Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 83. Demonstrasi


__ADS_3


"Hah lega .... Akhirnya, aku bisa menikmati pagi hariku dengan sempurna setelah tidak ada mertua benalu itu!"


Mega merentangkan kedua lengan tangannya sembari menghela napas panjang dan ia hembuskan perlahan, menikmati suasana pagi hari yang begitu cerah ini.


Masih dengan piyama tidur berbahan satin warna merah, Mega berdiri di balkon kamar yang langsung menghadap taman belakang. Suasana pagi yang begitu sejuk dan asri ini sungguh membuatnya bersemangat menjalani hari. Apalagi setelah tidak ada Marni.


Ya, hari ini genap satu minggu Marni tidak tinggal bersamanya. Selama satu minggu ini, digunakan pula oleh Mega untuk beberes bekas kamar Marni. Ia rubah total suasana kamar, dengan maksud agar bayang-bayang ataupun jejak Marni benar-benar hilang tanpa bekas.


"Han ... Aku mau ke kantor pagi ini. Tolong siapkan sarapan ya."


Suara bariton yang muncul dari belakang punggung, membuat Mega sedikit terperanjat. Ia tautkan pandangannya ke arah sumber suara dan terlihat sang suami sudah berdiri di sana.


"Tumben pagi-pagi sekali, Mas? Memang mau ada meeting?" tanya Mega sedikit penasaran.


Awan menganggukkan kepala, membenarkan apa yang diucapkan oleh sang istri. "Iya, ada meeting dengan para karyawan untuk membahas perkembangan perusahaan dan juga kendala-kendala di lapangan."


"Oh baiklah kalau begitu Mas. Sekarang kamu mandi, biar aku siapkan sarapan pagi."


"Terima kasih Han!"


Awan mengayunkan tingkai kaki untuk menuju kamar mandi. Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba..


"Mas, Mas, kamu lupa?" seru Mega yang seketika menghentikan langkah kaki Awan.


Awan sedikit membalikkan punggung dengan dahi sedikit berkerut. "Lupa akan apa Han?"


Mega mengusap-usap perut yang masih terlihat datar. "Masa kamu tidak mau mengucapkan selamat pagi ke anakmu ini Mas? Beri sambutan dulu dong!"


Awan terkekeh lirih. Ternyata istrinya ini hanya ingin diusap-usap perutnya. Awan kembali merapatkan tubuhnya di tubuh Mega. Ia sedikit membungkuk agar wajahnya bisa mengangkat perut Mega.


"Selamat pagi anakku? Kira-kira kamu laki-laki atau perempuan ya? Ayah harap kamu laki-laki agar bisa menjadi penerus perusahaan Ayah. Sehat-sehat selalu di dalam perut mama ya Sayang."


Awan mengucapkan semua mimpi dan harapannya sembari mengecup perut Mega. Perlakuan Awan inilah yang membuat wanita yang tengah hamil dua bulan itu merasakan bahagia tiada tara. Dari cara sang suami memperlakukannya, ia yakin bahwa Awan benar-benar mencintainya dan sanggup melakukan apapun untuk kebahagiaannya.


"Sungguh, jika anak yang aku kandung ini adalah laki-laki, dia akan menjadi penerus perusahaan Mas?"

__ADS_1


"Itu sudah pasti Han. Karena hanya anak laki-laki lah yang bahunya akan kuat untuk meng-handle perusahaan."


Mega tersenyum lebar. "Terima kasih banyak Mas. Aku janji akan mendidik anak ini dengan baik agar bisa memegang perusahaanmu dengan baik."


Awan mengusap-usap pucuk kepala Mega dengan lembut seraya tersenyum simpul. "Aku percaya itu Han. Kamu pasti bisa mendidik anak-anak kita dengan baik sehingga menjadi orang hebat."


"Itu sudah pasti Mas, karena aku sendiri juga wanita hebat. Aku berprestasi dan aku yakin anak-anakku juga pasti akan sepertiku."


"Ya sudah, aku mandi dulu ya. Kamu siapkan sarapan pagi."


"Oke Mas."


Mega mulai melangkahkan kaki untuk segera keluar dari kamar. Wanita itu menuruni anak tangga dan menuju dapur membuat sarapan untuk sang suami.


"Syukurlah, masih ada kangkung dan udang. Aku masak ini aja untuk Mas Awan."


Mega mulai mengeksekusi sayur kangkung dan udang itu. Tidak lupa video memasak di salah satu channel youtube, ia lihat, untuk bisa memasak dengan benar dan hasilnya enak.


"Hahaha ... Hanya berbekal tontonan youtube seperti ini, aku yakin masakanku pasti akan jauh lebih enak dari masakan mantan istri Mas Awan yang sok perfect itu!"


***


"Astaga ... Ini kenapa tubuhku gatal semua?"


