Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 117. Menceraikan


__ADS_3


Hoekkk... Hoekkk.... Hoekkk...


Awan baru saja memuntahkan seluruh isi di dalam perut. Melihat wajah Mega yang berjerawat bahkan sampai bernanah, sungguh membuatnya mual. Lelaki itu teramat jijik dengan wajah istrinya ini.


"Mas, a-aku bisa jelaskan semua. Tolong jangan menghindar dariku!"


Mega bangkit dari posisinya. Ia ayunkan tungkai kakinya untuk mendekat ke arah sang suami. Mencoba untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Stop Meg! Jangan dekat-dekat denganku. Wajahmu sungguh menjijikkan sekali!"


Awan beringsut mundur kala Mega mendekat ke arahnya. Ia tidak ingin muntah lagi karena wajah sang istri yang begitu menjijikkan ini. Sudah persis seperti seseorang yang terkena penyakit kulit bertahun-tahun yang tidak kunjung sembuh.


Mega terhenyak melihat respon yang ditampakkan oleh Awan. Air mata yang sebelumnya mulai reda, kini kembali tumpah ruah membasahi wajah. Tangis yang sebelumnya terhenti kini kembali terdengar dari bibir wanita itu. Mega sungguh tidak menyangka jika Awan akan memberikan respon demikian. Ia yang mengira Awan akan berada di sampingnya untuk menguatkan, yang terjadi justru sebaliknya. Suaminya itu sama sekali tidak mau untuk dekat-dekat dengannya.


"Mas kumohon jangan seperti ini. Saat ini aku sedang terkena musibah, seharusnya kamu turut menguatkanku."


"Aku benar-benar heran. Kemarin wajahmu tidak sehancur ini tapi mengapa hanya dalam waktu semalam berubah hancur seperti ini? Apa yang sebenarnya kamu lakukan?"


Berjuta pertanyaan muncul di benak Awan akan perubahan wajah Mega yang terkesan begitu cepat. Semua seakan terjadi begitu tiba-tiba. Tiba-tiba wajahnya kusam, tiba-tiba wajahnya berjerawat, dan tiba-tiba sekarang bernanah. Sungguh sangat di luar nalar.


Kardi menatap iba akan keadaan anak semata wayangnya ini. Hati pria paruh baya itu seakan ikut teriris perih melihat sang anak ditolak mentah-mentah keberadaannya oleh suaminya sendiri.


Ya Allah, apakah ini buah dari perilaku Mega yang sudah durhaka kepada ibunya dan yang telah menjadi perebut suami orang? Astaghfirullah, aku baru sadar ternyata selama ini aku juga salah. Aku justru mendukung anakku terjerumus dalam kubangan dosa dan nista itu. Ampuni aku ya Allah.


"Wan, apa yang menimpa Mega saat ini karena ia telah melanggar pantangan dari susuk yang ia tanam. Beberapa bulan terakhir, Mega memakan pisang mas yang merupakan pantangan dari susuk itu. Dan karena sudah terlalu lama, maka wajah Mega tidak bisa kembali seperti sedia kala."


"Apa? Susuk?" pekik Awan dengan kedua mata yang membulat penuh. Awan menautkan pandangannya ke arah Mega yang masih tenggelam dalam tangis. "Jadi selama ini kamu memakai susuk untuk memikatku Meg?"

__ADS_1


Mega sama sekali tidak merespon pertanyaan Awan. Bahkan menjawab dengan anggukan kepala pun tidak.


"Jawab Mega! Apa benar kalau selama ini kamu memikatku dengan susuk itu?" timpal Awan dengan suara lebih lantang dari sebelumnya.


Mega ciut nyali. Tubuhnya sedikit tersentak karena begitu kaget mendengar suara Awan yang menggelegar.


"I-iya Mas. Aku memang memasang susuk pemikat agar para lelaki yang melihatku terpesona. Dan ternyata kamu lah yang terpikat oleh daya tarikku."


"Astaga .... Ternyata kamu yang sudah menjadi penghancur rumah tanggaku dengan Cahya, Meg. Karena susuk itulah yang membuat aku sampai bercerai dengan Cahya."


Kardi terhenyak mendengarkan perkataan Awan. Ia tidak terima jika sang anak yang dituduh menjadi satu-satunya penyebab kehancuran rumah tangga Awan dengan mantan istrinya.


