Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 76. Pulang


__ADS_3


Mobil yang dikemudikan oleh Angkasa mendarat tepat di halaman rumah kediaman orang tuanya. Setelah berada di dalam penerbangan yang cukup melelahkan, akhirnya ia, Cahya, kedua keponakannya dan juga dua pekerja di rumah Cahya bisa tiba di rumah dalam keadaan selamat tanpa kurang satu apapun.


Semua yang ada di dalam mobil turun satu persatu. Kedua anak Cahya yang sama-sama tengah tertidur digendong oleh Kasim dan juga Asih. Cahya, nampak hanyut dalam pikirannya sendiri sembari menatap lekat bangunan rumah yang sudah tujuh tahun ia tinggalkan ini.


"Rumah ini masih tetap seperti yang dulu ya Kak. Tidak ada perubahan sama sekali," ucap Cahya lirih yang tak ingin melepaskan pandangannya dari rumah yang dulu selalu menjadi tempat ternyaman untuk pulang.


"Memang tidak ada yang berubah Ay. Ini semua seperti keinginan Ibu. Ibu tidak mau rumah ini direnovasi ataupun diapa-apakan. Ia tetap ingin semua kenangan tentangmu tidak terhapus."


Setetes bulir bening lolos dari sudut mata Cahya. Ia merasa begitu berdosa karena dulu sempat menentang permintaan sang ayah dan meninggalkan rumah ini demi cinta yang ternyata justru hanya menyisakan luka.


"Rasa-rasanya aku masih takut untuk bertemu dengan ayah, Kak. Aku takut jika ayah tidak mau untuk memaafkanku."


"Kamu tidak perlu takut. Ayah pasti akan memaafkanmu, Ay." Angkasa melihat ke arah Kasim dan juga Asih yang sepertinya sudah begitu kelelahan menggendong kedua ponakannya ini. "Ya sudah, ayo kita masuk. Sepertinya akan turun hujan juga."


Cahya dan dua pekerjanya berjalan di belakang punggung Angkasa. Menyusuri halaman yang terlihat begitu luas yang ditumbuhi oleh beberapa macam tanaman dan bunga warna-warni.


"Assalamualaikum. Bu, Angkasa pulang!"


Angkasa mengetuk pintu depan seraya mengucap salam. Ia seakan juga tidak sabar melihat sang ibu yang akan berbahagia setelah melihat siapa yang datang.


Derap langkah kaki seseorang terdengar dari dalam rumah. Tak selang lama pintu terbuka....


"Waalaikumsal....." suara Bintari tercekat dalam tenggorokan dan matanya membulat sempurna kala melihat sosok wanita yang berdiri di belakang punggung Angkasa. "Cahya? Ini benar Cahya putriku?"


Melihat respon dari sang ibu, membuat dada Cahya terasa begitu sesak. Semacam ada dorongan dalam dada yang mendorong bulir-bulir air matanya untuk mengalir deras. Tak ingin berlama-lama, Cahya mendekat ke arah Bintari dan bersujud di bawah telapak kaki wanita paruh baya ini.


"Ibu .... Maafkan Cahya, Bu. Maafkan Cahya. Cahya banyak berbuat dosa kepada ayah dan juga ibu."


"Ya Allah Nak, kamu pulang...?" Bintari membungkukkan tubuhnya. Ia pegang bahu Cahya untuk ia tegakkan. Tanpa berpikir panjang, Bintari memeluk erat tubuh putrinya yang sudah tujuh tahun tidak pernah ia temui ini. "Ibu rindu sekali sama kamu Nak. Ibu rindu!"


Bertambah deras kristal bening yang mengalir dari bingkai mata Cahya. Ia sungguh tidak menyangka jika sang ibu sama sekali tidak membenci dirinya meskipun pernah menorehkan luka.


"Aya juga rindu kepada Ibu. Maafkan Aya, Bu. Maafkan Aya!"


"Sudahlah Nak, yang berlalu biarlah berlalu. Yang jelas saat ini Ibu bahagia bisa berjumpa denganmu lagi."

__ADS_1


Bintari melepaskan pelukannya. Ia alihkan pandangannya ke arah dua gadis kecil yang tengah tertidur lelap ini.


"Nak mereka siapa? Apakah mereka ini putri-putrimu?"


Cahya menganggukkan kepala. "Betul Bu, mereka Alina dan Malika. Cucu-cucu Ibu!"


Binar bahagia nampak jelas di wajah Bintari.


"Sungguh? Mereka cucu-cucu Ibu?"


"Betul Bu, mereka cucu-cucu Ibu."


"MashaAllah .... Mereka cantik-cantik sekali." ucap Bintari memuji kedua cucunya.


Wanita itu kembali mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling. Seakan ada seseorang yang ia cari.


"Nak, suamimu di mana? Mengapa ia tidak ikut kemari?"


