Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 28. Membujuk Agar Tidak Merajuk


__ADS_3


Kedua netra Awan tiada henti melihat ke arah sekitar untuk memastikan keadaan aman. Selepas dilanda oleh kegugupan yang luar biasa karena dicerca oleh Cahya perihal nama 'Megaku' di ponsel miliknya, akhirnya lelaki itu bisa menghindar saat tiba-tiba sebuah ide cemerlang muncul di otaknya. Awan harus berpura-pura sakit perut agar bisa pergi dari hadapan Cahya untuk sementara. Kini, lelaki itu berada di area kamar mandi yang biasa dipakai untuk membilas badan setelah berenang di pantai.


Awan masih menunggu panggilannya dijawab oleh Mega. Setelah beberapa detik, akhirnya panggilan itu diterima oleh si pemilik nomor.


"Honey ..."


"Oh, jadi kamu sedang bersenang-senang dengan istrimu Mas? Pantas saja, sejak tadi kamu mengabaikan teleponku. Baru ditinggal satu hari saja sudah mulai lupa kamu sama aku!"


Awan memijit pelipisnya. Belum sempat ia mengutarakan apa yang sebenarnya terjadi, Mega justru lebih dulu menyemburnya dengan rentetan kalimat yang menjadi bentuk rasa kecewanya. Lelaki itupun berusaha untuk tetap sabar, tidak terpancing.


"Bukan begitu Han. Tolong dengarkan penjelasanku dulu!"


"Penjelasan apa Mas? Sudah jelas kamu sedang bersenang-senang bersama istrimu sampai kamu tidak mengangkat teleponku. Padahal aku punya kejutan untukmu!"


"Kejutan? Kejutan apa Han?"


Awan begitu keheranan akan kejutan yang dimaksud oleh Mega. Padahal, ia yang berniat memberikan Mega kejutan di esok hari. Tapi ini malah Mega yang ingin memberinya lebih dahulu.


Hembusan napas kasar dari bibir Mega terdengar jelas melalui ponsel milik Awan. Sepertinya wanita itu tengah berusaha menguasai kekesalan dan juga emosinya.


"Aku sudah kembali ke Jogja, Mas. Saat ini aku masih berada di stasiun. Aku menelponmu agar kamu bisa menjemputku, tapi ternyata kamu sedang bermesraan dengan istrimu."


"Apa Han, kamu sudah kembali ke Jogja? Serius? Katamu tiga hari kamu ada di kampung?"


"Rencananya seperti itu Mas, tapi aku sudah tidak bisa lagi untuk menahan rindu kepadamu. Jadi aku memutuskan untuk pulang hari ini. Niatku sih ingin memintamu untuk menjemputku. Tapi ternyata kamu sedang bersenang-senang dengan istrimu."


Mendengar ucapan mesra dari Mega membuat hati Awan serasa melambung tinggi. Lelaki itu tiada henti menyunggingkan senyum di bibir meskipun tidak ada satu orang pun yang tahu.


"Aku minta maaf ya Han jika membuatmu kecewa. Kali ini aku memang tidak bisa untuk menjemputmu. Tapi besok aku akan memberikan kejutan untuk mengobati rasa kecewamu ini. Sekali lagi aku minta maaf ya Han."


"Kejutan? Memang kejutan apa?"


"Besok kamu pasti juga akan tahu kejutan apa yang sudah aku persiapkan untukmu, Honey. Kalau aku beritahu kamu sekarang, pasti tidak akan jadi kejutan lagi namanya."

__ADS_1


"Issshhhh .... Kamu ini selalu saja begitu Mas. Jadi, sekarang aku harus naik taksi online dulu untuk sampai kosan?"


"Iya Honey, kamu pesan taksi online dulu. Hati-hati ya."


"Huh, ya sudahlah, mau bagaimana lagi."


Awan mengakhiri pembicaraannya dengan Mega melalui telepon. Lelaki itu untuk sejenak menatap layar ponselnya, di mana ada nama 'Megaku' di sana.


"Kenapa aku bo*doh sekali, sampai lupa belum mengganti nama Mega sehingga membuat Cahya curiga. Sepertinya aku harus membeli ponsel dan menggunakan nomor baru, khusus untuk berkomunikasi dengan Mega. Sekaligus untuk menyimpan foto-foto hot Mega dan bisa juga aku gunakan untuk dokumentasi aktivitas ranjangku dengan kekasihku itu."


Awan nampak merutuki dirinya sendiri namun setelah itu ia tersenyum lebar setelah sebuah ide muncul di kepala. Ia berniat untuk membeli ponsel dan SIMcard baru, khusus untuk berkomunikasi dengan Mega dan menjadi media rahasia untuk menyimpan perselingkuhan yang ia lakukan di belakang Cahya.


"Hei Mas, Anda itu dari tadi ngapain berdiri di depan kamar mandi? Mau ngintip ya?"


Pekikan nyaring suara seorang penjaga kamar mandi terdengar jelas di telinga Awan. Lelaki itu hanya bisa tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia baru sadar jika sudah hampir setengah jam ia berbincang dengan Mega melalui telepon di depan kamar mandi.


