Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 50. Shock Terapi


__ADS_3


Tak jauh berbeda dengan Awan, Cahya yang berdiri di ambang pintu pun juga ikut dibuat terkejut akan keberadaan sosok wanita lain di dalam ruangan sang suami. Namun, sejak mengetahui bahwa wanita itu adalah Mega, Cahya pun hanya bisa tersenyum santai.


"Loh sedang ada tamu rupanya. Kedatanganku mengganggu atau tidak Mas?" tanya Cahya dengan santai dan masih tetap berdiri di ambang pintu.


Awan sedikit tergagap. Lelaki itu tengah berusaha mati-matian untuk menetralisir degup jantungnya yang tiada beraturan.


"Oh sama sekali tidak Ay. Ayo masuk!"


"Memang itu siapa Yah? Kok malah delosoran di lantai?"


Sebuah pertanyaan terlontar dari bibir Alina kala melihat seorang wanita yang tengah terkapar di atas lantai. Pertanyaan dari sang putri itulah yang membuat Awan tersadar jika sedari tadi ia mengabaikan Mega yang terjatuh dari pangkuannya.


Awan tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mendadak lelaki itu seakan dibuat salah tingkah.


"Oh ... Ini salah satu relasi Ayah, Sayang." Awan sedikit membungkuk. Ia ulurkan tangannya, membantu Mega untuk bisa bangkit. "Tadi Tante ini jatuh karena tersandung kaki meja."


Alina dan Malika berlarian ke arah Mega yang kini berdiri di samping sang ayah dengan wajah yang menahan rasa sakit. Akibat terbentur kaki meja, membuat pelipis wanita itu sedikit memar. Tak mengherankan jika Mega sedari tadi memijit-mijit pelipisnya. Sedangkan Cahya ikut masuk ke dalam ruangan dan ia daratkan bokongnya di atas sofa.


Dengan sorot mata tajam, Cahya memperhatikan dengan lekat sosok Mega yang masih setia berdiri di samping Awan dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Lagi-lagi, ia hanya bisa tersenyum sinis.


Ternyata selera kamu menurun ya Mas. Kamu sebelumnya mendapatkan seorang istri yang berpenampilan tertutup dan hanya bisa dinikmati olehmu, kini malah kamu tukar dengan seorang wanita yang berpenampilan terbuka yang lekuk-lekuk tubuhnya bisa dinikmati oleh siapa saja.


"Tante ini tidak sopan. Masa datang ke kantor Ayah memakai pakaian seperti ini," ucap Alina sembari menatap lekat tubuh Mega dari ujung kaki ke ujung kepala.


"Iya ya Kak, pakaian Tante ini seperti kekurangan bahan karena terlihat kecil sekali," timpal Malika dengan polos.


Kedua bola mata Mega membulat penuh. Tidak menyangka jika anak-anak Awan ini bisa mengatakan hal itu.


Awan semakin gusar. Tidak tahu harus melakukan apa. Keadaan seperti ini sungguh hanya membuatnya kebingungan untuk berbuat apa.


"Oh iya bu Mega, saya rasa pembicaraan kita sudah cukup. Besok saya langsung datang ke kantor bu Mega saja."


Pada akhirnya Awan memilih untuk mengusir Mega secara halus. Ia tidak ingin jika kehadiran Mega di ruangannya membuat sang istri curiga. Lelaki itu sedikit mengedipkan mata agar Mega paham dengan isyaratnya.


"Loh Mas, kenapa disuruh pergi tamu kamu ini? Mending tetap di sini saja. Kita makan siang sama-sama." Cahya mengangkat rantang susun yang ia bawa dan ia tunjukkan kepada Awan. "Kebetulan aku masak banyak, jadi bisa kita makan sama-sama."


"Eh tapi...."


"Sudahlah Mas, ajak bu Mega ini makan sama kita biar ramai." Sekilas Cahya melirik ke arah Mega. "Bu Mega bersedia kan makan siang bareng kami? Sayang Bu kalau Anda tidak ikut makan. Saya sudah terlanjur masak banyak."


Mega melirik ke arah Awan dengan maksud meminta sebuah keputusan. Awan pun mengangguk pelan sebagai isyarat agar Mega menyetujui permintaan Cahya.


"B-Baiklah kalau begitu, Bu," ujar Mega sedikit gugup. Entah apa yang terjadi, namun ia merasakan sesuatu yang sedikit aneh dalam dirinya. Ia seperti dibuat kicep saat berhadapan langsung dengan Cahya.


Alina masih saja menatap tak suka wajah wanita asing yang berdiri di hadapannya ini. Bak memiliki firasat yang kurang baik, gadis kecil itu seakan begitu membenci keberadaan Mega.


"Dek, Kakak minta permen karet yang kamu bawa tadi ya?" pinta Alina kepada Malika sembari berbisik.


