
"O, o, o, o, o .... Jadi seperti ini kelakuan kalian kalau sedang di resto? Duduk-duduk santai berdua kayak orang pacaran?" hardik Mega dengan menyilangkan kedua lengan tangannya di dada. "Coba jelaskan apa maksudnya Mas!"
Awan yang merasa keki hanya bisa meringis sembari menggaruk ujung hidungnya yang tidak gatal. Untung saja yang dilihat Mega hanya posisi duduk berdua seperti ini. Kalau sampai Mega melihat pada saat ia menggenggam tangan Mentari, bisa-bisa ia di rujak sama istrinya ini.
"Han, Han, tenang dulu Han. Bukan seperti itu ceritanya. Kamu salah paham!"
"Halaaahhhh ... Salah paham apa? Jelas-jelas dengan mata kepalaku, aku melihat kalian bermesraan seperti ini."
Mega menautkan pandangannya ke arah Mentari. Ia tarik rambut wanita yang menjadi musuh bebuyutannya ini.
"Aaaaahhhh..... Sakit!!" pekik Tari kala rambutnya dijambak oleh Mega.
"Rasakan itu Tar. Jangan coba-coba kamu menjadi perebut suami orang. Kamu tahu kan kalau aku itu istrinya mas Awan?"
"Astaga Bu, siapa yang mau merebut pak Awan. Kami ini hanya sekedar berbicara tentang strategi marketing untuk resto ini Bu."
"Halaaahhhh ... Ngaku saja kamu kalau kamu ini selingkuhan mas Awan!"
"Ya ampun Bu, kalau saya benar-benar selingkuhan pak Awan, mana mungkin saya menampakkan kemesraan saya di tempat terbuka seperti ini? Lebih baik saya dan pak Awan check-in di hotel!"
Mampus kamu Meg, emang enak aku panas-panasin? Apa kamu tidak ngaca dulu itu kamu siapa? Pelakor tidak tahu diri.
"Apa kamu bilang? Makin ngelunjak kamu Tar?"
Mega mengayunkan tangannya untuk menampar pipi Mentari, namun buru-buru Awan menahannya.
"Apa-apaan kamu Han? Hentikan. Jangan seperti anak kecil gini. Awas saja kalau kamu berani menampar Mentari!" geram Awan sembari mengirim.
"Mas, apa-apaan kamu? Kamu lebih membela wanita ini?" seru Mentari dengan mata melotot.
"Tari tidak melakukan apapun. Kamu yang terlalu overthinking Han!"
"Aarrrggghhhh ... Kamu ini bisa-bisa...."
"Pak Awan, bu Mentari, maaf itu ada customer yang mau komplain!"
Amarah Mega terjeda kala tiba-tiba terlihat salah seorang karyawan yang mendekat ke arahnya. Ketiga manusia dewasa itu sama-sama menoleh ke arah sang karyawan.
"Komplain? Komplain perihal apa Des?" tanya Awan kepada salah satu waitress yang bernama Desi.
"Entahlah Pak, beliau bilang ingin langsung bertemu dengan supervisor nya."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Panggilkan Fahri," titah Awan.
"Eiittsss ... Tunggu. Tidak perlu memanggil Fahri. Biar aku saja yang menyelesaikan!" timpal Mega dengan gaya nya yang sok-sokan. Ia ingin menunjukkan kepada Awan bahwa dia sanggup untuk mengatasi semua permasalahan ini.
"Tapi Han....?"
Belum sempat Awan melanjutkan ucapannya, Mega sudah lebih dulu melenggang pergi untuk menemui customer itu.
****
"Saya mau komplain Mbak! Mengapa dari 200 box nasi ayam yang saya pesan, ada beberapa box yang di dalamnya tidak ada ayamnya? Hanya ada nasi, sambal, juga lalapannya saja?"
Di jam dua siang seperti ini, resto tempat milik Awan dikejutkan dengan kehadiran seorang ibu berusia sekitar empat puluh tahun dengan wajah yang diliputi ketidakpuasan.
Jam dua belas siang tadi,resto milik Awan memang mendapatkan orderan nasi box untuk acara seminar di kampus yang letaknya tidak jauh dari resto. Namun setelah acara selesai, sang pemesan datang ke tempat ini dengan memasang wajah penuh ketidakpuasan karena ada beberapa box nasi yang terlewat tidak ada lauknya.
Mega yang merasa punya tanggung jawab karena resto ini miliknya, sedikit tidak percaya dengan ucapan ibu ini. Karena tidaklah mungkin jika para karyawan sampai kelupaan meletakkan lauk. Terlebih komplain seperti ini baru pertama terjadi sejak resto ini beroperasional.
"Saya rasa, kami sudah sangat teliti untuk mengecek kembali pesanan itu, Bu. Jadi ibu tidak bisa menyalahkan kami!," ucap Mega membela diri karena di saat packing tadi, dia yakin jika karyawannya sudah sangat teliti.
Ibu itu memutar kedua bola matanya malas. "Kalau saya tidak menyalahkan yang bekerja di sini, lalu saya harus menyalahkan siapa?"
"Ya itu bisa saja kan, kalau hanya sebuah trik yang dilakukan agar Ibu mendapatkan ganti rugi dari resto kami?" ucap Mega keukeuh tidak mau disalahkan dan justru berburuk sangka kepada customer.
"Jadi seperti ini ya, cara resto ini menyelesaikan komplain dari pelanggan? Tidak mau disalahkan dan malah menyalahkan saya sebagai customer? Benar-benar tidak professional!" ucap ibu itu mengungkapkan ketidakpuasannya.
