
"Aku bersumpah, hidupmu tidak akan pernah bahagia sampai akhir hayatmu, Meg!!" sumpah Lastri yang setelah itu ia berlari untuk keluar dari ballroom.
Mega terperanjat mendapatkan tamparan dari Lastri. Kedua bola matanya membulat penuh dengan bibir menganga lebar. Benar-benar tidak ia sangka jika sang ibu melakukan hal itu kepadanya.
"Bu, tunggu! Mau kemana kamu?"
Kardi berteriak lantang kala melihat tubuh sang istri sudah berada di depan pintu ballroom. Sedangkan Lastri memilih untuk menghentikan langkah kakinya untuk menimpali pertanyaan sang suami.
"Ibu mau pulang, Pak. Ibu tidak bisa untuk bertahan di sini."
"Mau pulang bagaimana Bu? Ini sudah larut malam dan di luar juga hujan deras. Bagaimana jika sampai terjadi apa-apa denganmu. Ayo kita ikut Mega saja," bujuk Kardi seraya meraih tangan Lastri.
Lastri menghempaskan tangannya agar terlepas dari tangan Kardi. Wanita paruh baya jtu menggelengkan kepala.
"Tidak Pak, Ibu tidak mau. Ibu lebih baik kecelakaan di jalan daripada dekat-dekat dengan sumber azab dari wanita murahan seperti dia," teriak Lastri sembari menunjuk ke arah Mega. Kekecewaannya sungguh masih bercokol di dalam dada dan entah bagaimana caranya terhempas dari sana.
Kardi berdecak pelan sembari menggeleng-gelengkan kepala. Tidak mengerti mengapa sang istri bisa memiliki pemikiran seperti ini.
"Sudahlah Bu, lebih baik kita nurut apa kata Mega saja daripada ribut seperti ini."
"Sekali tidak tetap tidak Pak. Aku sungguh sudah sangat kecewa dengan wanita penggoda itu. Aku baru akan memaafkannya jika ia sudah minta maaf terlebih dahulu kepada Cahya."
"Tapi Bu, rumah kita di kampung sedang dalam proses renovasi. Nanti Ibu akan tinggal di mana?"
"Ibu akan menghentikan proyek renovasi rumah kita itu, Pak. Ibu tidak ingin rumah kita direnovasi menggunakan uang hasil menjual diri."
"Tapi Bu... "
"Sudah, sekarang Bapak mau ikut siapa? Mau ikut wanita murahan itu atau ikut Ibu pulang? Aku sungguh tidak bisa lama-lama berada di sini. Ternyata kemewahan yang didapatkan oleh Mega merupakan hasil dari dia menjual diri."
"Jangan sembarangan kalau bicara Bu!" teriak Mega menimpali ucapan sang ibu. Ia melangkah untuk mendekat ke arah Lastri. "Aku dan mas Awan saling mencintai. Sebuah hal yang wajar jika kami melakukan hal itu!"
Plak... Plak... Plak...
"Apa yang merasukimu sampai kamu dengan entengnya mengatakan hal demikian Meg? Apa yang telah kamu lakukan dengan lelaki itu merupakan dosa yang teramat besar!" geram Lastri kembali memberikan tamparan kepada sang anak.
Mega memegangi pipi tatkala rasa nyeri dan perih itu kian menjalar ke syaraf-syarafnya. Sembari menahan rasa sakit itu, ia tatap tajam wajah sang ibu.
"Persetan dengan dosa, Bu. Semua dosa sudah aku tanggung sendiri. Ibu tidak perlu berbicara tentang dosa di hadapanku!"
Lastri semakin terhanyak. Hatinya serasa tertusuk duri. Tidak menyangka jika putri semata wayangnya ini menjelma menjadi setan betina yang sama sekali tidak takut dengan dosa.
"Aku sungguh tidak menyangka, ternyata anak yang aku besarkan dengan penuh kasih sayang menjelma sebagai sosok setan seperti ini. Aku kira kamu bisa mengangkat derajat ibu dan juga bapakmu, tapi ternyata kamu justru mendorong kami ke bibir jurang hina dan nista seperti ini," ucap Lastri sedikit lirih. Wanita itu seolah kehabisan tenaga untuk menanggapi sang anak yang semakin keterlaluan ini.
