Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 82. Malati


__ADS_3


"I-ini aku di mana? Aku di mana?!!!!"


Marni berteriak kencang setelah terbangun dari lelap tidurnya dan mendapati dirinya berada di tempat yang begitu asing. Tiada henti ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, mencoba untuk mengingat-ingat di mana ia berada.


"Wan... Awan... Awan!!!!"


Menyadari begitu asing dengan kamar ini, Marni berteriak menyerukan nama sang anak. Begitu takut berada di tempat yang begitu asing, Marni kemudian menggeser tubuhnya untuk bisa turun dari ranjang. Namun tiba-tiba....


Brukkkk!!!!


"Awannnn!!!!"


Tubuh Marni terkapar di atas lantai saat wanita itu memilih untuk berdiri. Ketakutan, kegamangan dan keasingan yang ia rasakan membuat lupa bahwa sejatinya ia tidak bisa berjalan. Hingga ia pun terjatuh di atas lantai.


"Awan .... Kamu di mana Nak? Mengapa kamu meninggalkan Ibu di sini? Ibu takut!!!"


Marni menangis meraung menumpahkan semua rasa sesak yang membelenggu jiwa. Ia benar-benar takut berada di tempat yang sama sekali tidak ia kenal ini.


"Astaghfirullah .... Bu Marni!!"


Raungan tangis Marni rupa-rupanya sampai di telinga Rusma yang kebetulan melintas di depan kamar yang ditempati oleh Marni. Wanita berusia empat puluh tahun itu bergegas membantu Marni untuk berdiri dari posisinya.


"K-kamu siapa? Kamu orang jahat kan? Jangan sentuh aku. Aku hanya ingin anakku!" teriak Marni tidak ingin dibantu berdiri oleh Rusma. Setelah merasakan asing di ruangan ini, ia pun juga merasa asing dengan Rusma yang baru sekali ia jumpai.


Rusma tersenyum penuh arti. Sejatinya, ia paham jika Marni masih takut dengan orang asing yang ingin menolongnya.


"Saya Rusma, Bu. Bu Marni jangan takut. Mari saya bantu untuk duduk di kursi roda."


Marni menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak, tidak. Aku tidak mau. Aku hanya ingin bertemu dengan Awan, anakku. Tolong panggilkan dia agar kemari."

__ADS_1


"Iya Bu, nanti akan saya panggilkan pak Awan. Tapi sekarang bu Marni saya bantu untuk duduk di kursi roda dulu ya."


Marni mendongakkan wajah ke arah Rusma. Ia memandang lekat wajah wanita ini dengan seksama. Ia berupaya untuk memastikan bahwa wanita bernama Rusma ini bukanlah orang jahat. Akhirnya, Marni bersedia dibantu oleh Rusma untuk duduk di atas kursi roda.


Rusma kembali menyunggingkan senyum di bibir. "Mari Bu, saya bantu."


"Di mana Awan? Suruh ia segera membawaku pergi dari sini. Aku ingin pulang."


"Bu, ikut saya sebentar ya. Akan saya tunjukkan tempat yang indah kepada bu Marni."


Rusma tidak serta merta langsung menjawab permintaan Marni. Ia pun sejatinya juga masih kebingungan menanggapi pertanyaan Marni. Oleh karena itu, ia bermaksud mengajak Marni jalan-jalan untuk sekedar membuatnya rileks.


"Aku tidak mau ke mana-mana. Aku hanya ingin pulang. Cepat panggilkan anakku!" titah Marni.


"Iya Bu, nanti pasti akan saya panggilkan pak Awan. Tapi sekarang, bu Marni ikut saya terlebih dahulu ya."


"K-kemana?"


Tanpa banyak kata lagi, Rusma mendorong kursi roda milik Marni. Ia bermaksud untuk membawa Marni ke taman yang ada di samping panti. Sebuah taman di mana ada kolam ikan di sana dengan suasana yang begitu sejuk karena pohon-pohong rindang yang menjulang tinggi. Ia yakin suasana hati Marni bisa membaik jika berada di taman itu.


Marni menatap lekat suasana yang ia lewati ini. Hampir di setiap sudut tempat, ia melihat ada banyak orang seusianya yang berada di sini. Hal inilah yang membuat Marni mengernyitkan dahi.


"Mengapa banyak orang-orang seusia ku yang berada di sini? Apakah tempat ini adalah panti jompo?" tanya Marni di tengah-tengah perjalanannya menuju taman. Setelah keluar dari kamar, ia begitu penasaran karena melihat banyak orang-orang seusianya berlalu lalang di tempat ini.


"Betul Bu, ini adalah panti jompo Khusnul Khatimah."


"Lantas, apa maksud Awan membawaku kemari? Apakah itu artinya...." Suara Marni seketika tercekat di dalam tenggorokan. Kedua bola matanya membulat penuh saat ia menyadari akan satu hal. "Apakah itu artinya aku di buang di panti jompo ini?" sambung Marni menerka-nerka.


