Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 30. Terkejut


__ADS_3


"Iihhhh Mas .... Sebenarnya kita ini mau kemana sih, mengapa mataku pakai acara ditutup seperti ini?"


Entah sudah ke berapa kalinya Mega menanyakan hal itu kepada Awan. Namun lagi-lagi hanya dijawab dengan gelak tawa oleh lelaki itu. Sikap Awan inilah yang membuat Mega semakin penasaran.


Bagaimana tidak penasaran? Awan datang ke kos miliknya dan tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba memintanya untuk izin tidak masuk kerja. Belum sempat Mega tahu apa alasannya, Awan kembali membuatnya bertanya-tanya karena pada saat di dalam mobil, lelaki itu memintanya untuk menutup matanya dengan selembar kain. Dan saat ini ia tidak tahu ke arah mana mobil Awan ini melaju.


"Sabar Honey. Sebentar lagi kita akan sampai!" ucap Awan sembari fokus dengan kemudinya.


"Dari tadi sebentar-sebentar lagi Mas. Padahal sudah ada setengah jam lebih mataku ditutup seperti ini. Sebenarnya kita itu mau kemana sih?"


"Nanti kamu juga akan tahu Honey. Sabar ya!"


Meskipun dalam keadaan mata tertutup, namun bibir wanita itu masih sempat untuk mengerucut. Bahkan berkali-kali ia mendengus kesal karena Awan tidak bisa memupus semua tanda tanya yang bercokol di dalam otak.


"Untung aku cinta sama kamu Mas. Kalau tidak, aku bakalan tidak mau pakai acara ditutup mata seperti ini!"


"Hahahaha benarkah seperti itu Han? Tapi tidaklah mengapa. Aku yakin setelah kamu melihat apa yang ada di depan matamu nanti, kamu akan semakin cinta kepadaku."


"Issshhhhh ... Memang apa sih Mas? Aku penasaran sekali."


Tidak ada lagi jawaban ataupun respon dari Awan. Lelaki itu masih tetap fokus pada jalanan yang di sisi kanan kirinya sudah terbentang hamparan tanaman padi yang telah menguning. Area persawahan inilah yang menjadi bukti jika tujuan Awan berada di kawasan yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota.


Awan mengarahkan laju mobilnya memasuki area rumah yang akan ia berikan untuk Mega. Lelaki itupun mematikan mesin mobil setelah tiba di tempat yang ia tuju. Namun sebelum ia menunjukkan rumah mewah yang ada di hadapannya ini adalah rumah untuk sang kekasih, Awan mengeluarkan kotak merah berisikan berlian terlebih dahulu dari dalam dashboard.


"Sekarang, boleh kamu buka Han dan menghadaplah ke arahku!"


Mega menurut apa yang menjadi titah sang kekasih. Ia menggeser tubuhnya untuk menghadap ke arah di mana Awan berada. Dengan perlahan, Mega membuka kain penutup mata yang sedari tadi telah mengekangnya dalam kegelapan. Seperti seorang tunanetra yang sama sekali tidak dapat menangkap cahaya dari sekelilingnya.


Kelopak mata Mega mulai terbuka sedikit demi sedikit. Ia mengerjap untuk menyesuaikan cahaya penglihatannya dan tubuh wanita itu sedikit terperanjat kala melihat sebuah kotak warna merah yang dipegang oleh Awan.


"I-ini apa Mas?" tanya Mega dengan sedikit tergagap.


Awan tersenyum tipis. Sebelah tangannya meraih tangan Mega dan ia kecup buku-buku jemari wanita ini dengan intens.


"Sesuatu yang sangat spesial untuk wanita spesial dalam hidupku. Terimalah Honey!"


Masih berada di dalam mode terkejut, Mega menerima kotak merah pemberian Awan. Dengan tangan yang sedikit tremor ia buka kotak itu.


"Mas .... Ini?"


Suara Mega tercekat di dalam tenggorokan. Ia seperti tidak mampu untuk melanjutkan kalimatnya. Rasa bahagia yang bergejolak dalam dada seakan membungkam bibirnya hingga tak mampu untuk membuatnya berucap.


"Iya Honey, berlian ini untukmu. Bagaimana? Apakah kamu menyukainya?"


"Aaaahhhhh ... Ini cantik sekali Mas. Aku menyukainya!"


Tanpa banyak berkata Mega memeluk erat tubuh lelaki di hadapannya ini. Sebagai ungkapan rasa bahagianya karena sudah diberi perhiasan mewah, mahal dan baru sekali ini ia temui.


