Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 138. Memaafkan


__ADS_3


"Hati saya sudah terlanjur sakit dengan apa yang telah dilakukan oleh Awan, Bu. Saya tidak bisa memaafkannya!"


Angin malam berhembus kencang, menerpa wajah Marni dan Rusma yang saat ini tengah berada di taman rumah sakit. Setelah melihat siapa sosok lelaki yang tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit, wanita paruh baya itu memilih untuk menghindar. Rasanya ia tidak sanggup menahan gejolak emosi yang menguasai diri jika bertemu dengan anak yang pernah membuangnya itu.


Berkali-kali Marni menarik napas dalam dan ia hembuskan dengan kasar. Seakan masih ada bekas sayatan pisau tak kasat mata yang telah melukai seonggok daging bernyawa dalam dada. Sayatan pisau dari seorang anak yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang dan perjuangan, namun justru dibalas dengan kedurhakaan.


Marni beberapa kali mendongakkan kepala, menahan agar air matanya tidak jatuh membasahi wajah. Wanita itu merasa, anak durhaka seperti Awan tidaklah pantas untuk ditangisi meskipun saat ini ia tengah terbaring sakit.


Rusma mengayunkan tungkai kakinya. Ia dekati Marni dan ia pengang pundak wanita ini.


"Saya paham betul bagaimana perasaan bu Marni yang mungkin memang sangat sulit untuk memaafkan pak Awan. Namun saat ini saya ingin mengingatkan bahwa pak Awan sedang bergelut dengan maut setelah kecelakaan itu terjadi....":


"Saya tidak peduli, Bu Rusma! Saya tidak peduli. Biar dia mendapatkan balasan akan apa yang sudah ia perbuat. Apa yang ia dapatkan saat ini merupakan buah dari kejahatan yang sudah ia tabur. Hati saya sungguh masih terasa begitu sakit, Bu. Dengan tega Awan membuang dan mencampakkan saya!" timpal Marni memotong ucapan Rusma.


Lagi, Rusma hanya bisa tersenyum simpul. Ia paham betul dengan apa yang dirasakan oleh Marni saat ini. Satu hal yang ia yakini jika Marni akan memaafkan Awan namun saat ini masih tertutup oleh kabut kecewa yang mendominasi.


"Baiklah, saya tidak akan memaksa bu Marni lagi. Namun ada satu hal yang ingin saya sampaikan Bu. Saat ini pak Awan sedang bertaruh nyawa, saya harap pak Awan masih bisa selamat agar dia bisa meminta maaf kepada bu Marni secara langsung. Namun jika sampai nyawa pak Awan tidak tertolong, sungguh kasihan dia, Bu. Dia harus menanggung dosa bahkan sampai dia berada di akhirat karena tidak mendapatkan maaf dari bu Marni."


Marni terdiam. Perkataan Rusma terdengar lirih namun berhasil menembus kerasnya dinding hati. Ia masih mencoba untuk tidak mengindahkan apa yang diucapkan oleh Rusma, namun tetap saja hatinya terasa tersentil.


"Bu Marni mau tetap di sini atau masuk ke ruang rawat pak Awan? Jika bu Marni tetap ingin di sini tidak apa-apa, tapi saya masuk ke dalam sebentar untuk membacakan Al-Quran untuk pak Awan. Setelah itu baru kita pulang ke panti ya Bu."


Tanpa menunggu jawaban dari Marni, Rusma kembali memsuki ruangan Awan. Ia duduk di samping tubuh Awan yang tengah terbaring lemah dan mulai melantunkan ayat-ayat yang ada di surat Yasin.


"Semoga Allah memberikan jalan terbaik untukmu ya Pak. Memberikan kesembuhan yang nantinya kesempatan yang ada bisa Anda gunakan untuk bertaubat dan berbuat kebaikan."


***


Buggg!!!! Buugggg!!!! Buggghhhh!!!!


"Aaaaaahhhh ... Ampun!!! Mengapa aku dipukuli seperti ini???"


Awan tiada henti berteriak kencang seraya berjongkok dan berupaya untuk melindungi diri dari pukulan dua orang berjubah hitam. Dua orang berjubah hitam yang ada di hadapannya ini membawa batang kayu yang cukup besar dan bertubi-tubi dihujam ke arahnya.


Awan semakin bergidik ngeri kala melihat kobaran api yang cukup dahsyat berada mengelilinginya. Bergerak sedikit saja, sudah dipastikan tubuhnya akan hangus terbakar.


"Inilah akibat dari orang sepertimu. Kamu menghianati istrimu. Mengingkari janji suci yang sudah kamu ikrarkan di hadapan Tuhanmu. Berbuat zina dan juga durhaka kepada ibumu. Rasakan ini wahai manusia hina!!!"

__ADS_1


Bughhhh... Bughhhhh.... Bughhhhh!!!


"Aaaaaaaa .... Ampuun!!!!! Saya salah. Saya mengaku salah. Izinkan saya untuk memperbaiki semuanya!!"


