Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 51. Terhenyak


__ADS_3


"Alina memang tidak suka sama tante-tante yang ada di ruangan ayah itu, Tante. Pakaiannya tidak sopan karena seperti pakaian anak-anak. Kecil sekali!"


Di hadapan Dina, Alina mengadu akan ketidaksukaannya pada sosok wanita yang berada di ruangan sang ayah. Di raut wajah gadis kecil itu terlihat jelas kilatan kebencian yang begitu kentara karena pakaian yang dikenakan oleh Mega sangatlah tidak sopan di matanya.


Sebagai seorang pendengar, Dina hanya bisa mendengarkan cerita Alina dengan seksama. Sesekali Dina tergelak pelan kala melihat begitu menggemaskannya wajah putri sulung sang pimpinan yang tengah kesal ini. Apalagi saat mendengar bahwa dua gadis kecil ini memberikan sambutan selamat datang dengan menaruh permen karet di sofa yang diduduki oleh Mega.


"Jadi kalian yang ngerjain tante itu dengan permen karet?"


Alina menganggukkan kepala. "Iya Tante. Alina benar-benar tidak suka dengan tante jtu."


Dina merapatkan tubuhnya di tubuh Alina. Sejatinya, ia juga merasakan hal yang sama dengan Alina. Ia tidak terlalu suka dengan tamu yang berpenampilan seperti purel yang sempat berpapasan dengannya saat di lobi tadi.


"Bagaimana kalau kita lanjutkan lagi memberikan kejutan untuk tante itu?" ucap Dina memberikan usul.


"Caranya bagaimana Tante? Permen karet punya Malika sudah habis karena semua sudah Alina pakai untuk ditempelkan di sofa ruangan ayah."


"Ayo kita ke taman yang ada di belakang. Kita cari cacing tanah dan kemudian kita masukkan ke dalam tas tante itu."


"Cacing tanah?" tanya Alina sedikit bergidik. Gadis kecil itu seakan teramat geli kala mendengar ide cacing tanah yang disebutkan oleh Dina. "Tapi Alina takut Tante. Alina geli."


"Tenang saja, kita minta pak Jono untuk mencari cacing-cacing itu. Kita kumpulkan yang banyak lalu kita taruh ke dalam tas tante ganjen tadi."


"Oke Tante, ayo kita minta tolong pak Jono!" Alina beranjak dari posisi duduknya. Gadis itu bermaksud mengajak sang adik namun ternyata Malika justru sudah tertidur di atas sofa. "Adek tidur, Tan. Bagaimana?"


"Sudah, biarkan saja Malika tertidur. Kita harus bergerak cepat, Sayang!"


Pada akhirnya, finance di kantor milik Awan dan putrinya itu bergerak cepat mencari pak Jono. Kali ini ia menjalankan misi selanjutnya untuk memberikan pelajaran kepada Mega.


***


"Astaga .... Sepertinya itu permen karet putriku Mbak. Maaf ya."


Cahya berpura-pura menampakkan raut wajah yang bersalah kala melihat rok yang dikenakan oleh Mega lengket karena permen karet. Cahya menghampiri Mega dan berniat membantunya untuk terlepas dari derita permen karet ini.


"Ay ... Mengapa anak-anak sampai berbuat jail seperti ini? Apa kamu yang mengajarinya? Kalau seperti ini bu Mega lah yang mendapatkan kerugian."

__ADS_1


Awan juga tak kalah terkejut akan tragedi permen karet yang dialami oleh Mega. Hingga sebuah tanya terlontar dari bibir lelaki itu sebagai salah satu ungkapan rasa keingintahuannya. Bahkan Awan sampai menuduh Cahya lah yang mengajari kedua anaknya melakukan hal itu.


Awan turut mendekat ke arah Mega untuk membantu menghilangkan bekas permen karet. Di wajah lelaki itu juga menampakkan raut kekecewaannya.


"Anda baik-baik saja kan Bu? Sekali lagi saya minta maaf atas perbuatan anak-anak saya. Jangan sampai kejadian ini memutuskan kerjasama kita."


Dalam keadaan seperti ini pun Awan masih memerankan perannya sebagai relasi bisnis Mega. Hal ini ia lakukan untuk semakin membuat Cahya percaya bahwa hubungannya dengan Mega hanya sebatas rekan kerja.


"Tidak apa-apa Pak. Saya mengerti. Mereka masih anak-anak jadi wajar jika berbuat jahil seperti itu," ujar Mega begitu bijak. Padahal dalam hati, wanita itu tiada henti mengumpat.


Cahya tertawa dalam hati melihat drama yang diperankan oleh suami dan selingkuhannya ini. Ia tersenyum penuh arti menanggapi apa yang diucapkan oleh Awan.


"Apa selama ini kamu pernah melihatku mengajari anak-anak sesuatu yang buruk Mas?" tanya balik Cahya kepada Awan.


"Memang tidak, tapi mengapa hal seperti ini bisa sampai terjadi? Kalau bukan karena didikan darimu lalu siapa Ay? Bukankah kamu yang selalu mendampingi anak-anak?"


Cahya mengendikkan bahunya. "Entahlah, aku juga tidak paham. Tapi apakah kamu tidak merasa sedikit aneh Mas?"


