
Acara demi acara telah terselenggara dengan sempurna. Acara ini benar-benar berjalan begitu privat tanpa adanya handphone ataupun kamera milik tamu undangan. Setelah Awan memberikan sedikit sambutan, tiba saatnya Cahya memberikan kejutannya. Setelah dipersilahkan oleh MC, wanita itu berdiri di depan layar lebar yang sudah dipersiapkan.
"Selamat malam semua!" ucap Cahya menyapa para tamu undangan.
"Malam... !!!"
Ada sebuah gejolak yang tertahan di dalam dada kala mengingat sebentar lagi ia akan membongkar semua kebusukan sang suami. Suaranya sedikit bergetar. Takut jika ia tidak akan kuat untuk melakukan hal ini. Namun demi sebuah harga diri dan juga rencana yang sudah susah payah ia persiapkan, Cahya mencoba untuk tetap tegar berdiri.
"Alhamdulillah... Tepat di hari ini, lima tahun sudah usia perusahaan yang dibangun oleh suami saya. Selama lima tahun itu Anda-Anda pasti tahu bahwa perjalanan kami begitu panjang dan berliku."
Cahya mencondongkan tubuhnya untuk melihat ke arah layar lebar itu. Di mana terlihat Awan menggunakan ruko sempit untuk menjadi kantor pribadinya.
"Inilah tahun-tahun pertama suami saya mendirikan perusahaan ini. Di sebuah ruko yang sempit dan hanya ada beberapa orang yang menggunakan jasa ekspedisinya."
Cahya menjeda sejenak ucapannya kala video itu beralih ke video selanjutnya. Awan yang menampakkan wajah frustrasi nya kala kegagalan demi kegagalan itu datang kepadanya. Namun Cahya masih setia berada di sisi Awan untuk mendampingi.
"Mas Awan sempat ingin menyerah kala melihat apa yang ia lakukan belum terlalu banyak membuahkan hasil. Namun sebagai seorang istri, saya terus berusaha untuk tetap berada di sisi suami saya, mendukung penuh dan membuatnya tetap bangkit."
Cahya mendekat ke arah Awan dan berdiri di depannya. "Kamu tentu ingat kan Mas, bagaimana caranya aku membantumu untuk tetap survive? Modal yang terkuras, aku sokong dengan usaha jahit pakaian kecil-kecilan yang aku buka? Namun siapa sangka jika ternyata Allah memberikan berkah dari usaha jahit pakaianku sehingga kamu bisa melanjutkan usahamu. Dan tidak hanya itu saja, di sini Allah juga memberikan rezeki berupa janin yang bertumbuh di dalam rahimku."
Hati Awan sedikit tercubit kala melihat Cahya yang sedang mengandung ikut dibuat sibuk dengan jasa jahit yang masuk. Hatinya serasa semakin tergerus saat terlihat mereka makan sepiring berdua untuk tetap berhemat agar bisa terus melanjutkan hidup. Tanpa terasa, kedua mata Awan memanas hingga meneteskan kristal bening dari bingkainya.
Para tamu undangan yang fokus dengan video yang ada di layar lebar itu juga ikut meneteskan air mata. Mereka seakan ikut larut dalam perjuangan yang dilakukan oleh Awan untuk membangun perusahaan ini dan yang lebih membekas adalah kesetiaan Cahya dalam mendampingi sang suami.
Bibir Mega mengerucut kala melihat apa yang tersaji di depan matanya. Ia seakan tidak terima jika istri sah Awan itu mendapatkan pujian dari para tamu undangan.
"Iissshhhh .... Tayangan apaan ini? Jadi istri mas Awan itu sengaja menjual kesedihannya? Berharap agar para tamu undangan kagum kepadanya karena ikut bersusah payah membantu mas Awan? Sungguh cara yang sangat murahan," lirih Mega kala menatap sekelilingnya yang ikut terhanyut dalam suasana sedih.
"Ya Allah .... Ternyata perjalanan hidupmu sungguh berliku seperti ini Dek. Tapi Kakak bangga, kamu kuat menghadapi dan menjalani semua," lirih seorang laki-laki berusia dua puluh sembilan tahun yang juga berada di tengah-tengah acara.
__ADS_1
Cahya tak kuasa untuk menahan tangisnya. Tanpa permisi bulir-bulir bening itu mulai berjatuhan membasahi wajah.
"Alhamdulillah di tahun kedua, Allah memberikan kenikmatan yang begitu besar untukmu. Perlahan usaha yang kamu dirikan berkembang dengan pesat. Kamu yang sebelumnya belum memiliki karyawan, mulai merangkak memiliki beberapa karyawan. Kantor yang sebelumnya berada di sebuah ruko sempit sudah bisa berpindah di sebuah bangunan yang cukup luas untuk bisa menampung beberapa karyawan. Hingga pada akhirnya semua kesuksesan ini berada di dalam genggamanmu. Namun ada sebuah ujian yang ternyata menghampiri bahtera rumah tangga kita."
Helaan napas sedikit kasar terdengar keluar dari bibir Cahya. Memorinya memutar kejadian kecelakaan yang menimpa sang ibu mertua.
