
Awan melajukan mobil yang ia kemudikan dengan kecepatan tinggi menembus hari yang sudah mulai gelap ini. Lelaki itu ingin segera tiba di kantor pusat untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Meskipun pandangannya fokus ke arah jalanan yang ada di depan mata namun pikirannya tetap berkelana entah ke mana.
"Mas, bisa pelan tidak sih? Ingat, aku ini sedang hamil. Jangan sampai kecepatan mobil yang tinggi membuat anak dalam kandunganku kenapa-kenapa."
Mega memberikan sebuah ultimatum kepada Awan kala ia rasa kecepatan mobil ini sudah melampaui batas kewajaran. Jantungnya ikut berdegup kencang kalau saja mobil yang dikemudikan oleh Awan tiba-tiba oleng kehilangan keseimbangan karena melaju begitu kencang. Jika hal itu sampai terjadi pastilah akan membahayakan semua, terlebih janin yang ada di dalam rahimnya.
"Aku ingin cepat-cepat tiba di kantor Han. Aku sungguh terkejut dengan adanya berita kemalingan yang disampaikan oleh Dina tadi."
"Kamu boleh cemas Mas, tapi lihat situasi dan kondisi juga dong. Aku ini sedang hamil. Akan sangat membahayakan jika kamu mengemudikan mobil ini dengan kecepatan tinggi. Memang kamu mau jika sampai terjadi apa-apa dengan kandunganku?"
Pertanyaan retoris dari Mega, sukses membuat Awan tersadar seketika. Dengan cekatan, ia menurunkan kecepatan laju kendaraannya.
"Maafkan aku Han. Aku seakan dilanda oleh kecemasan yang berlebihan sehingga membuatku tidak sadar akan bahaya yang bisa saja terjadi jika aku mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi."
Awan berupaya untuk menetralisir segala rasa cemasnya. Ia mengusap wajahnya sedikit kasar untuk mengurai segala kegelisahan yang ia rasa.
"Nah, kalau begini kan enak. Jalan dengan kecepatan sedang yang tidak membahayakan," ucap Mega penuh kelegaan. "Semua bisa diselesaikan, Mas. Kamu seharusnya bisa sedikit lebih tenang. Tidak serba terburu-buru seperti ini," sambungnya pula sedikit tenang karena mobil ini sudah melaju dengan kecepatan normal.
Mendengar penuturan Mega, membuat senyum manis merekah di bibir Awan. Entah apa yang terjadi, kali ini semua ucapan Mega bisa meredam rasa cemasnya.
"Terima kasih banyak Han. Kata-katamu ini sungguh bisa menenangkan hati."
Mega tersenyum penuh arti. Kali ini ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menjadi sosok seorang istri yang pengertian ketika sang suami sedang berada dalam kesusahan.
"Sama-sama Mas."
Tangan kiri Awan meraih jemari tangan Mega kemudian ia kecup intens buku-buku jemarinya. Mendengar perkataan Mega yang terdengar menyejukkan seakan semakin membuatnya percaya jika wanita ini jauh lebih baik dari sang mantan istri. Kalaupun tidak lebih baik, setidaknya Mega bisa menyamai Cahya dalam segala hal.
__ADS_1
"I love you, Honey!"
"I love you too Baby!"
Setelah beberapa saat berada di perjalanan, pada akhirnya Awan dan Mega tiba di pelataran kantor. Dari kejauhan terlihat Dina dan security berada di depan gudang.
"Din, bagaimana ceritanya bisa dibobol maling seperti ini?" tanya Awan yang langsung pada pokok persoalan ketika tiba di tempat ini.
Dina hanya menggelengkan kepala pelan. "Entahlah Pak. Sepertinya ada orang dalam yang melakukan ini semua."
"Orang dalam?" tanya Awan dengan kernyitan di dahi. "Maksud kamu orang dalam bagaimana Din?"
"Untuk pastinya saya tidak paham Pak, namun ketika maling itu masuk, sama sekali tidak ada kerusakan di jendela maupun di pintu. Jadi, saya bisa mengambil kesimpulan jika pencuri paket-paket itu adalah orang dalam."
Awan terhenyak. "Jadi maksudmu orang itu punya kunci duplikat gudang?"
Dina mengangguk pelan. "Iya Pak, pemikiran saya seperti itu."