__ADS_1
Mega tersenyum sinis. Ia merasa masih memiliki kekuatan untuk menyerang sang ibu dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Bukankah aku sudah mengangkat derajat Ibu dan juga bapak? Rumah di kampung sudah mulai di renovasi. Aku di sini juga memiliki rumah mewah, mobil dan juga berlian dengan harga fantastis. Apakah itu semua masih kurang untuk mengangkat derajat Ibu?"
Lastri menggeleng-gelengkan kepala. Begitu gemas karena Mega masih saja punya kemampuan untuk membantahnya.
"Setelah aku mengetahui semuanya, aku bahkan tidak sedikitpun bangga dengan apa yang telah kamu dapatkan, Meg. Di mataku, kamu tak lebih dari seorang perampok yang sudah merampas kebahagiaan seorang istri yang sebelumnya hidup dalam ketenangan. Bahkan bukan hanya seorang istri. Kamu juga telah menghancurkan kebahagiaan anak-anak Awan."
"Cih... Aku tidak pernah merebut mas Awan dari istri dan anak-anaknya. Mas Awan sendirilah yang datang kepadaku karena dia tidak puas dengan istrinya. Ingat itu Bu, aku tidak pernah merebut mas Awan!" teriak Mega semakin berani di hadapan sang ibu.
"Tapi dia ti..."
"Aaaarrgghhhh .... Sudah Bu, cukup!" timpal Mega memangkas perkataan Lastri. "Sekarang Ibu maunya apa? Kalau Ibu mau pulang ke kampung silakan pulang malam ini juga. Jika tidak, ayo ikut aku tapi stop mencampuri segala urusanku!"
Lastri tersenyum simpul. Meskipun ini bukanlah kampung halamannya dan suasana di luar masih diguyur oleh hujan deras namun ia sama sekali tidak takut untuk pergi dari tempat ini.
"Aku tidak sudi untuk tinggal lebih lama lagi denganmu. Aku memilih untuk pergi dari sini." Lastri mengedarkan ke arah sang suami yang sedari tadi hanya terdiam dan membisu. "Ayo Pak, kita pulang! Biarkan Mega menjalani kehidupannya yang sesat ini."
Kardi menggelengkan kepala. "Tidak Bu, Bapak memutuskan untuk tetap di sini bersama Mega. Bapak sudah capek hidup dalam kemiskinan."
"Astaghfirullahalazim... Ternyata kalian berdua sama saja. Padahal kenikmatan yang di dapat Mega saat ini justru yang akan menyeret kalian ke dalam kerak neraka!"
Lastri kembali mengayunkan tungkai kakinya. Kali ini ia benar-benar pergi meninggalkan area ballroom. Awan dan Marni yang masih berada di depan panggung sedari tadi hanya bisa menatap ibu dan anak yang saling berseteru itu dalam tatapan hening.
"Apakah wanita seperti itu yang nantinya akan menggantikan posisi Cahya, Wan? Apakah wanita seperti itu yang nantinya akan menjadi pendamping hidupmu?"
"Tidak akan ada yang menggantikan posisi Cahya, Bu. Dia akan tetap ada di sini bersama kita. Meskipun saat ini Cahya sedang marah dan kecewa, namun aku yakin dia akan tetap mempertahankanku."
"Apa kamu bilang? Cahya akan tetap mempertahankanmu?" tanya Marni dengan kepala sedikit mendongak ke atas. "Kamu lupa jika di depan tadi Cahya mengatakan bahwa hari ini adalah penghujung waktu di mana ia bisa membersamai langkah kakimu? Itu artinya dia akan pergi Wan!"
Awan menggelengkan kepala, sebagai isyarat jika ia tidak sependapat dengan ucapan sang ibu. "Tidak Bu, Cahya akan tetap ada di sampingku karena dia tidak terbiasa hidup tanpa adanya aku di sisinya. Ibu ingat bukan, jika selama ini akulah yang menjadi penopang hidup Cahya?"
