Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 94. Janda Baru


__ADS_3


Awan tergelak pelan kala mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Tari. Ia sungguh tidak menyangka jika yang diingat oleh wanita ini adalah perkara penolakan cintanya karena dulu semasa SMA wanita itu sangatlah dekil.


"Hahahaha ... Ternyata kamu masih ingat akan hal itu Tar. Padahal aku sudah lupa."


Bibir Tari mencebik. "Siapa yang bisa lupa dengan penghinaan seorang laki-laki kepada wanita yang benar-benar mengaguminya, Wan? Saat itu kamu begitu sombong karena dikejar-kejar oleh banyak wanita sampai tega menghinaku."


Gelak tawa Awan semakin keras menggema hingga membuat beberapa orang yang sedang antre kelapa muda menoleh ke arahnya. Menyadari bahwa menjadi sumber perhatian, Awan bersegera melirihkan tawanya.


"Ya sudah, aku minta maaf Tar. Lagipula itu sudah berapa puluh tahun yang lalu, masa iya masih kamu ingat-ingat?"


"Sampai aku mati pun pasti akan aku ingat penghinaan itu, Wan. Karena saat itu kamu mempermalukanku di depan teman-teman kita. Tanpa merasa berdosa, kamu membaca surat cintaku di depan teman-teman satu angkatan."


"Hahahaha iya Tar, iya. Aku minta maaf," ucap Awan mengucapkan permintaan maafnya. "Bagaimana kalau aku traktir kamu kelapa muda yang kamu pesan sebagai bentuk permintaan maafku?"


"Apa? Traktir kelapa muda?" tanya Tari dengan raut wajah yang sinis. "Rasa sakit hatiku karena penghinaanmu tidak bisa disembuhkan hanya dengan kelapa muda ini Wan. Terlalu murah!"


Tari memasang wajah kesalnya sembari menyilangkan lengan tangannya di depan dada. Ia masih sakit hati dengan semua penghinaan Awan di masa yang telah lalu. Sangat tidak sebanding jika hanya dibayar dengan satu porsi kelapa muda.


"Baiklah, coba kamu katakan apa yang kamu inginkan agar aku bisa menebus semua kesalahanku atas penghinaanku di masa lalu. Aku pasti akan menurutinya."


"Idiiihhhh.... Aku tidak berharap apapun dari kamu Wan. Yang jelas, kelapa muda pesananku tidak akan bisa menebus semua kesalahanmu itu."


"Baiklah, baiklah. Bagaimana kalau kamu aku traktir makan siang? Aku rasa itu sudah cukup sebagai bentuk permintaan maafku sekaligus untuk memperbaiki kesalahanku."


"Terserah!"


***


Di salah satu restoran cepat saji, Awan mengajak Tari untuk makan siang. Lelaki itu seakan tidak bisa berhenti tertawa kala melihat wajah Tari yang sejak tadi ditekuk dan tidak ada senyum sama sekali.


"Tidak baik memperlakukan sajian makanan yang ada di hadapan kita dengan raut wajah yang ditekuk seperti itu Tar. Ayo dong senyum."


Tari tersenyum malas. Meskipun ia masih merasa begitu kesal dengan lelaki di hadapannya ini namun ada benarnya juga jika sebagai manusia tidak baik jika memperlakukan hidangan di makanan dengan wajah yang ditekuk ataupun suasana hati yang penuh dengan kekesalan. Dengan sedikit terpaksa, dia mulai menikmati sajian beef steak yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Nah gitu kan terlihat jauh lebih baik," ucap Awan yang juga ikut menyantap steak di hadapannya. "Oh iya, ngomong-ngomong kamu mengapa bisa tinggal di kota ini? Dan sejak kapan kamu tinggal di sini?"


Awan mencoba untuk membuka pembicaraan untuk mencairkan kebekuan yang tercipta. Sekilas, ia menatap wajah Tari dari tempat duduknya. Ada sedikit rasa kagum kala melihat wajah dan tubuh Tari yang sudah banyak berubah. Wanita ini tampil lebih glow up daripada dulu saat -saat masih SMA.


"Sejak lulus SMA, aku langsung pindah ke Jogja. Aku ikut ayah yang saat itu mendapatkan tugas di sini. Aku kuliah dan setelah lulus aku kerja di salah satu perusahaan milik saudaraku sebagai manajer pemasaran."


"Waaowww ... Ternyata karirmu cukup cemerlang ya Tar. Apakah saat ini kamu masih bekerja di perusahaan itu?" tanya Awan lebih lanjut.


Tari menggelengkan kepala. "Tidak, aku sudah tidak bekerja di sana. Tepatnya semenjak aku menikah, aku sudah tidak lagi bekerja," ucap Tari sedikit lirih.


