
"M-Mbak Cahya?"
"M-Mas Langit?"
Untuk sejenak, dua orang yang sudah saling mengenal satu sama lain itu sama-sama terdiam dan membeku. Ada tatapan tidak percaya ataupun tatapan penuh tanda tanya, mengapa di kota ini mereka bisa dipertemukan kembali.
"Jadi, anak bu Wulan yang sekaligus kakak Nawang itu Mas Langit?"
Tak ingin berlama-lama hanyut dalam keheningan dan kebekuan, Cahya mencoba untuk membuka pembicaraan dengan Langit. Meskipun pertemuan ini masih belum bisa ia terima secara akal sehat, namun ia memilih untuk tidak terlalu memikirkan. Toh nantinya ia juga akan tahu dengan sendirinya bagaimana ceritanya sampai ia dan Langit bisa dipertemukan di pulau dan kota ini.
Langit membiaskan seutas senyum di bibir. Rasa takjub itu seakan tidak bisa menghilang dari dalam hati akan pertemuannya kembali dengan Cahya.
"Iya Mbak, aku anak pertama bu Wulan yang sekaligus kakak Nawang."
"MashaAllah, rasa-rasanya aku masih tidak percaya karena Jogja-Kalimantan itu jaraknya begitu jauh, tapi ternyata kita masih bisa dipertemukan di kota ini," ucap Cahya seraya tersenyum manis. "Mari silakan duduk Mas."
Langit mendaratkan bokongnya di sofa yang sudah tersedia. "Bagi Allah merupakan hal yang mudah untuk mempertemukan dua orang meskipun terpaut ruang dan jarak yang cukup jauh Mbak. Intinya tidak ada yang mustahil bagi Allah jika Dia sudah berkehendak."
"Betul sekali, Mas." Cahya beranjak dari posisi duduknya. Ia ambil satu botol air mineral untuk ia berikan kepada Langit. "Di minum Mas. Maaf cuma ada air mineral saja."
"Terima kasih banyak Mbak." Langit mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru ruangan. Terbesit rasa kagum pada wanita ini. "Jadi sekarang Mbak Cahya ceritanya pindah domisili?"
"Ya seperti itulah Mas. Aku pindah di sini karena memang kota ini adalah kota kelahiranku."
"Lalu, untuk perusahaan pak Awan sendiri bagaimana Mbak? Bukankah perusahaan pak Awan berpusat di Jogja?"
Cahya tersenyum sumbang. Jika membicarakan perihal Awan sungguh hanya membuat hatinya tersayat dalam.
"Untuk saat ini, aku tidak peduli lagi dengan perusahaan Mas Awan, Mas. Karena memang sudah bukan ranahku untuk ikut campur."
"M-maksud Mbak Cahya?" tanya Langit dengan dahi sedikit mengernyit. "Apakah itu artinya....?"
Langit tidak lagi melanjutkan ucapannya. Dari apa yang diucapkan oleh Cahya, membuatnya sedikit paham dengan apa yang terjadi di dalam rumah tangganya.
Senyum getir masih terlukis jelas di wajah Cahya. Namun, dengan tegar ia menganggukkan kepalanya.
"Iya Mas, aku memutuskan untuk bercerai dari Mas Awan. Setangguh-tangguhnya seorang wanita apalagi seorang istri, pasti tidak sanggup untuk diduakan."
__ADS_1
Langit ikut tersenyum. Dengan senyumnya ini, ia berharap bisa memberikan sedikit kekuatan untuk wanita yang berhasil membuatnya terkagum-kagum ini.
"Setiap jalan hidup manusia sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa, Mbak. Apapun yang kita jalani pastinya yang terbaik untuk kita. Kini kita tinggal meyakini semoga kehidupan yang akan datang, Allah memberikan banyak-banyak kebahagiaan."
Cahya menghela napas panjang dan ia hembuskan perlahan. "Akupun juga meyakini hal itu Mas. InshaAllah dengan melepaskan Mas Awan, hidupku jauh lebih tenang."
Obrolan Langit dan Cahya terjada sejenak kala suara ketukan pintu terdengar di indera pendengaran. Tak selang lama muncul seorang wanita dari depan ruangan.
"Bu Cahya, mana yang mau diukur?" tanya seorang wanita yang bernama Dena.
"Pak Langit ini yang mau diukur Den." Cahya menautkan pandangannya ke arah Langit. "Silakan Mas Langit diukur dulu. Karena keluarga bu Wulan hanya tinggal mas Langit yang belum diukur."
"Baik Mbak."
***
"Jadi Mas Langit ini juga asli Kalimantan?"
