
"Nah sudah selesai. Lihatlah hasil make-up ku Meg!"
Seorang MUA yang cukup terkenal di kota ini telah selesai dengan tugasnya. Setelah dua jam lebih ia berkutat dengan alat-alat make-up akhirnya proses merias salah satu kenalannya ini selesai tepat waktu. Dan hasilnya langsung bisa dinikmati oleh Mega sendiri.
"Terima kasih banyak Fan!"
"Coba lihat pantulan wajahmu di cermin! Jika masih ada yang kurang, kamu bisa memberitahuku."
Mega yang sebelumnya berada di posisi duduk, ia geser tubuhnya untuk berdiri. Ia berjalan pelan menuju cermin panjang yang bisa memantulkan bayang tubuhnya dengan sempurna. Mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Mega menatap lekat bayang tubuhnya yang terpantul di sana dan rekahan senyum lebar terlihat jelas di wajah wanita berusia dua puluh lima tahun itu.
"Waaooowwww.. Ini sih sempurna Fan. Tidak terlalu menor dan terlihat natural," ucap Mega memuji hasil make-up Fani. Dari binar wajahnya ia sangatlah puas dengan hasil pekerjaan temannya ini.
"Sungguh, tidak ada yang kurang?" tanya Fani memastikan.
Mega menganggukkan kepala seakan memberikan isyarat agar Fani tidak perlu khawatir. "Tidak Fan. Ini sudah sangat sempurna. Aku yakin para tamu undangan nanti akan terpesona melihatku!"
"Aamiin... Semoga ya Meg." Fani mulai membereskan peralatan make-up yang sebelumnya ia gunakan untuk merias Mega. Wanita itu seperti seseorang yang tengah diburu waktu. "Kalau begitu aku pamit ya Meg. Setelah ini aku juga harus merias lagi."
"Loh kok pulang Fan? Kalau aku butuh mere-touch make up bagaimana?" tanya Mega dengan gusar. Ia hanya ingin penampilannya selalu sempurna saat menjamu para tamu undangan.
"Tenang Meg, tidak perlu khawatir. Ada asistenku di sini. Jadi kamu tidak perlu khawatir apabila make-up nya luntur. Tapi aku jamin tidak akan luntur sih. Karena aku menggnakan produk make up yang top."
"Barangkali saja luntur, Fan."
"Maka dari itu, ada asistenku di sini. Semua keperluan make-up mu biar nanti diambil alih oleh asistenku."
"Hmmmmmmm... Baiklah Fan."
Fani mulai melangkah untuk keluar dari salah satu ruangan yang disediakan oleh pihak hotel untuk merias pengantin. Tak selang lama, bayang tubuh Fani sudah tidak terlihat lagi di netra Mega.
Mega kembali menatap lekat bayang wajahnya di cermin. Senyum berbalut rasa puas, bahgia tercetak jelas. Jika sudah seperti ini, ia sungguh ingin cepat-cepat untuk melangsungkan acara ini.
"Bagaimana Han? Apa sudah siap semua?"
Mega menautkan pandangannya ke arah suara ketika terdengar suara seseorang yang masuk ke ruangan ini. Mega tersenyum penuh arti melihat sang calon suami yang terlihat begitu tampan dan gagah di hari ini.
"Sudah Mas, aku sudah siap. Tinggal menunggu penghulu datang dan juga tamu-tamu undangan."
Awan merapatkan tubuhnya di tubuh Mega. Lelaki itu juga tiada henti menyunggingkan senyum di bibirnya, melihat begitu cantik wanita yang sebentar lagi akan sah menjadi istrinya ini.
__ADS_1
"Sungguh sempurna riasan wajahmu Han! Kamu terlihat cantik sekali."
"Itu sudah jelas Mas. Aku kan memang sudah dasarnya cantik. Jadi diapakan saja tetap cantik."
"Hmmmmm... Iya, iya, aku percaya. Aku memang tidak salah memilih istri."