"Untuk apa Kak? Kak Alina kan biasanya tidak suka permen karet?" tanya balik Malika karena keheranan akan sikap sang kakak yang tidak biasa ini.


Alina mendekatkan wajahnya di telinga sang adik. Gadis kecil itu membisikkan sesuatu di telinga Malika.


"Kakak tidak suka dengan tante itu. Kakak merasa tante itu bukan orang baik. Kakak ingin memberikan sesuatu ke tante itu."


Malika mengangguk-anggukkan kepala. Gegas, si bungsu memberikan permen karetnya kepada sang kakak. Dengan penuh hati-hati, Alina menempelkan permen karet di atas sofa agar tidak ketahuan.


Cahya sedikit tersentak kala melihat apa yang dilakukan oleh Alina. Namun, tiba-tiba senyum seringai terbit di bibirnya. Dalam hati ia memuji sang anak karena memiliki ide yang cukup briliant untuk memberikan pelajaran bagi sag pelakor.


Rupa-rupanya kita sehati, Nak. Kamu ternyata juga memiliki firasat yang tidak baik kepada wanita asing ini.

__ADS_1


"Astaghfirullah ... Mengapa kalian sejak tadi hanya berdiri di sana saja? Ayo Mas, bu Mega, duduk di sini kita makan sama-sama!" ucap Cahya yang seketika mengembalikan kesadaran Mega dan Awan yang sedari tadi malah terlihat keki dan salah tingkah.


"Eh iya, mari silakan duduk Bu!" ucap Awan mempersilakan.


Mega berjalan ke arah sofa yang sama sekali tidak diharapkan oleh Cahya. Hal itulah yang membuat Cahya berteriak seketika.


"Bu Mega, kenapa duduk di sana?" Cahya menepuk-nepuk samping bokongnya. "Sini, duduk di samping saya saja Bu."


"Eh, saya duduk di sini saja Bu!" tolak Mega dengan kikuk.


Cahya tersenyum penuh arti. Ia bangkit dari posisinya dan mendekat ke arah selingkuhan suaminya ini. Ia pegang pundak Mega dan ia papah untuk duduk di sofa yang sama dengannya.


"Sudahlah Bu, duduk di samping saya saja. Saya lihat Bu Mega ini salah satu bisnis women yang cukup sukses. Saya mau dong diberi bocoran trik-trik agar bisa sukses juga."


Cahya berujar sembari memapah tubuh Mega. Hingga akhirnya wanita simpanan Awan itu berhasil menduduki sofa yang sebelumnya sudah ditempeli permen karet oleh Alina. Cahya tersenyum lebar karena langkah awalnya ini cukup berhasil.


"Nah ayo kita makan sama-sama."


Cahya mulai membuka rantang susun yang ia bawa. Ia baru ingat jika belum membawa piring dari rumah.


"Sayang, coba ke ruangan Tante Dina. Minta diambilkan piring dan sendok di pantry. Bunda lupa membawa piring," titah Cahya kepada dua putrinya.


Malika dan Alina mengangguk bersamaan. "Baik Bunda."


Dua gadis kecil itu bersegera meninggalkan ruangan untuk melaksanakan perintah sang bunda.


Cahya kembali menautkan pandangannya ke arah Mega dan Awan. Ia sungguh heran karena pasangan mesum ini sedari tadi hanya diam saja seperti cacing yang terinjak kaki manusia. Berbeda jauh dari saat mereka bercinta yang terlihat begitu menggairahkan.


"Bu Mega ini bisnisnya di bidang apa?" tanya Cahya membuka pembicaraan.


Mega terlihat kebingungan untuk mencari jawaban. Ia malah terlihat seperti orang bo*doh yang tak tahu apa-apa.


"Oh, Bu Mega ini bisnisnya di bidang kosmetik Ay. Dia agen salah satu produk skincare gitu. Nah, ia menggunakan ekspedisi kita untuk mengirimkan produk-produknya."


"Mas Awan ini sudah seperti juru bicaranya bu Mega saja. Aku kan tanya langsung ke bu Mega, Mas. Atau apa bu Mega ini tipe wanita yang malu-malu jika bertemu dengan orang baru?"


Mega hanya bisa nyengir kuda. "Iya Bu, saya memang seperti itu. Sedikit malu jika bertemu dengan orang baru."


Tapi tidak malu ketika merebut dan menggoda suami orang ya? Sungguh Luar biasaa, -batin Cahya-


"Oh seperti itu ya. Tapi kalau dengan saya bu Mega tidak perlu malu. Selama ini relasi bisnis mas Awan itu kebanyakan laki-laki, tidak ada yang perempuan. Siapa tahu kita bisa berteman akrab." Cahya melirik ke arah Awan. "Benar begitu kan Mas?"


