Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 95. Kesal


__ADS_3


"Ada apa Wan? Kok kelihatan panik seperti itu?"


Dahi Mentari berkerut dalam ketika melihat Awan yang cepat-cepat menghabiskan sisa makanannya. Pastinya setelah lelaki ini menerima panggilan dari entah siapa.


Awan meneguk orange juice setelah beef steak yang ia pesan tandas tanpa bekas. Lelaki itu beranjak dari posisi duduknya dan seakan terlihat ingin cepat-cepat tiba di rumah.


"Aku harus segera pulang Tar. Aku lupa kalau tadi istriku menitip pesan untuk dibelikan kelapa muda. Dia sedang ngidam."


"Oh seperti itu," ucap Tari ber-oh ria. "Kalau begitu lebih baik kamu segera pulang Wan. Kasihan istrimu, pasti sudah begitu menunggu kepulanganmu dengan membawa kelapa muda itu."


Awan menganggukkan kepala. Ia beruntung karena Tari mau mengerti keadaannya ini. "Maaf aku tinggal dulu ya Tar. Untuk tagihan makanan ini, aku yang akan membayarnya."


"Ckkkkkcckk... Ya jelas kamu yang harus membayarnya Wan. Kamu kan yang sudah janji untuk mentraktir aku," decak Tari sedikit kesal.


Awan tersenyum kikuk karena sampai lupa dengan apa yang ia ucapkan. "Hahahaha iya, aku lupa. Kalau begitu aku duluan ya Tar."


"Oke Wan. Hati-hati di jalan."


Awan mengayunkan tungkai kakinya. Dengan langkah lebar ia mulai meninggalkan meja yang ia tempati bersama Tari. Namun ketika hampir sampai di ambang pintu, tiba-tiba lelaki itu berbalik arah. Ia kembali menuju meja di mana di sana Tari masih terlihat menghabiskan makanannya.


"Loh, kok balik lagi ke sini Wan? Apa ada yang tertinggal?" tanya Tari dengan raut wajah yang dipenuhi oleh tanda tanya.


"Iya, aku kelupaan sesuatu Tar."


"Oh ya? Apa itu Wan?"


Awan mengambil ponsel dari dalam saku celana. "Kamu belum memberikan nomor ponselmu. Jika kamu tidak beri tahu, lantas bagaimana caranya kita berkomunikasi?"


Tari tersenyum simpul. Ia ambil pula ponsel yang ada di dalam tas. Ia kasih lihat nomor ponselnya ke arah Awan.


"Ini nomorku, Wan."


Awan menyimpan nomor ponsel Tari. "Oke Tar. Nanti aku hubungi kamu. Mungkin tiga hari sebelum opening. Jadi, kamu bisa mulai mengatur strategi untuk membuat restoku semakin ramai pembeli."


"Siap Wan. Aku akan bekerja maksimal untuk bisa membuat restomu ramai."


"Terima kasih Tar. Kalau begitu aku pulang dulu."

__ADS_1


Setelah dirasa tidak ada lagi yang tertinggal, Awan kembali melangkahkan kaki. Kali ini ia benar-benar meninggalkan resto ini untuk segera pulang, mengantarkan pesanan sang istri. Ia tidak anaknya nanti ileran gara-gara telat memberikan sesuatu yang menjadi keinginan Mega.


Sedangkan Tari masih fokus pada hidangan yang ada di depannya. Senyum tipis tersungging di bibir wanita itu. Ia merasa begitu beruntung karena bisa kembali dipertemukan dengan lelaki yang dulu pernah menjadi incaran hatinya.


"Jika dulu aku yang mengejar-ngejar kamu, sekarang aku pastikan kamulah yang akan mengejar-ngejar aku Wan. Aku akan menarik ulur hatimu untuk membuatmu semakin penasaran terhadapku," monolog Tari dengan suara lirih.


Tari menghabiskan sisa jus anggur yang tinggal sedikit. Setelah dipastikan semua hidangannya habis tanpa sisa, ia beranjak dari posisi duduknya. Wanita itu mulai melangkahkan kaki untuk meninggalkan restoran ini.


Tari menaiki motor matic miliknya. Sejenak, ia lirik ke arah kelapa muda yang ia letakkan di motornya. Lagi-lagi wanita itu tersenyum tipis.


"Ternyata, melalui kelapa muda ini yang telah mempertemukanku kembali dengan lelaki yang dulu pernah aku kagumi. Kini saatnya untuk mengubah keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat."


***


"Han, aku pulang!"


Awan berteriak lantang kala memasuki ruang tamu. Ia letakkan kelapa muda yang ia bawa di atas meja dan ia daratkan bokongnya di atas sofa. Sungguh tidak ia sangka jika sore ini jalanan Jogja begitu macet luar biasa. Jadi baru di jam setengah lima ini ia bisa tiba di kediamannya.


"Istrimu sejak tadi uring-uringan karena menunggu kepulanganmu Wan. Habisnya dari tadi kamu tidak pulang-pulang. Kamu tahu kan kalau istrimu sedang ngidam. Pasti akan membuatnya kesal karena kamu tidak kunjung datang."


