Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 40. Permintaan


__ADS_3


Rinai hujan masih terdengar mengalun merdu. Rintihannya bersatu dengan hembusan sang bayu. Memeluk malam dengan hawa dingin yang membelenggu.


Hawa dingin alami dari rinai air langit yang turun ke bumi beserta hawa dingin buatan yang keluar dari sebuah pendingin ruangan, nyatanya tidak berpengaruh apapun terhadap dua sosok manusia yang terlihat sedang berada di salah satu kamar yang di dominasi oleh warna putih ini.


Selimut, bed cover, dress berbahan sifon dengan motif bunga sakura, kemeja, dan celana terlihat berserakan di atas lantai. Ranjang di salah satu kamar rumah mewah yang sebelumnya terlihat begitu rapi, saat ini mulai terlihat begitu berantakan. Sebagai pertanda bahwa sebelum detik ini, telah terjadi sebuah pergulatan tubuh yang begitu menggairahkan.


Tubuh dua manusia itu terkulai lemah di atas ranjang berukuran king size. Bulir-bulir peluh di pelipis keduanya masih mengalir deras hingga membasahi tiap sudut wajah. Keduanya saling mendekap seakan tidak ingin saling melepaskan satu sama lain.


"Kamu benar-benar luar biasa Han! Aku sungguh puas!"


Berkali-kali Awan mengecup dahi Mega dengan intens. Dari kecupan itu seakan menandakan jika ia teramat puas dengan pelayanan yang diberikan oleh Mega. Yang membuat jiwa mudanya kembali berkobar yang dipenuhi oleh hasrat yang membara.


Mega tersenyum manis. Akhirnya tibalah malam ini. Sebuah malam di mana ia menyerahkan kepe*rawanan yang ia miliki untuk Awan. Setelah mendapatkan semua kemewahan dari lelaki itu, ia semakin yakin jika Awan adalah masa depannya.


"Dibanding istrimu lebih nikmat mana Mas?" tanya Mega dengan kekehan kecil yang keluar dari bibir. Ia percaya betul jika sebelumnya Awan tidak pernah merasakan kenikmatan yang seperti ini.


"Tidak perlu aku jawab, kamu pasti sudah tahu jawabannya Han!" ujar Awan penuh teka-teki yang justru semakin membuat Mega ingin sekali mendapatkan validasi.


"Issshhhh .... Tapi aku ingin mendengarkan jawaban dari kamu secara langsung Mas. Lebih nikmat siapa? Aku atau istrimu?"


Awan tergelak pelan. Ia cubit hidung mancung milik Mega ini dengan gemas. "Jelas lebih nikmat kamu Honey!"


"Oh ya? Apa alasannya?"


"Kamu jauh lebih menggairahkan daripada istriku, Han. Permainanmu sungguh membuatku tidak ingin mengakhiri ini semua. Yang membuatku ingin dan ingin mereguk kenikmatan itu sekali lagi."


"Tunggu Mas, bisa kamu jelaskan lebih detail lagi? Aku sungguh tidak paham dengan maksud ucapanmu!"


Awan menarik tubuh Mega untuk ia bawa ke dalam dekapannya. Kini wajah wanita itu terbenam di dada bidang milik Awan.


"Istriku tidak bisa mengimbangi permainanku. Dia cenderung pasif persis gedebog pisang. Lama kelamaan aku juga bosan jika terus seperti ini."


Dalam hati, Mega bersorak gembira. Jika sudah seperti ini ia yakin bahwa Awan akan semakin terjerat dalam pesonanya. Terlebih ketika ia sudah berhasil ber s e t u b u h dengan Awan, maka susuk yang tertanam dalam dirinya akan semakin berfungsi secara maksimal, persis seperti yang diucapkan oleh Ki Suprana.


"Jadi setelah ini kamu tidak akan minta jatah dari istrimu lagi Mas?"


"Tentu tidak Honey. Punyamu ini seperti candu. Jadi, aku hanya ingin bercinta denganmu."


