
Ruangan ini terasa begitu dingin, meskipun pendingin ruangan masih berada dalam mode off. Hening, tidak ada yang berucap sama sekali. Cahya, Langit, Awan dan Dina sama-sama duduk di sofa. Dan mereka seakan larut dalam pikirannya masing-masing. Dari keempat orang itu, gestur Awan lah yang memperlihatkan keterkejutan yang tiada terkira.
"Jadi, bu Cahya adalah pemilik perusahaan ini Pak. Bu Cahya lah yang saat itu meminjamkan uang kepada Pak Awan melalui Pak Andre. Karena pak Awan tidak bisa mengembalikan pinjaman itu pada akhirnya semua sertifikat tanah dan bangunan ini menjadi milik bu Cahya."
Untuk memupus semua pertanyaan yang berkutat di kepala Awan, Dina langsung memberikan penjelasan tanpa diminta. Hal itulah yang membuat Awan semakin terperangah tiada percaya.
Cahya mengulas sedikit senyumnya. Meskipun ada perasaan kikuk bertemu kembali dengan sang mantan suami, namun ia berupaya untuk bisa menguasai diri. Bahkan wanita itu tiada henti melepaskan genggaman tangannya dari telapak tangan Langit, untuk menguasai segala gejolak emosi yang mungkin bisa tiba-tiba menghampiri tanpa permisi.
"Mungkin kamu terkejut dengan semua ini ya Mas? Tapi inilah yang setidaknya bisa aku lakukan untuk tetap mempertahankan perusahaan ini. Karena bagaimanapun ada doa-doa tulus dariku dan anak-anak yang mengalir mulai dari saat kamu merintis perusahaan ini. Aku teramat bersyukur karena sampai detik ini aku masih bisa mempertahankannya meskipun saat ini perusahaan ini kembali hadir dengan nama yang berbeda."
Cahya menjeda sejenak ucapannya. Ia isi rongga-rongga dadanya dengan oksigen yang ada di sekitarnya.
"Nama baru yang aku harap bisa jauh lebih berkah dari sebelumnya. CLA ekspress yang merupakan kependekan dari Cahaya Langit Abadi. Aku sengaja menggunakan nama mas Langit karena sejauh ini dia lah yang mendukungku sepenuhnya untuk melanjutkan ekspedisi ini."
Awan yang sadari tadi menundukkan wajahnya, kini sedikit ia tegakkan. Ia tatap lekat mantan istri yang terlihat begitu mesra dengan suaminya ini.
"Kalau boleh tahu, kenapa kamu bisa menikah dengan pak Langit, Ay? Padahal pak Langit ini dulunya yang mencarikan rumah untuk aku berikan kepada Mega."
Cahya dan Langit sama-sama saling melempar pandangan. Langit tersenyum dan mengangguk kecil. Seakan memberikan isyrat agar dirinya saja yang menjelaskan kepada Awan.
"Jadi, sebelum saya bertemu dengan pak Awan saat itu, saya lebih dulu bertemu dengan Cahya dan anak-anak, Pak. Dari sana Cahya bercerita tentang siapa suaminya dan saat itu saya mengira jika rumah yang Anda beli itu untuk Cahya tapi ternyata untuk Mega yang notabene sebagai selingkuhan Anda."
"Jadi, itu artinya pak Langit yang membongkar perselingkuhanku dengan Mega?" tebak Awan.
"Mas Langit memang membongkar semua perselingkuhanmu Mas, namun aku lebih dulu mencium aroma-aroma perselingkuhan itu. Mulai dari kotak warna merah yang berisikan berlian, dari kamu sendiri yang tiba-tiba memiliki dua ponsel, lebih sering pamit ke luar kota dan dari aroma parfum khas wanita yang begitu menyengat ketika aku cium pakaianmu," timpal Cahya yang seakan tidak terima jika sampai mantan suaminya ini menyalahkan Langit.