Bukan mendapatkan respon dari Mega, Awan justru mendapatkan respon dari sang mertua. Kardi juga ikut kesal terhadap menantunya ini. Gara-gara Awan yang tidak kunjung tiba di rumah, ia sampai menjadi bahan pelampiasan kekesalan Mega. Sejak tadi ia menjadi sasaran amarah sang anak.


"Ckkkckkk ... Lain kali jangan lakukan itu lagi Wan. Kamu tahu sendiri kan bagaimana Mega ketika mengamuk?"


"Iya Pak, iya. Aku mengerti. Lagipula jika tadi tidak ada keperluan mendadak dan jalanan tidak macet pasti aku sudah sejak tadi tiba di rumah."


"Ya sudah, lebih baik kamu segera susul istrimu di kamar. Bujuk dia agar tidak marah ataupun kesal lagi."


"Baiklah Pak."


Awan bangkit dari posisi duduknya. Ia menuju dapur terlebih dahulu untuk menuangkan kelapa muda yang ia beli ke dalam gelas. Awan yakin, Mega tidak akan lagi uring-uringan ataupun kesal setelah melihat satu gelas kelapa muda yang ia bawa.


Awan menaiki anak tangga untuk mengantarkannya ke kamar pribadi miliknya. Terlihat pintu kamar tertutup rapat. Ia yakin jika pintu kamar ini dikunci dari dalam. Awan membuang napas sedikit kasar. Sudah menjadi rahasia umum ketika mara, istrinya ini mengurung diri di dalam kamar.


"Han, buka pintunya. Ini aku bawakan kelapa muda pesananmu."


"Ini masih sore, kenapa sudah pulang? Apa tidak sebaiknya sampai malam baru kamu sampai di rumah Mas?"


Jawaban ketus Mega dari dalam kamar membuat Awan semakin frustrasi. Jika seperti ini ia semakin yakin jika sang istri lebih sulit untuk dibujuk ataupun dirayu.

__ADS_1


"Ayolah Han, jangan seperti ini. Iya, aku mengaku salah dan aku minta maaf. Tapi itu semua ada alasannya Han."


"Kebanyakan alasan kamu Mas."


"Serius Han. Aku baru saja bertemu dengan orang yang aku rasa bisa membantu kita untuk lebih cepat mencapai kesuksesan. Maka dari itu aku pulang terlambat. Ayo buka pintunya dulu. Nanti aku ceritakan kepadamu."


Awan tidak menyerah untuk membujuk Mega. Meskipun masih terbesit sedikit keraguan sang istri segera mengakhiri sikap dinginnya, namun masih ada sisa keyakinan jika hati Mega bisa segera melunak. Oleh karena itu, ia tidak menyerah untuk membujuk sang istri.


Cekleekkk...


Pintu yang sebelumnya tertutup dan terkunci rapat, kini setengah terbuka . Kepala Mega menyembul dari dalam sana.


"Memang siapa yang kamu temui Mas? Dan mengapa kamu begitu yakin jika orang itu bisa membantu kita untuk meraih kesuksesan?"


Awan tersenyum lega. Akhirnya, sang istri mau membukakan pintu juga. Ini bisa menjadi tanda jika hati Mega sudah mulai sedikit melunak.


"Biarkan aku masuk dulu Han. Akan aku ceritakan di dalam siapa yang aku temui." Awan mengulurkan gelas berisikan kelapa muda yang ia beli siang tadi. "Ini pesananmu, Han. Ayo segera dihabiskan. Aku tidak mau jika anakku sampai ileran gara-gara kelapa muda ini."


Mega membuang napas kasar. Meskipun ia teramat kesal dengan suaminya ini, namun ia tidak bisa berlama-lama untuk marah. Hatinya melunak. Ia terima satu gelas kelapa muda yang diberikan oleh Awan.


"Masuklah, dan ceritakan siapa yang kamu temui tadi Mas? Yang katanya bisa mempercepat kesuksesan kita."


Mega berdiri di depan jendela sembari menikmati kesegaran kelapa muda di tangannya ini. Perlahan, kerongkongannya dialiri oleh sensasi rasa segar dari kelapa muda yang dibawa oleh Awan. Kesegaran inilah yang membuat suasana hatinya jauh lebih rileks.


"Aku bertemu dengan teman sekolahku dulu, Han. Dia seblumnya bekerja sebagai manajer pemasaran. Nah, aku memberikan penawaran agar dia bekerja di resto kita dengan jabatan yang sama. Dengan begitu resto kita bisa semakin viral dan terkenal."


Dahi Mega sedikit mengernyit. "Mengapa langsung kamu tawari posisi itu Mas? Apakah kamu tidak menyeleksi terlebih dahulu? Posisi manajer pemasaran itu merupakan salah satu posisi yang penting loh. Jangan sembarangan mengangkat orang kamu, Mas."


"Aku yakin dia mampu menduduki posisi itu, Han. Karena dulu di sekolah, dia terkenal sebagai siswa yang pandai. Jadi, aku tidak ragu lagi akan kemampuannya."


"Seyakin itu kamu sama dia Mas? Memang dia siapa?" tanya Mega semakin penasaran.


"Namanya Mentari, Han!"


"Apa? Jadi dia perempuan?" pekik Mega dengan dua bola mata yang membulat sempurna karena begitu terkejutnya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2