Awan terhenyak. "Eh, iya Ay benar."


"Oh iya umur bu Mega ini berapa? Sepertinya masih muda?"


"Saya dua puluh lima tahun Bu."


"MashaAllah ... Ternyata tiga tahun lebih muda dariku. Kalau begitu aku panggil mbak saja ya dan bahasanya tidak perlu formal."


"Oh silakan Bu."


"Sudah menikah Mbak?"


Mega tersentak. "B-belum Bu. Tapi saya sudah punya calon."


"Waaahhhh... Berarti sebentar lagi menikah dong Mbak?"


"Doakan saja Bu."


Cahya tersenyum penuh arti. "Aamiin... Aku doakan semoga mbak Mega cepat menikah dengan calonnya."

__ADS_1


Pembicaraan Cahya terhenti kala melihat dua putrinya kembali ke ruangan Awan dengan membawa piring dan juga sendok makan.


"Ini Bunda!"


"Terima kasih ya Sayang. Ayo kakak dan adek makan sekalian!"


Alina dan Malika saling melemparkan pandangan. Keduanya menggelengkan kepala bersamaan.


"Tidak Bunda. Malika sama kakak mau ke ruangan tante Dina saja. Tante Dina punya game baru. Kami ingin lihat," cerita si bungsu.


"Oh baiklah kalau begitu. Tapi jangan main jauh-jauh ya Nak."


"Iya Bunda!"


Dua gadis kecil itu kembali keluar dan menyisakan Cahya, Awan, dan Mega di dalam ruangan. Harum aroma kuah soto Lamongan mulai menguar memenuhi indera penciuman. Serasa menggoda orang-orang yang berada di sekitar untuk segera menikmatinya.


"Ayo mbak Mega, silakan dinikmati. Jangan malu-malu loh ya. Makanan ini sudah aku izinkan untuk kamu nikmati jadi InshaAllah berkah dan halal sampai di dalam perutmu!"


Cahya berucap penuh dengan teka-teki, hingga memunculkan sejuta tanya dalam hati Mega dan Awan.


"Iya Bu, terima kasih."


Ketiganya mulai fokus dengan piring masing-masing dan mulai menyantap menu soto Lamongan yang dibawa oleh Cahya. Tidak ada yang bersuara sama sekali. Hanya ada dentingan suara sendok dan piring yang beradu, memecah keheningan yang ada.


Cahya mengambil ponsel dari dalam tas. Wanita itu terlihat sedang mengirimkan pesan kepada seseorang dan tak selang lama, ponsel itu berdering.


"Maaf, aku angkat telepon sebentar ya."


Cahya beranjak dan menuju sudut ruangan, tepatnya di dekat jendela. Sedangkan Awan dan Mega masih fokus dengan soto Lamongannya.


"Assalamualaikum mbak Astri. Kok tumben telepon aku?" ucap Cahya mengawali pembicaraannya via telepon.


"....."


"Mau cerita? Cerita apa sih Mbak? Kok tidak tadi sewaktu kita ada di sekolah jemput anak-anak."


"...."


"Apa? Cerita tentang tetangga mbak Astri yang meninggal? Memang bagaimana ceritanya Mbak?"


"......"


Lama Cahya terdiam layaknya seseorang yang sedang mendengarkan cerita dari lawan bicaranya dari seberang telepon. Padahal, ini semua hanya akal-akalan Cahya untuk memberikan sedikit shock terapi untuk Mega.


Sebelumnya, Cahya memang sengaja mengirimkan pesan kepada Kasim, meminta lelaki itu agar menelponnya. Cahya hanya membutuhkan suara dering ponselnya sehingga seolah-olah ia sedang berbicara dengan orang lain via telepon.


"Astaghfirullah ... ," pekik Cahya dengan lantang yang membuat perhatian Awan dan Mega terarah ke Cahya.


"Jadi, tetangga mbak Astri itu seorang pelakor dan matinya tertabrak truk tronton? Terus jenazahnya dililit oleh ular piton? Ya Allah ....," sambung Cahya semakin mengeraskan volume suaranya.


Uhuk.... Uhukk... Uhukkkk....


Suara Cahya yang menggema memenuhi langit-langit ruangan sukses membuat Mega tersedak. Ia bergidik ngeri membayangkan seseorang yang tertabrak truk tronton yang diucapkan oleh Cahya.


Mega berupaya bangkit dari posisi duduknya untuk mengambil air minum yang tersedia di dispenser yang berada di dekat meja Awan. Saat mengangkat bokongnya, ia merasa sedikit aneh.


"Kok lengket ya...," lirih Mega. Ia sedikit mengintip ke arah bokongnya. Netranya pun membulat penuh. "Apa ini????!!!!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2