Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 91. Ketika Semesta Mempertemukan


__ADS_3


"Yah, kok tumben Ayah minta dimasakin banyak seperti ini? Ada apa sih sebenarnya?"


Wajah Bintari masih menampakkan raut penuh tanda tanya kala sejak tadi pertanyaan yang berkutat di benak masih belum ia temui jawabannya. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba saja sang suami memintanya untuk memasak beraneka rupa masakan. Alhasil sampai detik ini, wanita paruh itu masih sibuk di dapur dibantu oleh Asih.


"Biasanya kalau seperti itu sebagai firasat kalau akan ada tamu dari jauh, Bu," timpal Asih mengemukakan pendapatnya.


"Benarkah seperti itu, Bik? Tapi tamunya siapa?" Bintari menautkan pandangannya ke arah Candra. Mencoba mencari pembenaran dari argumen Asih. "Memang siapa Yah yang mau datang? Apa Ayah punya saudara atau kenalan orang jauh?"


"Entahlah Bu, Ayah juga tidak paham. Tiba-tiba saja Ayah ingin dimasakin banyak-banyak makanan," jawab Candra dengan santai.


"Hmmmmmm... Ayah ini, kalau banyak seperti ini mau siapa yang menghabiskan Yah? Kalau sampai ada sisa jadinya mubazir kan?"


"Apa yang mubazir Bu? Dari kejauhan Aya dengar kok serius sekali pembahasannya?"


Suara Aya yang tiba-tiba terdengar di indera pendengaran membuat semua orang yang berada di dapur melabuhkan pandangan masing-masing ke arah Cahya. Wanita itu memilih untuk ikut berkumpul di dapur setelah mendengar keramaian yang bersumber dari sana.


"Ini loh Ay, ayahmu tiba-tiba minta dimasakin banyak makanan. Ibu hanya khawatir jika sampai mubazir karena tidak habis," keluh Bintari.


Cahya yang mendengar cerita sang Ibu hanya menanggapi dengan senyum simpul. Sejatinya ia tahu bahwa yang akan pulang adalah sang kakak namun ia sengaja tidak memberitahu kedua orang tuanya. Tapi entah mengapa feeling sang ayah begitu kuat, padahal kepulangan sang kakak tidak ada yang tahu kecuali dirinya.


"Jangan risau, Bu. Kalau Ibu khawatir makanan ini tidak habis, kan bisa kita bagi-bagikan ke tetangga. Betul kan Yah?"


"Nah, itu benar Ay. Akhirnya ada juga yang membela Ayah. Tidak banyak protes karena Ayah minta dimasakin banyak makanan."


"Aiihhhh, Ayah dan anak memang tidak ada bedanya. Pantas ada pepatah yang mengatakan kalau buah jatuh tidak jauh dari pohonnya."


"Ya kalau jauh dari pohonnya berarti sudah dibawa kalong, Bu."


"Hahahaha hahahaha!"


Orang-orang yang berkumpul di dapur itu sama-sama tergelak seraya larut dalam canda. Hingga keasyikan mereka terjeda kala mendengar deru suara mobil yang masuk ke area halaman. Mereka sama-sama menoleh ke arah sumber suara dan nampak mobil warna putih memasuki area halaman rumah.


"Yah, itu mobil siapa? Sepertinya kok asing di penglihatan kita?"

__ADS_1


Bintari berujar seraya mengernyitkan dahi. Ia sungguh penasaran siapa gerangan pemilik mobil mewah yang bertandang ke kediamannya ini.


"Ayah juga kurang tahu, Bu. Lebih baik kita ke depan saja untuk memastikan," ajak Candra kepada istrinya.


Candra, Cahya dan Bintari berjalan beriringan menuju halaman. Hingga pada akhirnya mereka sampai di teras dan terdengar riuh suara Alina dan Malika yang menyerukan nama seseorang.


"Om Langit!!!!!"


Cahya sedikit terhenyak kala mendengar nama yang diserukan oleh kedua putrinya itu. Hingga ia fokuskan tatapan matanya ke arah sosok lelaki yang baru saja keluar dari dalam mobil.


"Mas Langit?" lirih Cahya.


"Alina, Malika?" seru Langit yang tak kalah terkejut pula.


Senyum mengembang di bibir lelaki itu kala kedua anak kecil ini langsung berlarian ke arahnya. Ia sedikit membungkukkan tubuh agar bisa mendekap erat tubuh kedua gadis kecil ini.


Tak jauh berbeda dari Cahya, Candra juga turut terkejut setengah mati kala melihat sosok seorang lelaki seusianya yang baru keluar dari dalam mobil. Bibir Candra sampai menganga lebar dengan dua bola mata yang membulat sempurna kala melihat siapa gerangan yang datang.


"Cakra?!!!!"


"Cakra? Benar ini Cakra?" tanya Candra memastikan. Ia khawatir jika sampai salah orang.


