
Masih Pov Langit
Aku mengemudikan laju mobilku dengan kecepatan lumayan tinggi membelah jalanan yang terasa terik sekali. Hari ini sang raja siang seakan mentransfer energi panasnya secara berlebihan sehingga membuat kulit seperti terbakar karena paparan sinarnya.
Aku mengarahkan kemudiku ke rumah baru milik Awan yang baru saja ia beli. Entah apa yang terjadi padaku. Aku merasa sudah terlalu jauh melakukan hal ini untuk Cahya. Namun sungguh, hati nuraniku seakan tidak terima jika melihat Cahya dan kedua putrinya dicurangi oleh Awan.
Satu jam berada di perjalanan, akhirnya aku tiba di mana rumah baru Awan berada. Dari kejauhan, aku melihat mobil lelaki itu masih terparkir di tempat yang sama dari sebelumnya. Itu artinya Awan dan simpanannya memang belum beranjak ke mana-mana.
Aku memberhentikan mobilku dengan jarak yang lumayan jauh dari mobil Awan. Akan aku tunggu lelaki itu sampai keluar dari dalam rumah. Akan aku ambil foto dari tempatku berada saat ini.
Semoga, sedikit yang akan aku lakukan ini bisa membantumu di kemudian hari, Cahya.
***
Pov Author
Awan keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan berbalut handuk putih yang menutupi area pinggang ke bawah hingga menampilkan bagian perut yang atletis dengan otot-otot yang membentuk sixpack. Rambutnya yang basah dengan bulir-bulir air yang menghias wajah seakan kian menambah kesan seksi dan tampan lelaki berusia dua puluh sembilan tahun itu.
"Han, aku harap kamu mempertimbangkan apa yang aku tawarkan. Kamu tidak perlu lagi bekerja. Hanya cukup berdiam diri di rumah. Biarkan aku yang memenuhi semua kebutuhanmu."
Sembari berdiri di depan cermin dan menggunakan deodorant, Awan kembali membuka pembicaraan dengan sang kekasih perihal tawarannya. Ia merasa jika Mega tidak perlu lagi bekerja. Karena, seberapa banyak kebutuhan wanita itu, akan ia penuhi tanpa terkecuali.
"Kalau aku tidak bekerja, lantas aku harus melakukan apa Mas? Masa iya, aku hanya berdiam diri di rumah?"
"Bukankah itu jauh lebih mengasyikkan Han? Kamu tidak perlu capek-capek bekerja. Biarkan aku yang memenuhi semua kebutuhanmu."
"Tapi aku pasti akan bosan jika tidak ada yang aku lakukan Mas. Apalagi hanya berdiam diri di rumah, kecuali satu hal..."
Perkataan Mega yang menggantung membuat Awan berkerut kening. Ia tatap lekat wajah Mega melalui pantulan di dalam cermin.
"Kecuali apa Han? Katakan saja!"
Mega tersenyum penuh arti. Ia yang sebelumnya duduk di atas ranjang kemudian memilih untuk berjalan mendekat ke arah Awan. Ia peluk tubuh lelaki ini dari belakang.
"Kecuali kalau kamu membelikan mobil untukku, Mas. Dengan mobil itu, aku bisa pergi ke mana-mana sehingga aku tidak merasa jenuh karena berdiam diri di rumah."
"Mobil? Apa harus sekarang Han?"
__ADS_1
"Katanya kamu cinta sama aku dan akan melakukan apapun untuk kebahagiaanku, Mas? Masa cuma minta mobil saja tidak kamu kabulkan? Bukankah membelikan mobil itu hanya merupakan hal yang mudah bagi seorang pengusaha muda seperti kamu ini?"
Mega semakin mengeratkan pelukannya. Bahkan ia berikan sentuhan-sentuhan sensual di dada bidang milik Awan. Berharap dengan cara seperti itu, Awan bisa segera menuruti keinginannya.
Bak sebuah mantra yang berhasil menghipnotis kesadaran Awan, lelaki itu hanya tersenyum lebar seraya menganggukkan kepala. Baginya, hanya dengan membelikan Mega sebuah mobil tidak akan pernah membuatnya jatuh miskin.
"Baiklah Han. Nanti akan aku belikan mobil untukmu."
"Eh, tapi kalau aku yang memilih sendiri bagaimana Mas? Aku sendiri yang akan datang ke dealer dan kamu tinggal membayarnya?"
"Baiklah kalau itu yang menjadi kemauanmu. Kamu silakan datang ke dealer untuk memilih mobil seperti apa yang kamu mau."
"Aaaaahhh .... Terima kasih banyak Mas. Aku semakin cinta sama kamu!"
"Sama-sama Han. Seperti yang aku katakan, aku akan melakukan apapun yang kamu mau." Awan mencoba melepaskan diri dari pelukan Mega. Ia raih kemeja yang berada di atas sofa untuk kemudian ia kenakan kembali. "Kita pulang ya. Mungkin ada baiknya kamu mulai menempati rumah ini di hari Jumat saja. Kita habiskan hari-hari kita di rumah ini."
"Memang kamu bisa menginap Mas?"
Awan terkekeh pelan. Ia cubit hidung mancung milik Mega dengan gemas. "Aku sudah mengatur semuanya. Saat weekdays, akan aku gunakan waktuku untuk keluargaku. Sedangkan saat weekend, akan aku gunakan waktuku untukmu. Bagaimana? Sudah cukup adil bukan?"
Mega tersenyum lebar. Meskipun belum sah menjadi istri Awan, namun setidaknya lelaki itu memberikan prioritas untuknya.
