
Tubuh Cahya sedikit terperanjat kala mendengar dering ponsel yang berasal dari dalam tas milik Awan. Sejenak, ia melirik ke arah pintu kamar mandi dan sepertinya sang suami masih lama berada di dalam sana. Tanpa membuang banyak waktu, ia membuka tas milik Awan dan segera mengambil ponsel yang ternyata ponsel kedua milik Awan lah yang berdering.
Cahya tersenyum getir kala membaca nama kontak yang terpampang di layar. Nama 'kesayanganku' sudah cukup membuat Cahya sadar diri jika keberadaannya sudah tidak ada artinya lagi untuk hidup sang suami. Sembari membuang napas sedikit kasar untuk menghempaskan segala sesak di dada, Cahya pun menggeser icon warna hijau di layar.
"Mas ... Tolong aku Mas. Aku ketakutan di rumah sendirian. Ada yang meneror ku Mas!"
Cahya sengaja untuk tetap membisu tak berucap sepatah katapun. Ia ingin tahu apa saja yang dibicarakan oleh wanita murahan ini.
"Hallo Mas ... Kenapa diam saja sih Mas? Aku ketakutan Mas. Di sini nyawaku terancam."
Cahya seketika mematikan ponsel milik Awan. Ia kembali tersenyum sinis kala mendengar aduan Mega yang terdengar ketakutan.
"Ini baru awal, Mega. Persiapkan dirimu untuk menerima kejutan demi kejutan berikutnya!"
Pandangan Cahya fokus pada gawai milik sang suami yang masih berada di dalam genggaman tangan. Ia usap layar gawai ini dan mengejutkan sekali. Seperti mendapatkan durian runtuh, ponsel milik Awan tidaklah dikunci. Gegas, wanita itu menjelajahi fitur galeri.
"Waaaaowww ... Ternyata mereka mengabadikan setiap permainan ranjang yang mereka lakukan. Hebat, sungguh hebat!"
Dengan gerak cepat, Cahya mengirim semua file video adegan ranjang antara sang suami dengan Mega ke ponsel miliknya. Ia pastikan tidak ada satupun jejak yang tertinggal di ponsel milik Awan setelah ia jelajahi.
"Terima kasih ya Allah. Engkau menunjukkan jalan yang mudah bagiku untuk melewati ini semua. Dengan adanya bukti video-video ini, semoga aku bisa lebih mudah untuk berpisah dari mas Awan!"
***
Sayup-sayup kumandang adzan subuh mulai terdengar di telinga. Memanggil jiwa-jiwa yang tengah memejamkan mata untuk segera bangun dari tidur lelap mereka. Mengambil air wudhu dan bersegera menunaikan kewajibannya menghadap Sang Maha Pencipta alam semesta.
Dua rakaat telah tertunaikan. Kini wanita itu duduk bersimpuh sembari berdzikir memuji kebesaran Allah dengan butiran-butiran tasbih yang berada di jemari tangan. Mata wanita itu terpejam namun bibirnya tiada henti memuji keagungan Allah di setiap helaan napasnya. Memasrahkan semuanya kepada Sang Maha Penggeggam kehidupan.
Kelopak mata Cahya terbuka. Ia melirik ke arah ranjang di mana terlihat sang suami masih terlelap dalam buaian mimpi. Tak ada lagi rutinitasnya membangunkan Awan karena sejak beberapa minggu yang lalu, lelaki ini tidak lagi pernah menunaikan kewajibannya.
Cahya bankit dari posisi duduknya. Masih mengenakan mukena, wanita itu mengayunkan tungkai kakinya menuju kamar Asih dan juga Kasim.
"Pak Kasim, Pak, pak Kasim!" panggil Cahya pelan sembari mengetuk pintu kamar milik pekerja di rumahnya ini.
Cahya sengaja melirihkan volume suaranya agar tidak mengganggu yang lainnya. Tak selang lama, lelaki paruh baya yang masih mengenakan sarung dan baju koko itu membuka pintu kamar.
