
Pov Cahya
"Ada apa Din? Mengapa wajahmu terlihat cemas seperti itu?"
Sudah berkali-kali aku melontarkan pertanyaan itu di depan Dina, namun wanita ini masih saja diam seribu bahasa. Aku yang sebelumnya bertemu dengan Dina di depan lobi kantor hingga sekarang aku ajak Dina di taman kecil yang berada di belakang kantor, wanita itu masih tetap saja terdiam. Padahal sebelumnya Dina lah yang mengutarakan ingin berbicara perihal Mas Awan.
"Din, ayo bicaralah! Bukankah kamu ingin mengatakan sesuatu tentang suamiku?"
Kulihat wajah Dina masih menunduk. Jemari tangannya juga saling bertautan dan saling mere*mas seperti ada kegugupan yang ia rasakan.
"Din, ada apa?"
Aku yang duduk di sebelah Dina, kuputuskan untuk memegang bahu wanita ini. Sedikit mentransfer rasa tenang sehingga ia tidak lagi merasakan kegugupan itu. Dina mendongakkan wajah dan kini tatapan kami saling bertemu. Helaan napas berat juga aku dengar keluar dari bibir wanita ini.
"Sebelumnya saya minta maaf ya Bu, jika apa yang akan saya sampaikan ini mungkin kurang sopan. Tapi sungguh, jika saya diam saja, saya khawatir lambat laun akan berdampak buruk bagi kelangsungan perusahaan."
Dahiku mengernyit dengan mata yang menyipit. Kelangsungan perusahaan? Seserius dan segenting itukah yang akan disampaikan oleh Dina? Tapi apa hubungannya dengan Mas Awan.
Meskipun hatiku dipenuhi oleh berjuta tanda tanya, namun sebisa mungkin aku tetap tenang untuk mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh Dina. Bahkan aku sangat bersyukur jika Dina terbuka perihal apapun yang ada kaitannya dengan kondisi perusahaan Mas Awan.
"Tidak apa-apa Din, bicaralah!"
"Saya tahu jika pak Awan itu begitu mencintai bu Cahya bahkan beliau sanggup membelikan apa saja untuk bu Cahya. Namun jika pak Awan terus menerus memakai uang perusahaan untuk membahagiakan bu Cahya, saya khawatir perusahaan ini akan bangkrut karena tidak memiliki dana cadangan, Bu."
Dina sejenak menjeda ucapannya, ia hirup udara dalam-dalam dan kemudian ia hembuskan.
"Saya harap bu Cahya bisa memberitahu kepada pak Awan agar tidak terlalu sering mempergunakan uang perusahaan untuk kepentingan pribadi."
Dahiku semakin berkerut dalam. Aku semakin tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Dina ini. Terlebih itu semua disangkut pautkan denganku. Padahal sejauh ini aku merasa tidak terlibat dalam hal apapun apalagi tentang uang perusahaan.
__ADS_1
"Tunggu sebentar Din. Bisakah kamu perjelas bagaimana maksud ucapanmu ini? Karena aku sungguh tidak paham."
Dina menganggukkan kepala. Ia isi rongga-rongga dadanya dengan oksigen yang ia hirup menggunakan hidung. Tatapan wanita itu menerawang jauh seperti sedang merangkai sebuah kata yang pas untuk ia ucapkan.
"Beberapa hari yang lalu pak Awan memakai uang perusahaan sejumlah satu koma lima milyar untuk membelikan rumah yang katanya rumah itu akan pak Awan berikan untuk bu Cahya."
"Apa? Membelikan rumah untukku?"
Aku sungguh terkejut mendengarkan cerita yang disampaikan oleh Dina. Bahkan tubuhku sedikit terperanjat karena begitu shock mendengarnya. Mas Awan bahkan tidak mengatakan apapun perihal rumah baru itu.
"Iya Bu, bahkan baru saja pak Awan juga memakai uang perusahaan sejumlah dua ratus juta yang katanya untuk uang muka mobil baru. Jika terus menerus seperti ini saya sungguh khawatir akan keberlangsungan perusahaan Bu."
"Mobil baru? Ya Allah, aku sama sekali tidak tahu akan hal itu Din. Bahkan aku baru tahu dari kamu."
Mendadak kepalaku berdenyut nyeri akibat dihujam oleh berjuta-juta pertanyaan yang berkumpul di dalam kepala. Perkara berlian, perkara aroma parfum, perkara ponsel baru yang belum aku dapati jawabannya, kini tiba-tiba muncul pertanyaan baru lagi dari berita yang disampaikan oleh Dina. Sungguh, itu semua membuat kepalaku semakin pusing saja.