"Oh jadi kamu sudah menikah? Lalu anakmu sudah berapa?" tanya Awan yang semakin kepo dengan kehidupan pribadi Tari.


Tari tersenyum getir. Ada satu bagian yang mencabik hati jika teringat akan keluarganya. "Anakku satu, tapi dia sudah meninggal."


Awan terhenyak. "Astaga, maaf Tar, aku sungguh tidak tahu dan tidak bermaksud untuk mengingatkanmu."


"Tidak apa-apa, santai saja." Tari menghela napas dalam untuk kemudian ia hembuskan perlahan. "Baru dua bulan lalu suami, anak serta ayahku meninggal secara bersamaan karena kecelakaan di tol saat kami berencana liburan di Jawa Barat. Dari kecelakaan itu hanya akulah yang selamat."


Di depan Awan, Tari meneteskan air mata. Cerita hidup yang ia jalani seakan mampu merubah suasana hati. Ia menjadi melankolis sendiri jika menceritakan hal ini di hadapan orang lain.


Tari menerima tisu yang diberikan oleh Awan. Ia mencoba untuk menguasai hatinya agar tidak terlalu larut dalam kesedihan.


"Itulah yang membuatku kebingungan saat ini. Baru satu minggu lalu aku dipecat karena ada rekan kerjaku yang memfitnahku. Sedangkan saat ini aku harus mencari cara untuk menyambung hidup. Aku mencoba untuk bekerja di dealer motor menjadi marketing eksekutif, tapi ya itu tadi hasilnya tidak begitu menjanjikan."


"Mengapa tidak menjanjikan Tar? Bukankah bekerja di dealer motor itu hasilnya lumayan?"


"Hasilnya banyak jika banyak para konsumen yang memilih untuk kredit, Wan. Sedangkan saat ini para konsumen lebih banyak yang memilih untuk membeli motor secara cash. Jadi, hasil yang aku dapatkan tidaklah seberapa."


"Oh iya benar juga ya Tar. Karena memang orang-orang yang bekerja di dealer lebih banyak mendapatkan keuntungan jika bisa menggiring konsumennya untuk kredit."


"Ya begitulah Wan. Semakin kesini para konsumen semakin pintar. Lebih baik mereka hutang di bank untuk membeli motor secara cash daripada hutang ke leasing."


Rasa iba itu semakin bergelayut manja di hati Awan. Melihat seorang wanita yang tengah kebingungan mencari pekerjaan seperti ini sungguh membuatnya tidak sampai hati. Awan terdiam sejenak. Ia berupaya keras mencari cara untuk bisa sedikit meringankan kesusahan Tari.


Senyum manis terbit di bibir Awan. Ia merasa bisa membebaskan Tari dari kesulitan yang membelenggunya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kamu bekerja di resto milikku Tar? Kebetulan dua minggu lagi resto milikku akan opening. Karena kamu berpengalaman dalam bidang marketing, maka aku berikan penawaran untuk kamu menjadi manajer? Bagaimana?"


Tubuh Tari sedikit tersentak. Kedua bola matanya membulat penuh seakan tidak percaya dengan penawaran Awan.


"K-Kamu serius Wan? Apa tidak berlebihan jika aku langsung menjadi manajer pemasaran?"


"Aku rasa tidak berlebihan Tar. Kamu cukup mumpuni untuk mendapatkan posisi itu. Dan aku yakin resto milikku akan semakin ramai jika kamu yang menjadi manajer pemasarannya."


Tari tersenyum manis. Jika sejak tadi ia memperlihatkan wajah masamnya, kini berganti dengan binar bahagia yang cukup kentara. Dengan bekerja di tempat Awan, dia yakin kehidupannya akan jauh lebih terjamin.


"Baiklah, aku terima tawaranmu Wan. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih."


"Sama-sama Tar."


Dua orang itu kembali fokus pada hidangan yang ada di hadapannya. Mereka menikmati beef steak itu sembari bernostalgia tentang cerita di masa-masa SMA. Hingga getaran ponsel dari dalam saku celana Awan, membuat lelaki itu sedikit terperanjat.


"Mega?" ucap Awan lirih. Ia geser icon warna hijau yang ada di layar ponsel.


"Mas .... Mengapa belum sampai rumah? Kelapa mudanya mana????!!!!!"


Teriakan nyaring dari seberang telepon membuat Awan seperti disadarkan dari kelupaan. Ia baru ingat jika di rumah, Mega sudah menunggu kelapa muda yang sejak tadi ia janjikan.


"Eh, eh, iya Han. Aku akan segera pulang. Ini ada kepentingan mendadak."


.


.


.


Double update untuk hari ini Kakak... jangan lupa untuk mampir ke tulisanku yang ini ya... 👇



Berikan dukungan kakak-kakak semua agar saya bisa lebih bersemangat dalam berkarya. Terima kasih 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2