang tidak bisa diganggu," ucap salah satu tamu sembari berbisik.
"Ternyata di mana-mana lelaki itu sama saja. Giliran sudah sukses lupa sama siapa yang pertama kali mendampingi," timpal salah satunya.
Pletakkk!!!!
"Kamu tidak sadar? Kita semua yang ada di sini laki-laki. Kamu mau disama-samakan?!" kesal salah satunya lagi. Tidak terima jika disamakan dengan kebanyakan laki-laki di luar sana.
Tamu yang dijitak kepalanya itu hanya bisa meringis sembari memijit-mijit pelipis kala rasa nyeri itu ia rasakan.
"Ya sudah, ayo kita pulang saja. Daripada iman kita goyah melihat kemesraan mereka!" anjaknya.
Para tamu Awan bangkit dari posisi duduk masing-masing. Mereka berjalan ke arah pintu untuk segera berpamitan.
"Maaf Pak Awan, kami permisi dulu," ucap salah satu tamu Awan.
"Loh kok terburu-buru Pak? Pembahasan kita masih belum selesai kan?" tanya Awan sedikit keheranan. Pasalnya ia merasa masih ada banyak hal yang harus dibahas dengan para tamunya ini.
"Sudah, lain kali saja Pak. Sepertinya ada tamu yang jauh lebih penting untuk Bapak temui. Kami permisi dulu ya Pak!"
Satu persatu tamu Awan itu keluar dari ruangan. Tiba giliran pada tamu terakhir. Untuk sejenak lelaki itu menghentikan langkahnya di samping Awan. Lelaki itu berbisik lirih di telinga sang pemilik perusahaan.
"Cari purel di mana Pak? Sepertinya kok punya spek yang yahud? Lain kali kabar-kabar ya Pak kalau mau booking purel seperti ini!" bisiknya sembari tergelak lirih.
Kedua bola mata Awan membulat penuh. "Apa? Purel?"
Pada akhirnya semua tamu Awan meninggalkan ruangan. Mega yang sayup-sayup mendengar pembicaraan Awan dengan salah satu tamunya itu hanya bisa memanyunkan bibir. Sedikit banyak ia paham maksud yang diucapkan oleh rekan bisnis Awan itu.
__ADS_1
"Dasar lelaki brengsek. Enak saja aku dibilang purel. Derajatku jauh lebih tinggi dari purel lah!" umpat Mega penuh kekesalan. Ia merapatkan tubuhnya di tubuh Awan dan bergelayutan manja di sana. "Tuh kan Sayang, ada yang mengolok-olokku. Pokoknya aku tidak terima dikatain purel, Sayang!"
"Haaaahhh .... Sudahlah Han. Mereka pasti hanya bercanda. Jangan terlalu kamu pikirkan," ucap Awan mencoba untuk menenangkan Mega sembari membuang napas kasar. Ia melihat ke arah sekitar. Ia merasa posisinya sangatlah tidak pas. "Ayo kita duduk di sana. Tidak enak jika sampai dilihat banyak orang."
Awan meminta Mega untuk segera menghindar dari pintu ruangan. Mega menurut dan segera duduk di sofa yang telah tersedia. Wajah wanita itu masih sedikit mendung akibat ucapan relasi bisnis Awan yang mengatakan jika dia adalah purel.
Untuk sejenak, Awan melihat ke arah sekeliling depan ruangan, memastikan bahwa tidak ada para karyawan yang tahu perihal Mega yang bersikap manja seperti barusan. Ia tutup pintu ruangan dan menuju kursi ergonomis yang merupakan kursi kebesarannya.
"Kenapa kamu tiba-tiba datang kemari tanpa mengabariku terlebih dahulu Han? Kamu lihat bukan, relasi bisnisku terganggu dengan kedatanganmu? Padahal kami sedang membahas hal yang penting."
Tak lagi sanggup menahan semua pertanyaan yang berkumpul dalam otak, Awan langsung memberondong Mega dengan pertanyaannya. Ia sungguh heran karena tiba-tiba selingkuhannya ini tiba di kantor. Padahal belum lama ia mentransfer uang untuk dapat digunakan oleh Mega berbelanja dan jalan-jalan.
"Aku bosan Mas!" jawab Mega dengan singkat.
"Bosan? Mengapa bisa bosan? Bukankah kamu sudah jalan-jalan ke mall?"
"Ya aku bosan karena belanja dan jalan-jalan sendirian Mas. Aku kesepian karena tidak ada temannya."
Mega beranjak dari posisi duduknya dan melangkah ke arah Awan. Ia duduk di pangkuan Awan dan meletakkan kepalanya di atas pundak lelaki itu.
"Maka dari itu aku datang ke sini untuk bertemu denganmu sekaligus memberikan kejutan untukmu, Mas. Kamu senang bukan karena sudah aku datangi?" sambungnya pula sembari menciumi ceruk leher Awan.
Bulu kuduk Awan sedikit meremang kala hembusan napas Mega begitu terasa di telinga. Perbuatan Mega ini sudah cukup membuat api gairahnya terpantik dan mungkin siap untuk berkobar. Namun sebisa mungkin Awan menahannya.