"Mulai dari sana aku mempersiapkan sebuah rencana besar. Aku pura-pura menjadi wanita bodoh yang seakan tidak pernah tahu perselingkuhan suamiku demi untuk membuat sebuah rencana besar. Dan kamu lihat bukan? Dari kepura-puraanku tidak mengetahui perselingkuhanmu, aku bisa mendapatkan apa yang menjadi hak-ku dan anak-anak. Aku tidak rela jika apa yang telah menjadi bagian anak-anak dinikmati oleh kamu dan selingkuhanmu itu!" sambung Cahya dengan suara menggelegar namun sedikit bergetar. Jelas, wanita itu menahan gejolak emosi yang mulai berkobar.
Awan semakin menunduk dalam. Sungguh tidak pernah ia duga jika mantan istrinya ini akan bermain cantik untuk membalas semua perselingkuhannya.
"Sayang .... tenang, jangan emosi seperti ini. Ingat, kamu sedang mengandung."
__ADS_1
Langit berucap lirih sembari mengusap-usap punggung Cahya. Ia tahu persis jika emosi istrinya ini kembali tidak stabil setelah bertemu dengan Awan. Mungkin masih ada kekesalan yang belum tuntas untuk ia lampiaskan.
"Pak Awan, sudahlah. Perkara hal ini tidak perlu lagi untuk dibahas. Semua sudah menjadi masa lalu dan jika saat ini dibahas akan sangat tidak elok karena Mega sudah tenang di alam sana. Jika kita membahas perihal ini, itu sama saja kita membahas keburukan Mega. Padahal wajib bagi kita untuk menutupi aib saudara kita yang sudah meninggal," sambung Langit dengan bijak dan tenang.
Perkataan Langit justru membuat Awan terhenyak seketika. "Apa pak Langit bilang? Mega sudah meninggal?"
Langit menganggukkan kepala. "Benar Pak, tiga hari yang lalu Mega meninggal. Sebelum meniggal, Mega sempat membuat permohonan untuk dipertemukan dengan Cahya. Alhamdulillah Mega bisa bertemu dengan Cahya sebelum akhirnya ia meninggal dunia. Apa pak Awan tidak tahu akan hal ini?"
Awan menggeleng pelan. "Saya tidak tahu Pak. Lalu jika Mega meninggal, bagaimana dengan anak yang dikandungnya?"
"Anak yang dikandung Mega meninggal di dalam kandungan sejak Mega kamu ceraikan dan kamu usir dari rumahmu, Mas. Sungguh tega kamu. Aku kira kamu bisa menjadi manusia yang jauh lebih baik setelah berselingkuh di belakangku dan berhasil menikahi Mega, tapi ternyata kamu justru jauh lebih parah dan jahat dari sebelumnya," ucap Cahya menggebu mengeluarkan emosinya.
Mendadak tubuh Awan terasa begitu lemas. Hatinya seakan ditampar habis-habisan dengan adanya berita perihal Mega. Meskipun saat itu ia begitu tega mengusir Mega dan menceraikannya, namun saat ini rasa bersalah dan berdosa itu kian membelenggu raganya.
Awan hanya bisa duduk mematung. Tubuhnya membeku dan lidahnya terasa begitu kelu tidak mampu berucap apapun. Tanpa terasa setetes kristal bening meluncur bebas dari pelupuk matanya.
"Ini pelajaran bagimu Wan. Sudah saatnya kamu menyesal dan bertobat akan apa yang sudah kamu perbuat. Kehancuran yang kamu alami saat ini tidak lain akibat ulahmu sendiri!"
Suara bariton yang tiba-tiba terdengar memenuhi ruangan, membuat Awan terkesiap, ia menoleh ke arah sumber suara dan lagi-lagi tubuhnya dibuat terkejut setengah mati.
Angkasa hanya tersenyum simpul. "Ya, ini aku dan Mentari. Mungkin kamu kaget, tapi perkara mobil itu merupakan bagian dari rencanaku. Aku hanya ingin memberikan mobil itu untuk yang jauh lebih berhak mendapatkannya."