"Aaahhhh ... Kamu ini tahu saja bagaimana caranya membahagiakanku Mas."
***
Kembali ke Pov Langit
Aku menyerah menunggu si pemilik rumah keluar dari dalam sana. Sudah dua jam lebih aku berada di dalam mobil ini untuk menunggu Awan namun sepertinya tidak ada pergerakan. Aku merasa jika pasangan me*sum itu akan berada di rumah ini sampai malam hari. Atau mungkin mereka akan menginap di sini.
Aku memutuskan untuk pergi saja dari tempat ini. Karena aku yakin jika Awan tidak mungkin pulang hari ini. Aku menyalakan mesin mobil dan pada saat aku akan menginjak pedal gas, tiba-tiba saja aku melihat dua orang itu tengah keluar dari dalam rumah. Rumah dengan pagar yang rendah, sehingga memudahkanku untuk melihat pergerakan mereka.
Aku kembali mematikan mesin mobil. Aku ambil ponsel dari dalam saku celana dan aku pakai fitur video untuk merekam kegiatan apa saja yang mereka lakukan. Beruntung ponsel yang aku pakai ini merupakan ponsel yang berkualitas tinggi. Meskipun dari kejauhan dan aku perbesar, video yang aku dapatkan tidak pecah sama sekali. Bahkan gambar yang aku dapatkan terlihat begitu bening.
Sungguh menjijikkan. Bisa-bisanya mereka masih saling memagut bibir saat menuju mobil. Aku benar-benar heran apakah nafsu teramat sangat menguasai jiwa dan hati keduanya sehingga mereka seakan tidak tahu tempat untuk melakukan hal-hal intim seperti itu?
Dalam situasi seperti ini yang aku pikirkan hanya Cahya dan kedua putrinya. Aku sungguh tidak tega melihat tangis dan luka yang mereka rasakan jika sampai mengetahui hal yang sebenarnya. Sangat tidak pantas bagi seorang suami menorehkan luka seperti itu di hati istri dan anak-anaknya.
Aku mengakhiri rekaman video dari ponselku setelah dua orang itu masuk ke dalam mobil. Perlahan, kulihat mobil yang dikemudikan oleh Awan bergerak dan tak selang lama menghilang dari pandanganku.
__ADS_1
"Jika sudah tiba waktunya, akan aku berikan rekaman video ini kepadamu Ay. Semoga dapat membantumu!"
***
Pov Author
Cahya duduk di depan meja rias sembari mengoleskan krim malam di wajahnya. Pandangannya menerawang. Setelah pertemuannya dengan Langit di siang tadi, sungguh mengusik ketentraman batinnya. Cahya masih bertanya-tanya dalam benak dan angan. Mengapa tiba-tiba lelaki itu mengangkat tema pembicaraan tentang perselingkuhan.
"Ay, belum tidur?"
Suara bariton yang tiba-tiba terdengar memenuhi indera pendengaran, membuyarkan Cahya dari lamunannya. Ia berbalik badan, dan terlihat sang suami sudah ada di dalam kamar.
Cahya bangkit dari posisi duduknya. Ia berjalan mendekat ke arah Awan. Ia cium punggung tangan sang suami sebagai wujud rasa hormatnya.
"Aku siang tadi datang ke kantor untuk membawakan makan siang, Mas. Tapi ternyata kamu tidak ada di tempat. Kamu ada meeting di luar ya Mas?"
Awan yang mendengarkan pertanyaan Cahya mendadak wajahnya menjadi pias. Ia sungguh tidak menyangka jika Cahya akan berkunjung ke kantor. Namun sebisa mungkin, ia berusaha menetralkan ekspresi wajahnya.
"Iya Ay, setelah mengantar anak-anak, aku bertemu dengan relasi. Jadi dari pagi sama sekali tidak berada di kantor. Kok tumben kamu datang ke kantor Ay?"
Cahya tersenyum tipis seraya mengedikkan bahunya. "Aku hanya rindu saat-saat dulu Mas, di mana aku sering membawakan makan siang untukmu."
"Lain kali kamu bisa menghubungiku terlebih dahulu Ay. Jadi kamu tidak sia-sia sampai di kantor."
"Iya Mas, lain kali aku akan menghubungimu terlebih dahulu." Cahya merapatkan tubuhnya di tubuh Awan. "Sini aku buka kemejamu Mas. Setelah itu kamu mandi."
Awan hanya menurut saja. Tak selang lama, kemeja yang ia kenakan terbuka sempurna. Setelah itu ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Cahya yang masih berdiri di tempat, mencoba untuk mencium aroma kemeja yang di pakai oleh Awan seharian. Ia pertajam indera penciumannya dan hanya ada kernyitan di dahinya.
"Sepertinya ini bukan bau parfum mas Awan? Lalu, bau parfum siapa ini?" lirih Cahya.
Cahya mengayunkan tubgkai kakinya untuk kembali ke depan meja rias. Ia ambil parfum milik Awan dan ia ciumi aromanya. Ia bandingkan dengan parfum yang melekat di kemeja sang suami. Kedua bola mata Cahya terbelalak saat keduanya memiliki aroma yang berbeda.
Wanita itu menggeleng-gelengkan kepala berupaya untuk mengusir semua pikiran-pikiran buruk terhadap suaminya.
"Astaghfirullahalazim ... Gara-gara perkataan mas Langit siang tadi, aku sampai berpikiran buruk terhadap suamiku sendiri."
.
__ADS_1
.
.