Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 129. Akhir Hidup Mega


__ADS_3


"Pak RT, Pak RT, buka pintunya Pak!"


Rustam, ketua RT di kampung Lastri sedikit terperanjat kala di petang hari seperti ini ada seseorang yang berteriak-teriak memanggil namanya.


"Itu siapa sih Bu? Bertamu tapi teriak-teriak seperti itu?" tanya Rustam kepada istrinya.


"Ibu juga tidak tahu siap Pak, tapi kalau dari suaranya sih sepertinya Bu Sulis."


"Aduh, ada-ada saja. Bertamu kok seperti ngasih berita kemalingan."


"Ya sudah Bapak ke depan dulu. Barangkali memang ada hal urgent."


Lelaki yang baru saja menunaikan shalat maghrib bersama istrinya itu bergegas menuju ruang depan untuk membukakan pintu. Dan ketika pintu sudah dibuka, benar saja bahwa yang berkunjung adalah Bu Sulis.


"Loh Bu Sulis, ada apa? Kok teriak-teriak seperti ini?"


"Aduh Pak RT gawat, Pak, gawat!" seru Bu Sulis yang terlihat begitu panik.


"Gawat kenapa sih Bu? Coba ceritakan yang jelas!"


"Ini soal azab, Pak!"


"Azab? Azab apa lagi?" tanya Rustam yang semakin tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Sulis. "Lebih baik Bu Sulis duduk terlebih dahulu. Biar ngobrolnya enak."


Rustam mempersilahkan tamunya ini untuk duduk di sebuah kursi kayu yang berada di teras. Sulis pun mendaratkan bokongnya di sana dan mencoba untuk mengatur napas.


"Coba sekarang Bu Sulis ceritakan ada apa sebenarnya?"


"Begini Pak, Pak RT kenal sama Mega kan?" tanya Sulis mulai membuka obrolan.


Dahi Rustam sedikit berkerut. "Mega? Mega anaknya Bu Lastri yang dulu dapat beasiswa di Jakarta?"


"Issshhhhhh .... Itu sih dulu Pak. Dulu menjadi kebanggaan, tapi sekarang menjadi sumber musibah Pak!"


"Sumber musibah bagaimana sih Bu? Saya benar-benar tidak paham."


"Pak, saya kasih tahu ya. Sekarang ini Mega sudah pulang kampung. Dan apakah pak RT tau? Wajah Mega sekarang menjadi buruk rupa Pak. Persis seseorang yang terkena azab."


"Astaghfirullahalazim.... Jangan bicara seperti itu Bu. Tidak baik. Lagipula bagaimana bisa Bu Sulis tahu bahwa Mega terkena azab?"


"Ya jelas terkena azab Pak, dia itu kan pelakor. Perebut laki orang, jadi wajahnya yang hancur dan buruk itu karena azab telah menjadi pelakor."


"Astaghfirullah .... Terus maksud Bu Sulis datang kemari itu untuk apa? Apa hanya untuk memberitahukan berita ini?"


"Aduhhhh, Pak RT tuh bagaimana sih? Pak RT harus segera bertindak dong. Mega ini sudah menjadi sumber azab, apa pak RT mau satu kampung ini hancur karena kedatangan wanita buruk rupa itu?"

__ADS_1


"Bertindak bagaimana lagi maksud bu Sulis ini?"


"Ya ampun, pak RT ini lola sekali sih. Kalau seperti ini tidak akan aku pilih jadi ketua RT lagi loh," ancam Sulis yang sepertinya begitu frustrasi karena Rustam tidak paham dengan maksud dan tujuannya. "Pak RT harus segera mengusir Mega dari kampung ini. Sebelum azab itu menimpa kampung kita!" sambung Sulis pula.


"Astaghfirullahalazim.... ya tidak bisa seperti itu Bu. Kita tidak memiliki wewenang untuk mengusir Mega, karena dia merupakan warga di sini juga. Jadi tidak mungkin jika kita usir dari kampung ini."


"Tapi Pak, kehadiran Mega dengan membawa wajahnya yang hancur itu sudah cukup menjadi alasan untuk membuat dia pergi dari kampung ini. Dia sudah menjadi aib bagi kampung kita. Semua pasti akan terkena imbasnya, Pak."