Awan didera oleh rasa penasaran saat merasakan sensasi rasa gatal yang menyerang tubuh. Ia yang sebelumnya fokus dengan kemudinya, seketika buyar saat tangannya ingin menggaruk semua bagian yang terasa gatal. Karena hampir seluruh badan terasa begitu gatal.


"Aarrrgghhh ... Ini sebenarnya kenapa? Kenapa tubuhku gatal semua. Tidak biasanya aku kegatalan seperti ini."


Awan terpaksa harus menepikan mobilnya sejenak di bahu jalan. Ia menggaruk-garuk sekujur tubuhnya untuk mengusir rasa gatal sembari mencari akar dari rasa gatal ini.


"Ya ampun ... Aku lupa jika aku alergi makan udang. Pantas, seluruh badanku gatal-gatal seperti ini, tadi kan aku makan udang, masakan Mega."


Wajah Awan mendadak pias kala teringat bahwa ia sarapan dengan menu udang. Biasanya Cahya lah yang mengingatkan bahwa dirinya alergi jika makan udang, namun sekarang ini sudah tidak ada lagi yang mengingatkan. Alhasil, ia bisa kecolongan seperti ini.


"Apa aku mampir ke apotek terlebih dahulu ya untuk membeli obat gatal? Kalau seperti ini aku khawatir tidak bisa fokus mengemudi," monolog Awan lirih sembari menggaruk-garuk permukaan tubuhnya.


Awan melirik ke arah pergelangan tangan di mana ada sebuah arloji yang melingkar di sana. "Masih ada waktu. Lebih baik aku cari apotek terlebih dahulu."

__ADS_1


Awan kembali menginjak pedal gas untuk melanjutkan perjalanannya. Ia harus memaksakan diri, menahan rasa gatal yang benar-benar terasa menyiksa. Sampai mendapat obat yang akan ia beli di apotek. Beruntung, jarak sepuluh menit dari tempatnya menepikan mobil, ia menemukan apotek yang ia cari.


***


Awan bisa bernapas lega setelah rasa gatal itu sudah tidak terlalu ia rasa. Meskipun tubuh dan wajahnya masih bentol-bentol namun setidaknya ia bisa mengemudikan mobil ini dengan tenang. Hanya tinggal satu tikungan lagi, ia bisa tiba di kantor miliknya.


"Loh, loh, itu ada apa? Mengapa kantorku terlihat begitu ramai?"


Awan dibuat terkejut dengan suasana ramai yang ada di depan kantornya. Meskipun masih berjarak dua puluh meter, namun ia tahu persis bagaimana ramainya kantor miliknya ini. Awan sedikit menambah kecepatan laju mobilnya untuk bisa tiba di pelataran.


"Berikan hak kami. Berikan hak kami!"


Turun dari mobil, Awan melihat semua karyawan dan kurir berunjuk rasa di depan kantor. Ia bisa mendengar jelas akan apa yang disampaikan oleh para pekerjanya ini. Di tangan mereka ada sebuah spanduk besar yang ditempeli dengan fotonya dan diberikan tanda silang warna merah. Dan yang membuatnya terhenyak, di bawah foto itu tertulis 'Boss Dzolim, Pemakan Gaji Karyawan.'


Awan bergegas menuju pintu depan dan langsung berdiri di hadapan para karyawan yang berunjuk rasa ini.


"Stop, stop, ada apa ini? Mengapa kalian membuat keributan seperti ini?" teriak Awan dengan lantang.


"Berikan gaji kami selama dua bulan yang masih tertahan Pak. Jangan coba-coba untuk lari dari tanggung jawab," teriak Romi.


"Tenang, tenang... Ini semua bisa kita bicarakan baik-baik. Jangan pakai acara demo-demo seperti ini," ucap Awan mencoba untuk memenangkan emosi para karyawan yang memuncak.


"Halaaahhh ... Itu semua janji palsu. Nyatanya sampai sekarang gaji kami belum turun," timpal Rudi.


"Betul!!!!!"


"Berikan gaji kami, berikan gaji kami!!"


Awan semakin tersudut. Jika seperti ini pasti akan berpengaruh terhadap perusahaan yang ia bangun jika sampai ada media yang tahu.


"Baiklah, akan aku penuhi semua gaji kalian hari ini juga. Tapi mari kita selesaikan di dalam!"


Mendengar Awan menjanjikan gaji akan turun hari ini juga, membuat emosi para karyawan sedikit mereda. Mereka semua masuk ke dalam kantor untuk menyelesaikan permasalahan ini bersama sang pimpinan.


Tanpa Awan sadari, di antara kerumunan karyawannya itu, ada seorang wartawan yang berhasil mengabadikan momen demonstrasi karyawan PT N3P. Ia yakin bisa menjadi sebuah berita viral setelah ini.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2