Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 63. Melawan Restu (flashback)


__ADS_3


Waktu terus bergulir hingga tiba di mana esok acara pernikahan Cahya dan Awan akan diselenggarakan. Ego sang ayah yang diharapkan bisa turun dan melunak pada kenyataannya tidak berubah sama sekali. Candra tetap kekeuh pada keputusannya, tidak akan pernah sudi untuk merestui hubungan sang anak dan juga untuk menjadi wali. Candra masih menunjukkan powernya sebagai seorang kepala rumah tangga dan seorang ayah yang tidak bisa dibantah oleh siapapun.


"Kamu bisa lihat bukan, bagaimana pengorbanan yang dilakukan oleh adikku untuk mempertahankan cinta kalian?"


Di sebuah kafe yang berada di pusat kota, Angkasa sengaja mengajak Awan untuk bertemu sebelum acara akad nikah dilaksanakan. Ada beberapa hal yang ingin ia sampaikan kepada calon adik iparnya ini.


Awan menganggukkan kepala. "Iya Kak, aku tahu persis bagaimana pengorbanan Cahya untuk bisa menikah denganku. Dalam hal ini pengorbanan dia lah yang paling besar karena melawan restu pak Candra."


"Lalu, apa yang bisa kamu janjikan kepadaku bahwa kamu adalah seorang lelaki baik-baik yang tidak akan pernah melukai hati adikku?" tanya Angkasa dengan sorot mata tajam layaknya seekor elang yang sedang membidik mangsanya.


Awan menghela napas panjang dan ia hembuskan perlahan. Sejatinya ia tidak perlu membuktikan apapun karena sudah satu tahun ia menjalani masa penjajakan dengan Cahya. Ia rasa waktu satu tahun itu sudah cukup menjadi bukti bahwa dia benar-benar tulus mencintai sang kekasih.


"Aku berjanji akan membahagiakan Cahya lahir maupun batin, Kak. Aku berjanji akan setia hanya kepada Cahya sampai ajal menjemput. Akan aku perlakuan dia seperti seorang ratu di dalam istana hatiku."


Angkasa kembali menatap manik mata Awan dengan lekat. Ia mencoba mencari kebohongan dari sorot mata lelaki yang ada di hadapannya ini. Namun semakin ia berusaha untuk mencari, yang ia temukan justru ketulusan yang terpancar.


Meskipun Angkasa percaya dengan janji yang diucapkan oleh Awan, namun ia tetap ada sedikit hal yang mengganjal. Restu dari sang ayah yang sampai saat ini belum didapatkan oleh Cahya sungguh membuat batin Angkasa semakin terasa sakit.


"Baiklah, aku pegang janjimu. Ingat Wan, jangan sekalipun kamu melukai hati adikku. Jika sampai setetes air mata tertumpah dari mata adikku karena perilakumu, maka kamu akan langsung berhadapan denganku."


Awan semakin mantap menganggukkan kepala. Bukanlah hal yang sulit setia kepada satu orang wanita apalagi dia adalah wanita yang ia cintai.


"Iya Kak, aku janji. Penggal kepalaku kalau aku sampai berkhianat kepada Cahya."


Angkasa membuang napas lega. Saat ini, ia bisa sedikit lebih tenang karena ada Awan yang begitu mencintai sang adik. Ia hanya berharap Awan adalah lelaki setia yang tetap berpegang teguh pada janji-janji yang sudah ia ucapkan.


"Baiklah, mungkin hanya itu saja yang ingin aku sampaikan. Persiapkan dirimu untuk akad nikah besok. Meskipun saat ini kamu belum mendapatkan restu dari ayahku, namun lambat laun beliau pasti akan memberikan restu asalkan kamu menampakkan perilaku yang baik."

__ADS_1


"Iya Kak, aku akan senantiasa bersikap yang baik di depan ayah meskipun aku belum mendapatkan restu."


***


"Bagaimana para saksi? Sah?"


"Sah!!!"


"Alhamdulillah..."


Dengan mengenakan jas warna hitam, Awan duduk di hadapan Angkasa untuk melangsungkan proses ijab kabul. Awan mengucap kalimat kabul dengan suara lantang tanpa keraguan sedikitpun. Kalimat itulah yang menjadi pertanda jika mulai detik ini ia resmi mempersunting seorang gadis bernama Cahya Kamila.


