
"Bunda, ayah kok tidak pernah datang ke sini? Memang ayah ada di mana, Bunda?"
Cahya yang tengah menyiram tanaman di halaman rumah yang ditempati oleh sang Angkasa, seketika ia hentikan aktivitasnya. Wanita itu memilih untuk menghampiri sang anak terlebih dahulu.
Cahya duduk di samping Alina. Ia mengulas sedikit senyum di bibir kala mendengar pertanyaan dari sang anak. Akhirnya sesuatu yang ia takutkan terjadi, di mana salah satu dari putrinya menanyakan perihal keberadaan sang ayah.
Ada perasaan getir yang menerpa. Ia masih teramat takut jika sampai perpisahan yang nantinya terjadi akan membuat psikis kedua putrinya down. Namun, sekarang atau nanti ia harus bisa jujur kepada kedua putrinya sembari memberikan sebuah pemahaman yang mudah dimengerti.
"Nak, Bunda minta maaf ya. Sepertinya Bunda dan ayah sudah tidak bisa bersama-sama lagi," ucap Cahya lirih sembari menggenggam jemari kecil Alina.
"Tidak bisa bersama-sama itu bagaimana Bunda?" tanya Alina balik, yang belum terlalu paham dengan perkataan sang bunda.
"Ya Bunda dan ayah tidak bisa hidup sama-sama lagi. Kita nantinya akan hidup terpisah dengan ayah."
"Hidup terpisah? Apakah itu sama dengan Kayla teman Alina? Kayla sering cerita kalau papa dan mamanya juga tidak hidup sama-sama?" tanya Alina semakin penasaran sembari mengerutkan kening.
Cahya mengangguk pelan. "Iya Nak, seperti itu."
"Memang kenapa Bunda? Kenapa Bunda dan ayah tidak bisa hidup sama-sama lagi? Apa karena ayah terlalu sibuk yang membuat Bunda tidak ingin hidup sama ayah lagi?"
Cahya kembali mengulas senyum di bibir. Ia rengkuh tubuh kecil Alina untuk ia bawa ke dalam dekapan.
"Nak, ada satu hal yang membuat Bunda tidak bisa hidup bersama lagi dengan ayah. Sesuatu yang belum bisa Bunda ceritakan kepada Alina secara detail. Yang jelas, jika Bunda tetap meneruskan hidup bersama ayah, itu justru hanya akan membawa keburukan. Oleh karena itu Bunda memilih untuk berpisah dari ayah."
"Kenapa bisa seperti itu Bunda?"
"Nanti Kakak pasti akan paham dengan sendirinya."
***
Mobil yang dikemudikan oleh Angkasa berhenti di halaman rumah yang sebelumnya di tempati oleh Cahya. Ia menatap lekat suasana halaman rumah ini. Terlihat begitu tak terurus. Rumput-rumput liar di taman terlihat sudah lumayan lebat dan tinggi.
"Kamu yakin akan membawa anak-anak untuk bertemu dengan Awan, Ay?"
Angkasa bertanya sekali lagi untuk memastikan. Waktu satu minggu ia rasa masih belum cukup untuk membalut luka batin sang adik. Ia khawatir jika saat ini ia bertemu dengan Awan justru akan kian meruntuhkan kekuatan hatinya.
Cahya sejenak melirik ke arah bangku belakang di mana kedua putrinya terlihat lelap dalam tidurnya. Kemudian ia kembali menoleh ke arah depan di mana pintu rumah ini nampak tertutup rapat.
__ADS_1
"Cepat atau lambat anak-anak pasti akan tahu tentang apa yang terjadi kepada orang tuanya Kak. Aku rasa ini waktu yang tepat untuk memberitahu secara langsung ke anak-anak."
"Lalu, bagaimana dengan hatimu Ay? Apa kamu siap untuk bertemu dengan Awan bahkan mungkin saat ini dia sedang bersama wanita itu?"
Cahya tersenyum sumbang. Sekelebat adegan-adegan syur yang ia lihat beberapa waktu yang lalu tetiba memenuhi pikirannya.
"Aku sudah tidak terlalu peduli Kak. Mau mas Awan berbuat apa saja dengan Mega, itu semua terserah dia. Saat ini aku hanya fokus dengan sidang perceraianku, di mana tiga hari lagi akan digelar dan juga fokus ke psikologis anak-anak. Meskipun aku tahu ini semua akan membuat mereka terpukul namun aku akan berusaha semampuku untuk membalut luka anak-anakku."
"Benar-benar brengsek suamimu itu. Hanya karena na*fsu sesaat, tanpa sadar ia telah menghancurkan semuanya. Terlebih lagi menghancurkan mental anak-anak," geram Angkasa sembari mengepalkan telapak tangannya. Jika mengingat apa yang sudah dijanjikan oleh Awan, ingin rasanya ia memeng*gal kepala lelaki laknat itu.