Awan mengusap-usap punggung Mega dengan lembut. Ia berikan kecupan-kecupan kecil di atas pundak wanita simpanan yang begitu ia cintai.

__ADS_1


"Aku bahagia jika kamu menyukainya, Honey. Tidak hanya ini saja. Aku masih punya kejutan kedua untukmu!"


Mega semakin dibuat terkejut. Ia urai pelukannya dari tubuh Awan dan menatap bola mata lelaki ini dengan penuh tanda tanya.


"Kejutan kedua? Apa itu Mas?"


"Lihatlah ke arah belakang punggungmu Han!"


Masih dengan kernyitan di dahi, Mega menuruti permintaan Awan. Wanita itu berbalik badan dan terlihat sebuah rumah megah yang berdiri di sana.


"Memang ada apa Mas?" tanyanya penasaran.


"Menurutmu, bagaimana rumah yang berdiri di hadapanmu itu Han?"


"Hmmmmmm ... Desainnya modern dan terlihat mewah Mas."


"Kamu suka?"


Dahi Mega kembali berkerut. Ia berbalik badan untuk bisa menatap wajah Awan lagi. Mega semakin keheranan karena pertanyaan yang dilontarkan oleh Awan sungguh tidak dapat ia mengerti.


"Pertanyaan macam apa itu Mas? Memang apa hubungannya denganku sampai kamu bertanya suka atau tidak."


"Tinggal jawab saja. Suka atau tidak Han. Simple kan?"


"Suka, karena desain rumah ini begitu kekinian meskipun berada di pinggiran kota. Memang kenapa Mas?"


"Kalau kamu suka, boleh kamu tempati Han!"


"Boleh aku tempati? Memang ini rumah milik siapa? Jangan bercanda kamu Mas!"


Awan terbahak seketika. Melihat raut wajah Mega yang kebingungan seperti ini sungguh membuatnya gemas sekali. Jemari tangan Awan terulur untuk membelai pipi dan menyentuh bibir kekasih gelapnya ini. Tatapannya juga terlihat begitu teduh saat bersiborok dengan netra milik Mega.


"Mulai sekarang, rumah ini adalah milikmu Han. Rumah inilah yang menjadi kejutan kedua yang sudah aku persiapkan untukmu. Hari ini aku sengaja mengajakmu kemari untuk langsung bertemu dengan developer dan notaris untuk melakukan transaksi jual beli. Bagaimana? Apakah kamu bahagia?"


Bibir Mega masih menganga lebar kala mendengar tiap kata yang terlisan dari bibir Awan. Wanita itu masih begitu terkejut dengan kejutan demi kejutan yang diberikan oleh Awan. Ia seakan mendapatkan durian runtuh karena bertubi-tubi ia dihujani oleh kebahagiaan seperti ini.


"Terima kasih Mas. Terima kasih!"


Mega tidak lagi bisa berucap apapun selain ucapan terima kasih. Ia menghamburkan tubuhnya di dalam dekapan Awan untuk mencurahkan rasa cinta yang ia miliki untuk lelaki ini. Berkali-kali, Mega menghujani Awan dengan ciuman-ciuman mesra di bibir, di wajah, dan juga di ceruk leher lelakinya ini.


"Aaaahhhh ... Selalu saja begini Han!"


Hasrat yang ada di dalam raga Awan seakan tidak bisa terbendung lagi kala bibir sensual Mega menjelajahi ceruk lehernya. Alhasil, benda pusaka miliknya yang berada di bawah sana mulai berdiri tegak meminta untuk dipuaskan.


Mega tersenyum genit. Ia membuka res*leting celana yang dipakai oleh Awan dan ia raba benda pusaka milik kekasihnya ini.


"Keluarkan saja jika sudah tidak bisa menahannya Mas!"


"Aaahhhhh ... Sh*itt!!! Kamu sungguh bi*nal Han!"


Dibakar oleh gelora na*fsu terlarang, Awan semakin kesulitan untuk mengendalikan diri. Ia atur sandaran kursi kemudi agar bisa lebih rendah. Hingga kini tubuh lelaki itu setengah terlentang. Tanpa basa-basi ia dorong tengkuk Mega untuk bisa memanjakan miliknya yang sudah menegang. Ia tidak ingin begitu saja melewatkan momen ini sebelum semburan lava pijar berhasil keluar dari benda pusaka miliknya.

__ADS_1


"Ohhh ... Yeaaahhhh .... Terus seperti itu Han. Itu nikmat sekali!"


***


"Sudahlah Lang, santai saja. Kita hanya telat beberapa menit dari janji yang sudah disepakati. Client mu itu pasti mengerti."