"Lalu, bagaimana dengan istrimu Mas? Apa kamu tidak takut jika nantinya ia curiga karena kamu tidak pernah lagi ber h u b u n g a n badan dengannya?"


"Sudahlah Honey, jangan lagi kamu pikirkan akan hal itu. Asal jatah uang bulanan tidak telat, istriku pasti tidak akan banyak protes."


Dering ponsel yang berada di atas nakas membuat perhatian Awan sejenak berpindah. Ia ambil ponsel itu dan terlihat nama Cahya melakukan panggilan.

__ADS_1


"Siapa Mas?" tanya Mega sedikit penasaran.


"Istriku, Han!"


"Diangkat saja Mas. Aku ingin tahu apa tujuannya menghubungimu malam-malam seperti ini."


Awan pun menggeser icon hijau di layar ponsel dan...


"Hallo Ay ....!"


***


Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Cahya, Alina, Malika, Marni, Asih dan Kasim terlihat duduk di ruang tamu menunggu kepulangan Awan. Di atas meja sudah terhidang kue tart yang rencananya akan dipotong setelah Awan tiba di rumah.


Jarum jam terus berdetak hingga bergeser di antara angka sembilan dan sepuluh.


"Bunda, ayah masih lama ya pulangnya? Hoooaaaaammm," tanya Malika sambil menguap dan mengucek mata. Sepertinya gadis kecil itu sudah tidak bisa menahan rasa kantuk yang mendera.


"Iya Bunda, ayah kok belum sampai di rumah juga? Bukankah seharusnya ayah sudah sampai di rumah ya?" timpal Alina yang juga nampak sudah mengantuk.


Cahya memperhatikan wajah kedua putrinya ini. Ia begitu iba melihat anak-anaknya sampai menahan kantuk hanya untuk menunggu kepulangan Awan.


"Apa tidak coba kamu hubungi Awan saja Ay? Tanya sudah sampai di mana dia?" ucap Marni memberikan usul.


Cahya tersenyum tipis. Sepertinya ia sudah bisa memutuskan apa yang harus ia lakukan saat ini.


"Tidak perlu menghubungi Mas Awan, Bu. Barangkali dia memang sedang sibuk jadi sedikit telat sampai di rumah."


"Tapi dia sudah dalam perjalanan pulang dari Semarang kan Ay?"


Bahkan dia tidak pernah ada agenda di Semarang, Bu. Itu semua hanya sebagai alasan agar dia bisa menghabiskan waktu bersama simpanannya.


"Kata Mas Awan seperti itu Bu, tapi entah saat ini sudah sampai di mana. Aku hubungi tapi tidak ada jawaban." Cahya menautkan pandangannya ke arah kedua putrinya. "Ya sudah, kalau begitu kita potong kuenya sekarang saja ya Sayang. Tidak perlu menunggu ayah."


"Iya Bunda. Potong sekarang saja!" ucap Alina bersemangat. "Ayo Dek kita menyanyikan lagu ulang tahun untuk Bunda!" sambungnya pula mengajak sang adik untuk bernyanyi.


Lirik lagu selamat ulang tahun menggema memenuhi langit-langit ruang tamu. Alina, Malika, Marni, Asih dan Kasim bernyanyi bersama untuk Cahya. Sedangkan Cahya hanya bisa berpura-pura tersenyum bahagia untuk menutupi kehancuran hati yang ia rasakan.


Ia harus pandai-pandai menutupi semua. Agar, badai yang tengah menerpa biduk rumah tangganya tidak sampai merusak momen hari bahagianya ini.


"Selamat ulang tahun Bunda. Semoga Bunda selalu sehat dan juga disayang oleh Allah!" doa tulus Alina sembari memeluk tubuh Cahya setelah menikmati sepotong kue dari sang bunda.


"Selamat ulang tahun Bunda. Semoga Bunda selalu cantik dan dijaga sama Allah," timpal Malika yang juga tak kalah tulus dari sang kakak.


