Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 65. Sumpah


__ADS_3


Kembali ke masa kini


"Wah, wah, ternyata pemilik perusahaan ekspedisi yang sangat terkenal di kota ini memiliki skandal menjijikkan. Kalau seperti ini bisa menghancurkan reputasi perusahaan."


"Tidak sangka ya, lelaki yang terlihat begitu berwibawa dan begitu kalem menyimpan kebusukan seperti ini. Ini sih bisa menjadi jalan kehancurannya."


"Aku heran, padahal istri pak Awan itu sudah teramat sempurna sebagai seorang istri, dia cantik, sholehah, anggun, terlihat begitu penyayang dan sabar. Tapi kenapa pak Awan tidak bersyukur ya? Dan malah memilih wanita yang terlihat murahan seperti itu?"


Bisik-bisik dari para tamu undangan mulai merembet masuk dalam indera pendengaran Awan. Meskipun tidak secara terang-terangan mereka mengutarakannya di depan Awan namun sudah cukup membuat wajah lelaki itu tertampar. Hatinya juga seperti begitu tertohok dengan kejadian yang tidak pernah ia duga sama sekali.


Mega yang juga mendengar bisik-bisik para tamu undangan seketika hatinya dipenuhi oleh amarah. Ia teramat tidak terima jika dibanding-bandingkan dengan istri sah Awan. Apalagi tidak ada satupun dari mereka yang membelanya. Ia yang sebelumnya terduduk di samping Awan, kini tubuh wanita itu bangkit. Dengan pongah ia berdiri di hadapan para tamu undangan.


"Bubar semua bubar! Acara ini sudah selesai. Pergi kalian semua dari sini!"


Tak tahu apa yang harus dilakukan untuk membela diri, Mega mengusir para tamu undangan dengan kasar. Saat ini, ia seakan tidak memiliki pendukung jika harus membela diri. Akhirnya, dengan cara seperti inilah dia bisa sedikit lebih tenang untuk tidak dibanding-bandingkan.


"Isssshhhh ... Siapa juga yang mau berlama-lama di sini. Jika kami berlama-lama di tempat ini, bisa-bisa ikut terkena azab. Ihhhh ngeri sekali!"


"Iya, lagipula dia kan hanya pelakor, kok tidak malu ya memperlihatkan wajahnya terang-terangan!"


Amarah Mega semakin mendidih di atas ubun-ubun kala mendengar ucapan beberapa tamu undangan yang semakin keterlaluan. Ingin rasanya ia kembali membuka mulut untuk menimpali ucapan panas dari mulut mereka, namun lagi-lagi ia sadar jika saat ini tidak ada satupun yang berpihak kepadanya. Akhirnya wanita itu hanya bisa mengumpat di dalam hati.


Sialan. Sebelumnya aku begitu diistimewakan oleh mas Awan tapi sekarang mas Awan tidak mau melakukan apapun. Bahkan dia terlihat begitu pasrah dengan keadaan. Sungguh menyebalkan sekali.


"Ayo, ayo kita pergi dari sini saja. Sebelum ikut terkena azab!"


Satu persatu para tamu undangan mulai meninggalkan area ballroom. Mereka keluar dari tempat itu dengan perasaan yang cukup bercampur aduk. Sungguh sangat disayangkan, pemilik perusahaan ekspedisi yang dua tahun terakhir ini mencapai puncak kejayaan tersandung skandal menjijikkan seperti ini.


Awan terduduk lemas di atas panggung dengan wajah yang sudah terlihat memar-memar akibat bogem mentah dari Angkasa. Lelaki itu berkali-kali mengacak rambutnya kasar. Semua terjadi secara mendadak yang membuat tubuhnya shock sekali.


"I-Ini apa Wan? Mengapa ada tanyangan seperti ini?"


Marni, wanita paruh baya yang sebelumnya berada di tengah-tengah para tamu undangan, dengan susah payah menggeret kursi rodanya untuk mendekat ke arah Awan. Ia juga tidak kalah terkejut saat melihat adegan demi adegan yang terpampang di layar lebar itu.


Awan hanya terdiam dan membisu seraya menggelengkan kepala. Ia bahkan tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan sang ibu yang saat ini juga sudah berderai dengan air mata.

__ADS_1


"Kamu benar mencurangi Aya, Wan? Kamu sungguh melakukan hal menjijikkan seperti itu dengan wanita lain? Jawab Wan, jawab! Jangan diam seperti ini!"


Awan mengangguk pelan. "I-iya Bu. Awan khilaf!"


Kedua bola mata Marni terbelalak dan membulat sempurna. "Apa katamu, khilaf? Mana ada perselingkuhan itu kamu sebut sebagai sebuah kekhilafan Wan? Kamu dengan sadar dan tanpa paksaan berhubungan dengan wanita ini, kamu bilang khilaf?"


"Awan minta maaf Bu. Awan tidak menyangka jika keadaannya akan seperti ini."


"Sungguh keterlaluan kamu, Wan. Ibu tidak pernah mengajarimu menjadi seorang pengkhianat, tapi saat ini kamu benar-benar mengecewakan Ibu. Jika seperti ini, Ibu akan kehilangan menantu kesayangan Ibu!" teriak Marni yang seketika membuat tubuh Mega terperanjat. Ia tidak menyangka jika ibu dari kekasihnya ini memiliki suara yang menggelegar jika sudah marah.


"Bu, sudahlah, jangan Ibu pikirkan menantu kesayangan Ibu itu lagi. Kalaupun Ibu kehilangan wanita itu, Ibu tenang saja karena aku bisa menjadi penggantinya. Aku bahkan bisa jauh lebih baik dari wanita itu!"


