Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 79. Jeritan Hati Ibu Mertua


__ADS_3


"Han ... Aku harus bagaimana lagi agar kamu tidak marah seperti ini?"


"Bagaimana aku tidak marah Mas? Acara kita hancur berantakan karena orang kepercayaanmu itu!"


Awan sampai kehabisan cara bagaimana membuat istrinya ini berhenti untuk marah. Segala cara telah ia lakukan agar bisa mengembalikan mood Mega. Mulai dari belanja pakaian, tas, sepatu bahkan perhiasan juga sudah ia lakukan. Namun itu semua sama sekali tidak bisa mengembalikan mood sang istri.


"Aku juga tidak menyangka kalau Dina tega melakukan itu semua Han. Ini semua di luar dugaan. Selama ini kamu bisa melihat kan kalau pekerjaan Dina itu selalu bagus?"


"Tapi nyatanya apa Mas? Dia lah yang membuat acara kita berantakan!" teriak Mega semakin lantang. "Kamu juga sih mudah percaya sama orang lain. Hasilnya seperti ini kan?"


"Iya baiklah, ini semua salahku. Aku pantas untuk kamu salahkan!" ucap Awan mengalah untuk mengakhiri perdebatannya dengan Mega. Ia sudah teramat lelah menghadapi semua ini.


"Ya memang kamu yang pantas disalahkan Mas. Kalau bukan kamu siapa lagi?"


Awan meraup udara dalam-dalam untuk kemudian ia hembuskan kasar. Ia ayunkan tungkai kakinya untuk merapatkan tubuhnya ke arah Mega. Ia rengkuh tubuh istrinya ini ke dalam dekapan.


"Ya sudah, aku minta maaf. Karena keteledoranku karena mudah percaya sama orang lain, sampai-sampai hal ini terjadi." Awan mengecup pucuk kepala Mega. Ia curahkan semua kasih sayang yang ia miliki untuk sang istri. "Jangan marah-marah lagi ya Han. Ingat, kamu tengah hamil. Jadi tidak boleh stress ataupun banyak pikiran."


"Kamu gampang ya Mas mengatakan hal itu. Bagaimana aku tidak stres? Acara yang aku gadang-gadang akan menjadi acara paling istimewa dan magah yang terjadi apa? Semua berbalik. Tidak ada satu orang pun yang datang dan melihat kecantikanku. Sia-sia aku di make-up dari subuh sampai jam delapan pagi."


"Begitu pula dengan aku Han. Aku lebih bertambah stres. Aku kira bisa meraup keuntungan dengan acara resepsi yang kita selenggarakan. Tapi kenyataannya apa? Aku rugi bandar, Han. Aku rugi," teriak Awan yang juga tidak kalah lantang.


Mega terdiam mendengar teriakan Awan. Kali ini ia sedikit terbuka mata hatinya bahwa sang suami juga merasakan kekecewaan yang sama dengan apa yang ia rasakan.


"Dan apa kamu tahu? Aku mengadakan acara resepsi itu menggunakan uang perusahaan. Itu artinya sekarang perusahaan tidak lagi memiliki uang cadangan, Han!" sambung Awan dengan nada suara yang sedikit lirih. Wajah lelaki itu semakin frustrasi jika mengingat nasib kelangsungan perusahaannya.


Mega melepaskan dirinya dari pelukan Awan. Ia tautkan pandangannya ke manik mata Awan dan menatapnya tajam.

__ADS_1


"Apa Mas? Perusahaan sudah tidak memiliki dana cadangan? Mengapa bisa begitu Mas? Lalu, kalau sudah seperti ini nasib perusahaanmu bagaimana?"


"Tenang Han, tenang. Aku sudah biasa menghadapi permasalahan seperti ini. Aku yakin bahwa aku bisa menghandle semua."


Sekuat tenaga, Awan memupus semua keresahan yang dirasakan oleh Mega, meskipun ia sendiri juga dilanda oleh kekalutan yang luar biasa. Ia hanya berupaya untuk tenang agar tidak sampai salah melangkah.


"Kamu yakin bisa mengatasi ini semua Mas?" tanya Mega meyakinkan. "Apa ini semua hanya sebagai salah satu upayamu untuk menenangkan aku?" tebak wanita itu.


"Aku yakin bisa Han. Bukan satu bulan dua bulan aku menekuni bisnis ini. Jadi aku yakin bisa keluar dari semua permasalahan ini."


Meski masih sedikit ragu, namun Mega mencoba untuk percaya. "Baiklah Mas, aku percaya kepadamu. Tapi ingat ya Mas, kamu harus bisa mengembalikan keuangan perusahaan seperti semula. Aku tidak mau hidup miskin, Mas. Aku capek hidup miskin."


Awan menganggukkan kepala dengan mantap. Ia yakin bahwa dia bisa mengembalikan kondisi keuangan perusahaan seperti sedia kala.