Perhatian Awan yang sebelumnya fokus pada sofa yang terkena permen karet, kini ia alihkan ke arah sang istri. Dahinya sedikit mengernyit. "Aneh seperti apa maksudmu Ay?"


"Selama ini Alina maupun Malika tidak pernah berbuat jahil kepada orang yang baru ditemuinya tapi sekarang kok aneh karena mereka tiba-tiba menjahili mbak Mega." Cahya menatap manik mata Mega dengan lekat. "Atau jangan-jangan, mbak Mega ini bukan orang baik-baik, sehingga mengeluarkan aura yang negatif? Oleh karena itu kedua putriku memberikan sedikit pelajaran untuk mbak Mega?"


"Kamu jangan mengada-ada Ay. Bu Mega ini orang baik. Tidak mungkin dia memiliki niat jahat di perusahaan ini," timpal Awan yang justru malah membela Mega.


Cahya tetap bersikap santai meskipun serasa dikeroyok oleh dua orang penjahat.


"Aku tidak mengada-ada Mas. Aku hanya mencoba menganalisa kejahilan yang dilakukan oleh kedua putri kita. Karena biasanya, feeling anak kecil itu teramat kuat. Bisa saja kan kalau mbak Mega ini merupakan penyusup dari perusahaan lain yang ingin menghancurkan perusahaanmu?"


"Ngaco kamu Ay!" pekik Awan yang merasa perkataan istrinya ini sudah ngelantur sampai mana-mana. "Sudah, sekarang bu Mega langsung ke kamar mandi saja untuk membersihkan ini semua."


"Baik kalau begitu Pak. Saya permisi ke kamar mandi sebentar."


Mega menyambar tas yang ada di atas meja. Wanita itu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa permen karet yang masih menempel di rok mininya ini.


"Lain kali ajari anak-anak agar tidak melakukan kejahilan seperti ini, Ay. Jika seperti ini aku khawatir bu Mega membatalkan kerja samanya!"


Awan memberikan sebuah peringatan keras kepada Cahya. Lelaki itu memijit-mijit pelipis saat merasakan begitu pusing karena hari semua terasa begitu kacau. Ada banyak kejadian tiba-tiba yang ia alami hari ini.

__ADS_1


Mega yang tiba-tiba datang, Mega yang tiba-tiba minta dinikahi, anak dan istrinya yang juga tiba-tiba datang ke kantor dan terakhir kedua putrinya yang tiba-tiba bersikap jahil. Itu semua seakan menjadi sebuah beban pikiran sehingga membuat kepala Awan terasa begitu berat.


Cahya tersenyum tipis melihat kegusaran yang terpancar di wajah Awan. "Mengapa kamu terlihat begitu tidak rela jika wanita bernama Mega itu sampai membatalkan kerja samanya denganmu Mas?"


"Bagaimana aku tidak khawatir? Dengan kerjasama itu bisa menambah omset bulanan perusahaan ini, Ay. Kok masih kamu pertanyakan."


Mas Awan, Mas Awan .... Kamu ini ternyata bo*doh. Justru kehadiran Mega lah yang akan membuat hartamu terkuras habis. Lihat saja nanti.


Cahya masih menanggapi ucapan Awan dengan santai. Saat ini ia sungguh tidak peduli lagi dengan kehancuran seperti apa yang akan dirasakan oleh Awan. Yang pasti Cahya sudah bisa bernapas lega karena sudah ada banyak aset yang berhasil ia amankan.


"Kamu aneh Mas!"


"Aneh bagaimana?"


"Rezeki yang sudah Allah titipkan ke kamu itu melalui banyak jalan bukan hanya dari wanita bernama Mega itu kan? Sekarang aku malah yang jadi keheranan sama kamu."


Cahya sengaja menjeda ucapannya untuk membuat Awan semakin dibelenggu oleh tanda tanya. Benar saja, kening Awan semakin berkerut dalam.


"Keheranan apa lagi sih maksudmu, Ay? Aku benar-benar tidak paham!"


Cahya tersenyum simpul. "Kamu takut kehilangan omset bulanan atau takut tidak bisa sering-sering bertemu dengan wanita itu lagi jika sampai dia memutuskan kerja samanya, Mas?"


Kali ini Awan benar-benar dibuat bungkam dengan pertanyaan retoris yang diucapkan Cahya. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang karena tanpa sadar sikapnya ini sudah berlebihan yang bisa menjadi jalan kecurigaan bagi sang istri.


"A-aku...."


"Hahahaha ... kenapa gugup seperti itu Mas?" Cahya mendekat ke arah Awan. Ia kancingkan dua kancing kemeja Awan yang sedari tadi terbuka. "Apa AC di ruanganmu ini kurang dingin dan masih membuatmu kegerahan, Mas? Sampai-sampai membuat dua kancing kemejamu terbuka seperti ini?"


Tubuh Awan semakin membeku kala perkara kancing kemeja sampai luput dari perhatiannya. Ia baru ingat jika tadi, tangan Mega sempat menelusup masuk untuk meraba-raba bagian dadanya dan lupa untuk kembali ia kancingkan.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2