Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 57. Semakin Ngelunjak


__ADS_3


"I-ini rumahmu Nak? Ya Allah ... Besar dan mewah sekali!"


Lastri menatap takjub rumah besar yang ditinggali oleh anaknya. Terbiasa tinggal di rumah yang sederhana bahkan seringkali disebut dengan gubug reot membuat wanita paruh baya itu tiada henti mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.


"Iya, besar sekali ya Bu. Bapak juga tidak menyangka ternyata anak kita sukses di kota," timpal Kardi yang juga ikut menampakkan raut wajah yang berbinar.


Mega menatap remeh kedua orang tuanya yang baru saja tiba dari kampung. "Sudah, jangan kampungan seperti itu, Pak, Bu. Malu-maluin."


"Malu-maluin bagaimana Nak? Baru pertama kali Ibu masuk ke rumah besar dan juga mewah seperti ini. Jadi wajar kan kalau Ibu teramat takjub?" ujar Lastri mengemukakan argumennya.


"Kalau Bapak bisa melihat dan masuk ke rumah mewah seperti ini, namun itu semua milik orang dan sekarang anak Bapak sendiri yang mempunyai. Sungguh berkah dari Allah yang begitu besar," cerita Kardi. Tidak mengherankan jika dia sering masuk ke rumah mewah seperti ini, mengingat pekerjaannya sebagai kuli bangunan.


"Ckkckkckkk ... Memang susah ya ngasih tau orang-orang yang sudah terbiasa hidup susah. Terlihat kampungan sekali," seloroh Mega sembari berdecak.


"Tapi Nak, sebenarnya pekerjaanmu itu apa? Mengapa dalam waktu yang singkat kamu bisa memiliki rumah mewah dan megah seperti ini? Bahkan kamu bisa membeli mobil dan juga merenovasi rumah di kampung. Apakah gajimu memang besar?"


"Tidak penting Bapak dan juga ibu tahu tentang pekerjaanku. Yang jelas, kalian berdua harus bersiap-siap untuk menjadi orang kaya." Mega melabuhkan pandangannya ke arah Kardi. Ia tatap lekat netra bapaknya ini. "Ingat ya Pak, mulai sekarang Bapak berhenti menjadi kuli bangunan dan ibu juga berhenti jadi buruh tani. Karena pekerjaan itu akan membuatku malu dan juga merendahkan value yang aku punya."


Lastri dan Kardi saling melempar pandangan. Mendapatkan peringatan dari anaknya seperti ini membuat mereka kebingungan akan bagaimana cara mereka bisa memenuhi segala kebutuhan hidupnya.


"Tapi kami harus bekerja sebagai apa agar bisa menyambung hidup, Nak?"


"Itu biar nanti aku yang memikirkannya. Untuk sekarang Bapak dan Ibu latihan menjadi orang kaya saja terlebih dahulu, jadi tidak kelihatan norak!"


Mega melenggang pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang masih berada di dalam mode terperangah. Wanita itu menuju taman belakang untuk bersantai ria sembari berselancar di dunia maya.


Mega fokus dengan gawai yang ada di dalam genggaman tangan. Ia melihat berita-berita yang sedang viral di sosial media.


"Eh, ekspedisi milik mas Awan itu punya akun instagram tidak sih? Aku kok malah tidak tahu sampai saat ini."


Mega berujar lirih sembari mencari nama perusahaan Awan di dalam pencarian. Hingga wanita itu menemukan salah satu akun yang ia yakini milik perusahaan Awan.


"Hah, jadi besok perusahaan mas Awan akan mengadakan acara ulang tahun perusahaan? Mengapa mas Awan tidak pernah memberitahuku perihal acara ini?"


Mega melihat kumpulan-kumpulan foto yang berisikan tentang proses persiapan acara ulang tahun perusahaan Awan. Bibir wanita itu menganga lebar seakan tidak percaya jika acara yang akan diselenggarakan nanti begitu mewah seperti ini.

__ADS_1


"Gila, ini sih konsepnya keren sekali. Pasti akan banyak tamu penting yang menghadiri. Bisa-bisanya mas Awan tidak memberitahuku. Apa dia sengaja melakukan hal itu?"


Mega membayangkan betapa meriahnya acara yang akan berjalan nanti. Wanita itu sampai berkhayal jika ia bisa berdiri di samping Awan untuk memberikan sambutan dan dilihat oleh banyak khalayak.


"Tidak... Tidak... Tidak akan aku biarkan mas Awan sampai tidak mengajakku untuk hadir di acara itu. Sepertinya momen ulang tahun perusahaan, akan menjadi momen paling tepat untukku memperkenalkan diri sebagai istri mas Awan. Tidak perlu menunggu satu bulan lagi seperti yang menjadi kesepakatan kita berdua."