"Oh iya, apa ibumu benar-benar tidak mau menghadiri acara pernikahan kita ini Mas?"
Pandangan Awan terlihat nyalang ke depan. Meskipun ia berupaya untuk happy, namun kesedihan itu masih bercokol di dalam dada kala sang ibu tidak mau hadir di acaranya ini. Bagi Marni, tidak ada yang pernah bisa menggantikan posisi Cahya.
"Sudahlah, tidak perlu kamu pikirkan. Hari ini adalah hari kebahagiaan kita, jadi kita harus bahagia tanpa memikirkan hal-hal tidak terlalu penting seperti itu."
Mega semakin merekahkan senyumnya, toh tanpa kehadiran sang mertua tidak akan berpengaruh apapun terhadapnya. Mega menggamit lengan tangan Awan dan menyenderkan kepalanya di pundak lelaki ini.
"Aku sudah tidak sabar untuk segera duduk di atas pelaminan bersamamu, Mas."
"Akupun juga begitu Han!"
***
Ijab qobul telah tertunaikan yang menjadi pertanda bahwa Mega dan Awan sudah sah menjadi sepasang suami istri. Mereka terlihat begitu bahagia di hari yang spesial ini.
Prosesi ijab qobul dilaksanakan secara privat, hanya dihadiri oleh beberapa orang saja. Sedangkan untuk acara resepsi, baru akan dilaksanakan secara besar-besaran dengan mengundang semua rekan bisnis Awan dan juga teman-teman Mega. Namun entah apa yang terjadi, sampai saat ini belum ada satupun yang datang.
Wajah yang sebelumnya dihiasi oleh rona kebahagiaan yang kentara, kini mendadak berubah gusar kala para tamu undangan belum ada yang datang satupun. Mega sampai celingak-celinguk ke arah pintu ballroom, untuk menunggu kedatangan para tamunya.
Awan melirik ke pergelangan tangannya. Sudah satu jam lebih dari waktu yang tertera di dalam undangan, namun sama sekali belum tercium aroma-aroma mereka akan datang.
"Tunggu sebentar Han, aku hubungi Dina terlebih dahulu. Karena urusan undangan, Dina lah yang mengatur."
"Cepetan telepon Dina Mas. Masa iya sampai jam segini mereka belum ada satupun yang datang?"
Awan mencoba untuk menghubungi Dina, namun ponsel wanita itu sama sekali tidak aktif. Hal itulah yang membuat Awan semakin frustrasi.
"Tidak aktif Han!"
"Apa kamu bilang Mas? Tidak aktif? Bagaimana bisa ponsel Dina tidak aktif?"
"Aku juga kurang paham Han. Kenyataannya seperti ini."
"Lalu kita harus bagaimana Mas? Semua acara sudah persiapkan dengan matang dan totalitas, namun mengapa sampai seperti ini?"
"Aku juga tidak paham Han." Awan mencoba untuk tetap tenang agar istrinya ini tidak terlalu kepikiran. "Kamu yang tenang ya. Barangkali sebentar lagi mereka akan datang."
__ADS_1
Mau tak mau Mega hanya bisa menuruti ucapan Awan. Dengan bibir mengerucut, ia daratkan bokongnya di atas kursi pelaminan. Menikmati rasa dongkol yang luar biasa.
***
"Mohon maaf Pak Awan, ini bagaimana untuk kelanjutan acaranya? Ini sudah dua jam lebih dari waktu sewa ballroom, Pak."
Manager hotel sampai menyambangi Awan kala merasa ada yang tidak beres dengan acara yang diselenggarakan oleh Awan. Pasalnya sudah lebih dari dua jam, yang bersangkutan belum juga keluar dari area ballroom. Hal itu justru membuat rugi pihak hotel.
"Tolong beri saya ekstra waktu barang satu jam lagi ya Pak. Barangkali mereka masih terkena macet di jalan."