Selesai urusan pengukuran, Langit mengajak Cahya makan siang di restoran yang berada di seberang jalan. Lama tidak bersua, sepertinya akan ada banyak hal yang menjadi bahan obrolan.
"Sebenarnya papa dan mama asli Jogja Mbak, namun sudah sejak puluhan tahun yang lalu mereka merantau dan akhirnya sampai saat ini menetap di sini."
"MashaAllah, jadi Mas Langit membuka perusahaan di Jogja juga karena untuk tetap mempertahankan jejak asal orang tua Mas Langit?"
Cahya terkekeh lirih. Ia bisa sedikit menangkap maksud tersembunyi di balik ucapan pria dewasa ini. "Pasti tidak jauh dari perkara wanita?"
"Hahaha kok Mbak Cahya tahu?" tanya Langit diiringi dengan gelak tawa untuk menutupi kekikukannya.
"Aku asal menebak saja Mas. Eh ternyata benar."
"Ya begitulah Mbak," lirih Langit dengan tatapan menerawang. Ingatannya langsung tertuju pada masa-masa yang telah lalu. "Yang pertama, niat baikku ditolak oleh seorang wanita yang sebenarnya aku juga belum pernah bertemu dengannya. Yang kedua, aku sempat menjalin sebuah hubungan dengan seorang wanita namun ternyata dia tidak berumur panjang. Dia harus meninggalkan dunia ini karena kecelakaan."
"MashaAllah, ternyata cukup rumit ya Mas?"
"Tidak rumit sih Mbak. Karena ini sudah menjadi takdir cintaku. Mungkin wanita yang benar-benar akan menjadi jodohku masih disimpan rapat oleh Allah dan akan dipertemukan jika sudah waktunya."
"Kuncinya ikhlas ya Mas?"
"Betul Mbak. Karena hanya dengan keikhlasan, hati kita akan jauh lebih lapang untuk menjalani segala ketetapan yang sudah digariskan."
__ADS_1
"Aamiin Allahumma amiin..."
Tubuh Langit sedikit terhenyak kala merasakan getaran ponsel yang ada di dalam saku celana. Sebuah notif dari aplikasi WhatsApp mengharuskan lelaki itu beranjak dari posisi duduknya.
"Mbak, aku permisi terlebih dahulu ya. Ini tiba-tiba Papa memintaku untuk pulang."
"Oh iya silakan Mas. Hati-hati di jalan. Titip salam untuk bu Wulan dan juga Nawang."
"InshaAllah nanti aku sampaikan Mbak."
***
"Ada apa sih Pa? Kok tidak ada angin tidak ada hujan Papa memintaku untuk cepat-cepat pulang?"
Sampai di kediamannya, Langit bergegas menemui sang Papa yang tengah duduk santai di sofa ruang keluarga. Ia juga ikut mendaratkan bokongnya di atas sofa di samping sang Papa.
"Memang ada yang salah Lang, kalau Papa memintamu untuk cepat-cepat pulang? Bukankah kamu hanya ukur badan saja? Jadi tidak membutuhkan waktu yang lama juga kan?" timpal Cakra yang dengan raut wajah keheranan. Baginya sedikit aneh karena biasanya putra sulungnya ini tidak betah berlama-lama keluar rumah.
"Aku bertemu dan ngobrol dengan seseorang Pa. Kami bertemu waktu di Jogja dan sekarang dipertemukan lagi. Memang ada apa sih Pa, Papa memintaku untuk cepat-cepat pulang?"
"Antarkan Papa ke rumah sahabat Papa, Lang."
"Sahabat Papa yang mana?"
"Om Candra. Kamu masih ingat dengan om Candra bukan?"
"Om Candra ayahnya Kamila yang dulu aku sempat ditolak?" tanya Langit memastikan. Barangkali saja ingatannya tentang lelaki bernama Candra keliru.
Cakra mengulas sedikit senyumnya. "Nah, betul itu Lang."
"Ada apa lagi sih Papa ingin bertemu dengan om Candra itu lagi?"
"Tidak ada salahnya kan Lang? Meskipun dulu kamu pernah ditolak oleh anak Candra tapi tidak membuat silaturahmi Papa dan sahabat Papa terputus kan?" tanya Cakra dengan nada retoris. "Ya, barangkali saja Kamila itu sampai sekarang masih belum punya suami, jadi bisa Papa lanjutkan kembali perjodohanmu dengan Kamila," sambungnya dengan kekehan lirih.
Lagit terhenyak dengan kedua bola mata yang membulat sempurna. "Apa????""
.
.
__ADS_1
.
Mohon maaf agak sedikit lambat update ya Kak.. Ini saya sedang mudik dan banyak acara keluarga di sini.. 🤗🤗🤗