Bimasakti, seorang notaris yang sekaligus sahabat Langit, entah sudah berapa kali membujuk Langit agar tidak terlalu risau dengan sedikit keterlambatan yang terjadi. Ia yakin jika client sahabatnya ini pasti akan mengerti dan memaklumi.


Langit hanya bisa membuang napas kasar. Karena ada kecelakaan di perjalanan menuju tempat di mana ia akan bertemu dengan Awan, membuatnya terlambat. Ia khawatir jika sampai membuat Awan kecewa.


"Aku hanya khawatir client ku ini kecewa karena keterlambatan ini Bim. Siapa tahu dia sudah lama menunggu."


"Apa yang kita temui di jalan tadi merupakan sebuah kecelakaan Lang, siapapun tidak ada yang bisa memprediksi. Tenang, kita sudah sampai di lokasi!"


Bima yang bertugas mengemudikan mobil, sedikit mentransfer rasa tenang dan santai untuk Langit saat mobil yang ia kemudikan sudah tiba di lokasi. Dari kejauhan sudah terlihat mobil warna terparkir lebih dulu di sana.


Bima menghentikan laju mobilnya dengan jarak beberapa meter di belakang mobil Awan. Ia dan Langit bergegas untuk turun dari mobil.


"Di mana clientmu Lang? Mengapa tidak nampak sama sekali?" tanya Bima sembari mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling.


Langit juga turut melihat ke arah sekitar sembari berjalan pelan untuk mencari keberadaan Awan. Namun tetap saja tidak dapat ia temukan batang hidung lelaki itu.


"Aku juga tidak tahu Bim. Seharusnya dia ber...."


Ucapan Langit terpangkas dan langkah kakinya terhenti kala sayup-sayup terdengar suara de*sahan yang berasal dari dalam mobil milik Awan. Ia pertajam indera pendengarannya. Langit hanya bisa berdecak pelan sembari menggelengkan-gelengkan kepala.


Astaga ... Aku kira mbak Cahya itu orang yang kalem dan polos. Ternyata dia juga bisa memanjakan suaminya di dalam mobil seperti ini. Ya Allah ... Kalau seperti ini jiwa lajangku seakan meronta.


"Hei Lang! Kamu kenapa? Kesambet kah? Kok tiba-tiba bengong seperti itu?" timpal Bima yang seketika membuyarkan pikiran Langit yang sudah berkelana jauh entah sampai mana.


Langit terkesiap. Suara de*sahan dari dalam mobil ini seakan turut membawa pikirannya ke hal-hal yang sedikit nakal.


"Astaghfirullahalazim..." Langit mengusap kasar wajahnya. Mencoba untuk terlepas dari bayang-bayang sepasang suami-istri yang tengah asyik bercinta di dalam mobil.


"Nah kan, kamu ini kenapa Lang? Kok tiba-tiba beristighfar seperti itu? Kamu benar-benar kesambet penunggu pohon itu?" cecar Bima seraya menunjuk ke arah pohon besar yang berada tidak jauh dari rumah ini.


Langit menggelengkan kepala. Buru-buru ia tarik lengan tangan Bima untuk menjauh dari mobil Awan. Ia tidak ingin jika Bima juga mendengarkan apa yang ia dengar. Jika sampai Bima mendengar, bisa-bisa keadaan akan semakin runyam.


"Kita tunggu sini saja Bim!"


Pada akhirnya kedua lelaki itu memilih untuk menunggu Awan di sebuah bangku taman yang berada di belakang mobilnya. Sembari menikmati betapa sejuk dan asrinya alam pedesaan seperti ini, pikiran Langit masih belum bisa beralih dari bayang-bayang aktivitas di dalam mobil itu.


Sepuluh menit berlalu dan mereka masih setia menunggu. Sampai pada satu waktu, pintu mobil Awan dibuka dan keluarlah dua orang dari dalam sana.


"Maaf menunggu terlalu lama ya Pak Langit!" teriak Awan.


Langit menoleh ke arah dua orang yang berjalan ke arahnya. Tubuhnya tiba-tiba terpaku dan membeku saat melihat sosok wanita yang berjalan di sisi Awan. Wanita yang tidak mengenakan hijab sama sekali dan wajahnya jauh berbeda dengan wanita yang pernah ia tolong ketika mobil yang dikendarai mogok di pinggir jalan.


Siapa wanita itu? Mengapa bukan dengan mbak Cahya pak Awan datang kemari? Apakah itu.... Ya Allah, jangan-jangan suami mbak Cahya berselingkuh.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2