Marni mengelus dada. Ternyata putranya ini sama kerasnya seperti Mega. "Sudahlah, terserah kamu saja. Yang paling penting, Ibu tidak mau diurus oleh wanita macam wanita ja*lang itu!"
Tap... Tap.. Tap...
Mega berjalan menghampiri Awan dan juga Marni. "Ayo Mas, ajak aku ke rumahmu. Sebagai calon istri, aku juga ingin melihat bagaimana rumah suamiku nanti."
Awan hanya bisa pasrah menuruti permintaan Mega. Saat ini memang tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengikuti permintaan Mega. Entah apa nantinya yang terjadi jika ia bertemu dengan Cahya di rumah.
"Baiklah. Ayo ikut aku!"
***
Mobil yang dikemudikan oleh Awan tiba di depan halaman. Lelaki itu keluar dari dalam mobil dan bergegas menurunkan sang ibu. Dikuti oleh Mega dan juga Kardi di belakangnya.
__ADS_1
Dahi Awan sedikit mengernyit kala melihat suasana rumah yang begitu sepi. Ia berpikir para penghuni rumah ini sudah tertidur. Lelaki itu kemudian mendobrak pintu dengan kasar agar bisa membangunkan orang-orang yang ada di dalam.
Dug... Dug... Dug....
"Kasim, Asih.. Buka pintunya!!"
Berkali-kali Awan mendobrak pintu dengan kasar namun sama sekali tidak ada respon dari orang-orang yang ada di dalam rumah. Awan sedikit cemas jika sampai tidak ada satupun orang yang berada di rumah ini.
Awan berjalan menuju pot bunga yang berada di sudut teras, tempat di mana Cahya meletakkan kunci jika ia pergi. Awan angkat sedikit pot bunga itu dan benar saja, ada sebuah kunci rumah di sana.
"Ada apa Wan? Apakah tidak ada orang di dalam?" tanya Marni saat menangkap sinyal rasa cemas di wajah Awan.
"Entahlah Bu. Coba aku lihat ke dalam!"
Dengan gerak cepat, Awan membuka pintu rumah dan mulai mencari keberadaan keluarganya di setiap sudut rumah.
"Aya... Kasim... Asih..," teriak Awan memanggil satu persatu penghuni rumah.
Ia masuk ke dalam kamar pribadinya. Ia buka pintu almari pakaian dan betapa terkejutnya dia ketika sudah tidak ia lihat lagi pakaian-pakaian sang istri.
Awan kemudian berpindah untuk masuk ke kamar anak-anaknya. Lagi-lagi ia dibuat terkejut karena lemari pakaian kedua putrinya ini juga sudah kosong. Wajah Awan semakin frustrasi kala melihat kenyataan seperti ini.
"Bagaimana Wan?" tanya Marni lagi.
"Sepertinya Cahya memang telah pergi dari rumah dengan membawa anak-anak dan juga dua pekerja di rumah kita Bu."
Marni terhenyak. "Bagaimana bisa? Bukankah kamu mengatakan jika Cahya tidak bisa hidup tanpamu karena kamu adalah penopang hidupnya?"
"Iya Bu, benar. Selama ini Cahya hanya tinggal menerima jatah uang bulanan dariku kan? Ia sama sekali tidak memiliki amunisi untuk pergi dari hidupku karena...."
Awan sejenak menjeda ucapannya kala ingatannya mulai mengingat akan satu hal. Kedua bola matanya membulat penuh saat ia menyadari maksud dari permintaan sang istri di hari ulang tahunnya.
"S*hitttt!!!!!"
"Ada apa Wan?"
"Ternyata ini maksud Cahya meminta semua aset rumah, tanah, kendaraan menjadi atas namanya. Ia menggunakan cara seperti ini untuk ia jadikan amunisi untuk meninggalkanku."
Awan memijit-mijit pelipis kala rasa pening itu mulai menjalar di kepalanya. Tubuhnya serasa begitu lemas saat menyadari jika saat ini sudah tidak ada yang ia miliki selain perusahaan.
"Ternyata selama ini Cahya diam-diam mengetahui perselingkuhanku dan dia menyiapkan ini semua untuk pergi meninggalkanku. Sh*iittt... Bod*oh sekali aku!"
.
.
__ADS_1
.