"Saya juga kurang paham mengapa pak Awan justru tidak memberitahu Bu Cahya tentang hal ini. Namun yang jelas hanya itu yang ingin saya sampaikan. Saya harap bu Cahya bisa memberikan nasihat untuk pak Awan agar tidak terlalu banyak atau sering menggunakan uang perusahaan."
"Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan Bu. Sekali lagi saya minta maaf jika saya terlalu lancang mengatakan hal ini. Tapi ini semua demi kebaikan perusahaan."
Aku tersenyum simpul di hadapan Dina seraya menggelengkan kepala pelan. "Tidak Din, sedikitpun kamu tidak bertindak lancang. Aku justru sangat berterima kasih karena dari kamu, aku mengetahui tentang hal ini. Jika ada sesuatu yang janggal, kamu bisa bicarakan kepadaku, Din."
"Baik Bu. Apapun kondisi kantor, akan saya beritahukan secara berkala kepada Bu Cahya." Dina bangkit dari posisi duduknya sembari membungkukkan punggungnya. "Kalau begitu saya permisi dulu Bu. Terima kasih atas waktunya."
"Sama-sama Din. Terima kasih kembali."
Dina melangkahkan kakinya untuk pergi dari hadapan ku. Perlahan tak kulihat lagi bayang raga wanita itu. Aku kembali terdiam, larut dalam pikiranku sendiri yang sedari tadi masih belum mampu untuk aku pahami seutuhnya. Sembari melihat belaian sang bayu yang menerpa ranting-ranting dan dedaunan, kucoba untuk menelisik satu persatu pertanyaan yang berkutat di kepala.
Astaghfirullahalazim ... Semakin larut dalam pertanyaan, aku justru semakin tenggelam dalam sebuah prasangka buruk terhadap mas Awan. Rumah , mobil, berlian yang diam-diam di sembunyikan oleh mas Awan semakin membuatku curiga. Apa mungkin mas Awan berselingkuh di belakangku? Ataukah ini semua adalah kejutan yang telah ia persiapkan untuk hari ulang tahunku?
***
__ADS_1
Pov Author
"Ihhhhh Mas ... Kenapa tidak kamu bayar cash saja mobil untukku itu? Mengapa harus kamu kredit?"
Di perjalanan pulang dari dealer, Mega tiada henti menampakkan wajah mendungnua di hadapan Awan. Hati wanita itu seakan dibuat kesal karena Awan tidak membelikannya mobil secara cash namun justru secara kredit.
Awan harus membagi perhatiannya antara jalanan yang ia lalui dengan sang kekasih yang sedari tadi bermuram durja. Entah harus bagaimana lagi Awan memberikan pengertian kepada wanita ini.
"Han ... Aku baru saja menggunakan uang perusahaan sejumlah satu koma lima milyar untuk membelikanmu rumah. Jika aku tambah enam ratus juta untuk membeli mobil, Dina pasti akan curiga. Itu yang aku jaga."
"Tapi uang kamu kan banyak Mas. Masa hanya untuk membeli mobil seharga enam ratus juta saja harus kredit? Malu aku Mas sebagai kekasihmu!"
Lagi, Mega melipat kedua tangannya sembari mengerucutkan bibir. Ia membuang muka dari Awan dan memilih melihat ke arah luar jendela.
"Memang banyak Han, tapi semua harus keluar secara bertahap agar tidak menimbulkan kecurigaan." Tangan kiri Awan meraih jemari tangan Mega dan ia genggam dengan erat. "Sudah ya, jangan marah lagi. Yang penting kamu sudah mempunyai mobil baru."
"Tapi aku sama sekali tidak mau bertanggung jawab atas cicilan mobil itu Mas."
"Honey, kamu tenang saja. Urusan cicilan mobil semua aku yang urus. Jadi, kamu tidak perlu memikirkan cicilan itu. Kamu tinggal pakai ke mana pun kamu mau."
"Huh ... Ya sudahlah, mau bagaimana lagi."
Awan terkekeh lirih. Ia cubit pipi sang kekasih yang menggembung seperti ikan buntal itu. "Kalau begitu senyum dong, masa cemberut terus sih?"
Dengan terpaksa, Mega menarik kedua sudut bibirnya. Meskipun sang kekasih sudah memberikan pemahaman, namun ia masih merasa kesal sendiri.
.
.
.
__ADS_1