Rustam hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia merasa kesulitan untuk menghadapi wanita paruh baya yang terlihat dikuasai oleh emosi ini.


"Bu, jangan suudzon dulu, bisa jadi keadaan wajah Mega karena memang ia sedang sakit. Jadi jangan langsung dihubungkan dengan azab."


"Nah justru karena itu bisa jadi penyakit Mega itu menular kan Pak? Apa Pak RT mau warga kampung kita ini terkena penyakit seperti yang diderita oleh Mega?" tanya Sulis yang mencoba untuk mendesak Rustam. "Pokoknya saya tidak mau tahu Pak. Saya mau Mega diusir dari kampung ini. Jika pak RT tidak mau, saya yang akan bergerak sendiri. Saya akan mengumpulkan warga untuk mendatangi rumah Bu Lastri dan mengusir Mega!"


Sulis bangkit dari posisi duduknya. Wanita itu nampak tidak puas dengan respon yang diberikan oleh Rustam. Ia pun kemudian melenggang pergi meninggalkan kediaman Rustam.


"Astaghfirullahalazim....," lirih Rustam sembari mengelus dada seakan begitu prihatin dengan sikap dan perilaku salah satu warganya ini.


"Loh Pak, kok tidak ada siapa-siapa? Memang yang datang tadi siapa?" tanya Siti yang kebetulan baru saja ingin menemui tamunya. Tapi ia justru keheranan karena tidak ada satupun yang ia temui di teras ini.


"Bu Sulis Bu, tapi dia sudah pulang."


"Loh, kok sudah pulang? Memang ada keperluan apa dia datang kemari, Pak? Ibu dengar kok tadi membahas Mega anaknya Bu Lastri?"


"Dia datang kemari meminta Bapak untuk mengusir Mega dari kampung ini, Bu. Katanya Mega terkena azab karena sudah menjadi pelakor."


"Katanya sih wajah Mega hancur dan itu semua karena kena azab. Maka dari itu Bu Sulis meminta Bapak untuk mengusir Mega agar kampung kita ini tidak ikut mendapatkan azab."


"Astaghfirullahalazim .... Kok bisa ya Bu Sulis berpikir seperti itu? Ibu tidak membenarkan apa yang dilakukan oleh Mega dengan menjadi perebut lelaki orang, tapi kita juga tidak berhak untuk menjadi hakim atas apa yang telah Mega lakukan. Setiap manusia pasti memiliki kesempatan untuk berubah, ya kan Pak?"


"Bapak juga berpikir seperti itu Bu. Tapi Bu Sulis sepertinya sudah begitu menggebu-gebu ingin mengusir Mega dari kampung ini. Entah apa yang akan dilakukan oleh Bu Sulis."


"Pokoknya Bapak harus bisa menjadi jalan penengah dalam kasus ini. Ibu malah kasihan pada Bu Lastri kalau sampai Bu Sulis berbuat nekat untuk mengumpulkan para tetangga dan memprovokasi mereka."


"Bapak pun juga berpikir seperti itu Bu. Tapi Bu Sulis sepertinya sudah akan melakukan sesuatu."


Rustam menyenderkan punggungnya di kursi. Kepalanya tiba-tiba saja terasa begitu pening. Ternyata menjadi ketua RT juga merupakan pekerjaan yang cukup berat karena ia harus bisa dengan bijak menyelesaikan segala permasalahan yang ada.


****


"Mega... Keluar kamu. Kamu harus pergi dari kampung ini!!"


"Iya betul. Kamu harus pergi. Kami tidak ingin kampung ini terkena azab!"


"Dasar pelakor. Berani-beraninya kamu pulang ke kampung ini!"


Riuh suara teriakan beberapa orang yang berasal dari luar rumah, membuat Lastri yang tengah beristirahat sedikit terperanjat. Tubuhnya yang begitu lelah karena seharian menggarap sawah seakan ditarik paksa untuk kembali kuat. Dengan sempoyongan, wanita paruh baya itu berjalan menuju depan.

__ADS_1


"Bu gawat! Banyak warga yang datang ke rumah kita. Sepertinya mereka ingin mengusir Mega dari sini!"


