Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 98. Menawarkan Diri


__ADS_3


Awan memperhatikan dengan seksama para karyawan baru yang sedang di training langsung oleh Sigit. Senyum lebar tiada henti mengembang yang dibalut oleh angan akan keberhasilan yang sebentar lagi ia capai. Dengan menggunakan brand resto ini, ia yakin bisa dengan cepat meraih kesuksesannya.


"Pak Awan, saya rasa semua sudah siap. Lusa, kita hanya tinggal opening. Semoga cuaca cerah dan mendukung sehingga banyak customer yang singgah di resto milik pak Awan ini."


Setelah memastikan para karyawan paham dan mengerti akan jobdesk masing-masing, Sigit merasa tugas dan kewajibannya sebelum buka outlet sudah selesai. Ia berniat untuk segera kembali ke resto pusat.


Awan tersenyum lega. Pada akhirnya, semua persiapan sudah terlaksana dengan sempurna. Tinggal menunggu lusa di mana untuk kali pertama ia akan membuka resto ini di hadapan para khalayak umum.


"Terima kasih banyak pak Sigit. Senang bekerja sama dengan Anda. Ternyata paket all in memang paket terbaik karena saya hanya tinggal ongkang-ongkang kaki."


"Itu semua sepadan dengan biaya yang dikeluarkan Pak. Kami sebisa mungkin memberikan yang terbaik untuk para mitra. Dan satu lagi Pak. Ada satu hal lagi yang mungkin akan menjadi kabar baik untuk para mitra."


"Oh ya? Kalau boleh tahu kabar apa itu Pak?"


"Kami akan mengadakan semacam kompetisi antar outlet-outlet baru, Pak. Jika outle baru bisa tembus omset sampai minimal lima ratus juta, maka outlet yang beruntung itu akan mendapatkan reward dari kami."


"Benarkah? Memang rewardnya dalam bentuk apa Pak?" tanya Awan yang semakin ingin tahu.


"Akan ada nominal uang senilai tiga puluh juta Pak. Maka dari itu, Pak Awan harus rajin-rajin promosi agar ramai dikunjungi oleh para customer."


Nampak jelas binar bahagia di wajah Awan. Ia sangat yakin bisa menerima tantangan yang. "Itu sudah pasti Pak. Dengan tim yang saya miliki, saya yakin resto ini akan semakin viral. Barangkali saja bisa melampaui keberhasilan resto-resto yang sudah lebih dulu berdiri."


"Wah, wah, wah, saya sungguh senang melihat semangat pak Awan yang begitu berapi-api seperti ini. Semoga berhasil mendapatkan reward nya ya Pak." Sigit meraih tas miliknya yang ia letakkan di atas meja. "Kalau begitu, saya pamit dulu ya Pak. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan."


"Terima kasih banyak Pak Sigit. Hati-hati di jalan."


Sigit melenggang meninggalkan Awan dan Tari yang memilih untuk tetap duduk-duduk di kursi.


"Kamu dengar apa yang diucapkan oleh Pak Sigit tadi kan Tar?"


"Iya Wan, aku dengar semuanya. Memang kenapa?"

__ADS_1


"Bagaimana? Apakah kamu sanggup untuk menerima tantangan dari Pak Sigit? Omset tembus lima ratus juta?"


"Tentu aku bisa Wan. Aku ini berpengalaman dalam bidang marketing, jadi menghasilkan omset lima ratus juta setiap bulan adalah hal yang mudah bagiku."


Awan teramat senang dengan janji yang diucapkan oleh Mentari. Mendengar ucapan Mentari yang begitu mantap dan meyakinkan, membuat Awan tidak ragu lagi akan kemampuan wanita ini.


"Jadi, langkah apa yang akan kamu gunakan untuk opening nanti sehingga banyak orang yang datang ke resto ku Tar?"


Mentari mengeluarkan ponsel dari dalam tas yang ia bawa. Sejatinya, sudah ada banyak hal yang ia persiapkan untuk resto milik Awan ini.


"Untuk langkah pertama, kita promosi melalui media sosial, Wan. Kamu pasti paham bukan jika saat ini manusia tidak bisa lepas dari media sosial? Maka dari itu, aku sudah mempersiapkan akun instagram, tik-tok, dan juga facebok untuk restomu ini."


"Aku paham itu Tar. Lantas, apa hanya dengan membuat akun di beberapa media sosial saja? Jika kita belum memiliki followers bukankah mustahil jika resto baruku ini diketahui oleh banyak orang?"


