Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 73. Hamil Duluan


__ADS_3


"Benar-benar kurang ajar mantan istrimu itu Mas. Bisa-bisanya dia menampar kita seperti itu!"


Di perjalanan sepulang dari Pengadilan Agama, Mega tiada henti mengumpat Cahya setelah wanita itu berhasil menamparnya dan juga Awan. Sungguh di luar dugaan, ternyata Cahya berani untuk melakukan hal itu. Seorang wanita yang mereka anggap lemah dan telah kalah karena keadaan, ternyata masih memiliki kekuatan untuk menyerang. Serangan itulah yang membuat harga diri Mega seakan diinjak-injak.


Awan yang tengah fokus dengan kemudinya hanya bisa menanggapi santai ocehan Mega yang sejak tadi tiada henti-hentinya. Meskipun secara pribadi ia juga teramat kaget namun ia tetap tenang menanggapi itu semua.


"Sudahlah Han, biarkan dia melakukan apapun yang dia mau. Anggap saja kita sedang memberikan kesempatan bagi Cahya untuk meluapkan amarahnya."


"Apa kamu bilang Mas? Memberikan kepada mantan istrimu untuk meluapkan amarahnya? Kamu itu gila atau bagaimana sih Mas? Apa harga dirimu tidak merasa terinjak-injak? Seharusnya kamu tadi membalasnya!" kesal Mega sembari menyilangkan lengan di dada. Ia sungguh tidak terima karena Awan terkesan lemah seperti itu.


Awan menghembuskan napas sedikit kasar. Jika sudah seperti ini hanya ada satu cara untuk mengembalikan mood Mega yang sudah terlanjur kacau.


"Sudahlah, kita lupakan apa yang dilakukan oleh Cahya di Pengadilan Agama tadi, oke? Sekarang kamu mau kemana? Akan aku turuti agar bisa mengembalikan mood kamu."


Mendengar negosiasi yang diucapkan oleh Awan, seketika membuat senyum mengembang di wajah Mega. Ia yang sebelumnya membuang muka dengan menatap ke arah luar jendela mobil, kini ia arahkan pandangannya ke Awan.


"Sungguh, kamu ingin menuruti kemanapun aku pergi Mas?"


Awan menganggukkan kepala dengan mantap. "Hehem.. Akan aku turuti kemana kamu mau!"


"Kalau begitu antar aku ke salah satu WO kenalanku, Mas. Aku ingin kita segera menikah dan aku ingin dibuatkan konsep pernikahan yang mewah."


"Baiklah, kita kesana."


"Bukan hanya itu saja Mas. Aku ingin tamu yang diundang banyak. Ya paling tidak lima ratus tamu undangan lah."


"Bisa diatur, kamu tenang saja."


Senyum lebar kian menghiasi bibir Mega mendapati Awan yang menuruti semua kemauannya. Dalam benak, ia juga sudah berangan-angan bagaimana megah dan meriahnya acara pernikahannya nanti. Apalagi akan dihadiri oleh tamu-tamu penting relasi bisnis Awan.


Senyum yang merekah di bibir, mendadak sirna kala Mega tiba-tiba merasakan perutnya sedikit aneh. Tiba-tiba rasa mual begitu terasa dan seakan mengaduk-aduk perutnya. Perlahan rasa mual itu mulai menjalar ke atas hingga ke kerongkongan dan pada akhirnya...


Hoekkk... Hoekkkk... Hoekk...


"Honey, kamu kenapa?"


Melihat Mega yang tetiba muntah di dalam mobil, seketika membuat Awan terkejut. Lelaki itu banting setir ke kiri dan menepikan mobilnya di bahu jalan.


Mega hanya bisa menatap nanar pakaian yang ia kenakan sudah kotor karena terkena muntahan. Wanita itu sejenak menyenderkan punggungnya di sandaran bangku mobil.

__ADS_1


"Tidak tahu Mas. Perutku tiba-tiba mual dan akhirnya muntah seperti ini."


"Apa kamu masuk angin Han? Tapi kok tumben kamu masuk angin?" tanya Awan dengan nada cemas.


"Entahlah Mas, aku juga tidak tahu."


"Kita ke dokter ya biar tahu apa yang terjadi kepadamu?" tawar Awan seraya mengulurkan tisu untuk Mega.


Mega menggeleng pelan. Sangatlah tidak mungkin jika ia ke dokter dalam keadaan pakaian kotor terkena muntahan seperti ini.


"Tidak Mas, kita pulang saja. Tapi nanti kalau ada apotek berhenti sebentar. Belikan aku testpack."


Dahi Awan sedikit berkerut. "Beli testpack? Untuk apa Han?"


Mega nampak hening sejenak. Tiba-tiba saja pikirannya berkelana pada ucapan Cahya yang sempat diucapkan saat berada di Pengadilan Agama. Ia mulai sadar jika sudah dua minggu tamu bulanannya tidak kunjung datang.