Mega mencari kontak Awan. Ingin menghubungi Awan untuk membicarakan tentang kemauannya ini. Nada sambung terdengar hingga suara seseorang terdengar menyapanya.


"Mas, aku minta, kamu nikahi aku sekarang juga!"


***


"Apa? Kamu minta aku nikahi kamu sekarang juga? Kamu bercanda, Han?"


"Tidak Mas, aku tidak bercanda. Aku serius. Nikahi aku sekarang juga!"


"Tapi mana bisa begitu Han? Aku masih belum bercerai dari Cahya. Mana bisa aku menikahimu?"


"Siapa suruh kamu menceraikan istrimu dulu Mas? Kamu tidak perlu melakukan hal itu. Kamu bisa menikahiku secara siri dulu!"


"Pokoknya aku tidak mau tahu Mas. Aku mau kamu menikahiku hari ini juga. Kalau kamu tidak melakukannya juga, lebih baik aku mati saja!"


"Tapi Han..."


"Aku tunggu kamu di sini. Paling lambat dua jam dari sekarang, kamu sudah harus tiba di sini. Kalau tidak, aku pastikan kamu akan menyesal, Mas!"


"Han .... Han....!!!"


Tutt... Tuttt... Tutt..


Panggilan berakhir kala Mega memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak.


"Aaaarrrrgghhhhh...." teriak Awan sembari menjambak rambutnya. Lelaki itu seakan kian frustrasi menghadapi sikap Mega yang serba ingin dituruti seperti ini.


Cahya yang sayup-sayup mendengar teriakan Awan, gegas ia hampiri sang suami yang sedang berada di halaman. Wanita itu sedikit khawatir karena tiba-tiba sang suami berteriak seperti itu.


"Mas ada apa? Kenapa kamu berteriak seperti itu?"

__ADS_1


Cahya berujar sembari memegang pundak Awan. Awan yang sebelumnya mendongakkan wajah menatap langit, kini ia geser pandangannya ke arah Cahya. Lelaki itu berupaya untuk mengubah ekspresi wajahnya.


"Ahhhh tidak apa-apa Ay. Ini barusan, aku seperti digigit semut rang-rang. Rasanya sakit sekali," kilah Awan.


"Yakin karena semut rang-rang Mas?" tanya Cahya yang tidak serta merta percaya begitu saja.


"Iya Ay. Ini hanya karena semut rang-rang. Oh iya, aku keluar dulu ya. Ada kepentingan mendadak dengan relasi."


"Oh oke Mas. Kamu hati-hati di jalan ya."


Awan menganggukkan kepala. "Iya Ay. Tapi mungkin aku pulangnya sedikit larut, tidak apa-apa kan?"


"Tidak apa-apa Mas. Kamu santai saja." Cahya mengulurkan undangan ke arah Awan. "Tolong berikan ini kepada bu Mega ya Mas. Aku lupa, kemarin belum ada nama Mega di dalam list tamu undangan. Maka dari itu aku buatkan."


"Iya Ay, nanti aku mampir ke kantor bu Mega. Tapi sepertinya dia tidak bisa hadir karena sedang ada di luar kota."


"Ya tidak masalah Mas. Yang terpenting undangan ini sampai di tangan bu Mega. Atau kalaupun tidak sampai di tangannya, kamu bisa memberikan undangan secara virtual. Aku sangat mengharapkan kehadirannya di acara ulang tahun perusahaan besok."


Dahi Awan sedikit berkerut. Ia merasa sedikit aneh dengan sikap Cahya kali ini. "Ay, kok kamu sedikit aneh? Bukankah kamu belum terlalu mengenal bu Mega?"


"Justru karena itu Mas. Aku rasa bu Mega itu tipe teman yang baik, jadi aku ingin menjalin hubungan baik dengannya. Aku juga ingin minta maaf karena tempo hari sikap anak-anak kurang baik kepadanya."


Awan hanya mengangguk-anggukkan kepala. Ia rasa kali ini ia harus segera pergi menemui Mega, mengingat hanya dua jam waktu yang diberikan oleh wanita itu.


"Baiklah Ay, aku pergi terlebih dahulu ya."


"Hati-hati Mas."


Awan melenggang pergi meninggalkan Cahya yang masih berdiri di posisinya. Lelaki itu terlihat tergesa-gesa seolah ada hal urgent yang terjadi. Sedangkan Aya hanya bisa menyunggingkan senyum kala bayangan tubuh sang suami tidak lagi nampak di matanya.


Aku sudah tidak sabar menunggu hari esok, Mas. Kamu sudah menghancurkan semuanya dan jangan salahkan aku jika kamu juga harus ikut hancur.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2