Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 87. Pusing Tujuh Keliling


__ADS_3


Jogjakarta...


"Bagaimana perkembangan proyek perumahan bersubsidi kita Ang? Apa sejauh ini ada kendala?"


Di sebuah kafe yang terletak di pusat kota, Langit dan Angkasa duduk berhadapan sembari membahas proyek perumahan bersubsidi yang mereka kerjakan. Tiga bulan lebih Langit tidak melihat secara langsung proyek yang melibatkan perusahaannya ini, sehingga ia membutuhkan informasi detail dari Angkasa.


"Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar Pak. Target kita enam bulan pembangunan bukan? InshaAllah akan selesai tepat waktu."


"Alhamdulillah, aku memang tidak salah mempercayakan proyek ini kepadamu Ang. Kamu memang bisa diandalkan." Langit menyeruput sajian kopi espresso yang ada di tangan. "Oh iya, sebentar lagi Nawang akan melangsungkan pernikahan. Seandainya kamu masih aku perintahkan untuk meng-handle proyek ini, apa kamu keberatan Ang?"


Angkasa menanggapi santai permintaan atasannya ini. Untuk saat ini mau berapa lama ia ada di luar kota tidaklah menjadi soal karena keadaan sang ayah sudah pulih seperti sediakala dan juga ada Cahya yang menemani.


"Tidak Pak, saya sama sekali tidak keberatan. Jika Pak Langit memang ada urusan keluarga, silakan diselesaikan terlebih dahulu. InshaAllah saya siap meng-handle pekerjaan ini sampai selesai."


"Hahahaha kamu terlihat bersemangat sekali dalam urusan pekerjaan, Ang. Kalau seperti itu kapan waktumu mencari calon istri," ledek Langit sembari terkekeh lirih. Sejauh ia bekerja dengan Angkasa, ia tidak pernah sekalipun melihat Angkasa menampakkan kekasihnya.


"Lantas, pak Langit sendiri juga kapan mau mencari calon? Selagi saya belum melihat Pak Langit memiliki calon istri, rasa-rasanya saya masih nyantai," timpal Angkasa yang juga tidak mau kalah mengejek atasannya ini. Lelaki itu juga turut tergelak.


Sejenak, Langit terhenyak mendengar perkataan Angkasa. Namun sesaat kemudian ia tergelak. "Hahahaha ... Ternyata kita ini satu nasib ya Ang. Mana sebentar lagi aku dilangkahi oleh Nawang. Hmmmmm... Rasanya jadi nano-nano."


"Pak Langit masih mending baru mau dilangkahi, sedangkan saya sudah benar-benar dilangkahi, Pak."


"Oh ya? Serius kamu Ang? Aku kok tidak pernah mendengar ceritanya," tanya Langit yang sedikit kepo dengan cerita keluarga Angkasa.


Angkasa mengangguk pelan. "Betul Pak, sudah sejak tujuh tahun yang lalu adik saya menikah. Tapi sayang, pernikahannya harus kandas di tengah jalan karena suaminya selingkuh."


"Astaghfirullah ... Aku turut prihatin mendengarnya Ang," ucap Langit lirih. "Mendengar ceritamu ini jadi mengingatkanku pada seorang wanita yang juga memiliki cerita yang hampir sama dengan adikmu. Dia juga diselingkuhi oleh suaminya."


"Ya seperti itulah potret zaman sekarang, Pak. Hanya karena seorang suami yang tidak pandai bersyukur atas apa yang sudah ia miliki, ia sampai mengorbankan keluarganya."


"Betul sekali Ang. Maka dari itu tugas dan kewajiban seorang lelaki bergelar suami itu memang teramat berat. Harus pandai menundukkan pandangan agar tidak tergoda dengan gemerlap dunia yang hanya merupakan kenikmatan sesaat. Karena pada akhirnya, anak-anak lah yang akan turut menjadi korban."

__ADS_1


"Nah iya Pak, mantan adik ipar saya ini sampai tidak memikirkan dampak psikologis kedua anaknya setelah kejadian perselingkuhan itu. Namun saya bersyukur, kedua keponakan saya tidak terlalu larut dalam kehancuran akibat perceraian orang tuanya dan sekarang mereka sudah kembali bahagia seperti sedia kala."


Lagi-lagi Langit terhenyak. "Adikmu punya dua anak juga Ang?"


"Iya Pak."


"Ya Allah, sama juga dengan wanita yang aku kenal ini Ang. Dia juga punya dua anak. Kalau boleh tahu, nama adikmu siapa Ang?"


"Namanya..."


Drrttt.. Drrrttt... Drrrttt...


Getaran ponsel milik Angkasa yang ada di atas meja, memangkas ucapan lelaki itu. Ia meraih ponselnya dan ada nama salah satu suplier bahan bangunan yang menghubunginya. Lelaki itu bergegas mengangkat teleponnya, sedangkan Langit juga mulai sibuk dengan ponsel yang ada di tangan.