"Eh, tidak Mas. Saya tidak mengintip. Saya hanya sedang menghubungi seseorang."


"Menghubungi seseorang kok di depan kamar mandi. Padahal masih banyak tempat kan?" sanggah si penjaga kamar mandi. "Jangan-jangan Anda sedang menelpon selingkuhannya karena sembunyi-sembunyi!" tebaknya pula.


Awan terkesiap. Tidak menyangka jika penjaga kamar mandi ini bisa mengendus polah tingkahnya.


Awan menyimpan ponsel ke dalam saku celana. Sebelum si penjaga kamar mandi itu semakin jauh bertanya, lelaki itu bergegas untuk kembali ke tempat di mana istri dan anaknya berada. Ia tidak ingin terlalu lama berada di kamar mandi yang sudah tentu juga akan membuat Cahya semakin mencurigainya.


"Kok lama sekali sih Mas?" protes Cahya sesaat setelah melihat Awan kembali ke restoran.


"Maaf ya Ay, perutku rasanya benar-benar mulas. Entah makan apa aku tadi sampai-sampai membuat perutku mulas seperti ini."


Awan memegangi perutnya layaknya seseorang yang begitu kesakitan. Bahkan ia sampai meringis dan mendesis lirih agar aktingnya ini semakin totalitas. Entah sudah berapa banyak kebohongan yang ia ucapkan untuk menutupi kebohongan yang sejak awal ia mainkan.


"Kok bisa Mas? Atau nanti saat pulang, kita mampir rumah sakit sekalian untuk memeriksa keadaanmu?" usul Cahya yang juga terlihat cemas. Bagaimanapun juga kesehatan suaminya ini adalah prioritasnya.


Awan menggelengkan kepala. "Tidak usah Ay, minum obat apotek saja pasti akan sembuh." Awan mengedarkan pandangannya ke arah Alina dan Malika yang tengah sibuk melihat kura-kura kecil yang di belinya di pantai ini. "Nak, sudah malam. Kita pulang yuk. Besok lain kali kita ke sini lagi."


"Oke Yah, Malika juga sudah tidak sabar untuk segera memperlihatkan kura-kura ini kepada nenek."

__ADS_1


***


Langit memandang lekat layar laptop yang ada di hadapannya. Ia yang baru saja bersantai ria menikmati suasana malam di balkon harus ia akhiri kala tiba-tiba dihubungi oleh Awan. Lelaki itu meminta untuk segera mempersiapkan surat perjanjian jual beli karena besok ia akan datang bersama sang istri untuk melihat secara langsung rumah yang sudah disepakati.


Alhasil, Langit dibuat kelabakan untuk mempersiapkan perjanjian jual beli itu dan juga menghubungi notaris. Beruntung, notaris yang ia kenal bisa meluangkan waktu untuk menemaninya bertemu dengan Awan esok hari.


Getaran ponsel yang ia letakkan di samping laptop membuat perhatian Langit terpecah. Terlihat nama sang mama melakukan panggilan telepon. Buru-buru ia angkat telepon itu.


"Hallo Ma..."


"Hallo putraku tercinta. Bagaimana kabarmu Nak?"


"Alhamdulillah aku baik-baik saja Ma."


"Syukurlah .... Mama lega mendengarnya. Bagaimana? Apakah kamu sudah berhasil menemukan calon menantu untuk Mama?"


Langit berdecak lirih. Sang mama lagi-lagi menanyakan perihal jodoh. Padahal sampai saat ini ia masih ingin sendiri, fokus dengan pekerjaannya tanpa dibuat ribet oleh perkara cinta.


"Belum Ma, aku belum mendapatkan calon menantu untuk Mama. Aku masih ingin fokus berkarier dulu Ma."


"Lang, jangan sampai kesibukanmu berkarier sampai membuatmu lupa untuk berumah tangga. Semakin hari usia kamu itu bertambah, Nak."


"Iya Ma, iya. Aku paham akan hal itu. Namun mau bagaimana lagi kalau aku belum bertemu dengan jodohku?"


"Ya usaha dong Nak. Masa hanya diam saja? Apa kamu mau dilangkahi oleh adikmu? Di sini Nawang sudah ada yang ingin melamar."


"Ma, sekiranya Nawang sudah siap untuk berumah tangga, tidak masalah jika ia ingin menikah terlebih dahulu Ma. Aku masih ingin fokus membesarkan nama perusahaan terlebih dahulu. Baru setelah itu memikirkan untuk berumah tangga."


"Huft ... Kamu ini sama persis dengan papamu Lang. Kalau sudah masalah pekerjaan pasti lupa yang lainnya."


Awan hanya tergelak. Lagi-lagi dengan penuh kekesalan sangat mama mengakhiri teleponnya.


"Maaf Ma, aku masih belum bisa melupakan Senja. Meskipun saat ini kami berada di dunia yang berbeda, namun aku masih sangat mencintainya," monolog Langit lirih.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2