Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 77. Kembali Berkumpul Bahagia


__ADS_3


"Ayah ... Mengapa bisa seperti ini? Maafkan Aya, Yah, maafkan Aya!"


Cahya berlari mendekat ke arah sang ayah yang tengah duduk di atas kursi roda di depan jendela. Wanita itu meluruhkan tubuhnya di atas lantai dan membenamkan kepalanya di atas pangkuan Candra.


Hati wanita itu kian berdenyut nyeri saat melihat keadaan sang ayah yang seperti ini. Setelah sekian purnama tidak bertemu dengan sang ayah, kini ia justru dipertemukan dalam keadaan yang nampak mengoyak batin seperti ini. Ia seakan tidak mengenal sosok sang ayah karena tubuhnya semakin kurus kering dan tiada bertenaga.


"Sejak dua tahun lalu, ayahmu terkena depresi, Ay. Dalam keadaannya yang seperti itu, ayah selalu saja memanggil-manggil namamu. Mungkin ayah merindukanmu."


Bintari ikut mendekat ke arah anak dan suaminya. Sekilas, ia menceritakan kejadian yang menimpa Candra di dua tahun yang lalu.


"Ya Allah ... Mengapa dalam keadaan seperti ini Aya tidak pernah diberi kabar, Bu? Dan mengapa kak Angkasa juga tidak menceritakan keadaan ayah saat kembali bertemu dengan Aya?"


"Entahlah Ay, semua ini terjadi begitu cepat. Saat itu Ibu ataupun kakakmu tidak pernah mengetahui di mana keberadaan dan nomor ponselmu. Sehingga Ibu dan kakakmu hanya fokus untuk proses penyembuhan ayah."


Hati Cahya kian terasa tercubit mendengar penuturan sang ibu. Ia sadar jika selama ini ia juga memutus semua akses komunikasi dengan keluarganya. Itu semua atas perintah Awan yang merasa sakit hati akan sikap yang ditunjukkan oleh sang ayah. Oleh karena itu, Awan memberikan sebuah titah untuk memutus semua bentuk komunikasi dengan keluarga Cahya.


"Lalu, saat ini upaya apa yang harus dilakukan agar ayah bisa kembali pulih seperti sedia kala Bu?"


"Semua cara dan terapi sudah Ibu dan kakamu lakukan. Kini tinggal menunggu ridho dari Allah untuk memulihkan keadaan ayah seperti semula. Ibu berharap setelah kedatanganmu, kondisi ayah bisa semakin membaik."


Derai air mata tiada henti menyusuri bingkai wajah Cahya. Ia menatap nanar sosok lelaki yang kini wajahnya terlihat begitu sayu ini. Dengan lembut, ia raih telapak tangan Candra dan ia letakkan di pipinya.


"Ayah ... Aya pulang untuk meminta ampun. Jangan siksa Aya dengan cara seperti ini. Ayah harus pulih untuk bisa memaafkan Aya."


Dengan suara bergetar, Cahya menumpahkan semua gejolak yang berada di dalam dada. Rasa sesal, rasa rindu, rasa takut seakan terangkum menjadi satu dalam jiwa. Sesal karena dulu ia sempat melawan restu. Rindu karena sudah sekian tahun tidak bertemu. Dan takut jika sampai sang ayah tidak bisa sembuh. Semua rasa itu seolah meletup-letup di dalam kalbu.


"Ayah ... Hari ini Aya pulang ke dalam dekapan Ayah untuk meminta pengampunan dan ingin kembali membuka kembali lembaran baru yang mana sebelumnya lembaran itu sudah usang."


Aya mencoba mengusap air matanya yang justru semakin deras mengalir. Seperti sebuah tanggul yang jebol karena banjir bandang, air mata itu tidak mau berhenti mengalir.


"Ayah sembuh ya. Beri kesempatan kepada Aya untuk memperbaiki semua kesalahan Aya."

__ADS_1


Tatapan mata Candra yang sebelumnya nyalanh ke arah luar jendela, kini ia geser ke arah Cahya yang bersimpuh di atas pangkuannya. Dahi Candra sedikit mengernyit seakan mencoba untuk mengingat-ingat sesuatu. Candra hanya terdiam, tidak memberikan respons apapun. Lelaki itu hanya bisa memandang wajah sang putri dengan tatapan tiada terbaca.


"Ayah harus sembuh. Ayah harus bahagia di usia senja Ayah ini dan Aya berjanji akan membahagiakan Ayah."


Hening. Candra masih tidak memberikan respons apapun. Namun sorot mata lelaki paruh baya itu tidak lepas dari kedua bola mata Cahya.


"Yah, Aya sudah mendaptkan buah dari apa yang Aya tanam sebelumnya. Allah menimpakan satu kepahitan hidup untuk membuka mata hati Aya. Ternyata apa yang Ayah ucapkan kala itu memang benar. Mas Awan memang bukan lelaki yang baik."