Setetes kristal bening lolos dari bingkai mata milik Cahya. Ada rasa yang bercampur dalam dada ketika ia telah sah menjadi istri dari Awan. Ia bahagia karena pada akhirnya bisa menjalani biduk rumah tangga bersama lelaki yang sangat ia cintai. Lelaki yang selama satu tahun ini mengisi kekosongan hatinya dan lelaki yang sudah banyak berjuang untuk menikahinya. Ya, meskipun sampai detik ini, tidak ada restu yang ia dapatkan dari sang ayah.


Di satu sisi, hatinya meratap pilu kala mendapati sebuah kenyataan bahwa ia menikah tanpa dihadiri bahkan diwalikan oleh sang ayah. Anak perempuan satu-satunya yang mendamba sebuah pernikahan yang sempurna, ternyata itu semua pincang karena sampai detik ini sang ayah tetap berpegang teguh pada pendiriannya. Lelaki paruh baya itu tetap menganggap jika Awan bukanlah lelaki baik-baik.


Angkasa memeluk erat tubuh Cahya. Air mata lelaki itu juga tiada henti mengalir jika teringat akan jalan hidup yang dilalui oleh sang adik. Seorang anak yang sebelumnya begitu disayang dan dicintai oleh sang ayah, kini seakan berbalik seratus delapan puluh derajat. Adiknya ini seolah menjadi musuh bebuyutan sang ayah karena telah berani membangkang.


"Tidak apa-apa Kak. Aya tidak menginginkan pernikahan yang mewah. Aya justru sudah sangat bersyukur karena Kakak bersedia menjadi wali nikah. Aya tidak tahu apa yang akan terjadi jika sampai Kak Angkasa tidak mau menjadi wali."


Angkasa mengusap-usap punggung sang adik dengan lembut. "Kamu sudah dewasa Dek. Kamu sudah bisa menentukan jalan hidupmu sendiri. Namun satu pesan Kakak, kamu harus berani bertanggungjawab atas jalan yang sudah kamu pilih. Bagaimana keadaanmu nanti, kamu harus bisa melewati itu semua dengan penuh tanggung jawab."


"Iya Kak... Aya mengerti!"


Cahya melepaskan dirinya dari pelukan sang kakak. Kini pandangan matanya tertuju pada sosok wanita paruh baya yang sejak tadi tiada henti menangis. Hati Cahya kian berdenyut nyeri kala tersadar jika dirinya sendiri lah yang menjadi penyebab air mata sang ibu mengalir deras.


Cahya menggeser tubuhnya. Ia bersimpuh di atas pangkuan Bintari. Ia benamkan wajahnya di sana. Wanita itu menangis sejadi-jadinya di atas pangkuan sang ibu.


"Maafkan Aya, Bu. Maafkan Aya karena sudah membuat Ibu berada di dalam situasi sulit seperti ini."

__ADS_1


Bintari menggelengkan kepala. Ia usap pucuk kepala Cahya yang berbalut hijab itu dengan penuh kasih. "Tidak Nak, kamu tidak salah apa-apa. Mungkin kamu dan juga ayahmu sama-sama kekeuh dalam pendirian sehingga situasinya menjadi seperti ini."


"Aya merasa kalut harus bagaimana, Bu. Aya tidak bisa menerima perjodohan dengan anak sahabat ayah karena Aya tidak mencintai lelaki itu. Hanya mas Awan yang Aya cintai, Bu."


"Iya Nak, Ibu mengerti. Sudah, jangan kita bahas lagi. Saat ini kamu sudah sah menjadi istri dari lelaki yang kamu cintai. Ibu berdoa semoga hidupmu senantiasa dipenuhi oleh kebahagiaan dunia dan akhirat."


Bintari memegang pundak Cahya. Ia tegakkan tubuh putrinya ini. Hingga saat ini pandangan keduanya saling mengunci. Perlahan, Bintari mengecup kening Cahya dengan lembut.


"Hiduplah dengan bahagia Nak. Doa Ibu tidak akan pernah berhenti untukmu."


"Terima kasih Bu."


Bintari melabuhkan pandangannya ke arah Awan yang saat ini duduk di samping Marni. Wanita itu menyunggingkan seutas senyum di bibir.


"Nak Awan!"


"Iya Bu?"


"Kemarilah!" pinta Bintari untuk berada di samping Cahya.


Awan menurut. Ia berjongkok di depan sang mertua sebagai salah satu bentuk rasa hormatnya.


"Ibu titipkan Cahya kepadamu. Jangan pernah kamu lukai hatinya. Jangan pernah kamu khianati cintanya dan jangan pernah kamu sakiti fisiknya. Ingat ya Nak, jangan sekalipun kamu membuat Cahya menangis kecuali tangis bahagia."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2