Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 124. Selamat Tinggal


__ADS_3


Surya naik ke singgasana, menyambut datangnya pagi yang menggantikan malam. Tirai gulita perlahan tersibak, berganti dengan warna kuning keemasan yang terang benderang. Induk-induk burung pipit mulai keluar dari sarang. Mencari makan untuk anak-anak mereka yang menunggu di sela dahan.


Awan berjalan gontai keluar dari kantor Satpol PP setempat. Semalam, setelah dilakukan razia tempat-tempat mesum, ia beserta semua pria hidung belang dan juga para wanita penghibur digelandang menuju kantor Satpol PP menggunakan truk polisi. Di sana, Awan dan yang lainnya diberikan wejangan agar berhenti melakukan perbuatan yang melanggar norma kesusilaan itu. Di samping dilarang oleh agama, melipir ke tempat-tempat mesum seperti itu juga bisa menjadi sarana penyebaran virus, terlebih virus HIV.


Tubuh Awan semakin lemas kala teringat bahwa ada media yang meliput razia semalam. Bisa dipastikan jika wajahnya akan terpampang jelas di dalam portal berita.


"Semoga tidak ada yang menyadari bahwa aku terkena razia. Kalau sampai relasiku ada yang tahu, mau ditaruh mana mukaku ini? Pastinya akan sangat memalukan."


Meski ragu bahwa tidak akan ada relasinya yang mengetahui berita ini, namun dalam hati Awan masih menyimpan sedikit keyakinan bahwa berita ini tidak akan tersebar sampai di telinga ataupun mata para relasi. Ia yakin masih akan bisa selamat karena baru kali ini ia mengambil jalan pintas untuk 'jajan' di lokalisasi.


"Haaaahhhh ... Ini semua gara-gara hasrat yang tak tersalurkan beberapa minggu. Kalau saja Mentari mau untuk aku ajak bercinta, pasti tidak akan seperti ini kejadiannya."


Entah untuk keberapa kalinya Awan nampak membuang napas kasar seraya menunjukkan raut wajah frustrasi. Ada kalanya di saat seperti ini ia ingin merutuki dirinya sendiri namun apalah daya semua sudah terlanjur terjadi. Kini yang bisa ia lakukan hanya bersiap diri untuk menghadapi segala konsekuensi.


Awan memesan taksi online untuk mengantarkannya ke tempat di mana semalam ia meninggalkan mobilnya. Gegara digelandang ke kantor Satpol PP, ia harus merasakan keribetan hidup seperti ini.


***


"Mbak Tari!"


Suara bariton yang tiba-tiba terdengar merembet ke dalam indera pendengaran, membuat Mentari yang tengah sibuk memberikan briefing pagi sedikit terperanjat. Ia menoleh ke arah sumber suara dan nampak Sigit sudah berada di balik punggungnya.


"Loh Pak Sigit? Tumben pagi-pagi sudah ke resto? Apa pak Sigit ingin memberikan briefing juga?"


Sigit menggelengkan kepala seraya tersenyum simpul. "Tidak Mbak. Apa kita bisa bicara? Ada hal yang ingin aku sampaikan."


"Oh tentu bisa Pak." Mentari mengayunkan tungkai kaki menuju sebuah meja yang berada di sudut ruangan. "Mari silakan duduk Pak!"


"Terima kasih."


"Jadi, ada hal apa yang ingin Pak Sigit sampaikan? Kelihatannya kok penting sekali? Apakah ini mengenai operasional outlet?" tanya Mentari seakan sudah tidak sabar ingin mengetahui akan maksud dan tujuan Sigit datang ke outlet sepagi ini.


"Tidak Mbak, aku datang kemari tidak untuk membicarakan perihal outlet karena aku sungguh puas dengan omset harian di outlet yang Mbak Tari pegang ini." Sigit menghela napas sejenak untuk kemudian ia hembuskan pelan. "Tapi aku khawatir jika berita yang akan aku sampaikan ini akan berpengaruh pada omset resto ke depannya."