"Iya Bu, ada apa? Kok tumben subuh-subuh seperti ini bu Cahya sudah ke kamar saya?"
"Pak, saya ingin bicara sebentar. Kita ke ruang tengah ya!" ujar Cahya menyampaikan maksud dan tujuannya sembari melangkahkan kaki menuju ruang tengah. Kasim pun hanya bisa menuruti titah majikannya ini.
"Silakan duduk Pak!" perintah Cahya dan diikuti oleh Kasim yang mendaratkan bokongnya di sofa. "Aku ingin minta tolong ke pak Kasim. Eh, lebih tepatnya ada tugas khusus yang ingin aku berikan kepada pak Kasim."
__ADS_1
Kelopak mata Kasim sedikit menyipit dengan dahi yang mengernyit. "Tugas khusus? Maksud bu Cahya tugas seperti apa itu?"
Cahya menghela napas dalam untuk kemudian ia hembuskan perlahan. Semalaman, ia memikirkan cara untuk memberikan pelajaran kedua untuk pelakor itu dan akhirnya ia menemukan sebuah cara. Kali ini, ia akan meminta bantuan Kasim.
"Pak Kasim sekarang silakan pergi ke alamat yang akan aku kirimkan via Whatsapp. Untuk detail tugas yang harus pak Kasim kerjakan, akan aku kirimkan pula melalui WA. Pak Kasim tinggal melakukannya saja."
"Memang itu alamat siapa Bu? Kok harus pagi-pagi seperti ini saya datang ke sana?" tanya Kasim masih begitu penasaran. Karena tidak biasanya majikannya ini meminta hal yang sedikit aneh seperti ini.
"Nanti pak Kasim akan tahu sendiri alamat siapa itu. Sekarang lebih baik pak Kasim segera berangkat. Jika ingin mengajak bik Asih juga aku persilahkan. Untuk pekerjaan rumah biar aku yang meng-handle."
"Tapi saya belum mandi, Bu. Bagaimana?"
"Sudah, tidak perlu mandi Pak. Semakin pagi pak Kasim tiba di alamat itu, maka akan semakin baik."
"Baiklah kalau begitu Bu, saya akan langsung berangkat."
"Terima kasih Pak. Oh iya, untuk perkara ini tolong jangan sampai ibu dan Mas Awan tahu ya. Cukup, aku, Pak Kasim dan bik Asih saja yang tahu."
"Baik Bu!"
***
Mobil yang dikemudikan oleh Kasim telah tiba di alamat yang dikirim oleh sang majikan. Seperti perintah Cahya, ia harus memberikan sedikit jarak agar mobil yang dikemudikannya tidak terlalu dekat dengan rumah yang akan ia tuju.
Asih masih dibuat bertanya-tanya dengan tugas yang diberikan oleh sang majikan. Baginya tugas ini sangatlah tidak lazim karena baru kali ini Cahya meminta sesuatu yang sedikit aneh. Meskipun mentari pagi belum sepenuhnya menampakkan wajah, beruntung di perjalanan sepasang suami-istri itu menemukan pasar tradisional. Sehingga mereka bisa membeli semua yang diperintahkan oleh Cahya.
"Sepertinya rumah tangga Bu Cahya dan pak Awan sedang tidak baik-baik saja Bu. Aku rasa sedang ada prahara yang menerpa keluarga majikan kita," sahut Kasim sembari menatap lekat rumah mewah itu.
"Prahara? Maksudnya prahara apa Pak?" tanya Asih semakin dibuat penasaran. "Hah ... Apakah mungkin pak Awan berselingkuh dan saat ini kita diperintahkan oleh Bu Cahya untuk meneror pelakornya?" pekik Asih dengan kedua bola mata yang membulat sempurna.
"Sepertinya memang begitu Bu. Tapi sudahlah, kita tidak perlu banyak tahu. Yang jelas kita harus segera mengerjakan pekerjaan ini mumpung hari masih sedikit gelap. Beruntung di sini juga jauh dari para tetangga." Kasim melepaskan safety belt yang ia kenakan. "Ayo Bu, kita segera bergerak!"
