
"Bunda!!!"
Senyum merekah di bibir Cahya kala tiba di halaman rumah sudah disambut oleh kedua putrinya. Ia yang berada di samping kap mobil seketika membungkuk untuk memeluk kedua putrinya yang berhamburan di dalam pelukannya ini.
"Sayangnya Bunda ... Kok masih pakai seragam?"
"Bunda dari mana? Mengapa bukan Bunda yang menjemput kami di sekolah?"
Belum sempat pertanyaan Cahya dijawab oleh kedua putrinya, ia justru mendapatkan pertanyaan balik dari Alina. Wanita itu pun hanya bisa tersenyum simpul seraya membelai pucuk kepala sang putri.
"Maaf ya Nak, Bunda dari kantor Ayah untuk mengirimkan bekal makan siang. Terlalu asyik mengobrol, Bunda sampai lupa waktu. Khawatir kalian terlalu lama menunggu, Bunda meminta pak Kasim dan bik Asih untuk menjemput kalian. Maafkan Bunda ya Sayang."
Seusai pertemuannya dengan Dina, Cahya seakan dirundung oleh kegamangan hati. Terlalu banyak pertanyaan-pertanyaan yang berkutat di kepala sampai membuatnya pening tiada terkira. Oleh karena hal itu, sedari tadi ia memilih tetap berdiam diri di taman yang berada di belakang kantor sembari menguasai perasaannya yang tidak karuan itu. Dan karena hal itu pulalah yang membuatnya tidak bisa menjemput kedua putrinya di sekolah.
"Oh dari kantor Ayah? Malika kira Bunda jalan-jalan sendiri," cicit Malika dengan bibir sedikit mengerucut.
Kekehan lirih keluar dari bibir Cahya. Ia cubit pipi gembul putrinya ini degan gemas. "Bunda jika jalan-jalan pasti mengajak kalian, Nak. Sudah yuk, kita masuk. Kalian ganti baju, cuci tangan, cuci kaki terus bobok siang ya."
"Baik Bunda."
"Sudah makan siang kan?"
"Sudah Bunda. Tadi disuapin sama bik Asih."
"Alhamdulillah."
Ibu dan anak itu berjalan bergandengan tangan memasuki area dalam rumah. Kedua putri Cahya itu bergegas masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Sedangkan Cahya, memilih untuk sejenak duduk di sofa ruang tengah.
"Pak Kasim, bik Asih, terima kasih banyak sudah mau menjemput Alina dan Malika. Maaf karena ada keperluan, saya tidak bisa menjemput mereka," ucap Cahya kala melihat dua orang yang bekerja di rumahnya ini melintas di hadapannya.
"Sama-sama Bu. Kapanpun bu Cahya meminta kami untuk menjemput anak-anak, pasti akan saya lakukan," ujar Kasim dengan ketulusan yang terpancar di wajahnya.
__ADS_1
"Iya, bu Cahya tidak perlu khawatir. Jika memang bu Cahya ada keperluan di luar, saya dan suami siap untuk menjemput anak-anak," timpal Asih yang tidak kalah tulus pula.
Cahya tersenyum lega. Ia teramat bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang baik seperti Kasim dan Asih ini.
"Terima kasih banyak ya Pak, Bik. Keberadaan pak Kasim dan bik Asih benar-benar membantu."
"Sama-sama Bu."
***
"Ibu mau nambah?"
"Tidak Ay, sudah cukup. Perut Ibu sudah kenyang."
Selepas memandikan Marni, Cahya menyuapi ibu mertuanya ini dengan bubur kacang hijau. Tiba-tiba saja wanita paruh baya ini ingin untuk menikmati bubur kacang hijau dan kini satu mangkuk bubur kacang hijau buatan Cahya sudah habis tanpa sisa.
"Ay, Ibu sangat bersyukur karena akhir-akhir ini sikap Awan sudah mulai kembali seperti dulu. Semoga seterusnya bisa seperti itu ya Ay."
Cahya yang mendengar perkataan sang ibu mertua hanya bisa menanggapinya dengan seutas senyum di bibir. Sebelum bertemu dengan Dina, mungkin ia juga akan merasa bahagia seperti Marni. Namun setelah bertemu dengan Dina, ia seakan harus mawas diri. Mawas diri untuk menghadapi segala kemungkinan terburuknya.
"Itu tandanya Awan memang benar-benar sudah terbuka hatinya Ay. Mungkin kesabaranmu dalam menghadapi sikap Awan lah yang membuat Awan semakin sadar atas kesalahannya."
Entahlah Bu, saat ini aku tidak bisa lagi sepenuhnya percaya pada mas Awan. Setelah pikiranku diusik oleh perkataan mas Langit beberapa hari yang lalu, saat ini justru semakin banyak tanda-tanda yang nampak bahwa semua yang diucapkan lelaki itu memang benar adanya.