Kernyitan itu tiba-tiba saja muncul di kening Tari. "Berita? Berita apa ya Pak? Saya kok malah belum mendengar berita apapun yang bisa berpengaruh pada omset outlet."


Sigit mengeluarkan benda pipih warna silver dari saku celana. Jemari lelaki itu begitu intens bergulir di atas layar. Me scroll berita yang ingin ia tunjukkan kepada Mentari.


"Ini Mbak. Wajah pak Awan terkena bidikan kamera wartawan dalam razia ini!"

__ADS_1


Tari meraih ponsel yang ditunjukkan oleh Sigit. Netra wanita itu langsung tertuju pada headline yang ada di salah satu portal berita itu.


"Pak Awan kena razia di lokalisasi? Astaga...," lirih Mentari dengan menutup mulutnya dengan menggunakan telapak tangan seakan tiada percaya.


"Ya, ini baru di salah satu portal berita lokal Mbak. Tidak menutup kemungkinan akan tersebar di semua kanal berita online. Apalagi saat ini pak Awan terkenal sebagai salah satu mitra brand The Ceker's Ayam, aku takut hal itu juga berimbas pada brand The Ceker's Ayam sendiri. Jadi, tidak hanya outlet ini yang terkena imbasnya tapi seluruh mitra yang menggunakan brand ini."


Astaga Awan .... Kamu ini ternyata tidak bisa diberi amanah kesuksesan ya. Baru sebentar kamu mereguk kesuksesan itu setelah hidupmu hancur, eh malah kembali kamu hancurkan dengan cara memalukan seperti ini dan lagi-lagi kehancuranmu bersumber dari segala hal yang berbau s e l a n g k a n g a n.


"Lantas, sekarang kita harus bagaimana Pak? Jujur saat ini saya juga bingung harus melakukan apa."


"Untuk saat ini mungkin belum viral ya Mbak, tapi entah besok atau lusa. Yang pasti, aku tidak akan menuntut apapun dari Pak Awan jika nama The Ceker's Ayam tidak terseret dalam kasus razia semalam. Namun jika sampai nama brand kami ikut terseret dan berimbas pada omset, aku pasti akan menuntut Pak Awan untuk menjelaskan di hadapan media dan juga meminta ganti rugi."


"Ya Tuhan .... Sampai seperti itu ya Pak?"


"Ya, karena ini semua sudah tertuang di dalam klausul-klausul MOU yang ditandatangani oleh Pak Awan sendiri."


Mentari mengurut pelipisnya. Ia sungguh heran dengan manusia bernama Awan ini. Ada saja hal-hal yang ia lakukan untuk menghancurkan kehidupannya sendiri.


Ternyata benar, doa istri yang teraniaya itu bisa menembus langit dan bahkan di aamiinkan oleh seribu malaikat. Apa yang terjadi kepada Awan ini merupakan satu bukti nyata bahwa kesuksesan suami tidaklah lepas dari doa-doa tulus yang dipanjatkan oleh sang istri. Dan Awan memilih melepaskan wanita bernama Cahya dengan cara menghianati. Itu artinya sudah tidak ada doa-doa yang mengiringi langkah kakinya. Bodoh kamu Wan. Sangat-sangat bodoh. Mungkin mulai saat ini, karma itu sedang berjalan untukmu.


"Mbak, mbak Tari ....," panggil Sigit seraya menepuk punggung tangan Mentari.


Tari yang tengah larut dalam pikirannya sendiri seketika terperanjat. Ia mengerjapkan mata untuk bisa kembali fokus pada pembicaraannya dengan Sigit.


"Jadi bagaimana menurut mbak Tari? Apa ada solusi dari masalah ini?"


"Untuk solusi saya benar-benar buntu Pak. Karena tidak mungkin kita membungkam media untuk men-take down berita itu karena pasti akan banyak mengeluarkan uang. Jadi, sekarang saya ikut alurnya saja. Karena Pak Sigit dan dewan direksi The Ceker's Ayam lah yang berhak mengambil langkah untuk keluar dari masalah ini."