"Aku ingin membuktikan apa yang diucapkan oleh mantan istrimu ketika di Pengadilan Agama tadi dan sepertinya apa yang dia ucapkan benar adanya."


"Hah, maksudmu bagaimana Han?" tanya Awan yang semakin tidak paham dengan ucapan calon istri barunya ini. "Coba jelaskan padaku sedetail mungkin!"


Mega menarik napas dalam sembari menguasai rasa mual yang masih belum hilang sepenuhnya. "Aku telat dua minggu, Mas. Bisa jadi aku memang tengah hamil?"


Mega yang kini justru mengernyitkan dahi. Ia menatap kesal wajah Awan yang seolah tidak menginginkan kehamilan ini.


"Bagaimana bisa, bagaimana bisa? Kamu sadar kan Mas kalau selama ini kita tidak pernah memakai pengamanan ketika bercinta? Lantas apa yang membuat tidak bisa?"


"Iya aku sadar Han, tapi kenapa tidak dari awal kita main kamu hamil nya? Kenapa justru baru sekarang?"


"Issshhhh ... Kamu ini menyebalkan sekali Mas. Kalau kamu tanya itu kepadaku lalu aku tanya ke siapa? Mana bisa aku atur kapan spermamu bisa membuahi sel telur dalam rahimku?"


"Bukan maksudku begitu Han, tapi rasanya aneh saja."


"Sudahlah jangan merasa aneh, yang penting secepatnya kamu harus segera menikahiku dan jika memang benar aku hamil, kamu juga harus mempersiapkan kebutuhan anak kita sejak dini."


Tak ada yang bisa dilakukan oleh Awan selain menuruti kemauan Mega. Jika memang saat ini Mega hamil, itu semua sudah menjadi konsekuensi dari semua yang sudah ia perbuat.


"Baiklah Han. Sekarang kita cari tahu kebenarannya dulu. Apakah benar kamu hamil atau tidak."


Awan kembali memacu mobilnya untuk mencari apotek terdekat. Tidak membutuhkan waktu lama lelaki itu sudah berada di depan apotek untuk membeli sesuatu yang diminta oleh Mega.


***

__ADS_1


Awan berjalan mondar mandir di depan pintu kamar mandi. Menanti Mega yang sedari tadi tidak kunjung keluar juga dari dalam sana. Lelaki itu nampak begitu cemas dalam menanti hasil test kehamilan pribadi yang dilakukan oleh sang calon istri.


Entah apa yang terjadi Awan terlihat begitu cemas kali ini. Meskipun ini semua sudah menjadi resiko dari apa yang sudah ia perbuat namun untuk mendapatkan anak dalam waktu secepat ini dari Mega sungguh merupakan hal yang tidak ia inginkan sama sekali.


Ia masih ingin menghabiskan banyak waktu dengan Mega tanpa harus diganggu oleh segala kesibukan mengurus anak. Apalagi saat ini masih ada sang ibu yang juga masih harus ekstra diperhatikan. Pastinya akan jauh lebih banyak menyita waktu jika ada anak pula dalam kehidupannya.


"Han, bagaimana? Negatif kan?" tembak Awan ketika melihat pintu kamar mandi terbuka dan ia pun berjalan mendekat ke arah Mega.


Mega hanya bisa tersenyum simpul seraya menggelengkan kepala pelan. Dalam benaknya ia sudah berangan-angan jika nantinya anak yang ia kandung ini akan menjadi pewaris tunggal perusahaan Awan.


"Tidak Mas. Muncul garis dua dari testpack ini."


Awan terkesiap. Dengan gemetar, ia lihat alat test uji kehamilan yang ada di dalam genggaman tangannya ini.


"I-ini artinya....?"


"Ya, aku hamil Mas. Sebentar lagi kamu akan memiliki keturunan dariku!"


Mendadak kepala Awan terasa begitu pening. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana repotnya mengurus semua kesibukan bayi dan juga sang ibu yang tengah sakit secara bersamaan. Di sela rasa peningnya itu tiba-tiba...


Drrtttt... Drrttt... Drrtttt....


Getaran ponsel dari dalam saku celana yang dikenakan, memupus sejenak rasa pening yang dirasakan oleh Awan. Lelaki itu bergegas merogoh saku celana dan mengambil ponsel miliknya. Ada nama Dina yang terlihat di layar ponsel.


"Iya Din, ada apa?"


"Pak Awan, gawat Pak, gawat!"


"Gawat kenapa Din? Jangan buat aku penasaran seperti itu. Coba lekas katakan!"


"Gudang kita dibobol maling Pak. Ada banyak barang dari customer yang hilang digondol maling."


"Apa?????!!!!"


.


.


.


Mohon maaf baru bisa update ya Kak.. Sedang banyak pekerjaan di dunia nyata sehingga membuat sedikit terlambat update episode terbarunya... mohon di maklumi ya Kak.. 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2