"Cukup Wan, kamu tidak bisa menyalahkan sepenuhnya perkara itu hanya kepada Mega. Kamu pun juga bersalah karena tidak bisa menjaga pandangan, hati dan juga nafsumu sampai-sampai kamu berbuat zina dengan anakku."


"Tapi itu semua tidak akan pernah terjadi jika Mega tidak memakai susuk itu Pak," kilah Awan membela diri.


"Kamu juga sama bersalah karena tidak bisa menahan nafsumu dan tidak bisa bersyukur atas semua yang ada pada diri istrimu. Kamu itu sudah kufur nikmat, Wan."


"Aaarrrrggggghhh .... Jan*ukkk semua. Mengapa semua bisa jadi seperti ini?" teriak Awan begitu lantang sembari mengacak rambutnya kasar.


"Sudahlah Wan, saat ini bukan lagi mencari siapa yang benar dan siapa yang salah. Semua sudah terjadi dan saat ini harus segera dicari jalan keluarnya."


Awan mendudukkan tubuhnya di atas sofa yang berada di dalam kamar. Lelaki itu memijit-mijit pelipis, seakan begitu buntu untuk mencari jalan keluar.


"Jalan keluar seperti apa Pak? Lagi pula wajah Mega pasti juga tidak akan bisa kembali seperti sedia kala kan?"


"Meskipun wajah Mega tidak bisa pulih seperti sedia kala, tapi setidaknya kamu harus selalu berada di samping Mega untuk menguatkan Wan. Saat ini Mega hanya membutuhkan seseorang yang bisa memberikan dukungan secara moril. Terlebih dukungan dari suaminya sendiri."


"Bagaimana bisa aku memberikan dukungan moril untuk Mega, jika aku sendiripun jijik untuk berada di dekatnya Pak? Lagipula saat ini aku adalah seorang pengusaha kuliner sukses yang dikenal oleh banyak orang. Mau ditaruh di mana mukaku jika sampai ada rekan-rekan bisnisku yang tahu bahwa aku memiliki istri buruk rupa seperti Mega ini Pak? Aku malu!"

__ADS_1


"Kalau begitu kamu bisa membawa Mega untuk berobat, Wan. Saat ini alat-alat kedokteran sangatlah canggih. Mungkin Mega bisa operasi plastik untuk mengembalikan wajahnya seperti sedia kala," usul Kardi.


"Apa? Operasi plastik? Hahaha jangan ngadi-adi deh Pak!"


"Ngadi-adi bagaimana Wan? Itu merupakan salah satu solusi agar wajah Mega bisa kembali seperti sedia kala. Kamu tinggal mengeluarkan uang untuk membiayai operasi plastik Mega."


Awan menggelengkan kepala. "Tidak Pak, aku tidak mau. Teramat sayang aku mengeluarkan uang untuk hal-hal tidak penting seperti itu!"


"Apa kamu bilang Wan? Tidak penting?" tanya Kardi dengan kedua bola mata yang membeliak. Ia dekati menantunya ini dan...


Plak... Plak.... Plak....


"Mega ini istrimu Wan. Sebagai seorang suami kamu harus bertanggung jawab atas kebahagiaan istrimu. Ingat, saat ini Mega juga tengah mengandung darah dagingmu."


Awan memegang pipinya setelah Kardi berhasil melayangkan tamparan di pipi. Lelaki itu sedikit meringis menahan sensasi rasa perih di syaraf-syaraf pipinya.


"Aku tidak akan pernah membiayai Mega untuk operasi plastik Pak, karena bagiku dia ataupun anak yang ada di dalam kandungannya itu sudah tidak lagi penting."


"Tidak penting? Tidak penting bagaimana maksudmu Wan?" tanya Kardi mencoba untuk bertanya apa maksud dari ucapan menantunya ini.


"Aku sudah membuat sebuah keputusan, Pak. Keputusan yang harus Bapak dan Mega terima."


"Maksudmu bagaimana Wan? Tolong jangan bertele-tele seperti ini. Bapak sungguh tidak paham."


Awan membuang napas kasar. Ia tautkan pandangannya ke arah Mega yang sedari tadi memilih untuk diam tak bicara sepatah katapun.


"Mega, aku ceraikan kamu! Mulai detik ini kamu bukanlah istriku lagi!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2