Cakra tergelak pelan. Gegas, ia menarik tangan sahabatnya ini dan memeluk tubuhnya. "Apa wajahku ini berubah jauh lebih tampan sampai-sampai membuatmu ragu?"


"MashaAllah .... Ternyata kamu benar Cakra, sahabatku."


Cakra merenggangkan pelukannya. "Iya aku Cakra, sahabatmu sekaligus orang yang pernah kamu tolong di beberapa puluh tahun yang lalu."


"Ya Allah, aku sungguh tidak menyangka jika kita akan kembali dipertemukan, Kra. Aku kira setelah upaya perjodohan anak-anak kita gagal, kita tidak akan bertemu lagi, tapi ternyata..."


Cakra menepuk-nepuk pundak Candra untuk memangkas ucapan sahabatnya ini. "Jelas tidak Can, bagaimanapun juga silaturahmi kita harus tetap terjalin meskipun kita tidak menjadi besan. Benar begitu bukan?"


Candra menganggukkan kepala, sependapat dengan ucapan Cakra. "Betul Kra. Lantas kamu kemari bersama siapa?"


"Pastinya bersama putra dan juga istriku, Can."

__ADS_1


Candra menautkan pandangannya ke arah lelaki yang saat ini tengah menggendong kedua cucunya. Dan beberapa pertanyaan muncul di dalam benak. Lelaki itu mendekat ke arah Langit.


"Sebentar, sebentar, ini mengapa cucu-cucu Kakek bisa langsung akrab dengan Om ini? Memang kalian kenal dengan Om ini?" tanya Candra kepada kedua cucunya.


Kedua gadis kecil itu mengangguk bersamaan. "Tentu Kek. Om ini adalah Om baik. Namanya Om Langit. Dulu Malika dan kakak minum es krim di kantor Om Langit ini."


"Betul Kek. Om Langit ini Om yang baik. Dulu Om Langit ini yang juga menolong Bunda saat mobil Bunda mogok di jalan waktu mengantar kami ke sekolah."


"Om Langit?" Candra kembali menautkan pandangannya ke arah Cakra. "Kra, bukankah putramu namanya Biru? Mengapa ini jadi Langit? Ini putramu yang mana lagi?" tanya Candra penasaran.


Cakra tergelak. "Langit dan Biru adalah orang yang sama, Can. Nama putraku kan Langit Biru." Cakra menghentikan gelak tawanya. Ia tautkan pandangannya ke arah Cahya yang masih terpaku dan membeku. "Nak, kamu siapa?"


Cahya sedikit terhenyak dan mulai bangun dari lamunannya. "Saya Cahya, Om. Putri ayah Candra."


Kini giliran Cakra yang mengernyitkan dahi. "Cahya? Bukankah anak perempuan Candra itu bernama Kamila? Ini mengapa jadi Cahya?" Tak kuasa menahan rasa penasarannya, Cakra menatap tajam sahabatnya. "Can, ini putrimu yang mana lagi?"


"Ya jelas putriku satu-satunya, Kra. Namanya Cahya Kamila," ucap Candra dengan gelak tawa yang menggema.


"Jadi, dulu kita sama-sama memperkenalkan anak kita dengan nama yang bukan nama panggilan? Dan.... sebentar, sebentar..."


Cakra mendekat ke arah Langit yang masih setia menggendong dua anak kecil ini. "Lang, jadi kamu dan Cahya ini sudah saling mengenal ketika tinggal di Jogja?"


"Iya Pa. Aku dan mbak Cahya ini sudah saling mengenal. Ya meskipun awalnya perkenalan kami secara tidak sengaja tapi alhamdulillah silaturahmi kami masih tetap terjaga sampai saat ini."


"MashaAllah .... Ternyata semesta lah yang mempertemukan kalian, bukan karena perjodohan yang Papa rencanakan dengan sahabat Papa." Senyum lebar terbit di bibir Cakra. Ia menepuk-nepuk pundak sang putra. "Wanita inilah yang dulu akan Papa jodohkan denganmu, Lang. Kamila!"


Ya Allah ... Ternyata Kamila dan Cahya itu orang yang sama. Saat ini, aku dan dia kembali dipertemukan dalam keadaan yang sama-sama sendiri. Apakah ini sebagai isyarat dariMu, bahwa Cahya adalah jodohku? -Langit-


Ya Allah, sungguh tidak ada yang mengira dengan cara seperti ini aku dan lelaki bernama Biru ini dipertemukan. Entah tersirat maksud apa di balik ini semua ya Allah, hingga Engkau menuliskan jalan takdir yang tidak pernah terduga seperti ini. -Cahya-


.


.


.

__ADS_1


Mohon maaf baru sempat update ya Kak.. ini baru saja tiba di kota asal🤣🤣🤣 untuk beberapa part ke depan kita fokus ke Cahya dan Langit dulu ya. setelah itu kita kembali ke kehidupan Awan dan Mega. kita pantau, apakah mereka sukses dengan usaha kulinernya? atau justru sebaliknya... ☺☺☺


__ADS_2