
Angkasa mengemudikan laju mobilnya dengan kecepatan sedang menembus air hujan yang semakin deras mengguyur bumi. Setiap tetes air langit yang turun itu layaknya air mata sang adik yang sedari tadi tiada henti mengalir dari jendela hatinya. Wanita itu masih terlihat hanyut dalam kesedihan dan juga kehancuran hati yang ia rasakan. Pakaiannya pun juga terlihat basah karena beberapa saat yang lalu, ia memilih untuk meringkuk di bawah dinginnya air langit.
"Apakah ini semua balasan yang diberikan oleh Allah kepadaku karena aku tidak menuruti perkataan ayah ya Kak?"
Pertanyaan yang keluar dari bibir Cahya memecah keheningan yang tercipta di antara kakak dan adik itu. Angkasa mengulas sedikit senyumnya, merasa lega, setidaknya sang adik mulai bisa membuka mulutnya untuk berbicara. Karena sedari tadi, ia nampak larut dalam pikirannya sendiri sembari menatap lekat ke arah luar jendela.
"Apapun itu, anggap saja ini semua merupakan ujian dalam rumah tanggamu, Ay. Setiap rumah tangga memang memiliki ujiannya masing-masing dan kebetulan ujian seperti inilah yang menghampiri biduk rumah tanggamu."
Angkasa mengemukakan argumentasinya dengan bijak. Ia harus berhati-hati dalam berbicara agar jangan sampai yang ia katakan justru semakin membuat sang adik tertekan. Ia tidak ingin jika adik semata wayangnya ini terus menerus dikungkung oleh perasaan bersalah.
"Aku benar-benar tidak menyangka akan seperti ini Kak. Aku sungguh tidak menyangka jika mas Awan tega menghianatiku. Padahal selama aku mendampinginya, aku selalu berusaha untuk mempersembahkan yang terbaik untuknya. Apa kurangku, Kak? Apa?"
Cahya menangis tergugu. Ia membenamkan wajahnya di kedua telapak tangan. Setelah ia pendam segala rasa sakit yang ia rasakan sendirian, kini ia tumpahkan di depan Angkasa. Ia merasa, saat ini hanya Angkasa lah yang bisa menjadi teman untuk membagi luka yang tak terperi.
"Ay, semua yang menimpamu bukan karena kekuranganmu. Itu semua terjadi karena kurangnya rasa syukur yang dimiliki oleh Awan. Dia tidak pandai bersyukur dengan kenikmatan terbesar yang sudah ia dapatkan dengan memiliki sosok seorang istri sepertimu. Sehingga ia tidak tahu bagaimana caranya untuk mempertahankanmu."
"Sebelumnya aku merasa mampu untuk menghadapi ini semua Kak, tapi semakin ke sini aku merasa semakin lemah. Aku merasa tidak kuat untuk menjalaninya."
Angkasa mengulas sedikit senyum di bibirnya. Meskipun ia belum berpengalaman dalam permasalahan rumah tangga seperti ini, namun ia bisa merasakan apa yang sekarang dirasakan oleh Cahya.
"Sekarang, tumpahkan semua hal yang membelenggu dadamu. Tumpahkan rasa sakitmu. Tumpahkan tangismu dan tumpahkan kekecewaanmu. Namun setelah itu, kamu kembali mendongakkan wajah, kembali berdiri tegap dengan membusungkan dada untuk menjalani kehidupan yang masih harus tetap berjalan."
Cahya semakin mengeraskan tangisnya. Bahkan tubuh wanita itu nampak bergetar seolah berusaha untuk menghempaskan semua kesakitan yang memasung jiwa. Bibirnya terkunci, lidahnya kelu, seakan tidak mampu lagi untuk mengatakan jika luka hatinya benar-benar telah mencabik-cabik kekuatan yang ia miliki.
__ADS_1
"Allah tidak akan pernah memberikan ujian di luar batas kesanggupan hambaNya, Ay. Jika Allah memberikan ujian seperti ini kepadamu, itu berarti bahumu kuat untuk menopangnya. Percaya padaku, akan ada satu hikmah di balik ujian yang menimpamu ini," sambung Angkasa dengan perkataan bijaknya.
Cahya terdiam, meresapi setiap perkataan yang dilontarkan oleh sang kakak. Ia sadar jika semua yang terjadi sudah tertulis di setiap lembar jalan takdirnya. Ia hanya sebagai lakon di dunia yang penuh dengan kepalsuan ini. Tak ada yang bisa ia lakukan selain mengikuti alur yang sudah ditentukan oleh sang sutradara.
