Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 6. Masakan Apa Ini?


__ADS_3


Mentari pagi mulai merangkak naik ke singgasana. Menggantikan sang rembulan yang telah lelah berjaga semalaman. Anak-anak sinar matahari juga turut menembus tirai putih di jendela. Memberi sensasi rasa hangat yang memeluk raga.


Cahya sudah terlihat sibuk di pagi hari ini. Selepas menunaikan ibadah shalat subuh beberapa jam yang lalu, ia mulai sibuk berjibaku dengan pekerjaan di dapur. Mulai menanak nasi, membuat sayur, menggoreng lauk dan menyiapkan bekal untuk kedua putrinya. Semua akan terasa lebih ringan jika pekerjaan di dapur sudah selesai semua.


"Ay, apa ada yang bisa Ibu bantu? Sepertinya kamu kerepotan sekali, Nak!"


Suara Marni yang tiba-tiba terdengar di indera pendengaran, membuat Cahya sedikit terkejut. Ia hentikan sejenak aktivitasnya dan menoleh ke arah sumber suara. Nampak sang ibu mertua sudah menyusulnya di dapur.


"Sudah Bu, tidak perlu. Ini sebentar lagi selesai. Oh iya, apa Ibu ingin minum teh? Atau wedang jahe? Biar Aya buatkan," tawar Cahya kepada sang ibu mertua. Karena biasanya ibu mertuanya ini suka sekali minum wedang jahe.


Marni tersenyum simpul. Wanita paruh baya itu seakan begitu bahagia bisa memiliki menantu seperti Cahya. Wanita berhati mulia dan seorang wanita yang begitu cekatan dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Sungguh sangat jarang ditemui wanita yang seperti itu di zaman seperti ini.


"Tidak Ay. Ibu tidak ingin minum apapun pagi ini. Ibu hanya ingin menemanimu memasak."


Cahya terkekeh lirih. "Kalau hanya sekedar menemani tidak apa-apa Bu. Tapi kalau membantu, jangan. Karena ini semua sudah hampir selesai."


Cahya mulai memasukkan aneka sayuran ke dalam panci. Pagi ini, ia sengaja memasak sup iga yang merupakan kesukaan sang suami. Berharap, Awan akan merasa senang karena telah dibuatkan makanan yang disukai.


Harum aroma khas iga sapi mulai menguar memenuhi area dapur pagi hari ini. Sembari menunggu semua matang, Cahya tak lupa membuat jus apel. Semua pekerjaan di dapur hampir saja selesai meskipun hanya ia kerjakan sendirian.


"Ay, hari ini anak-anak sekolah bukan?" tanya Marni.


Cahya menganggukkan kepala. "Benar Bu. Hari ini hari Senin, jadi anak-anak sudah mulai masuk sekolah. Memang ada apa Bu?"


"Selepas mengantarkan anak-anak, pergilah ke salon dan ke mall, Ay. Ibu yakin di sana tubuhmu akan terasa jauh lebih rileks dan pikiranmu semakin fresh."


Apa yang dilakukan oleh Awan kepada Cahya kemarin, sungguh membuat hati Marni sedikit mencelos. Sikap dan perilaku Awan pastilah membuat sang menantu kecewa, namun wanita itu berupaya keras untuk menyembunyikannya. Marni berpikir dengan jalan-jalan ke mall dan memanjakan tubuhnya di salon, kondisi hati Cahya bisa kembali seperti sedia kala.


Cahya sedikit terkejut kala mendengarkan saran dari sang ibu mertua. Karena tidak biasanya Marni memintanya untuk pergi ke mall ataupun ke salon. Cahya baru ingat jika kemarin, Marni mendengar perdebatan antara dirinya dengan Awan. Mungkin karena hal itulah yang membuat Marni menginginkannya untuk sejenak merefresh pikiran dengan jalan-jalan ke mall dan memanjakan diri di salon.


"Tapi Bu, jika Aya pergi ke mall dan ke salon, lantas bagaimana dengan Ibu? Aya tidak tega meninggalkan Ibu sendirian di rumah. Nanti kalau Ibu perlu sesuatu bagaimana?"


"Nak, untuk kali ini kamu tidak perlu memikirkan Ibu. Pikirkan kewarasan dan kesehatan mentalmu sendiri. Kamu butuh refreshing Nak. Sudah lama juga kamu tidak jalan-jalan ke mall dan ke salon bukan?"


Cahya nampak berpikir sejenak. Ia menimbang-nimbang apa yang diucapkan oleh Marni. Ia berpikir tidak ada salahnya jika sejenak ia memanjakan diri dengan jalan-jalan ke mall dan ke salon.


"Ibu sungguh tidak apa-apa jika Aya tinggal sebentar? Eh tapi ini tidaklah sebentar Bu, karena baru siang hari nanti Aya pulang," tanya Aya memastikan. Dengan keadaan sang ibu mertua yang seperti ini, sungguh membuatnya tidak tega untuk meninggalkannya dalam waktu yang lumayan lama.


Sungguh mulia sekali hatimu Ay. Kamu bahkan jauh memikirkan keadaanku dibandingkan dengan kebahagiaanmu sendiri. Sungguh, Ibu dan Awan begitu beruntung memilikimu, Nak.

__ADS_1


Marni menganggukkan kepala dengan mantap seakan meminta Cahya untuk tidak terlalu risau. "Sungguh tidak apa-apa Nak. Jika Ibu membutuhkan sesuatu, Ibu bisa melakukannya sendiri. Jangan khawatir."


Cahya masih merasa berat hati. Ia menatap lekat manik mata ibu mertuanya ini. Terlihat sorot mata yang teduh terpancar dari sana. Seakan menjadi isyarat jika semua akan baik-baik saja.