Tubuh Awan serasa semakin lemas. Tidak ia sangka jika banyak kejadian-kejadian tidak terduga menghampirinya.
"Ya sudah, saat ini pak Awan butuh pekerjaan bukan?" tanya Langit mencoba untuk mengalihkan pokok pembahasan.
Awan mengangguk pelan. "Iya Pak, saya harus bekerja untuk bisa menyambung hidup. Karena saat ini saya harus mencicil hutang saya di bank. Karena rumah itu sudah saya gadaikan."
"Astaghfirullahalazim.....," ucap semua yang ada di ruangan ini. Mungkin mereka sama-sama terkejut karena lagi-lagi Awan terlilit hutang.
"Baiklah, mulai hari ini Pak Awan sudah bisa langsung bekerja. Untuk awal bekerja, pak Awan akan saya berikan rute di Jogja bagian barat ya."
"Baik Pak!"
__ADS_1
***
POV Awan....
Motor yang aku kendarai memasuki kawasan dataran tinggi yang berada di sisi barat laut kota Jogja. Sejak pertemuanku dengan Dina, Cahya, Langit, Angkasa dan juga Mentari sungguh membuat pikiran ini tebang ke mana-mana. Mengapa semuanya bisa menjadi seperti ini? Yang lebih mengherankan lagi, kini aku menjadi salah satu karyawan di perusahaan milik mantan istriku? Sungguh, setiap jalan hidup memang tidak ada yang tahu.
Sejenak, aku hentikan laju motorku. Ku lihat di sekitar sini banyak pohon teh yang nampak mendominasi. Kucoba untuk merefresh pikiran dan juga hati yang terasa begitu penat ini.
Aku sungguh heran dengan jalan hidup yang sudah aku pilih. Aku mengira, setelah bercerai dari Cahya, aku bisa mereguk apa itu kebahagiaan yang sempurna. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Hidupku satu persatu hancur dan justru Cahya lah yang saat ini mendapatkan keberkahan dan kebahagiaan. Dia memiliki kehidupan yang sempurna. Memiliki suami yang terlihat begitu mencintainya dan juga hidup bersama dengan anak-anak yang.....
Ya Allah ... Aku sampai seperti dibuat lupa bahwa aku memiliki dua anak yang cantik-cantik. Alina, Malika .... Apa kabar mereka semua saat ini? Mengapa tadi tidak nampak ikut bersama Cahya? Saat ini aku sungguh merindukan mereka.
Aku menghela napas panjang kemudian aku hembuskan perlahan. Sudah waktunya aku pulang setelah setengah hari berkeliling mengantarkan paket. Kunyalakan kembali mesin motorku dan aku pacu untuk menyusuri jalanan yang sedikit berkelok-kelok ini.
Ah .... Dengan pemandangan seperti ini seakan kembali membuka memori lamaku di mana dulu aku sering mengajak Cahya dan anak-anak refreshing di tempat seperti ini. Kala itu anak-anak terlihat begitu bergembira melihat kawasan nan hijau seperti ini. Sungguh bahagianya saat itu.
Aku tersenyum tipis mengingat-ingat masa yang telah lalu. Meskipun pandanganku ke depan namun pikiranku seakan tertuju pada kenangan-kenangan indah bersama Cahya dan anak-anak. Saat itu hidupku terasa begitu sempurna dan bahagia.
Entah apa yang terjadi padaku, aku semakin tidak fokus dengan laju kendaraanku. Tiba-tiba aku mendengar.....
"Mas Awas..... Ada mobil!!!!!"
Aku terkejut setengah mati. Lamunanku buyar seketika. Kulihat ke arah depan dan.....
"Aaaaaaaaaaaaaa!!!!!"
Brak... Brak.... Brak.....
Kurasakan tubuhku jatuh terguling setelah menabrak mobil yang berpapasan denganku. Setelah itu semua terasa begitu gelap, sungguh gelap dan aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.
.
.
__ADS_1
.