"Aku janji Han. Aku akan selalu membahagiakanmu." Awan kembali meraih telapak tangan sang istri seraya tersenyum simpul. "Ke kamar yuk. Bukankah malam ini adalah malam pertama kita sebagai suami istri?"


Tak ingin membuang banyak waktu, Awan bergegas merengkuh tubuh Mega. Ia bopong tubuh istrinya ini ala-ala bridal style. Ia rebahkan tubuh Mega di atas ranjang dan mereka pun mulai melakukan ritual sebagai sepasang suami-istri.


***


"Aaaaaaaaa .... Ibu ini apa-apaan? Mengapa pipisnya bisa sampai berceceran seperti ini?!!!" teriak Mega.


"Ibu juga tidak tahu. Tiba-tiba saja pempers Ibu bergeser," ucap Marni lirih.


"Aaaaah, Ibu ini kebanyakan gerak jadi diapers nya bergeser seperti ini. Kalau sudah seperti ini siapa yang repot coba? Aku kan? Benar-benar merepotkan!" timpal Mega semakin kesal.


Marni terhenyak. Selama menjadi mertua Cahya, ia tidak pernah diteriaki seperti ini. Tapi ketika Mega yang menjadi menantunya, ia sering kali diteriaki.


"Kamu mengapa berteriak-teriak seperti itu? Selama ini Cahya tidak pernah meneriaki Ibu, tapi mengapa kamu berbeda dari Cahya?"

__ADS_1


Kedua bola mata Mega membulat sempurna. Mendengar celotehan sang mertua sungguh membuat rasa kesalnya semakin naik ke ubun-ubun saja.


"Terus .... Terus.... Terus saja bandingin aku sama mantan menantu Ibu itu. Aku jauh lebih baik daripada dia. Dia itu menantu bo*doh karena mau-maunya mengurusi orang sakit seperti Ibu ini."


"Apa kamu bilang? Jaga mulutmu Meg! Cahya tetap menantu terbaikku. Dia berbakti kepadaku dan tidak pernah berkata kasar seperti yang kamu lakukan kepadaku ini."


"Aaarggghhh, persetan Bu. Nyatanya dia memilih untuk bercerai dari Mas Awan kan? Iku karena salah satunya sudah tidak kuat mengurus Ibu yang sakit-sakitan seperti ini!"


Keheningan dan ketenangan suasana pagi di kediaman Awan, dipecah oleh teriakan Mega yang menggema. Hal itulah yang membuat Kardi yang sebelumnya sedang ngopi di teras, berlarian ke arah sumber suara. Ia teramat khawatir jika sampai terjadi sesuatu yang menimpa anaknya.


"Meg, ada apa? Mengapa kamu teriak-teriak seperti itu?" tanya Kardi sembari melongok ke kamar sang besan.


"Lihatlah Pak, pipis ibunya Mas Awan ini berceceran kemana-mana. Padahal sudah aku pakaikan diapers. Issshhh, jijik sekali. Bikin aku mau muntah."


Sekilas, Kardi menautkan pandangannya ke arah lantai. Benar saja, di lantai ini sudah berceceran air kencing sang besan.


"Iihhhhh, kalau ini jelas jijik sekali Meg. Kenapa kamu tidak memakai jasa perawat pribadi saja? Dengan begitu kamu tidak perlu kerepotan seperti ini."


Usulan Kardi membuat Mega berpikir sejenak. Ia mengangguk-anggukkan kepala sebagai isyarat jika usulan ayahnya ini pantas untuk dipertimbangkan.


"Benar juga ya Pak? Kalau seperti ini aku malah yang kerepotan sendiri. Terlebih jika pipis dan kotoran ibu berceceran seperti ini."


"Nah betul itu Meg. Ingat ya Meg, Bapak susah payah membesarkanmu bukan untuk menjadi pembantu. Apalagi mengurusi mertua yang sakit seperti ini. Sudahlah, minta Awan untuk mencarikan perawat pribadi untuk ibu mertuamu ini."


"Baiklah Pak, aku akan ke kamar untuk membicarakan ini semua sama mas Awan."


Mega mulai menaiki anak tangga untuk masuk ke kamar pribadinya di mana Awan masih terlelap tidur di sana. Kardi kembali ke teras depan untuk ngopi sembari menikmati suasana pagi sebagai orang kaya. Sedangkan Marni, tetap terdiam dan membeku di dalam kamarnya. Hanya bulir bening yang menetes perlahan dari jendela hatinya, yang menjadi tanda jika hati wanita paruh baya itu sungguh terkoyak dengan perilaku sang menantu.


Ya Allah, cabut saja nyawaku. Aku sudah tidak kuat hidup dengan istri baru putraku ini!

__ADS_1


__ADS_2