Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 56. Dibuat Pusing


__ADS_3


"Hallo Pak... Iya, tiga hari lagi. Saya harap semua berjalan lancar sesuai dengan konsep."


"...."


"Baik Pak, terima kasih banyak!"


Di ruangan Awan, Cahya nampak sedang sibuk dengan panggilan teleponnya. Tiga hari menjelang acara ulang tahun perusahaan, wanita itu harus memastikan jika semua konsep acara berjalan maksimal. Mulai dari catering, hiburan, tamu undangan dan semua yang berkaitan dengan acara. Cahya terlihat totalitas dalam mempersiapkan acara ulang tahun ke lima perusahaan suaminya ini.


Cahya meletakkan kembali ponsel yang ia genggam ke dalam tas setelah selesai berbincang dengan jasa EO yang ia sewa untuk acara ulang tahun perusahaan. Wanita yang duduk di sofa itu sekilas melirik ke arah sang suami. Nampak jelas di netra Cahya, jika suaminya itu kelelahan. Pakaiannya sedikit berantakan dengan dua kancing kemeja yang terbuka. Awan seolah sedang menanggung beban pikiran yang berat sekali.


Cahya tersenyum simpul. Ia ayunkan tungkai kakinya untuk mendekat ke arah Awan yang tengah duduk di kursi kebesarannya. Ia pijit pundak suaminya ini dengan pelan dan lembut.


"Mas, ada apa? Mengapa kamu terlihat lelah dan tak bergairah seperti ini?" tanya Cahya sembari memberikan pijatan di pundak Awan.


Awan tersenyum tipis. "Tidak apa-apa Ay. Mungkin aku hanya kelelahan saja sehingga membuat tubuhku sedikit tidak bergairah."


"Lelah karena apa sih Mas? Apakah pekerjaanmu akhir-akhir ini membuat tenagamu terkuras?"


"Bukan fisikku Ay, tapi pikiranku."


"Pikiran? Memang apa yang mengganggu pikiranmu Mas? Padahal untuk acara ulang tahun perusahaan sudah aku handle semua. Kamu tinggal terima jadi."


Awan hanya bisa meraup udara dalam-dalam dan kemudian ia hembuskan pelan. Kali ini ia tidak bisa berbagi cerita dengan sang istri. Karena yang menggelayuti pikirannya adalah tentang Mega.


Awan kembali tersenyum. "Sudahlah Ay, kamu tidak perlu memikirkan itu semua. Biarkan ini semua aku yang mengatasinya. Kamu hanya perlu mendukungku."


"Baiklah kalau begitu Mas. Aku percaya bahwa kamu bisa menyelesaikan semua permasalahanmu."


"Terima kasih Ay."


"Sama-sama Mas."


Cahya kembali memijit pundak Awan. Wanita itu masih tetap menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri kecuali melayani Awan di atas ranjang. Sejak ia mengetahui perselingkuhan suaminya dengan Mega, Cahya sama sekali tidak pernah lagi bercinta dengan Awan. Ia merasa jijik sendiri jika membayangkan milik Awan dibagi-bagi dengan wanita lain.


Aku tahu kamu dibuat pusing oleh sikap Mega kan Mas? Aku yakin dia pasti sudah mulai meminta ini itu kepadamu yang membuatmu lelah pikiran seperti ini. Mas Awan, Mas Awan ... Kenapa kamu lakukan semua ini? Ketenangan hidup yang sudah kamu dapatkan di dalam rumah tangga kita rela kamu tukar dengan kenikmatan dan keindahan yang hanya sesaat dan semu yang ditawarkan oleh wanita penggoda itu.

__ADS_1


Sedangkan Awan, sembari merasakan nikmatnya pijitan Cahya, lelaki itu tiada henti memijit-mijit pelipisnya sendiri. Sejatinya ada sesuatu yang begitu membebani pikiran dan juga hati.


Flashback beberapa jam sebelumnya...


Awan mengacak rambutnya kasar sesaat setelah menerima telepon dari Mega. Wanita itu sudah berkali-kali menghubunginya sejak pagi tadi namun baru bisa ia angkat. Apalagi yang diminta oleh Mega selain memintanya untuk segera merenovasi rumah yang ada di kampung.


Dengan langkah gontai, Awan memasuki ruangan Dina. Saat ini hanya dengan cara seperti ini ia bisa memenuhi permintaan Mega.


"Apa Pak? Pak Awan mau menggunakan uang perusahaan lagi?" tanya Dina yang begitu terkejut kala mendengarkan permintaan pimpinannya ini.


"Iya Din, aku minta dua ratus juta untuk keperluan yang mendesak."