Mega berujar dengan rasa penuh percaya diri. Setelah dianggap remeh oleh para rekan bisnis Awan, ia tidak ingin juga dianggap remeh oleh sang calon ibu mertua. Ia bahkan menjanjikan sesuatu yang indah kepada Marni.


"Diam kamu wanita murahan!" sembur Marni yang sama sekali tidak tertarik oleh sosok Mega. "Tidak ada satupun wanita yang bisa mengalahkan sabar dan setianya menantuku."


Mega terhenyak. Ia sungguh heran, sehebat apa istri Awan itu. "Kalau hanya sabar dan setia, aku pun juga bisa, Bu. Ibu tenang saja, aku bisa jauh lebih baik dari menantu Ibu sebelumnya!"


Marni menggelengkan kepala. Memori otaknya tiba-tiba kembali berputar pada masa-masa yang telah lalu. Dia adalah saksi hidup bagaimana jatuh bangun Awan dan Cahya menjalani kehidupan berumah tangga mereka.


Mega tersenyum sinis, seolah menganggap remeh perkataan Marni ini. "Aku bisa pastikan setelah mas Awan menikah denganku, kehidupannya akan jauh lebih baik dari sekarang. Aku yakin jika mas Awan bisa jauh lebih kaya daripada saat ini."


"Sungguh tidak tahu malu kamu!" hardik Marni sembari menggeleng-gelengkan kepala.


"Nanti kita buktikan saja, Bu. Aku bisa menjadi lebih baik dari Cahya." Mega kembali menatap Awan yang masih terdiam di tempatnya. "Mas, mau sampai kapan kamu akan seperti ini? Ayo kita segera pulang. Aku ingin pulang ke rumahmu!"


Awan terhenyak. "Apa? Kamu ingin pulang ke rumahku? Jangan mengada-ada kamu. Suasana sedang panas seperti ini, tidak seharusnya kamu menginginkan hal semacam itu!"


"Tidak ada yang salah kan Mas? Saat ini semua sudah tahu bahwa kita memiliki hubungan, jadi apa lagi yang harus kita tutup-tutupi?"


"Aku tidak setuju! Aku tidak sudi wanita murahan sepertimu menginjakkan kaki di rumahku," timpal Marni.


Mega masih bisa tersenyum. Dalam situasi seperti ini, wanita itulah yang terlihat tidak memiliki beban sama sekali.


"Bu, cepat atau lambat, kita akan tinggal satu rumah. Ibu harus bisa menerima hal itu. Oleh karena itu, aku akan ikut pulang mas Awan di rumahnya."


"Wan, apa yang akan kamu lakukan? Mengapa kamu diam seperti ini? Ibu tidak mau satu atap dengan wanita murahan ini!" desak Marni yang terlihat begitu gemas karena sang anak terlihat tidak bisa tegas dalam mengambil langkah.

__ADS_1


"Aaarrggghhhhh ... Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, Bu. Biarkan saja dia ikut pulang bersama kita."


"T-tapi...."


"Sudahlah Bu, ayo kita segera pulang!"


Merasa sudah tidak ada gunanya lagi berada di sini, Awan mencoba untuk bangkit dari posisinya. Meskipun rasa nyeri memenuhi syaraf-syaraf di wajah dan juga di bagian tongkat ajaibnya namun ia mencoba untuk tetap kuat. Lelaki itu mendorong kursi roda sang ibu untuk segera ia bawa keluar dari area ballroom.


Mega menghampiri kedua orang tuanya yang juga masih berada di dalam mode terperangah. Raut kecewa itu terlihat jelas di wajah sang ibu. Sedari tadi Lastri juga teramat shock dengan apa yang terjadi.


"Ayo Pak, Bu, kita juga ikut pulang. Setelah ini persiapkan semua untuk pernikahanku dengan mas Awan."


Lastri menatap wajah sang anak dengan tatapan nyalang. Tidak pernah ia sangka jika anak semata wayang yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang akan menjadi wanita ja*lang yang menghancurkan rumah tangga orang.


Tak lagi sanggup menahan rasa marah dan kecewa yang berkumpul menjadi satu, tangan wanita itu terayun dan...


Plak... Plak... Plak....


"Aaaaawwwwhhhhhh!!!!"


"Sungguh menjijikkan kamu, Meg! Ibu tidak menyangka selain kamu telah berbuat zina, ternyata kamu juga seorang wanita penggoda. Kamu hancurkan rumah tangga orang lain."


Lastri menjeda ucapannya sejenak seraya meraup udara dalam-dalam. Ia mencoba melepaskan dirinya dari kungkungan emosi yang membelenggu jiwa.


"Kamu seorang wanita, ibu seorang wanita dan istri dari lelaki ini juga wanita. Bagaimana bisa kamu menyakiti hati kaummu sendiri, Meg? Di mana otakmu? Di mana?" teriak Lastri mencoba meluapkan amarahnya.


Tiga tamparan yang dilayangkan oleh Lastri sudah cukup membuat wanita itu memekik kesakitan dan bungkam. Wanita itu memegangi pipinya yang terasa begitu perih karena tamparan dari sang ibu. Wanita itu juga shock karena selama dua puluh lima tahun menjadi anak Lastri, baru kali ini ia ditampar oleh sang ibu.


"Aku bersumpah, hidupmu tidak akan pernah bahagia sampai akhir hayatmu, Meg!!" sumpah Lastri yang setelah itu ia berlari untuk keluar dari ballroom.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2