Hati Cahya menghangat mendengar doa-doa tulus yang terucap dari bibir kedua putrinya ini. Ia peluk erat tubuh kecil Alina dan Malika. Tanpa terasa, setetes bulir bening jatuh dari pelupuk matanya.

__ADS_1


"Aamiin ... Aamiin ... Terima kasih banyak untuk doa-doanya Sayang. Semoga Allah juga senantiasa melindungi anak-anak Bunda yang cantik ini."


"Sama-sama Bunda!"


Dua gadis kecil itu mengurai pelukannya dari tubuh Cahya.


"Kok Bunda menangis? Bunda sedih ya karena ayah tidak ada?" tanya Alina dengan polos yang membuat hati Cahya sedikit tersentak.


Buru-buru Cahya mengusap air matanya dan menggeleng pelan. "Tidak Sayang, meskipun tidak ada ayah, tapi Bunda tetap bahagia karena ada putri-putri Bunda di sini. Kehadiran kalian sudah cukup membuat Bunda bahagia Sayang."


"Bunda, Alina dan adek bobok duluan ya. Kami sudah ngantuk," pamit Alina yang sepertinya sudah tidak sanggup lagi untuk menahan rasa kantuknya.


"Baiklah Sayang. Diantar bik Asih ya. Bunda harus membereskan ini terlebih dahulu."


"Iya Bunda."


Asih dan kedua putri Cahya melenggang pergi meninggalkan ruang tamu. Mereka masuk ke dalam kamar untuk bersegera menjemput mimpi. Kasim pun juga turut meninggalkan ruang tamu setelah memberikan ucapan selamat ulang tahun untuk sang majikan.


"Selamat ulang tahun ya Ay. Doa terbaik selalu Ibu panjatkan untukmu di hari bahagiamu ini. Semoga rumah tanggamu senantiasa dilindungi oleh Allah dari segala keburukan."


Giliran Marni yang mengucapkan doa dan pintanya untuk sang menantu. Wajah wanita paruh baya itu terpancar binar bahagia yang begitu kentara. Mendapatkan sosok menantu seperti Cahya sungguh menjadi kebahagiaan hidup yang tidak bisa dinilai dengan apapun.


Cahya tersenyum simpul. Ia berjalan ke arah Marni yang masih setia duduk di kursi roda dan ia peluk tubuh mertuanya ini.


"Terima kasih banyak atas doanya ya Bu. Semoga Ibu juga senantiasa sehat dan bahagia selalu."


"Kebahagiaan Ibu ada padamu, Ay. Ibu sungguh bahagia dan bersyukur karena Allah telah mengirimkan sosok menantu sepertimu untuk Ibu."


Cahya tersenyum getir. Ia hanya bisa mengusap-usap punggung sang mertua dengan lembut.


Entah sampai kapan aku bisa menjadi menantu Ibu. Tapi saat ini mas Awan sudah melakukan sebuah kesalahan yang sulit untuk aku terima Bu. Aku harap Ibu bisa menerima jika nantinya aku memilih untuk mundur dan mengakhiri pernikahanku dengan mas Awan.


"Ya sudah, sekarang Ibu istirahat ya. Sudah malam. Biar Aya antar ke kamar."


Marni hanya bisa menurut karena sejatinya ia juga sudah merasakan kantuk yang teramat hebat. Dengan perlahan Cahaya mendorong kursi roda Marni dan ia bantu untuk berbaring di atas ranjang.


Cahaya mengayunkan tugkai kakinya untuk kembali ke ruang tamu. Ia duduk sendiri sembari menatap kue ulang tahun yang sudah dinikmati oleh anak-anaknya itu. Ia pun mengambil ponsel dari saku gamis yang ia kenakan untuk menghubungi sang suami.


"Mas ... di hari ulang tahunku ini, aku minta semua aset rumah, tanah, dan semua kendaraan dipindahkan menjadi atas namaku!" tembak Cahya setelah panggilan telponnya diangkat oleh sang suami.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2