"Kamu ingat kan Mas? Bagaimana masa-masa sulit kita saat mengurus ibu selepas kecelakaan? Tentu itu merupakan ujian yang berat bagi kita namun aku masih tetap bertahan untuk mendampingimu. Aku berikan segenap hidupku untuk bisa menjadi seorang istri dan menantu yang baik untukmu dan juga untuk ibu. Meskipun banyak kekurangan, namun aku berupaya untuk mengurus semua keperluan ibu dengan tanganku sendiri."
Cahya semakin merapatkan tubuhnya di tubuh Awan. Ia raih telapak tangan sang suami dan ia kecup punggung tangannya.
"Aku ucapkan selamat atas pencapaianmu Mas. Aku rasa, saat ini adalah penghujung wakutuku untuk bisa membersamai langkah kakimu."
Kening Awan berkerut dalam. "M-maksudmu Ay?"
Tidak hanya Awan, seluruh tamu undangan yang hadir di tempat ini pun juga turut bertanya-tanya dalam hati. Mereka saling berbisik antar satu dengan yang lainnya untuk saling melempar pertanyaan apa yang sebenarnya terjadi.
Cahya mengulas sedikit senyumnya. Ia yang sebelumnya fokus pada Awan kini ia fokus ke arah para tamu undangan. Sejenak, ia meraup udara dalam-dalam untuk mengisi rongga dadanya dengan oksigen agar tidak terasa begitu sesak.
Awan ikut menggeser tubuhnya. Ia dekati istrinya dan berdiri di sampingnya. "Ay, ini maksudnya apa? Mengapa kamu bertanya hal yang demikian?"
"Kamu tinggal jawab saja Mas. Bukankah kehidupamu sudah begitu sempurna?"
"I-iya, semua teramat sempurna."
Cahya tersenyum getir. "Jika seorang wanita bisa setia dengan satu lelaki di kala lelaki itu berada di titik terendah hidupnya namun mengapa seorang laki-laki tidak bisa setia hanya dengan satu istri ketika ia berada di puncak kesuksesan?"
Awan terhenyak. Ia sedikit bisa menangkap sinyal bahwa sang istri sudah mengetahui tentang perselingkuhannya. "Ay, tolong jangan seperti ini. Ini maksudnya apa?"
Video di layar lebar terjeda. Cahya melirik ke arah Arka. Wanita itu seakan memberikan isyrat agar tim EO memutar video puncaknya.
"Silakan lihat kejutan yang sudah aku persiapkan Mas! Aku bisa menerima semua kekuranganmu tapi tidak dengan perselingkuhan yang telah kamu lakukan di belakangku!"
__ADS_1
Cahya mengusap air matanya yang semakin deras mengalir. Ia kuatkan hatinya untuk memberikan sambutan terakhir.
"Para tamu undangan yang berbahagia. Inilah kebusukan sosok Awan Surya Atmaja, pemilik perusahaan N3P. Lelaki beristri dan memiliki dua anak ini telah berselingkuh dengan salah satu wanitanya yang saat ini juga berada di tempat ini!"
Tubuh Awan dibuat lemas kala video-video mesum yang ia lakukan bersama Mega diputar di hadapan para tamu undangan. Meskipun anggota tubuhnya di blur namun terlihat jelas jika itu adalah wajahnya. Para tamu undangan pun mulai riuh kala melihat adegan demi adegan yang terpampang.
Tatapan mata Cahya tertuju pada sosok wanita yang saat ini juga tengah dalam mode terkejut setengah mati. Netra wanita itu tiada henti menatap layar lebar yang ada di depan.
"Mega Contesa ... aku ucapkan selamat. Selamat karena kamu telah berhasil memporak-porandakan bahtera rumah tanggaku. Sekarang, kamu sudah tidak perlu sembunyi-semnunyi lagi untuk berhubungan dengan suamiku!"
Tak lagi sanggup merasakan luka yang begitu menganga lebar, Cahya berlari menembus kerumunan orang-orang dan keluar dari dalam ballroom. Air mata wanita itu masih mengalir deras membasahi wajah dan ia memilih untuk segera meninggalkan ruangan area ini.
Sedangkan lelaki bernama Angkasa, ia hanya bisa mengepalkan tangan kala melihat video mesum itu. Amarahnya memuncak tak dapat ia kendalikan lagi. Video mesum itu bak percikan api dalam diri yang siap berkobar dahsyat. Dengan langkah kaki lebar, dia menyusul Awan yang berada di atas sebuah panggung kecil dan berdiri di sampingnya.
Awan masih belum sadar akan kedatangan Angkasa. Hingga pada akhirnya, Angkasa menarik lengan tangan Awan dan.. .
Bughhhh.... Bughhh.. . Bughhh!!
"Aaaaaaaaaa!!" teriak para tamu undangan yang melihat tubuh Awan tersungkur setelah mendapatkan tiga bogem mentah dari tangan kekar Angkasa.
"Ban*gsat kamu. Tega-teganya kamu menghianati adikku!"
Awan memegangi pipinya sembari berupaya untuk melihat siapa lelaki yang telah menghajarnya ini. Kedua bola matanya terbelalak dan membulat sempurna kala ia bertemu kembali dengan salah satu anggota keluarga Cahya yang sudah ia putuskan hubungannya selama tujuh tahun ini.
"Kak Angkasa!!!!"
.
.
.
__ADS_1