
Kalimantan...
"Bagus Pak ... Pastikan saja dia tidak bisa membayar pinjamannya. Setelah itu kita ambil alih perusahaan dan sisa-sisa aset yang masih dimiliki."
"Iya Bu, masih ada dua unit mobil box. Saya yakin semua bisa beralih ke tangan bu Cahya. Karena pak Awan sudah tidak ada lagi dana cadangan."
"Baik Pak, terima kasih banyak, saya tunggu follow up selanjutnya. Jangan lupa untuk selalu berjalan beriringan dengan Dina, karena nantinya Bapak dan Dina lah yang akan saya beri kepercayaan untuk melanjutkan ekspedisi itu."
"Sama-sama Bu, terima kasih kembali atas kepercayaan bu Cahya kepada saya. Itu sudah pasti Bu, saya selalu bekerja sama dengan Dina."
Cahya menutup obrolannya melalui sambungan telepon dengan seorang lelaki yang telah ia berikan tugas secara khusus. Wanita itu tersenyum puas mendengar kabar yang benar-benar sesuai dengan harapannya.
"Benar dugaanku, semua yang kamu genggam pada akhirnya terlepas satu persatu. Setelah ini, perusahaan yang sudah susah payah kamu bangun di mana di dalamnya ada doa tulus yang aku panjatkan siang malam pada akhirnya akan menjadi milikku."
Cahya meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya. Ia ayunkan tungkai kaki untuk keluar dari dalam ruangan. Wanita itu menuju ruang produksi di mana banyak pekerja yang tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Senyum manis terbit di bibir Cahya. Pada akhirnya, ia bisa membuka usaha konveksi yang bisa menyerap beberapa tenaga kerja yang ada di sekeliling. Berawal ia membuka usaha jahit kecil-kecilan dan memperkenalkan produk yang ia buat, tanpa disangka banyak orang yang menyukai hasil pekerjaannya. Hingga pada akhirnya ia sampai di titik ini. Sebuah titik di mana ia bisa mewujudkan mimpi-mimpi yang sudah sejak dulu ia bangun.
"Bu Cahya .... Bisa saya bicara sebentar?"
Suara lembut seorang wanita yang berasal dari balik punggung Cahya membuat wanita itu sedikit terkejut. Ia menoleh ke arah sumber suara dan nampak Rina, sang asisten pribadi mendekat ke arahnya.
"Iya Rin, ada apa?"
"Setelah jam makan siang akan ada seseorang yang datang menemui bu Cahya. Katanya, ia ingin memesan seragam untuk acara pernikahan anaknya."
"Acaranya kapan Rin? Dan jumlahnya berapa?"
"Nah untuk hal itu, beliau yang akan menjelaskannya sendiri kepada bu Cahya secara langsung."
"Baiklah, nanti biar aku yang bicara langsung kepada beliau. Terima kasih untuk informasinya Rin."
__ADS_1
"Sama-sama Bu. Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu. Saya ingin membantu bagian packing untuk pesanan yang akan kita kirim ke Surabaya."
"Silakan Rin."
Rina berjalan meninggalkan Cahya. Sedangkan di bibir Cahya kembali terlukis seutas senyum manis. Wanita itu menghela napas dan ia hembuskan perlahan.
"Alhamdulilah wa syukurilah... Terima kasih banyak atas segala nikmat dan berkah yang Engkau hadirkan dalam lembaran kehidupanku yang baru ini ya Rabbi. Aku percaya bahwa setelah badai pasti akan ada pelangi yang mengiringi."
Hari-hari penuh kepahitan itu telah berlalu. Sedahsyat apapun badai yang kemarin menerjang bahtera rumah tangga Cahya dan berhasil meluluhlantakkan hidupnya, pada kenyataannya matahari masih setia memancarkan kilau sinarnya. Dan di sela pancaran sinarnya pastilah tersimpan nafas-nafas kehidupan baru bagi jiwa-jiwa yang patah.
Inilah salah satu keadilan dari sang Maha pemilik kehidupan. Dia menurunkan dinginnya air hujan diiringi dengan kehangatan yang tersimpan di baliknya. Dia menciptakan badai diiringi pelangi yang akan muncul setelahnya. Dia menciptakan tangis diiringi senyum setelahnya. Dan ia menciptakan luka diiringi dengan penawar bahagia yang dapat membalutnya. Semua yang terjadi memang sudah sesuai porsi masing-masing. Kita sebagai makhluk lemah hanya dapat berupaya untuk senantiasa meminta kekuatan kepada Sang maha penggenggam kehidupan.
***
"Mari silakan duduk, Bu!"
Cahya mempersilakan tamunya untuk duduk di sebuah sofa yang berada di ruang kerja miliknya. Seorang wanita yang masih terlihat cantik di usia yang mungkin sudah menginjak separuh abad dan seorang wanita lagi yang usianya sekitar dua puluh enam tahun.