Demi mendapatkan ekstra waktu, Awan sampai mengucapkan alasan yang terdengar begitu menggelitik telinga. Bagaimana mungkin semua tamu undangannya mengalaminya kemacetan dalam waktu yang bersamaan.
"Mohon maaf, tidak bisa Pak. Ini sudah melewati batas toleransi waktu dari kesepakatan awal. Bapak hanya akan menggunakan area ballroom ini sampai pukul satu siang, sedangkan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Jadi, tidak ada ekstra waktu lagi untuk pak Awan."
"Ayolah Pak, tolong saya. Saya masih menunggu kedatangan mereka," pinta Awan dengan memelas.
Manager hotel tetap kekeuh menggelengkan kepala. "Tidak bisa Pak. Ballroom ini harus segera dikosongkan karena sebentar lagi tim WO yang lain akan mempergunakan area ini untuk acara resepsi juga."
Awan melirik ke arah Mega yang hanya duduk termenung di atas kursi pelaminan dengan pandangan kosong menerawang. Nampak jelas rona kesedihan dan kekecewaan di wajah istrinya ini. Awan sampai tidak bisa berkata apapun kepada istrinya ini.
Pandangan Awan bergeser ke arah meja prasmanan dan juga stand-stand kecil yang sudah terhidang beraneka rupa sajian makanan. Sedari tadi makanan sebanyak itu hanya teronggok begitu saja, tidak tersentuh sama sekali. Entah berapa banyak kerugian yang akan ia alami jika semua para tamu undangan tidak hadir di acara resepsi pernikahannya ini.
Aku kira bisa balik modal setelah selesai acara. Namun jika seperti ini, yang ada hanya rugi, rugi, dan rugi. Mana aku sudah menggelontorkan uang seratus juta lebih untuk acara ini lagi. Remuk jummmm....
Awan terlihat hanyut dalam pikirannya sendiri. Sebagai seorang pembisnis, dalam benaknya tidak lepas dari untung dan rugi. Sebelumnya ia berspekulasi akan mendapatkan amplop yang tebal-tebal dari para tamu undangan, setidaknya dana yang ia gelontorkan bisa kembali. Namun yang ada justru sebaliknya. Tidak ada satu amplop pun yang datang kepadanya.
"Pak Awan, bagaimana? Saya harap Anda segera keluar dari area ini!" ucap manager hotel yang membuat kesadaran Awan kembali menguasainya.
"Pak, saya mohon, beri waktu satu jam lagi. Setelah itu akan saya kosongkan area ini," pinta Awan sekali lagi.
"Mohon maaf tidak bisa Pak," tegas manager hotel. "Coba Pak Awan hubungi beberapa orang yang menjadi tamu undangan. Tanyakan kepada mereka mengapa sampai saat ini mereka tidak hadir. Jangan-jangan tidak ada undangan yang sampai di tangan mereka," usul manager hotel.
Awan terkesiap, mengapa tidak sedari tadi ia memiliki ide seperti yang diucapkan oleh manager hotel. Apa yang diucapkan oleh manager hotel banyak benarnya. Gegas, Awan mengambil ponsel dari dalam saku celana dan menghubungi beberapa orang yang menjadi daftar tamu undangan.
Awan yang sebelumnya berdiri berhadapan dengan manager hotel, kini terduduk lemas di samping Mega setelah menghubungi rekan bisnisnya. Berkali-kali ia mengusap rambutnya kasar yang menjadi tanda bahwa ia benar-benar frustrasi. Kejadian seperti ini sungguh tidak pernah ia bayangkan sama sekali.
"Bagaimana Pak?" tanya manager hotel yang begitu ingin tahu.
"Mereka tidak menerima undangan dari saya, Pak," lirih Awan sembari mengepalkan telapak tangannya. Otaknya langsung tertuju pada satu nama. "Kamu benar-benar kurang ajar Din. Bisa-bisanya kamu menyabotase undangan resepsi pernikahanku!"
.
.
__ADS_1
.