"Tapi untuk apa lagi, Pak? Pak Awan sudah banyak memakai uang perusahaan. Apa Pak Awan tidak khawatir jika kita bisa kolaps karena tidak memiliki dana cadangan?"


"Aku sudah memikirkan hal itu Din. Tapi mau bagaimana lagi. Ini keperluan yang begitu mendesak. Aku membutuhkan uang itu!"


Dina menatap penuh tanya sosok pimpinan yang duduk di hadapannya ini. Baru kali ini wajah sang pimpinan terlihat begitu muram. Entah ada apa yang sebenarnya terjadi.


Aku heran, selama ini Pak Awan tidak pernah menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan pribadinya. Tapi sekarang mengapa Pak Awan jadi sering menggunakan? Ada apa ini? Apakah ini semua ada hubungannya dengan wanita bernama Mega yang sempat aku temui waktu itu?


Dina semakin larut dalam pikirannya sendiri. Jika melihat dana cadangan yang dimiliki oleh perusahaan bisa dipastikan semakin hari akan semakin menipis. Apalagi baru saja ia menggelontorkan dana untuk membayar jasa EO acara ulang tahun perusahaan.


Dina tersadar dari lamunan. Mau tidak mau ia harus menuruti permintaan sang pimpinan. "Baiklah Pak, akan saya cairkan dana itu. Namun dengan berat hati saya sampaikan jika uang cadangan perusahaan hanya tersisa delapan ratus juta."


Mendengar nominal yang disebutkan oleh Dina, sudah cukup membuat tubuh lelaki itu lemas seketika. Tidak ia sangka jika pundi-pundi uang yang sudah ia kumpulkan hanya tersisa delapan ratus juta. Namun ia tidak bisa berbuat banyak karena hanya dengan cara seperti inilah rahasianya memiliki wanita simpanan bisa tetap terjaga.


"Tidak apa-apa Din. Aku yakin lambat laun semua pasti akan terkumpul kembali."


"Baiklah kalau begitu Pak."


Flashback off


***


"Papamu bagaimana Lang... Sampai saat ini dia belum juga sadar."


Suara lirih wanita paruh baya yang disertai oleh isak tangis itu terdengar menggerus batin Langit. Wulan, sang mama, sedari tadi tiada henti menangis sembari menggenggam erat tangan sang suami yang masih bergelut dengan maut.

__ADS_1


"Ma, sudah ya, jangan menangis lagi. Papa pasti akan segera pulih kembali. Sekarang kita sama-sama kuatkan Papa dengan doa-doa kita ya Ma."


Langit mendekap tubuh Wulan dari belakang. Meskipun batinnya juga ikut remuk melihat keadaan sang papa yang masih belum siuman, namun lelaki itu harus terlihat kuat dan tegar di hadapan Wulan. Ia harus bisa menguatkan ibu dan juga adiknya.


"Tapi sampai kapan papamu akan seperti ini Lang? Mama tidak sanggup membayangkan betapa kesakitannya papa."


"Mama yang sabar. InshaAllah semua ujian sakit yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya, bisa menjadi penggugur dosa. Semoga dengan keadaan seperti ini, bisa menggugurkan dosa-dosa papa, Ma."


"Kak Langit!"


Langit menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Nawang masuk ke dalam ruangan. "Nawang, ada apa?"


"Itu di depan ada kak Angkasa. Katanya, kakak meminta dia datang kemari."


Langit menganggukkan kepala. "Kamu di sini temani mama ya. Kakak ingin menemui kak Angkasa terlebih dahulu."


"Baik Kak."


Langit mengayunkan tungkai kakinya untuk keluar ruangan. Terlihat Angkasa sudah menunggu di depan pintu.


"Ang!"


"Ya Pak Langit. Katanya Pak Langit memanggil saya?"


"Betul Ang." Langit merogoh saku yang ada di balik jas yang ia kenakan. "Ini tiket ke Jogja. Besok pagi, kamu segera terbang ke sana. Tidak apa-apa kan, kalau untuk sementara kamu aku mutasi ke Jogja?"


Angkasa tersenyum simpul seraya menganggukkan kepala. "Iya Pak, saya siap untuk dipindah ke Jogja."


"Keluargamu tidak keberatan kan?"


Angkasa menggelengkan kepala. Sejatinya, ada kegetiran yang ia rasakan jika mengingat kondisi sang ayah yang saat ini sedang tidak baik-baik saja. Di mana sang ayah mengalami depresi sejak lima tahun yang lalu.


"Tidak Pak. InshaAllah keluarga saya bisa mengerti dengan tanggung jawab saya sebagai karyawan Pak Langit."


"Terima kasih banyak, Ang!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2