"Tidak ada gunanya lagi kamu berteriak minta ampun. Waktumu sudah habis wahai manusia durjana. Sekarang terimalah azab akibat dosa-dosamu!!!"


Bughhhhh.... Bughhhhh.... Bughhhhhhh....


"Aaaaaaaaa.... Ampuuunnnnn!!!!"


Awan berteriak kencang bersamaan dengan kedua kelopak matanya yang terbuka. Tubuh Awan terperanjat dan saat ini lelaki itu dalam keadaan sadar sepenuhnya setelah sempat tidak sadarkan diri.


Teriakan Awan itulah yang membuat Rusma juga ikut terkejut setengah mati. Gegas, ia tutup Al-Quran yang ada di tangannya dan fokus pada Awan.


"Pak Awan, alhamdulillah akhirnya Anda sudah sadar!"


Awan menoleh ke arah samping kirinya. Terlihat sosok seorang wanita yang masih begitu asing di penglihatan maupun ingatannya. Dahi Awan sedikit mengernyit, mencoba untuk mengingat-ingat siapa sosok wanita ini.


"A-Anda bu Rusma?" tanya Awan memastikan.


"Betul sekali Pak, saya Rusma. Pak Awan mengapa berteriak kencang seperti ini?"


"Bu .... Ibuku mana? Ibuku di mana?" cecar Awan kepada Rusma. Sesaat setelah tersadar, ia ingat bahwa masih ada dosa yang belum sempat ia mohonkan ampun kepada sang ibu.


"Pak Awan mencari bu Marni? Memang ada keperluan apa Pak? Bukankah saat itu pak Awan sudah membuang ibu pak Awan sendiri?"


Ingatan Awan seketika tertuju pada masa-masa yang telah lampau, di mana ia menitipkan sang ibu ke panti jompo. Ia bersembunyi di balik kata menitipkan padahal sejatinya ia telah membuang sang ibu. Kepala Awan menunduk, hatinya seakan ditampar habis-habisan yang membuatnya tersadar bahwa apa yang telah ia lakukan memang sungguh keterlaluan.


"Saya berdosa kepada ibu saya, Bu. Saya ingin minta maaf. Saya sudah banyak berbuat kesalahan kepadanya."


"Alhamdulillah jika pak Awan sudah menyadari kesalahan pak Awan. Namun sepertinya pak Awan akan sulit mendapatkan maaf dari bu Marni karena bu Marni sudah begitu kecewa dengan pak Awan."


"Astaghfirullahalazim ... Saya benar-benar menyesal Bu, saya menyesal. Ternyata kedurhakaan saya kepada ibu saya yang membuat hidup saya hancur seperti ini."


"Alhamdulilah ... Tapi saya tidak bisa melakukan apapun karena bu Marni sudah terlanjur kecewa dengan Anda, Pak. Sepertinya luka yang telah tertoreh begitu dalam sehingga membuat bu Marni sulit untuk memaafkan."


"Ya Allah .... Ampuni aku!!!"


Awan mengusap wajahnya kasar. Berkali-kali ia menjambak rambut, merutuki akan kebodohannya karena telah melakukan kezaliman seperti ini. Hingga pada akhirnya dirinya sendirilah yang hancur dibuatnya.

__ADS_1


Marni yang diam-diam melihat keadaan sang anak dari ambang pintu, hanya bisa meneteskan air mata. Meskipun air susu itu dibalas dengan air tuba, namun nuraninya sebagai seorang ibu tidak tega melihat sang anak dalam keadaan hancur seperti ini.


"Mas Asrul, tolong bawa aku masuk ke dalam!" pinta Marni yang sedari tadi ditemani oleh Asrul.


"Baik Bu..."


Perlahan, Asrul mendorong kursi roda milik Marni.


"Aku sudah memaafkanmu, Nak! Bertaubatlah dan pergunakan waktu yang masih diberikan oleh Allah untuk menjadi manusia yang jauh lebih baik!" ucap Marni yang masih berada tak jauh dari pintu.


Awan terhenyak. Ia menautkan pandangannya ke arah sumber suara. Wajahnya berbinar kala melihat sang ibu yang sudah berada di ruangan ini.


"Ibu...?"


Tanpa pikir panjang, Awan mencabut selang infus yang ada di pergelangan tangan. Lelaki itu turun dari ranjang namun.....


Brukkkkk!!!!!!


"Aaaahhhh...."


"Awan!!!"


"Ya Allah pak Awan!!!!" pekik Rusma sembari berupaya membantu Awan untuk berdiri.


Asrul yang melihat keadaan itu bergegas menuju ke arah Awan. Dia menopang tubuh Awan yang sudah tidak bisa berdiri.


Dahi Awan mengernyit. Ia merasakan ada yang aneh dengan kakinya. "Kakiku.... Ada apa dengan kakiku? Mengapa aku tidak bisa merasakan apapun?"


"Yang sabar ya Pak... Kaki pak Awan lumpuh!"


"Apa????!!!!"


.


.


.


InshaAllah 1 part lagi tamat ya kak... Terima kasih banyak sudah setia mengikuti tulisan saya yang masih harus banyak belajar lagi... 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2