Sebelum tiba di depan, langkah kaki Lastri terhenti setelah sang suami memberikan sedikit informasi. Dahi Lastri sedikit berkerut karena tidak begitu paham dengan ucapan Kardi.


"Mengusir Mega? Memang kenapa mereka ingin Mega pergi dari kampung ini?"


"Entahlah Bu, Bapak juga tidak tahu."


Lastri hanya bisa membuang napas kasar. Ia kembali ayunkan tungkai kakinya untuk menemui orang-orang yang sudah ada di depan rumahnya.


"Bapak-Bapak, Ibu-Ibu .... Ini ada apa? Mengapa kalian berbondong-bondong datang kemari?"


"Mana Mega Bu? Suruh dia keluar dan pergi dari kampung ini! Kami tidak mau kampung ini ditinggali oleh manusia pembawa petaka! Betul kan semua?" teriak Sulis meminta dukungan.


"Iya betul. Kami tidak mau terkena petaka setelah kedatangan Mega!" teriak warga yang lain dengan lantang.


"Astaghfirullahalazim ... Mengapa Bapak dan Ibu mengatakan hal semacam itu? Petaka apa yang Bapak dan Ibu maksud?"


"Eh Bu Lastri, jangan menutup-nutupi lagi kebusukan putrimu. Dia itu sudah terkena azab karena menjadi pelakor. Maka dari itu silakan bawa Mega pergi dari kampung ini agar kampung ini tidak menerima petaka!" teriak salah seorang laki-laki dengan perawakan tinggi besar.


"Ya Allah .... Saya mengakui bahwa anak saya memang telah salah Pak, Bu. Tapi apakah tidak ada kesempatan bagi anak saya untuk bertaubat dan memperbaiki diri? Anak saya pulang kemari untuk memperbaiki dirinya, Pak, Bu!"


Meskipun sejak kedatangan Mega hati Lastri masih dibelenggu oleh rasa marah dan kecewa, namun melihat sang anak dikeroyok oleh banyak orang dan memintanya untuk pergi dari kampung ini sungguh membuat hatinya teriris perih. Sebenci-bencinya orang tua kepada anaknya, ia tetap tidak tega melihat sang anak diperlakukan seperti ini.


"Sudah terlambat Bu. Wajah Mega itu sudah hancur. Itu tandanya akan ada petaka yang jauh lebih dahsyat lagi. Kami tidak mau kampung ini ikut terkena petaka itu!" teriak Sulis.


"Sekarang lebih baik panggil Mega keluar dan usir dari kampung ini!" timpal salah seorang warga lagi.


"Betul!!!!"


"Usir... Usir... Usir!!!"


"Tidak bisa Pak, Bu. Mega akan tetap tinggal di sini. Dia masih berhak untuk memperbaiki diri!" teriak Lastri. Air matanya sudah mengalir deras menyusuri bingkai wajahnya.


"Kalau Bu Lastri tidak mau membawa Mega keluar dari rumah ini, biarkan kami yang bergerak. Kami akan menyeret Mega keluar dari sini!"


"Ayo semua, seret Mega keluar!"


"Pak, Bu jangan!!!!" teriak Kardi dan Lastri bersamaan.


Tanpa belas kasih, semua orang yang diprovokasi oleh Sulis, merangsek masuk ke dalam rumah. Suara mereka terdengar riuh di telinga sembari meneriakkan nama Mega untuk pergi dari kampung ini. Sepersekian menit suara mereka masih terdengar riuh di telinga, namun tiba-tiba saja suasana menjadi hening seketika.


Kardi dan Lastri sama-sama melemparkan pandangan. Keduanya seakan sama-sama bertanya ada apa gerangan sampai membuat orang-orang yang tadinya riuh dan ramai kini hening seketika.


Kardi dan Lastri bergegas masuk ke dalam. Mereka menyusul para warga yang sudah lebih dulu berada di area dalam.


Tiba di depan kamar Mega, kedua bola mata Kardi dan Lastri sama-sama terbelalak sempurna. Sepasang suami-istri itu dibuat terkejut setengah mati dengan apa yang mereka lihat.

__ADS_1


"Megaaaaaaa!!!!!!" teriak Kardi dan Lastri bersamaan tatkala melihat tubuh Mega yang sudah tergantung di dalam kamar.


__ADS_2