***


"Terus sekarang kamu mau kerja apa Mas? Perusahaanmu sudah tutup dan sekarang kamu nganggur!"


Raut wajah Mega terlihat begitu mendung sejak beberapa hari terakhir ia dan suami mendapatkan ujian hidup yang bertubi-tubi. Semua terjadi begitu cepat dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya.


"Aku juga bingung Han. Saat ini aku tidak memegang uang sama sekali. Bahkan uang di rekeningku hanya tinggal dua ratus ribu."


"Astaga Mas, kalau uangmu hanya tinggal segitu lalu untuk hari-hari berikutnya kita mau makan apa? Saat ini kebutuhan hidup kita semakin banyak loh. Masa iya kamu hanya ongkang-ongkang kaki saja," protes Mega dengan kesal. Ia sungguh sumpek melihat suaminya yang mendadak menjadi pengacara alias pengangguran tidak punya acara.


Awan menghembuskan napas yang kemudian keluar kepulan-kepulan asap dari dalam mulutnya. "Sudah Han, jangan teriak-teriak seperti itu. Ini aku juga sedang pusing memikirkan cara untuk bisa keluar dari keadaan seperti ini."


"Jangan hanya dipikirkan Mas. Tapi langsung sat set sat set berbuat sesuatu. Aku tidak mau tahu, pokoknya besok kamu sudah harus mendapatkan pekerjaan. Atau kalau tidak kamu buka ekspedisi lagi saja Mas."


"Astaga Han, modal dari mana? Aku kan sudah bilang kalau uang di rekeningku hanya tinggal dua ratus ribu."


Mega memijit-mijit pelipisnya. Keadaan seperti ini juga membuatnya pusing tujuh keliling. Realita yang ia jalani ternyata tidak seindah ekspektasi yang ada di dalam kepala. Ia yang mengira bisa hidup bahagia dengan bergelimang harta bersama Awan, ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Hanya ada penderitaan dan kesialan.


"Lalu, sekarang apa yang akan kamu lakukan Mas? Tidak mungkin kan kalau kamu hanya menganggur seperti ini?"

__ADS_1


"Coba nanti aku pikirkan Han. Kamu tenang saja. Sepertinya pak Andre mau membuka jasa ekspedisi juga. Barangkali nanti aku bisa bekerja di sana."


"Pak Andre? Pak Andre yang kemarin kamu pinjami uang Mas?"


"Iya Han."


"Eh tapi apakah perusahaanmu benar-benar sudah tidak bisa diselamatkan Mas?"


"Mau diselamatkan bagaimana lagi Han. Pak Andre hanya memberikan waktu sampai bulan depan untuk melunasi semua hutang-hutangku. Dalam waktu sesingkat itu bagaimana mungkin aku bisa membayarnya. Itu artinya aku harus rela kehilangan semua."


"Ya ampun, kenapa hidupmu jadi sial seperti ini sih Mas? Perasaan sejak kamu pisah dari istrimu, selalu saja kamu ditimpa kesialan," cicit Mega.


Mendengar ucapan Mega, membuat Awan sedikit terperanjat. Kata-kata yang keluar dari bibir istrinya ini sungguh berhasil menyentil hati kecilnya.


Iya juga ya, mengapa setelah bercerai dari Cahya hidupku jadi belangsak seperti ini. Apakah ini artinya.... Ahh tidak, tidak, tidak. Mega jauh lebih cantik, lebih seksi, lebih menggairahkan dan aku yakin kehidupanku dengannya akan jauh lebih bahagia. Mungkin yang aku alami ini adalah salah satu ujian pernikahan. Seperti apa yang dulu pernah aku alami bersama Cahya.


Awan mencoba mengingkari apa yang dikatakan oleh hati kecilnya. Lelaki itu enggan untuk mengakui bahwa hidupnya jauh lebih menderita setelah bercerai dari sang mantan. Sehingga ia menganggap yang ia alami ini adalah ujian pernikahan.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu membuat Mega dan Awan sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Awan beranjak dari posisi duduknya dan menuju pintu depan untuk mengetahui siapa yang bertandang di siang hari ini.


"Maaf, apa benar ini kediaman pak Awan Surya Atmaja?" tanya seorang lelaki berpakaian rapi setelah Awan membukakan pintu.


"Iya benar Mas, saya Awan. Maaf Anda ini siapa dan datang kemari ada keperluan apa ya Mas?"


"Saya Toni, Pak, dari Anugerah Mobilindo. Saya datang kemari ingin menarik mobil yang Bapak kredit karena sudah lebih dari tiga bulan menunggak pembayaran."


"Apa? Menyita mobil? Tidak,tidak boleh. Itu mobilku, tidak ada siapapun yang boleh mengambilnya!!!" teriak Mega yang tiba-tiba saja berada di punggung Awan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2