
Siang hari ini, Cahya nampak sibuk di dapur kediamannya. Wanita yang tengah hamil dua bulan itu tengah memasukkan potongan iga ke dalam panci. Seperti request sang suami yang ingin dimasakkan sup iga sapi.
Harum aroma khas daging sapi menguar, memenuhi tiap sudut dapur. Baru aroma kuahnya saja sudah begitu menggugah selera. Lantas bagaimana jika sudah masuk ke dalam indera pengecap? Pasti tidak ingin berhenti untuk menikmati.
"Hmmmmmmm ... MashaAllah, aromanya harum sekali Sayang. Kamu masak apa?"
Langit yang tengah melintas di dekat dapur, tidak bisa untuk tidak mengayunkan tungkai kakinya ke arah sang istri. Ia rapatkan tubuhnya di tubuh sang istri dan ia peluk dari belakang.
Cahya hanya tersenyum simpul seraya berupaya untuk menahan sensasi rasa geli yang terasa menjalar di sekujur tubuhnya. Meskipun Langit sering melakukan hal semacam ini secara tiba-tiba, namun Cahya masih saja merasa kegelian sendiri.
"Masak sesuai request suamiku tercinta. Bukankah sejak semalam kamu ingin dimasakin sup iga ya Mas? Nah, ini aku realisasikan."
Cahya masih sibuk mengaduk kuah sup ini sembari mencicipi rasanya, memastikan agar rasa sup ini pas dan nikmat.
"Hmmmmmm... Sup iga buatanmu memang tidak ada duanya Sayang. Selalu saja buat aku kecanduan."
"Kamu ini selalu saja memuji Mas," ucap Cahya sembari terkikik geli. "Sudah, lebih baik kamu sekarang duduk Mas. Sebentar lagi matang, dan sudah bisa kamu nikmati."
"Oke Sayang!" ujar Langit seraya mengecup pipi sang istri di mana perbuatannya itu hanya bisa membuat Cahya senyum-senyum sendiri.
Langit mendaratkan bokongnya di kursi makan. Ia teguk air putih yang tersedia di sana.
"Oh iya Sayang, kita ke panti jomponya kalau lusa saja bagaimana? Sekalian nunggu anak-anak dan keluarga besar kita tiba di Jogja. Jadi kita bisa ke sana ramai-ramai?"
Cahya nampak sejenak berpikir akan apa yang diusulkan oleh Langit. Ia pun mengangguk seketika.
"Boleh juga Mas. Lagipula uang hasil penjualan mobil baru akan akan dibayarkan besok bukan? Kita tunggu pembayaran mobil itu terlebih dahulu setelah itu sekalian kita sumbangkan ke sana."
"Nah betul Sayang. Sekalian kita ajak anak-anak agar bisa melihat secara langsung bagaimana keadaan dan kehidupan di panti jompo. Dengan seperti itu InshaAllah bisa membuat mereka jauh lebih bisa menyayangi orang tuanya, Sayang."
"Aamiin Mas. Karena memang dengan melihat secara langsung, bisa menjadi pelajaran berharga untuk mereka."
Cahya menuang sup iga sapi yang telah matang ke dalam sebuah mangkuk besar. Ia sajikan di hadapan Langit dan ia ambilkan nasi untuk suaminya ini.
"Ayo Mas dimakan dulu, mumpung masih panas!"
"Kamu tidak makan, Sayang?"
"Nanti saja Mas. Perutku masih kenyang. Pagi tadi kamu lihat sendiri kan bagaimana aku makan lontong sayur?"
Langit tergelak pelan. "Iya aku baru ingat, pagi tadi kamu sampai nambah tiga kali makan lontong sayur yang aku beli di jalan depan sana. Untung tidak jauh dari rumah. Kalau jauh bakalan capek bolak-baliknya Sayang."
"Hihi hihihihi tidak tahu juga Mas. Lontong sayur yang di jual di jalan depan sana memang rasanya enak menurutku. Sampai tidak terasa nambah tiga kali."
__ADS_1
"Tidak apa-apa Sayang, yang penting kamu dan kandungan kita sehat semua. Oh iya hari ini kamu ada rencana kemana Sayang?"
"Emmmmm, aku mau ke kantor ekspedisi Mas. Sejak kantor beroperasi dan sejak tiba di Jogja, aku belum sempat ke sana loh. Aku ingin bertemu dengan Dina untuk melihat perkembangannya seperti apa."
"Baiklah Sayang, nanti aku temani ke sana."
"Oke Mas. Aku mandi dulu ya Mas. Gerah sekali rasanya."
"Mau aku mandiin?" tanya Langit dengan mengerlingkan sebelah matanya.
Wajah Cahya bersemu merah. Bisa-bisanya sang suami menggodanya seperti ini. "Isssshhhh kamu ini ada-ada saja Mas. Enggaklah. Aku bisa mandi sendiri Mas!"
Cahya bergegas bangkit dari posisi duduknya. Ia cepat-cepat melenggang pergi masuk ke kamar mandi sebelum sang suami melakukan sesuatu yang membuatnya keramas berkali-kali.
***
"Jadi, apa yang bisa kamu jelaskan akan sabotase undangan pernikahanku dengan Mega dulu?"