Cahya sekilas melirik ke arah Angkasa dan kakak beradik itu saling bersitatap dalam diam. Namun Angkasa menganggukkan kepala, sebagai isyarat agar Cahya mengatakan yang sebenarnya saja.


Cahya menghela napas dalam dan kemudian ia hembuskan perlahan. Meskipun sudah tiga bulan lebih ia prahara rumah tangga itu terjadi, namun tetap saja menyisakan rasa sesak di dalam dada.


Kening Bintari berkerut dengan alis yang saling bertaut. Ia masih kurang paham dengan apa yang diucapkan oleh anaknya ini.


"Memporak-porandakan rumah tanggamu? M-maksudmu bagaimana Nak? Coba bicara yang jelas."


Cahya kembali membuang napas kasar. Pandangannya juga kembali menerawang mengingat-ingat apa yang pernah terjadi di masa yang telah lalu.


"Mas Awan berselingkuh, Bu, dan sekarang Aya dengan mas Awan sudah resmi berpisah."


Raut wajah Bintari mendadak dipenuhi oleh ekspresi terkejut. Bahkan bibir wanita itu sampai menganga lebar dan ia tutupi dengan telapak tangan.


"Astaghfirullahalazim .... Mengapa bisa seperti itu Nak?"


Cahya mengulas sedikit senyumnya. Ia mencoba untuk tidak menangis kala menceritakan tentang rumah tangganya.


"Ceritanya panjang Bu, nanti Aya ceritakan." Aya melongok ke arah dalam rumah. Mencari-cari keberadaan sosok sang ayah. "Bu, ayah di mana? Apa ayah sedang pergi?"

__ADS_1


Bintari melirik ke arah Angkasa. Ia paham dengan kode yang diberikan oleh Angkasa melalui kedipan matanya. Ia bisa menyimpulkan jika sampai saat ini Cahya belum mengetahui perihal keadaan sang ayah yang tengah depresi.


"Ayah ada di kamar, Nak. Apa kamu ingin berjumpa dengan ayah?"


"Iya Bu. Aya ingin berjumpa dengan ayah. Ayah ingin minta maaf kepada ayah. Apa yang terjadi dalam hidup Aya ini bisa jadi buah yang Aya petik karena dulu pernah melawan restu ayah. Antarkan Aya ke kamar Bu!"


"Baiklah, Ibu antar." Bintari memegang pundak Angkasa. "Nak, antarkan kedua cucu Ibu dan juga pengasuhnya ini ke kamar ya. Agar mereka bisa beristirahat."


"Baik Bu." Angkasa memandu Kasim dan juga Asih untuk mengikutinya. "Ayo pak Kasim, bik Asih, istirahat di dalam."


"Baik Mas."


Kasim dan Asih mengikuti kemana Angkasa melangkah. Sedangkan Bintari mengantar Cahya untuk bertemu dengan Candra yang memang tidak pernah beranjak dari kamarnya.


"Siang-siang seperti ini mengapa Ayah tidak keluar kamar Bu? Apa Ayah sedang tidur?" tanya Aya sedikit penasaran sembari melangkah menuju kamar sang ayah.


Bintari hanya tersenyum tipis seraya mengangguk kepala pelan. "Iya Nak, ayahmu sedang istirahat di kamar. Maka dari itu ayah tidak keluar-keluar."


Sesampainya di depan pintu kamar, Bintari menghentikan langkah kakinya sejenak. Ia menepuk pundak Cahya dengan lembut.


"Masuklah Nak. Semoga dengan kepulanganmu bisa membuat keadaan ayah kembali seperti semula."


Cahya menatap penuh tanya wajah sang ibu. "Mengembalikan keadaan ayah seperti semula? M-maksud Ibu bagaimana? Apa yang terjadi dengan ayah Bu?"


"Masuklah, Nak. Di dalam nanti, kamu bisa mengetahui apa yang terjadi pada ayahmu."


Jantung Cahya kian berdegup kencang kala mendengar ucapan sang ibu yang seakan dipenuhi dengan teka-teki. Ia benar-benar tidak tahu apa yang menimpa sang ayah.


Tak ingin membuang banyak waktu, Cahya membuka pintu kamar yang sedari tadi tertutup rapat. Ia ayunkan tungkai kakinya dan pandangannya mengedar ke setiap penjuru kamar. Hingga tatapannya pun tertuju pada sosok lelaki yang tengah duduk di atas kursi roda sembari memandang ke arah luar jendela dengan tatapan kosong.


"A-Ayah...."


.


.


.

__ADS_1


Fokus ke Cahya dulu ya kak, sebelum nanti kembali ke kehidupan Awan dan Mega. InshaAllah satu part lagi kita kembali ke scene Awan dan Mega di mana mereka menjalani kehidupan berumah tangga. Bagaimana? Kira-kira bahagia atau sengsara ya?? Hihihihi ditunggu ya Kak.. 🥰🥰🥰


__ADS_2