Mega masih dengan pongah menghadapi ibu itu. "Terserah saja apa yang ibu katakan. Yang pasti kami tidak mau bertanggung jawab, karena kami sudah bekerja secara teliti dan sebuah hal yang mustahil, jika ada beberapa box yang terlewat tidak terisi oleh ayam."
Ibu itu berusaha mencerna ucapan Mega. Bukan sebuah kelegaan karena mendapatkan solusi, namun rasa semakin kecewa karena mendapatkan pelayanan seperti ini.
"Saya benar-benar kecewa dengan cara menghadapi pengaduan komplain dari resto ini. Benar-benar tidak recommended sekali menurut saya."
"Itu hak Anda. Ucapan dari Anda pun juga tidak berpengaruh apa-apa terhadap resto kami!" ucap Mega dengan lantang.
Awan yang mendengar jawaban sang istri hanya terhenyak. Ia sungguh terkejut melihat respon sang istri yang seperti itu.
"Astaga, kalau seperti itu pelanggan bisa kabur!" keluh Awan.
Mentari juga hanya tertegun mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Mega. Meski Mega merupakan pemilik resto ini, namun sepertinya wanita itu tidak terlalu paham tentang tata krama menghadapi komplain dari pelanggan.
Bagi Mentari memperoleh seorang pelanggan setia merupakan hal yang sulit untuk sebuah resto. Apalagi kali ini pelanggan yang memesan orderan dalam jumlah banyak, jadi seharusnya, ia mendapatkan pelayanan yang memuaskan, bukan? Namun ini yang terjadijustru sebaliknya.
Karena sudah tidak tahan dengan cara Mega menyelesaikan komplain, Mentari berjalan menghampiri Mega dan customer yang masih terlihat cek-cok itu.
__ADS_1
"Mohon maaf saya menyela sebentar ya, Bu!"
Mega dan ibu itu mengarahkan pandangan mereka ke Mentari. Mentari terlihat lebih tenang dan lebih memancarkan aura positif. Karena hal semacam ini sudah sering ia hadapi.
"Ibu, sebelumnya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan ini. Untuk beberapa box nasi yang terlewat tidak terisi ayam, itu semua merupakan kesalahan dari kami. Mungkin kami yang kurang teliti. Oleh karena itu kami akan bertanggung jawab menyelesaikan semuanya," ucap Mentari mengutarakan maksudnya.
"Eh, apa-apaaan kamu Tar? Kalau seperti itu resto ini bisa bangkrut!" timpal Mega yang tidak setuju dengan maksud Mentari.
Mentari tersenyum simpul. Ia pun berbisik lirih di telinga Mega. "Jika bu Mega masih ingin citra baik resto ini terjaga, maka saya minta saat ini Anda diam saja. Biarkan saya yang menyelesaikan semua."
Mentari kembali menatap teduh wajah customer ini. "Kami akn bertanggung jawab penuh Bu."
Ibu itu menatap wajah Mentari dengan tatapan yang sukar diartikan. "Penyelesaian dan tangggung jawab seperti apa yang akan Mbak tawarkan?"
Mentari terlihat sedikit mengulas senyum. "Begini Ibu, untuk box nasi yang yang terlewat tidak ada lauknya, tidak akan kami hitung. Jadi, ibu hanya perlu membayar pesanan sejumlah box yang ada lauknya saja. Dan untuk mengobati sedikit kekecewaan dari Ibu, kami akan berikan voucher makan geratis untuk para peserta yang kebetulan memperoleh box nasi yang tidak ada lauknya. Bagaimana? Apa ibu menyetujuinya?"
Raut ketidakpuasan yang sebelumnya terpancar dari wajah ibu itu, kini berubah menjadi binar kepuasan yang kentara setelah mendengar solusi yang ditawarkan oleh Mentari.
"Nah, seperti ini yang saya harapkan dari tadi. Saya benar-benar salut dengan cara Mbak ini mendengar keluhan dari saya sebagai pelanggan."
Mega terperangah dengan kedua bola matanya yang membeliak. Ia tidak menyangka jika Mentari lah yang mendapatkan pujian dari pelanggan. Yang ia sendiripun belum pernah memperoleh apresiasi seperti itu.
"Sekali lagi atas nama resto, kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini ya Bu. Untuk voucher yang kami tawarkan, sore ini bisa langsung ditukar di sini khusus untuk para peserta seminar yang kebetulan memperoleh box nasi yang tidak ada lauknya."
Wajah ibu nampak berbinar. "Terimakasih banyak untuk solusinya ya Mbak. Saya benar-benar puas dengan cara Mbak menyelesaikan masalah ini."
Mentari hanya bisa mengangguk sembari tersenyum. Ibu itu kemudian menautkan pandangannya ke arah Mega.
"Mbak, saya rasa Mbak ini harus banyak belajar dari Mbak yang ini. Seharusnya seperti inilah cara resto memperlakukan customer nya yang sedang komplain!" seru ibu itu sambil membandingkan cara kerja Mega dengan Mentari.
"Sekali lagi atas nama resto, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya ya Bu."
"Iya Mbak, saya maafkan. Kalau begitu saya permisi!"
Mega semakin tersentak karena customer di depannya ini langsung membandingkan cara kerjanya dengan Mentari yang merupakan rivalnya. Bukan mencoba untuk merefleksi diri atas kekurangannya, Mega semakin menatap Mentari dengan tatapan sinis. Dan rasa benci yang dirasakan oleh Mega terhadap Mentari, tidak malah terpangkas habis, justru malah semakin memunculkan tunas-tunas kebencian baru yang tumbuh begitu subur.
"Han, ayo ke dalam! Ada yang ingin aku sampaikan kepadamu!" titah Awan yang semakin membuat Mega terkejut setengah mati. Pasalnya, lelaki itu terlihat seperti menahan api amarah yang membara.
.
.
.
__ADS_1