Meskipun sudah lama berlalu, namun di kepala Awan masih bertumpuk sejuta pertanyaan akan sabotase tamu undangan di acara pernikahannya dengan Mega. Selama ini, Awan berupaya mati-matian untuk mencari keberadaan Dina yang saat itu ia berikan tanggung jawab untuk membagikan undangan pernikahan, namun yang terjadi justru tidak ada satupun tamu yang datang. Ia ingin tahu, motif apa yang tersembunyi sampai membuat Dina melakukan sabotase itu.
Dina hanya bisa menundukkan kepala. Tidak mungkin jika saat ini ia mengatakan bahwa sabotase undangan itu merupakan bagian rencananya dengan Cahya. Sebisa mungkin, ia harus bisa mengganti topik pembicaraan dengan Awan.
"Sudahlah pak Awan, jangan dibahas lagi. Saat ini saya tanya, pak Awan datang kemari memang ada keperluan apa?" tanya Dina langsung mengubah topik pembicaraan.
"Aku kemari untuk melamar pekerjaan, Din. Apakah kamu bisa memberiku pekerjaan dengan posisi yang cukup bagus? Tidak hanya menjadi kurir?"
"Wah kalau itu bukan wewenang saya Pak. Karena saat ini yang dibutuhkan adalah posisi kurir."
Awan berdecak. "Ckkcckkkkkk ... Apa kamu tidak bisa melobi dengan pemilik perusahaan ini agar aku bisa memiliki posisi yang cukup bergengsi di kantor ini?"
"Aduh Pak, maaf sekali. Saya tidak bisa. Tapi kalau Pak Awan mau menjadi kurir, hari ini juga Pak Awan bisa langsung bekerja. Semua fasilitas sudah kami siapkan. Pak Awan tinggal jalan saja dan kalau Pak Awan tidak punya kendaraan, motor inventaris bisa Pak Awan bawa pulang."
"Aaahhhh .... Kamu ini apa tidak ingat dulu kamu bekerja ikut siapa? Sekarang, aku hanya minta posisi di dalam saja tidak kamu kabulkan? Anggap saja kamu balas budi dan balas jasa kepadaku, Din."
Dina tetap menggelengkan kepala. "Tetap tidak bisa Pak. Karena itu bukan wewenang saya."
Awan mengedarkan pandangannya ke arah setiap sudut ruangan. "Memang CLA ekspress ini punya siapa sih Din? Kok kamu bisa langsung bekerja di sini?"
"Emmmmmm ... Pokoknya milik seorang wanita luar biasa hebat Pak. Kalau Pak Awan ingin bertemu bisa kok. Sebentar lagi beliau sepertinya akan datang kemari."
"Wanita luar biasa hebat?" tanya Awan seakan tidak percaya. "Masih single Din?"
"Kok Pak Awan tanyanya seperti itu? Memang kalau masih single kenapa Pak?" tanya Dina penasaran.
"Ya barangkali bisa berjodoh denganku, Din. Saat ini aku sudah menduda, jadi sepertinya akan serasi jika aku bersanding dengan pemilik ekspedisi ini. Toh dulunya aku juga merupakan bos ekpedisi kan?" ujar Awan dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
Ckkcckkkkkk ... Pak Awan, pak Awan... Kok masih percaya diri sekali? Padahal sekarang ini hidup pak Awan sudah blangsak, mana ada yang mau?
"Hmmmmmmm ... Pemilik ekspedisi ini sudah menikah Pak, bahkan anaknya sudah dua dan sebentar lagi mau tiga karena saat ini beliau sedang hamil."
"Oh begitu? Jadi tidak ada kesempatan bagiku untuk mendekati pemilik ekspedisi ini?"
"Tidak Pak, sama sekali tidak. Dan Pak Awan juga jangan coba-coba genit ataupun menggoda karena suami pemilik ekspedisi ini sangat mencintai isterinya. Bisa-bisa Pak Awan dirujak sama suaminya."
Awan hanya bisa membuang napas kasar. Padahal ia sudah berangan-angan ingin mendekati pemilik ekspedisi ini.
"Hallo Bu!" sapa Dina setelah mengangkat ponsel yang berdering di atas meja.
"Din, kamu di mana? Aku sudah sampai di kantor."
"Oh saya ada di ruang kerja Bu. Apa saya perlu ke depan?"
"Tidak, tidak perlu Din. Biar aku yang ke ruanganmu."
"Baik Bu, saya tunggu di sini."
"Siapa Din?" tanya Awan kepo setelah Dina mematikan ponsel.
"Pimpinan perusahaan, Pak. Beliau sudah sampai."
"Wah, aku penasaran sama pimpinan perusahaan ini Din. Kok bisa perusahaan ekspedisi seperti ini dipimpin oleh seorang wanita."
Dina tersenyum simpul. "Tenang saja Pak, setelah ini Pak Awan pasti tidak akan penasaran lagi."
Ceklekkkk .. . .
Pintu ruangan terbuka dan muncul sepasang suami-istri dari sana.
"Assalamualaikum Din..... " sapa Cahya yang masih berada di ambang pintu. "Oh, sedang ada tamu rupanya?" sambung Cahya kala melihat seseorang yang tengah duduk memunggunginya.
Awan yang mendengar suara wanita itu tiba-tiba terperanjat. Ia merasa begitu mengenal suara ini. Untuk memastikan apa yang ada di dalam pikirannya Awan bergegas bangkit dari posisi duduknya. Ia berbalik badan dan.....
"C-Cahya.....?"
"Mas Awan?"
.
.
.
__ADS_1