Meskipun Cahya tahu bahwa sang ayah sama sekali tidak memberikan respon, namun Cahya berupaya untuk mengajak berkomunikasi lelaki paruh baya ini. Ia percaya bahwa sang ayah pasti bisa sembuh seperti sedia kala.


"Cahya mohon ampun Yah. Ampuni Cahya atas semua kesalahan yang telah Cahya lakukan. Kita buka kembali lembaran baru sama-sama ya Yah."


Sorot mata Candra nampak jauh lebih tajam. Tangannya bergerak dan terangkat untuk dapat menjangkau bingkai wajah Cahya. Jemari lelaki paruh baya inipun menyusuri setiap lekuk wajah sang anak.


Cahya dan Bintari sama-sama terhenyak melihat respons yang ditunjukkan oleh Candra. Candra yang sebelumnya tidak bersedia menunjukkan bahasa tubuhnya, kini terlihat berbalik seratus delapan puluh derajat.


Entah gejolak emosi apa yang terjadi, napas Candra terdengar begitu memburu. Ia masih membisu namun bibirnya bergetar. Titik-titik air pun mulai berkumpul di sudut matanya. Semakin lama semakin banyak. Dan sepersekian menit, bak sebuah tanggul yang jebol karena banjir bandang, air mata Candra tumpah ruah di wajahnya.


"Aya ... putriku?" lirih Candra dengan jemari yang masih membelai lembut wajah putrinya ini.


"Iya Yah, ini Aya. Aya, anak Ayah."


"Cahya anakku, Cahya anakku!"


"Alhamdulillah ya Allah ... Alhamdulillah...!!"


Suara Cahya terdengar bergetar, hingga membuat Bintari yang berdiri di belakang punggung Cahya ikut meneteskan air mata. Pertemuan kembali suami dan anaknya ini benar-benar menyisakan rasa haru yang luar biasa. Tak lama setelahnya, senyum lebar terbit di bibir Bintari. Sebagai bentuk rasa syukur atas segala nikmat Allah yang telah diberikan untuk suami dan juga putrinya.


"Bunda!!!"


Lengkingan suara dua gadis kecil yang berasal dari arah pintu memecah suasana haru yang menyelimuti atmosfer kamar ini. Candra, Cahya dan Bintari sama-sama menoleh ke arah sumber suara dan terlihat dua gadis kecil itu memasuki kamar.


Cahya bangkit dari posisinya. Ia sambut kehadiran kedua putrinya ini dengan rekahan senyum di bibir.

__ADS_1


"Sayang ... Sini Nak. Kasih salam dulu sama kakek dan nenek!"


Alina dan Malika hening sejenak kala menatap wajah Bintari dan juga Candra yang terlihat begitu asing di mata mereka. Hal itulah yang membuat Cahya terkekeh pelan.


"Sayang, jangan takut. Kakek Candra dan nenek Bintari adalah kakek nenek kalian berdua. Ayo salim dulu!"


"Hallo Nek, ini Alina dan ini adik Alina namanya Malika. Kami ini putri-putri cantiknya bunda Cahya," ucap Alina memperkenalkan diri.


Wajah Bintari berbinar bahagia. Wanita itu sedikit membungkukkan tubuhnya dan memeluk kedua cucunya ini.


"MashaAllah ... Benar, ini cucu-cucu Nenek?"


"Benar dong Nek. Wajah Malika mirip Bunda, kan?" celoteh Malika yang terdengar menggemaskan.


"MashaAllah .... Selain cantik, cucu-cucu Nenek juga pintar."


Bintari mengurai pelukannya. Ia ciumi wajah kedua cucunya ini bergantian. "Nah, sekarang salim sama kakek ya. Kakek pasti senang sekali dengan kedatangan kalian."


Alina dan Malika sama-sama menatap ke arah Candra yang masih setia duduk di kursi rodanya. Tak memerlukan waktu lama, kedua gadis kecil itu menghamburkan tubuh mereka ke dalam dekapan Candra.


"Kakek!!!!!" pekik kedua putri Cahya kala memeluk tubuh Candra.


Tubuh Candra sedikit terperanjat kala mendapatkan pelukan dari kedua gadis kecil ini. Namun sepersekian detik, ada kehangatan yang mengaliri aliran darah ketika raganya dipeluk oleh dua malaikat kecil ini. Matanya tiba-tiba memanas, membentuk titik-titik air di pelupuknya dan tak membutuhkan waktu lama titik-titik air itu jatuh dari jendela hatinya.


"C-cucuku...."


Menetes lagi air mata yang masih tersisa di netra Cahya. Kali ini bukan lagi air mata kesedihan namun air mata kebahagiaan yang membingkai wajahnya. Akhirnya, hubungannya dengan sang ayah bisa kembali seperti sedia kala.


Alhamdulillah .... Terima kasih atas semua nikmatMu ya Allah...


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2