"Sekarang kita mau kemana Ay?" tanya Angkasa yang sedikit kebingungan ketika menjumpai sebuah persimpangan jalan.
Cahya terhenyak dan mulai fokus dengan langkah yang harus ia tempuh selanjutnya. "Lurus saja Kak, setelah itu belok kanan. Aku ingin menjemput anak-anak dan mengambil sesuatu. Setelah itu aku akan membawa anak-anak pergi dari rumah untuk sementara waktu."
"Baiklah Ay, yang terpenting kamu tenangkan dirimu terlebih dahulu."
Angkasa tersenyum penuh arti. Meskipun saat ini ia begitu prihatin dengan apa yang dialami oleh sang adik, namun ia juga berbahagia. Akhirnya, ia bisa bertemu secara langsung dengan keponakannya.
***
"Ya Allah bu Cahya .... mengapa pakaian bu Cahya basah kuyup seperti ini?" tanya Asih sedikit panik.
Asih dan Kasim menyambut kedatangan Cahya dengan raut wajah yang dipenuhi oleh keterkejutan. Pasalnya tubuh majikannya ini terlihat begitu kacau sekali. Wajah yang sayu dan juga pakaian yang basah.
"Aku tidak apa-apa, Pak, Bik." Cahya mulai memasuki area ruang tamu dan diikuti oleh Angkasa. "Oh iya, setelah ini aku ingin pergi sejenak dari rumah ini. Pak Kasim dan bik Asih bagaimana? Mau tetap di sini atau ikut aku?"
Sepasang suami istri saling melempar pandangan. Sorot mata mereka seakan berbicara bahwa mereka sudah mengetahui apa yang sedang terjadi.
"Kami ikut bu Cahya saja!" jawab Kasim dengan tegas dan lugas.
Cahya menganggukkan kepala seraya tersenyum simpul. "Baiklah kalau begitu. Pak Kasim dan bik Asih berkemas-kemas ya. Untuk sementara, kita pergi dari rumah ini sampai situasinya terkendali."
__ADS_1
"Baik Bu."
Kasim sedari tadi memperhatikan dengan lekat sosok lelaki yang sedari tadi membuntuti sang majikan. Dari sorot mata Kasim seakan bertanya-tanya tentang siapa lelaki ini, namun enggan untuk ia utarakan.
"Lelaki ini kakakku, Pak. Namanya kak Angkasa. Selama ini dia tinggal di Kalimantan," ujar Cahya menjelaskan setelah melihat raut wajah Kasim yang dipenuhi oleh tanda tanya.
Angkasa sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai salah satu bentuk penghormatan. "Salam kenal ya Pak, Bik."
"Iya mas Angkasa, salam kenal juga."
Cahya melenggang meninggalkan area ruang tamu. Ia bermaksud untuk membersihkan diri dan kemudian bersiap-siap untuk pergi. Namun ketika melintas di depan kamar kedua putrinya, ia sempatkan terlebih dahulu untuk memasuki kamar mereka.
Cahya duduk di tepian ranjang seraya menatap lekat wajah kedua putrinya yang terlihat begitu damai dalam lelap tidurnya. Lagi, air mata itu kembali menetes tanpa permisi. Masih ada sedikit rasa sesak yang menggelayuti di dalam hati.
"Sesungguhnya Bunda ingin sekali menghadirkan keluarga yang sempurna untuk kalian, Nak, namun ternyata tidak bisa. Maafkan Bunda karena setelah ini langkah kaki kalian akan sedikit pincang karena tidak memiliki sosok seorang ayah yang selalu berada di sisi. Namun Bunda berjanji dengan tumpuan kaki Bunda sendiri, kalian tidak akan pernah kehilangan kasih sayang dari sosok ayah. Bunda akan mengambil peran rangkap untuk kalian."
Cahya mengecup kening Malika dan Alina secara bergantian. Mencoba mencari kekuatan dari dalam tubuh kedua putrinya. Ia semakin sadar jika kedua putrinya inilah yang akan senantiasa menjadi sumber kekuatannya untuk menghadapi dunia yang penuh dengan tipu daya.
Cahya bangkit dari posisi duduknya. Ia hapus air matanya dan ia raup udara dalam-dalam.
"Berdiri dan bangkit Ay! Jangan biarkan harga dirimu semakin terinjak-injak karena lemah dan menyerah. Tunjukkan kepada dunia dan orang-orang yang menghianatimu bahwa kamu adalah wanita kuat yang tidak mudah untuk dikalahkan," monolog Cahya lirih untuk menguatkan diri.
.
.
__ADS_1
.