"Baiklah Bu. Nanti Aya akan ke mall dan ke salon."


***


"Sudah siap. Ayo kita sarapan. Ayah sudah menunggu di meja makan!"


Menggunakan seragam berwarna biru, Malika dan Alina nampak sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Hari ini merupakan hari pertama mereka masuk sekolah setelah liburan semester.


"Yeaay ... Hari ini kita akan bertemu dengan teman-teman lagi Dek. Senang sekali!"


Alina bersorak kegirangan di depan Malika. Kegembiraan itulah yang seakan menular hingga membuat Malika juga ikut kegirangan.


"Iya Kak, Malika ingin main perosotan sama teman-teman. Sudah lama Malika gak main perosotan. Mainan pasir sama boneka terus di rumah."


Cahya hanya terkikik geli melihat celotehan kedua putrinya ini. Terlebih ditambah bibir Malika yang nampak begitu mengerucut karena rasa bosannya main di rumah.


"Kalau main perosotan dan apapun yang ada di sekolah harus hati-hati ya Sayang. Jangan sampai berebut," ucap Cahya menasihati.


"Tentu Bunda. Kata bu guru di sekolah, kita harus antre dan tidak boleh berebut," cicit Alina.


Ibu dan kedua putrinya itu berjalan bersama menuju ruang makan. Sampai di ruang makan, Awan dan Marni sudah duduk di sana. Awan terlihat masih sibuk dengan gawai di tangan sembari menyeruput kopi yang telah tersedia.


"Mau sarapan sekarang Mas? Aku ambilkan ya?" tawar Cahya setelah mendudukkan kedua putrinya di kursi makan.


"Sebentar Ay. Aku masih ingin menghabiskan kopi ini terlebih dahulu."


Cahya hanya menganggukkan kepala. Ia beralih kepada ibu mertuanya untuk menyiapkan sarapan.


"Ayah, Ayah, hari ini Ayah antar Malika dan kakak ke sekolah ya," pinta Malika kepada sang ayah yang sedari tadi terlihat asyik sendiri dengan ponsel yang ia miliki.


Ucapan sang anak memaksa Awan untuk sejenak mengabaikan ponsel yang ada di tangan. "Nak, maafkan Ayah ya. Hari ini Ayah tidak bisa mengantar kalian ke sekolah. Ayah ada janji bertemu dengan relasi, Sayang."


"Iihhhh .... Ayah kok gitu? Ini hari pertama Alina dan adek masuk sekolah setelah libur satu minggu Yah. Masa Ayah tidak mau mengantarkan kami ke sekolah?" protes Alina.


Cahya yang mendengar itu semua juga sedikit terkejut. Karena biasanya, jika tidak ke luar kota, suaminya ini selalu menyempatkan diri untuk mengantar kedua putrinya.


"Memang janjian jam berapa dan di mana sih Mas? Masa tidak bisa mengantar anak-anak barang sebentar saja?"

__ADS_1


"Jam setengah sembilan aku sudah harus tiba di restoran Lembah Merapi. Di sana aku ada janji dengan relasi bisnis."


"Tapi Mas, ini masih jam tujuh. Jarak rumah ke sekolah anak-anak juga tidaklah jauh bukan? Hanya beberapa menit saja sudah sampai."


"Tapi...."


"Sudahlah Wan, antarkan anak-anak dan juga istrimu!" timpal Marni, memangkas ucapan Awan.


Dahi Awan sedikit berkerut. "Mengantar Cahya? Memang dia mau kemana Bu?"


"Antar istrimu ke mall Wan. Biarkan dia refreshing. Atau temani istrimu jalan-jalan di mall," usul Marni pula.


"Aduh Bu, aku saja tidak bisa mengantarkan anak-anak karena takut terlambat, ini malah disuruh menemani Cahya keliling mall. Yang benar saja Bu!"


Marni dan Cahya saling melempar pandangan. Mereka tidak menyangka jika Awan lebih menomorsatukan pekerjaannya dibandingkan dengan keluarganya.


"Ya sudah, kamu tidak perlu mengantarkanku Mas. Cukup antarkan anak-anak ke sekolah. Jangan kecewakan mereka."


Awan membuang napas kasar. Mau tak mau ia harus menuruti permintaan anak-anaknya kali ini. "Baiklah, aku akan mengantarkan anak-anak tapi tidak untuk mengantarkanmu jalan-jalan atau ke salon Ay."


Kegetiran menyergap dinding hati milik Cahya. Terasa sedikit nyeri namun sebisa mungkin tidak ia perlihatkan di depan ibu mertua, suami dan anak-anak.


"Iya Mas, tidak apa-apa. Nanti biar aku yang jalan sendiri."


"Nah, itu jauh lebih baik. Oh iya, ambilkan aku sarapan sedikit saja karena nanti di restoran pastinya aku juga akan memesan makanan."


Cahya mengangguk patuh. Ia ambil setengah centong nasi lengkap dengan sup iga kesukaan Awan. Tak selang lama, hidangan itupun tersaji di depan Awan.


Awan mulai menyendok makanan yang disediakan oleh Cahya. Perlahan, makanan itu masuk ke dalam rongga mulut dan mulai masuk ke dalam kerongkongan. Namun tak selang lama....


Hoekkkk.... Hoeekkk....


Brak!


"Masakan apa ini Ay? Mengapa terasa asin sekali? Kamu mau membuatku hipertensi?!!!"


Suara gebrakan meja makan itu terdengar memenuhi langit-langit ruangan yang sukses membuat semua yang ada di ruangan ini terkejut setengah mati.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2