Kini Risma sudah berada di taman samping. Ia berhentikan kursi roda Marni ini di tepian kolam. Dari tempatnya berdiri saat ini, bisa ia lihat dengan jelas ikan-ikan Mas yang berenang kesana kemari.


"Pak Awan tidak membuang bu Marni, namun menitipkan bu Marni di sini," ucap Rusma sedikit meluruskan. Padahal ia tahu jika Awan memang berniat untuk membuang sang ibu untuk lepas dari tanggung jawab.

__ADS_1


"Sama saja dia membuangku. Ya Allah... mengapa dia tega melakukan hal ini kepadaku? Kepada ibu yang sudah susah payah mengandung, menyusui dan membesarkannya sendiri. Mengapa dia tega!'


Marni meracau dengan suara lantang untuk melupakan semua amarah yang tertahan di dada. Ia baru paham, ternyata pagi tadi semua pakaian yang ia miliki dimasukkan ke dalam tas besar oleh Awan, sebagai salah satu bentuk pengusiran. Sungguh, tidak pernah terbanyangkan sebelumnya di dalam pikiran Marni.


Rusma mengusap-usap pundak Marni dengan lembut. Mentransfer rasa tenang kepada wanita yang dibuang oleh anaknya ini.


"Bu Marni yang sabar ya. Mungkin saat ini kondisi keuangan pak Awan sedang tidak baik-baik saja, maka dari itu pak Awan menitipkan bu Marni di sini. Dan nanti setelah keuangan pak Awan membaik, bu Marni akan dijemput lagi," tutur Rusma mencoba untuk menenangkan. Padahal ia yakin sekali jika Awan tidak akan pernah datang menjemput Marni.


"Tidak mungkin dia datang untuk menjemputku kembali. Dia sudah berubah setelah bertemu dengan wanita ular itu," teriak Marni dengan berlinang air mata. "Ya Allah ... Mengapa tidak Engkau cabut saja nyawaku ini? Putraku yang dulu sudah mati."


"Istighfar ya Bu... Jangan mengatakan hal demikian. Itu sama saja bu Marni berputus-asa dari rahmat Allah," ucap Rusma mengingatkan.


"Aku benar-benar tidak menyangka jika kehadiran wanita ular itu sudah membuat hidupku hancur satu persatu. Karena dia, aku kehilangan menantu kesayanganku. Karena dia, aku kehilangan cucu-cucu yang aku cintai. Karena dia aku kehilangan putraku yang dulu selalu berbakti kepadaku. Wanita itu benar-benar penghancur semua!!" teriak Marni yang berusaha untuk melepaskan jiwanya dari jeratan emosi yang meletup-letup.


Rusma sedikit terhenyak mendengarkan penuturan Marni. "Wanita ular? Apakah maksud bu Marni wanita ular itu adalah bu Mega?"


Marni menganggukkan kepalanya. "Ya benar, wanita itu adalah Mega. Dia adalah selingkuhan Awan yang saat ini sudah sah menjadi istrinya. Aku sungguh tidak menyangka jika anakku bisa terpikat dengan wanita ular itu. Padahal sebelumnya, istri Awan begitu sempurna namun rela ia tukar dengan istri durhaka seperti Mega itu."


Dari cerita Marni yang sepotong-sepotong ini sudah cukup membuat Rusma mengerti tentang kehidupan rumah tangga Awan. Ternyata ia juga tidak salah ketika berprasangka jika Mega lah yang menjadi sumber dari keputusan Awan menitipkan sang ibu di panti ini. Karena dari bibir Marni sendiri juga terucap jika Mega memanglah wanita jahat yang ingin berkuasa atas apa yang Awan miliki.


"Ya sudah, saat ini tidak perlu lagi bu Marni memikirkan tentang pak Awan ataupun istrinya. Sekarang bu Marni nikmati saja keberadaan Ibu di sini. InshaAllah di sini batin bu Marni akan sembuh dari luka yang sudah ditorehkan oleh anak dan menantu ibu. Bu Marni tidak sendiri. Banyak orang tua lain di panti ini yang memiliki cerita hidup seperti bu Marni. Jadi kita semua bisa saling menguatkan satu sama lain."


Marni tersenyum getir mendengar penuturan Rusma. Putra satu-satunya yang ia miliki ternyata tega melakukan hal semacam ini kepadanya.


"Aku tidak ridho diperlakukan seperti ini. Aku tidak ridho!!! Aku bersumpah, hidup Awan dan Mega akan hancur berkeping-keping dan tidak akan menyisakan apapun selain hanya penyesalan!!!!"


.


.


.

__ADS_1


Mohon maaf baru bisa update ya kak... sebagai gantinya, inshaAllah nanti akan ada double update.. hihihi hihi 😘😘😘😘


__ADS_2