Pada akhirnya dua pekerja di rumah Cahya itu segera melakukan apa yang telah diperintahkan. Jalan mereka seakan diberikan kemudahan oleh Yang Maha Kuasa karena lagi-lagi pintu pagar tidak terkunci dan mobil milik penghuni rumah ini juga terparkir di depan garasi. Mungkin si pemilik lupa untuk memasukkannya ke dalam.
***
Tubuh Mega menggeliat kala merasakan anak-anak sinar matahari yang mulai menembus tirai putih kamarnya. Kelopak matanya perlahan terbuka dan segera ia geser posisinya untuk bersandar di head board ranjang. Wanita itu sesekali menguap sebagai tanda jika rasa kantuk itu masih menyerangnya.
Mega meraih ponsel yang ada di atas nakas. Ia tatap lekat ponsel itu dan rasa kecewa seakan menyelimuti hatinya.
"Bahkan mas Awan sama sekali tidak mengirimiku pesan. Padahal semalaman aku begitu ketakutan setelah mendapatkan teror itu."
Mega mulai beranjak dari ranjang. Di pagi hari seperti ini, ia ingin menikmati suasana di halaman depan yang pastinya terasa menyejukkan. Mega keluar dari dalam kamar dan mulai menuruni anak-anak tangga.
__ADS_1
Ceklek....
Pintu depan ia buka dan....
"Aaaaaaaaaaaaaa!!!!!!"
Mega berteriak kencang kala melihat kain putih yang berbentuk seperti orang-orangan sawah tergantung di plafon dan tepat di depan pintu. Hal itulah yang membuat netra Mega langsung bersiborok dengan kain putih itu ketika ia membuka pintu. Dan yang lebih membuatnya bergidik ngeri, kain itu dilumuri oleh warna merah yang entah berasal dari mana.
Mega mencoba untuk berlari ke arah samping tepatnya ke arah garasi. Namun baru beberapa langkah tiba-tiba...
Dug!!!!!
"Aaaaaahhhhhh!!!"
Mega memekik kala kakinya tersandung sebuah kotak mie instan yang luput dari pandangannya. Padahal kotak mie instan itu lumayan besar namun seperti tidak terlihat sama sekali.
"Apa lagi ini? Mengapa ada kotak mie instan di sini?"
Mega sedikit berjongkok. Ia goyang-goyang kardus mie instan itu.
"Kok berat? Apa mungkin ada orang yang sengaja mengirimkan mie instan untukku?"
Begitu penasaran dengan isi yang berada di dalam kotak mie instan ini, Mega segera membuka lakban yang melekat di sana. Perlahan tangannya mulai membuka kardus dan....
"Aaaaaaaaaaaaa!!!!!!"
Lagi, Mega berteriak kencang kala mendapti dua ekor ayam yang baru saja disembel*ih dan masih mengalirkan darah segar. Wanita itu terkejut setengah mati sehingga membuatnya terduduk di atas lantai.
"Siapa yang melakukan ini semua? Siapaaaaaaa????!!!!" teriak Mega sembari mengedarkan pandangannya ke arah sekitar.
Ia mencari-cari sesuatu yang mencurigakan namun sepertinya tidak bisa ia temukan. Hingga pada akhirnya, pandangan wanita itu terhenti di satu titik. Tepatnya ke arah kaca mobil. Mega bergegas bangkit dan melihat dengan seksama apa yang ada di sana.
Kedua bola matanya terbelalak sempurna dengan bibir yang menganga lebar. Ia seperti kesusahan menelan salivanya kala mengeja huruf-huruf yang ada di kaca mobilnya ini.
Kamu akan hancur, Mega!!!
.
.
.
Siwur : Semacam gayung yang terbuat dari batok kelapa dan memiliki gagang panjang dari bambu.
__ADS_1