Cahya hanya tersenyum simpul. Sebisa mungkin ia perlihatkan wajah yang nampak biasa-biasa saja. Seolah tidak pernah terjadi apapun. Dan tidak pula ia tampakkan sedikitpun hati yang dibalut oleh kekalutan itu.
***
Cahya terduduk lemas di tepian ranjang. Ia menggenggam erat kemeja kotor yang baru saja dilepas oleh Awan. Cahya pun hanya bisa membuang napas berat kala lagi-lagi aroma parfum ini yang tersisa di kemeja milik sang suami. Parfum yang jauh berbeda dengan parfum yang dimiliki oleh Awan.
Cahya bangkit dari posisi duduknya. Pandangannya mengedar ke arah pintu kamar mandi dan terdengar gemericik air shower yang mengalir dari dalam sana.
"Mumpung mas Awan sedang mandi, aku ingin memastikan keberadaan kotak merah yang beberapa hari yang lalu aku temukan di dalam dashboard. Jika kotak merah itu masih ada, ada kemungkinan berlian itu memang kado ulang tahun untukku. Namun jika tidak, itu artinya memang ada yang disembunyikan oleh mas Awan."
__ADS_1
Cahya bermonolog lirih sembari meletakkan kemeja sang suami ke dalam keranjang pakaian kotor. Tungkai kakinya terayun untuk menyelinap masuk ke dalam mobil Awan namun baru beberapa langkah...
"Ay, mau ke mana?"
Suara bariton yang tiba-tiba terdengar memasuki indera pendengaran, menghentikan langkah kaki Cahya. Wanita itu sedikit gugup namun sebisa mungkin ia netralisir. Cahya berbalik badan dan terlihat sang suami dengan mengenakan bathrob warna putih keluar dari dalam kamar mandi.
"Ah, tidak ke mana-mana Mas. Aku hanya ingin mengambil air minum. Kerongkonganku rasanya kering kerontang."
Awan berjalan mendekat ke arah Cahya yang sudah berada di dekat pintu kamar. Ia tarik lengan tangan sang istri untuk ia bawa ke dalam pelukannya. Ia kecup pucuk kepala istrinya ini dengan intens.
"Sepertinya sudah beberapa hari kita tidak bercinta. Bagaimana kalau malam hari ini kita habiskan untuk bercinta sepanjang malam?"
Cahya terhenyak. Ia yang sebelumnya begitu bahagia dan berbunga-bunga ketika akan diajak bercinta oleh Awan, namun entah mengapa tidak untuk malam ini. Hatinya seolah meragu jika Awan benar-benar menjaga miliknya untuk tidak berkelana ke sembarang lubang.
Cahya melerai pelukannya dari tubuh Awan, kepala wanita itu sedikit mendongak untuk bisa menatap netra milik sang suami. Ia tersenyum penuh arti.
"Maaf ya Mas, baru maghrib tadi tamu bulananku datang. Jadi, aku tidak bisa melayanimu."
"Yahh ... Padahal aku sangat merindukanmu, Ay."
Raut penuh kekecewaan terbit di wajah Awan. Meskipun dia sudah mendapatkan kepuasan dari Mega namun tetap saja tingkat kepausannya tidak maksimal karena wanita itu hanya memanjakan miliknya lewat mulut.
Cahya terkekeh lirih. Ia sedikit bersyukur, dengan hadirnya tamu bulanan ini, ia bisa menghindar dari ajakan sang suami. Ia tidak pernah tahu apa yang telah dilakukan oleh Awan di luar sana. Meskipun perselingkuhan Awan masih belum ia temui jawabannya, namun ia juga harus berjaga-jaga dari penyakit yang berasal dari s*x bebas.
"Ya sudah, lebih baik sekarang kamu istirahat Mas. Aku lihat kamu begitu lelah hari ini."
"Betul sekali Ay, aku memang lelah sekali hari ini." Awan memandu tubuh Cahya untuk untuk naik di atas ranjang. "Meskipun saat ini kamu tidak bisa melayaniku, namun aku ingin tidur dengan memelukmu!"
Cahya menurut saja. Ia rebahkan tubuhnya di samping Awan dan suaminya itupun memeluk erat tubuhnya. Wajah Cahya tenggelam di dada bidang milik suaminya ini.
Maaf, saat ini aku semakin ragu akan kesetiaanmu, Mas. Meskipun ragamu dapat aku dekap namun aku tidak pernah tahu ada siapa saja yang bertahta di dalam hatimu. Mulai esok hari, akan kucoba untuk menemukan jawabannya sendiri.
.
__ADS_1
.
.