"Terima kasih Mbak Cahya." Wanita itu mendaratkan bokongnya di sofa yang telah tersedia dan berhadapan langsung dengan Cahya. "Sebelumnya perkenalkan, nama saya Wulan dan ini anak saya, Nawang."
"Jadi begini Mbak, rencananya putri saya ini akan menikah satu bulan lagi. Oleh karena itu, saya bermaksud ingin membuat seragam untuk keluarga. Kira-kira bagaimana? Apa mbak Cahya bisa membuatnya?"
"Untuk berapa orang ya Bu?"
"Sekitar tiga puluh, Mbak. Untuk keluarga saya dan juga keluarga calon besan."
Sejenak, Cahya menimbang-nimbang apa yang menjadi permintaan Wulan dan ia pun menganggukkan kepala.
"InshaAllah saya dan tim siap untuk mengerjakannya, Bu. Untuk ukuran masing-masing, nanti bisa berkumpul di rumah bu Wulan dan nanti akan ada tiga orang dari saya yang datang untuk mengukur satu persatu. Bagaimana?"
"Bisa Mbak, bisa. Lalu, paling lambat kapan Mbak?"
"Maksimal lusa, semua sudah harus ukur Bu. Jadi keesokan harinya bisa kami kerjakan. Bagaimana?"
__ADS_1
"Baik Mbak, deal!"
"Alhamdulillah..."
"Ada satu lagi, Mbak," ucap Wulan yang membuat Cahya mengernyitkan dahi.
"Apa itu Bu. Coba disampaikan, barangkali saya bisa bantu."
"Kalau semisal untuk gaun pengantinnya juga dikerjakan oleh mbak Cahya bagaimana? Apakah bisa? Katanya, kemarin itu Nawang sempat melihat gaun pengantin hasil rancangan mbak Cahya yang dipakai oleh model Catty Maroon dan putri saya ini langsung jatuh hati sama desainnya," terang Wulan memaparkan keinginannya.
"Iya Mbak, aku benar-benar jatuh hati dengan hasil rancangan gaun pengantin mbak Cahya. Terlihat begitu simpel, namun tidak meninggalkan kesan elegan," timpal Nawang dengan wajah yang berbinar. "Setelah itu aku langsung mendiskusikannya dengan calon suami dan ia pun menyetujui jika pakaian yang akan kami kenakan dari rancangan mbak Cahya."
Binar kebahagiaan terlukis jelas di wajah Cahya. Sungguh begitu banyak keberkahan yang sudah Allah titipkan kepadanya.
"MashaAllah ... Saya sungguh terharu hasil rancangan saya mendapatkan apresiasi dari mbak Nawang. InshaAllah saya sanggup untuk membuatnya."
"Alhamdulillah..."
"Jadi begini ya bu Wulan dan mbak Nawang saya jelaskan sedikit tentang usaha yang saya bangun ini."
"Silakan Mbak."
"Di sini ada dua bagian yang terpisah. Bagian konveksi, di mana tim kami memproduksi pakaian-pakaian sehari-hari dan nantinya dikirim ke berbagai daerah. Dan yang kedua adalah bagian wedding, di mana ada satu tim lagi yang khusus menjahit pakaian-pakaian untuk acara formal seperti wedding dan acara formal lainnya. Sedangkan untuk pakaian mempelai pengantin langsung saya sendiri yang mengerjakan."
"Wah, kalau seperti itu tidak salah jika putri saya ini mempercayakan semua urusan pakaian kepada mbak Cahya," ucap Wulan yang begitu puas dengan sistem kerja milik Cahya ini.
"Alhamdulillah terima kasih banyak atas kepercayaannya Bu. Bismillah, saya akan mengerjakan sepenuh hati, sehingga tidak mengecewakan."
"Aamiin..."
"Eh Ma, tapi kakak masih ada di Jogja. Lalu ngukurnya bagaimana? Kan paling lambat lusa?" tanya Nawang setelah sadar bahwa sang kakak sedang ada di luar kota.
"Astaghfirullah ... Iya, Mama lupa," pekik Wulan sembari menepuk jidat. "Lantas bagaimana ini Mbak? Kemungkinan lusa anak saya belum pulang dari Jogja. Ukurnya bagaimana ya Mbak?"
__ADS_1
Cahya tersenyum penuh arti. Sejatinya perkara seperti ini bukanlah perkara serius.
"Tenang Bu, anak Ibu Wulan bisa menyusul. Setelah putra Bu Wulan pulang dari Jogja langsung kemari saja untuk ukur. Asalkan jangan pulang pas mepet-mepet hari H. Saya khawatir serba terburu-buru dan hasil jahitannya tidak maksimal."