"Jadi mbak Tari sudah siap apabila Pak Awan tidak saya izinkan untuk memakai nama brand ini lagi?"


"Mau bagaimana lagi Pak. Itu semua sudah menjadi konsekuensi, jadi mau tidak mau pak Awan juga harus menerima keputusan dari dewan direksi."


***


Mentari duduk seorang diri sebuah kursi yang ada di sudut ruangan. Sejak kepulangan Sigit dengan membawa berita memalukan itu, ia sama sekali belum beranjak dari tempat duduknya. Ada beberapa hal yang berkutat di kepala.


Ternyata dengan adanya kasus ini membuatku tidak harus capek-capek mencari cara untuk melancarkan misi balas dendam. Dengan adanya berita ini aku yakin akan berimbas pada outlet. Saat ini mungkin sudah saatnya aku menghilang dari kehidupan Awan, karena apa yang menjadi misiku sudah aku dapatkan.


Lamunan Mentari terusik kala tiba-tiba netranya menangkap bayang tubuh seorang laki-laki yang memasuki outlet. Lelaki itulah yang ia tunggu-tunggu kedatangannya.


"Loh Wan, kok wajahmu di tekuk seperti itu? Ada apa?"

__ADS_1


Awan berjalan gontai menuju meja Mentari. Ia daratkan bokongnya di sebuah kursi yang ada di hadapan wanita ini.


"Tidak apa-apa Tar, aku hanya sedang lelah saja."


"Oh sedang lelah. Aku kira kenapa."


Mentari bersikap seakan tidak tahu menahu akan kasus razia semalam. Ia ingin bermain cantik agar pergerakannya tidak terendus oleh Awan.


"Oh iya Wan, aku boleh memakai mobilnya? Ada sesuatu yang harus aku selesaikan."


"Memang mau ke mana Tar?"


"Aku ingin bertemu dengan tukang yang akan merenovasi rumah biar besok bisa segera dimulai."


Awan tersenyum tipis. Tanpa sedikitpun merasa curiga, ia serahkan kunci mobil itu kepada Mentari. "Pakai saja Tari, toh sekarang mobil itu juga milikmu kan?"


"Ah iya, aku sampai lupa jika nama di BPKB sudah menjadi atas namaku. Eh tapi ngomong-ngomong BPKB nya ada di mana Wan? Kamu belum memberikannya kepadaku kan?"


"Ada di dashboard, Tar. Simpan saja, daripada kelupaan."


Yess.... Akhirnya semua bisa berjalan sempurna.


"Oh baiklah, kalau begitu aku pergi dulu ya. Jaga diri baik-baik ya Wan. Kamu kalau kurang sehat istirahat saja di dalam."


Dahi Awan berkerut saat mendengar penuturan Mentari. "Kok kamu bicara seperti itu Tar? Seperti mau berpisah saja."


"Yah tidak ada salahnya kan Wan? Aku ini hanya khawatir kalau calon suamiku ini tidak bisa menjaga dirinya baik-baik. Maka dari itu aku ingatkan."


Senyum manis terbit di bibir Awan. Ia sungguh bahagia diperlakukan manis seperti ini.


"Ah kamu ini bisa saja. Ya sudah, kamu juga hati-hati ya. Akupun juga tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk terhadap calon istriku."


"Hahaha kamu ini.... Oke calon suami, aku berangkat dulu ya."


Mentari bangkit dari posisi duduknya. Perlahan, tubuh wanita itu hilang dari pandangan Awan.


"Selamat tinggal Wan.... Semoga setelah ini kamu berhenti berpetualang cinta dan sadar bahwa tidak ada yang lebih baik dari istri pertama yang sudah menemanimu dari nol," lirih Mentari seraya memacu laju mobilnya keluar dari area parkiran resto.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2