"Sudahlah Kak. Aku sengaja datang kemari dengan membawa anak-anak, untuk memberi kesempatan kepada mas Awan agar ia minta maaf kepada kedua anaknya."
Angkasa membuang napas sedikit kasar dan ia pun hanya bisa menuruti apa yang menjadi rencana adik semata wayangnya ini.
"Baiklah kalau begitu. Ayo kita masuk!"
Cahnya menepuk-nepuk paha kedua putrinya bergantian untuk membangunkan mereka yang tengah terlelap.
"Kita bertemu dengan ayah dulu ya Nak. Mungkin ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh ayah ke kalian," ucap Cahya kala melihat kedua anaknya sudah bangun dari tidurnya.
Keduanya hanya menganggukkan kepala dan bergegas keluar dari dalam mobil. Diikuti oleh Cahya dan Angkasa di belakang mereka.
"Loh, Bunda, mengapa ada tante ini di rumah ayah? Bukankah tante ini yang dulu ada di kantor ayah?" tanya Malika yang sepertinya ingatannya masih begitu kuat dengan sosok Mega yang pernah ia jumpai di kantor Awan.
"Nanti tanyakan langsung sama ayah saja ya Nak, biar ayah yang menjelaskan." Cahya kembali fokus menatap Mega yang masih dalam mode keki ini. "Bisa minta tolong panggilkan mas Awan? Aku ingin bicara sebentar dengannya."
Tanpa basa-basi Mega bergegas masuk ke dalam kamar. Ia panggil Awan yang masih menutupi tubuh polosnya dengan selimut tebal itu.
"Ada apa Han?"
"Itu istrimu datang. Segera temui dia Mas. Tanyakan apa keperluannya datang kemari dan setelah itu usir dia dari sini!" titah Mega dengan ketus. Nampak sekali di raut wajahnya jika ia tidak menginginkan kehadiran Cahya.
Awan bergegas mengenakan kembali pakaiannya, kemudian segera menuju ruang tamu.
"Kakak, Adek???" pekik Awan kala melihat kedatangan kedua putrinya. Ia seakan tidak peduli dengan keberadaan Cahya dan yang ia pedulikan adalah kedua anaknya.
Awan mendekat ke arah Alina dan Malika dengan merentangkan kedua tangannya. Bahasa tubuh lelaki itu seakan berbicara jika ia ingin sekali memeluk kedua putrinya.
"Alina tidak mau!"
__ADS_1
"Malika tidak mau!"
Kedua anak kecil itu sama-sama berteriak untuk menolak niatan sang ayah. Keduanya berhamburan memeluk kaki Angkasa sebagai isyarat jika merka tidak mau disentuh oleh Awan.
"Ini Ayah, Sayang. Mengapa kalian tidak mau dipeluk oleh Ayah?"
"Ayah jahat!" teriak Alina.
"Iya, Ayah jahat!" timpal Malika untuk mendukung suara sang kakak.
"J-jahat? Jahat kenapa Nak?" tanya Awan seperti orang yang kebingungan. Ia melirik ke arah Cahya dengan lirikan maut. "Apa yang kamu katakan kepada anak-anak sampai membuat mereka mengatakan bahwa aku ini jahat, Ay? Sudah kamu doktrin dengan cerita apa anak-anak ini?"
Cahya tersenyum sumbang. Bisa-bisanya Awan menyalahkannya. Padahal sangat pantas jika anak-anak mengatakan hal itu.
"Tanyakan pada dirimu sendiri, Mas. Karena pertanyaan seperti itu hanya kamu yang bisa menjawabnya."
"Ayah ternyata mengajak tante ini untuk menginap di sini. Ayah jahat!" teriak Alina dengan kencang.
Teriakan Alina sukses membuat Awan terhenyak. Ia baru sadar jika keberadaan Mega lah yang membuat anak-anak mengatainya jahat.
"Eh, tante itu hanya sedang main ke sini Nak. Tante itu tidak menginap," kilah Awan yang tidak mau terlihat buruk di depan anak-anaknya. "Kalian nanti tidur di sini dan tinggal sama Ayah, kan?"
Alina menggelengkan kepala. "Tidak, Alina tidak mau tinggal dengan Ayah. Alina tinggal sama Bunda saja. Ayah jahat!"
"Iya, Malika juga mau tinggal sama Bunda saja. Malika tidak suka ada tante-tante seksi itu!"
"Tapi...."
"Cahya? Kamu pulang Nak?"
Ucapan Awan terpangkas kala tiba-tiba terdengar suara seseorang yang cukup familiar di telinga Cahya. Cahya menautkan pandangannya ke arah sumber suara dan...
"Ibu....."
.
.
.
__ADS_1