Awan berujar sembari berupaya untuk menahan gejolak hasrat yang mulai memenuhi aliran darah. Ia masih berupaya untuk berpikir rasional bahwa di sini bukanlah tempat yang tepat untuk bercinta. Ia khawatir jika sampai ada karyawan yang memergokinya.
"Kalau kamu tidak mau mereka berpikiran yang buruk kepadaku, ya kamu harus melakukan sesuatu dong Mas!" sahut Mega sembari meraba-raba bagian dada milik Awan.
Di sela hasratnya, dahi Awan berkerut. "Melakukan sesuatu? Sesuatu seperti apa yang kamu maksud, Han?"
"Hmmmm... Apa ya?" ucap Mega manja sembari menampakkan wajah seperti orang kebingungan. Namun wanita itu tiba-tiba menyunggingkan senyum di bibirnya. "Kamu harus nikahi aku, Mas. Kamu umumkan kepada semua orang bahwa aku ini istrimu. Jadi, tidak ada lagi yang berpikiran buruk terhadapku."
"Apa? Menikahimu?" pekik Awan begitu terkejut.
Mega menganggukkan kepala. "Hehem. Aku ingin menjadi istri sahmu dan bukan sekedar simpananmu. Lagipula semua yang aku punya sudah aku berikan kepadamu kan Mas? Termasuk keperawananku."
"Tapi Han, mana mungkin kamu meminta hal ini secara mendadak. Ini semua harus kita pikirkan matang-matang."
"Kenapa harus dipikirkan matang-matang? Simpel kan Mas? Kamu tinggal nikahin aku dan menjadikanku satu-satunya istrimu?"
Mendadak kepala Awan berdenyut nyeri. Rasa pening dan pusing tiba-tiba datang menyergap. "Tidak semudah itu Han. Aku masih mempunyai istri!"
Mega tersenyum sinis. "Sekarang tinggal kamu putuskan ingin memilih aku atau istrimu? Tapi semua rahasiamu ada di tanganku Mas. Aku bisa saja menghancurkanmu dengan tanganku."
__ADS_1
Awan terhenyak. "Kamu mengancamku, Han?"
"Oh tentu saja tidak Mas. Aku hanya ingin memperingatkanmu bahwa semua keburukanmu ada di tanganku. Kamu tinggal putuskan, pilih aku atau istrimu?"
"Han, please!" Awan membuang napas kasar. Ia peluk erat pinggang ramping simpanannya ini. "Beri aku waktu untuk memikirkan semua ini. Aku pasti akan membuat keputusan, namun tidak secepat ini. Kamu sabar sebentar ya. Aku sama sekali tidak main-main. Jika aku hanya main-main mana mungkin aku memberikanmu kemewahan seperti itu."
Mendengar perkataan Awan, membuat Mega teringat akan apa yang sudah diberikan oleh Awan. Hati wanita itu sedikit melunak dan bisa dikendalikan.
"Baiklah kalau begitu Mas. Aku beri waktu ke kamu maksimal satu bulan untukmu membuat keputusan!"
Awan menyetujui permintaan Mega. Ia pun mengangguk pelan. "Iya Honey, aku pasti akan melakukan apapun yang kamu pinta."
Mega tersenyum lebar. Ia kembali mencumbu Awan di ceruk leher lelaki itu. Sedang Awan mulai kembali merasakan gairah untuk bercinta. Kali ini akal sehatnya seakan dilumpuhkan oleh godaan dari wanita simpanannya.
Tap ... Tap ... Tap ...
Derap langkah kaki beberapa orang sayup-sayup terdengar di indera pendengaran Awan dan Mega. Sepasang pasangan mesum itu menghentikan aktivitas mereka dan sama-sama saling bertatap netra.
Derap langkah kaki itu semakin mendekat ke arah ruangannya dan....
Ceklekk...
Awan terkejut setengah mati. Sebelum pintu ruangan itu terbuka sepenuhnya, dia bersegera bangkit dari posisi duduknya. Awan lupa jika sebelumnya memangku tubuh Mega hingga membuat wanita itu terjatuh dari pangkuan.
Dugggg!!!!
"Aduhhhhhhhh!!!!" pekik Mega kala tubuhnya terjerembab di atas lantai dan jidatnya terbentur kaki meja.
"Ayaaaahhhhhh!!!!"
Teriakan dua orang dari arah pintu sudah cukup mengalihkan perhatian Awan dari Mega yang tengah terkapar di atas lantai.
"Cahya, Malika, Alina?????!!!"
Tubuh Awan semakin dibuat terkejut setengah mati kala melihat tiga sosok perempuan yang familiar di matanya. Lelaki itu seakan kesusahan untuk menelan salivanya saat istri dan anak-anaknya memergoki ada wanita lain di ruangannya.
.
.
.
Hihihihi segini dulu ya Kak... InshaAllah nanti lanjut lagi.. ☺☺☺
__ADS_1
Kira-kira apa ya yang akan dilakukan oleh Cahya? Apakah dia akan langsung melabrak Mega? atau tetap ia tunggu sampai waktunya tiba??