"Pak Jono juga bagaimana? Mengapa sebagai security Bapak tidak bisa memastikan keamanan kantor? Bapak ini sebenarnya becus kerja atau tidak?" tanya Mega meluapkan amarahnya karena sang security tidak becus bekerja.
Kepala Jono menunduk seketika kala dimarahi habis-habisan oleh calon istri baru pimpinannya ini. Hatinya seakan diliputi oleh perasaan bersalah karena dianggap tidak bisa menjalankan tugas dengan baik.
"Maafkan saya Bu. Saya tadi baru saja shalat Maghrib di masjid yang ada di seberang jalan sana. Ketika saya kembali, kondisi gudang sudah seperti ini kemudian saya melapor kepada bu Dina."
"Makannya jangan shalat. Kewajibanmu itu menjaga dan memastikan keamanan kantor mas Awan, bukan untuk shalat. Kalau sudah seperti ini siapa yang akan bertanggung jawab coba?" seloroh Mega semakin lantang. Bahkan ucapannya kali ini terdengar semakin keterlaluan.
Jono dan Dina yang mendengar penuturan Mega sama-sama terhenyak. Keduanya saling melirik seakan memikirkan hal yang sama di dalam benak.
Astaghfirullahalazim .... Calon istri model apa bu Mega ini. Bisa-bisanya dia melarang pak Jono untuk shalat. Padahal shalat kan merupakan kewajiban seorang muslim. Pak Awan benar-benar sudah salah pilih. -Dina-
__ADS_1
Ya Allah Gusti .... Padahal kalau bu Cahya memberikan wejangan untuk memprioritaskan shalat daripada pekerjaan. Dia bahkan memberikan titah agar aku langsung bergegas ke masjid ketika adzan berkumandang. Tapi mengapa bu Mega malah bersikap sebaliknya? Calon istri pak Awan ini seolah menganggap remeh perihal shalat. Ckkckkk.... Kasihan pak Awan. Dia rela kehilangan berlian demi batu kali seperti ini. -Jono-
"Sekali lagi saya minta maaf ya Bu. Ini semua sungguh di luar dugaan saya. Karena selama ini kantor dalam keadaan aman meskipun saya tinggal mengerjakan shalat," ucap Jono sedikit lirih.
Mega membuang napas kasar, merasa tidak ada gunanya lagi untuk memaki sang security. Karena semua ini sudah terjadi.
Tubuh Awan membeku. Ia menatap nanar gudang penyimpan paket kiriman yang sudah begitu berantakan. Paket-paket yang esok hari seharusnya bisa segera dikirim ke alamat tujuan, kini harus tertunda karena ada beberapa yang hilang. Selama bertahun-tahun ia menjalankan perusahaan, baru kali ini kantornya kemalingan seperti ini. Ia yakin jika banyak kerugian yang akan ia dapatkan dari kasus ini.
"Lalu, sekarang apa yang harus kita lakukan Pak? Apa kita lapor polisi saja?" tanya Dina yang seketika membuyarkan lamunan Awan.
Awan terlihat sejenak berpikir dan tak selang lama lelaki itu menggelengkan kepala. "Tidak perlu lapor polisi, Din."
"Loh mengapa begitu Pak?" tanya Dina sedikit terkejut. "Bukankah dengan lapor polisi kita bisa semakin mudah untuk menangkap pelakunya?" sambungnya pula.
"Jika kita lapor polisi, berita ini pasti akan menyebar kemana-mana dan itu akan berdampak buruk pada reputasi keamanan ekspedisi di mata para pelanggan. Aku tidak mau kehilangan kepercayaan mereka karena kasus ini," jelas Awan.
"Lalu, apa yang harus saat ini kita lakukan Pak? Kita harus bertindak cepat karena paket-paket itu harus segera diantar ke alamat tujuan."
"Malam ini kita lembur untuk membuat daftar paket-paket apa saja yang dicuri, lalu kita hubungi yang bersangkutan dan akan aku ganti semua yang sudah hilang."
Mega terkesiap mendengarkan penuturan Awan. "Mas, kamu yakin menempuh jalan keluar seperti itu? Itu semua pasti akan membutuhkan banyak biaya. Mau kamu bayar pakai apa?"
Awan mengacak rambutnya kasar. Sungguh, keadaan seperti ini tidak pernah terbayangkan sama sekali dalam benaknya.
"Akan aku gunakan sisa uang perusahaan untuk mengganti rugi para pelanggan."
.
.
__ADS_1
.