"Awan.... Awan, apa kamu lupa jika The Ceker's Ayam ini merupakan resto yang besar? Jadi pasti dari manajemennya juga turut membantu promosi resto barumu ini kan? Selain itu, kamu tenang saja, aku juga sudah memasukkan beberapa foto resto ke Wonderful Jogja. Kamu tahu kan apa itu Wonderful Jogja?"


Awan menggelengkan kepala. Karena sejatinya ia tidak paham apa itu Wonderful Jogja. "Tidak Tar, aku malah tidak tahu apa itu wonderful Jogja."


"Wonderful Jogja itu merupakan salah satu wadah untuk memperkenalkan wisata baru, resto baru, kafe baru dan semua hal yang serba baru Wan. Jadi nanti melalui wonderful Jogja resto milikmu ini langsung diketahui oleh banyak orang."


Mentari mengangguk mantap. "Itu merupakan cara pertama yang cukup efektif untuk mempromosikan restomu Wan. Karena zaman sekarang, manusia itu tidak lepas dari yang namanya media sosial. Setelah itu, baru kita adakan promo diskon harga ataupun yang lainnya untuk memeriahkan grand opening restomu ini."


"Waaaoowww ... Sungguh brilian ide-ide darimu itu Tar. Tidak salah aku memberikanmu posisi manajer pemasaran."


Raut penuh kekaguman itu nampak jelas di wajah Awan kala mendengar rencana-rencana Tari yang begitu menjanjikan. Ia bertambah yakin jika keberadaan Tari akan benar-benar menjadi jalan kesuksesannya.


"Terima kasih atas kepercayaanmu Wan. Aku janji akan bekerja maksimal untuk bisa memajukan restomu ini."


"Kalau itu harus, Tar. Karena gajimu tidaklah sedikit. Jadi, bisa rugi bandar aku kalau kamu tidak maksimal dalam bekerja. Hahahaha."


Dua orang yang merupakan teman lama itu melanjutkan obrolannya dalam kehangatan. Sesekali mereka tertawa lepas kala mengingat masa-masa sekolah dulu.


***

__ADS_1


Jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Begitu banyaknya yang harus dipersiapkan untuk grand opening, membuat Awan lupa akan janjinya bahwa ia harus pulang di sore tadi. Alhasil di jam sembilan ini ia dan yang lainnya baru saja selesai dengan aktivitas masing-masing.


Air hujan yang turun dari langit yang disertai dengan kilatan petir yang menggelegar juga membuat suasana semakin mencekam. Beruntung tidak ada pemadaman listrik oleh PLN sehingga masih terlihat jelas aktivitas-aktivitas yang ada di sekitar.


"Wan, aku pulang dulu ya. Aku rasa untuk hari ini cukup. Besok kita fokuskan untuk opening."


Awan melihat ke arah luar. Hujan masih turun sedikit lebat. "Kamu pulang naik apa Tar?"


"Naik taksi online Wan. Motor yang biasa aku gunakan sedang masuk bengkel dan baru besok siang bisa di ambil."


Ada sepercik rasa kasian di hati Awan untuk teman sekolahnya ini. Apalagi suasana sedikit mencekam seperti ini pastilah akan berbahaya untuk Tari sendiri.


"Aku antar saja ya Tar," tawar Awan.


"Eh tidak usah Wan. Aku naik taksi online saja. Kamu lekaslah pulang. Istrimu pasti sudah menunggumu sejak tadi."


Awan menimbang-nimbang akan apa yang dikatakan oleh Tari. Namun ternyata rasa kemanusiaannya kepada Tari jauh lebih besar daripada rasa kasihannya kepada sang istri yang sudah menunggu kepulangannya sejak tadi.


"Sudah tidak apa-apa Tar. Masalah istriku biar aku yang menghadapi. Lagipula hujan-hujan seperti ini pasti akan sulit mencari taksi online. Biasanya mereka sudah mematikan aplikasi. Aku antar ya."


"Eh tapi Wan. Aku sungguh tidak enak. Aku tidak mau merepotkanmu Wan," kilah Tari sedikit tak enak hati.


"Sudah jangan menolak. Aku antarkan kamu!"


"T-tapi...."


"Sudah, kamu tinggal tunggu di depan. Aku ambil mobil dulu!"


Awan bergegas meninggalkan Tari untuk mengambil mobil. Sedangkan Tari langsung mengambil posisi menunggu Awan di pintu depan. Senyum tipis tersungging di bibir wanita itu kala melihat tubuh Awan yang sedikit basah ketika mengambil mobil.


Awal yang baik Tar. Pastikan, setelah ini Awan tergila-gila padamu dan berusaha untuk mengejar-ngejarmu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2