
"Maaf, apa benar ini kediaman ibu Cahya?"
Pagi ini Cahya yang sedang membukakan pintu dikejutkan dengan kedatangan dua orang asing dengan tas pakaian yang berada di tangan masing-masing. Seorang wanita dan seorang laki-laki yang usianya sekitar empat puluh tahun. Dahi Cahya mengernyit karena ia sama sekali tidak mengenal siapa mereka.
"Iya benar Pak, Bu ... Maaf Anda-Anda ini siapa? Dan ada keperluan apa?"
Lelaki itu menyunggingkan senyum seraya menundukkan kepala. "Perkenalkan Bu, saya Kasim dan ini adalah istri saya Asih. Kami adalah calon asisten rumah tangga dan security di rumah Bu Cahya. Kemarin pak Awan sudah menghubungi kami via telepon."
"Oh ... Kalian sudah datang? Ayo masuk!" ucap Awan yang tiba-tiba berada di pintu depan.
Mereka memasuki area ruang tamu dan mulai duduk di sofa. Cahya juga ikut mendaratkan bokongnya di samping Awan.
"Jadi ini Ay, security dan asisten rumah tangga yang sudah aku persiapkan untuk bekerja di sini. Mereka ini tetangga salah satu karyawan di kantor yang berasal dari Temanggung."
Sebelum di serang oleh rasa penasaran yang berlebih pada akhirnya Cahya mendapatkan jawaban. Ternyata dua orang ini adalah calon asisten rumah tangga dan security di rumahnya.
"Maaf kalau boleh tahu, pak Kasim dan Bu Asih ini usianya berapa?"
"Saya dan suami saya berusia empat puluh tahun Bu. Untuk pengalaman, Bu Cahya tidak perlu khawatir karena sebelum bekerja di sini, saya dan suami sudah bertahun-tahun bekerja di Jakarta," cerita Asih.
"Lantas, mengapa Ibu dan Bapak memilih untuk berhenti?"
Kasim hanya tersenyum simpul. "Sebenarnya kami sudah tidak bekerja selama tiga tahun lebih Bu. Kami memilih untuk beristirahat di rumah. Tapi badan yang dibiasakan untuk bekerja lalu tiba-tiba tidak bekerja jadi terasa begitu kaku. Maka dari itu kami memilih untuk bekerja lagi. Kebetulan kemarin ada tawaran bekerja di sini, jadi kami ambil tawaran itu."
"Lantas, apa Bapak dan Ibu punya anak?"
"Punya Bu. Anak kami hanya satu dan sekarang dia bekerja di luar negeri menjadi TKW."
Cahya memperhatikan dengan lekat dua orang ini. Meskipun usia mereka sudah memasuki kepala empat namun sepertinya kondisi fisik mereka masih terlihat sehat dan bugar.
"Baiklah Bu Asih, pak Kasim. Saya terima Bapak dan Ibu untuk bekerja di sini. Untuk Bu Asih fokus pada pekerjaan rumah tangga saja ya. Memasak, menyapu, mengepel, mencuci. Untuk keperluan Ibu mertua, biar saya yang mengurus sendiri. Lalu untuk pak Kasim nanti bisa bantu-bantu Bu Asih juga."
"Baik Bu. Kami akan bekerja dengan baik."
Awan turut tersenyum. "Semoga keberadaan mereka bisa membuat beban pekerjaanmu berkurang ya Ay. Dan keberadaan mereka juga bisa meramaikan rumah ini sehingga kamu tidak merasa kesepian jika aku tinggal ke Semarang."
Cahya hanya bisa menganggukkan kepala. Semua sudah diputuskan oleh Awan, sehingga ia hanya bisa menurut saja.
__ADS_1
"Semoga Mas. Meskipun sudah ada teman, jika pekerjaanmu di Semarang tidak terlalu sibuk, kamu bisa langsung pulang tanpa harus terikat oleh hari."
"Iya Ay. Jika tidak terlalu sibuk, aku pasti akan pulang."
"Ayah ayo berangkat! Hari ini Ayah yang akan mengantar ke sekolah kan?" celotehan Malika mulai memenuhi area ruang tamu. Malika dan sang kakak sudah nampak siap dengan seragam olahraga mereka.
"Iya Sayang, hari ini Ayah yang akan mengantar dan menjemput kalian."
"Bun, ini siapa? Pagi-pagi seperti ini kok sudah bertamu?"
Tak terlalu antusias dengan sang ayah yang akan mengantar ke sekolah, Alina justru fokus pada keberadaan Kasim dan juga Asih.
"Saya pak Kasim dan ini Bik Asih, Non Cantik. Kami yang akan bekerja di sini."
"Bekerja di sini? Berarti pak Kasim dan bik Asih tinggal di sini?"
"Iya Non, kami akan tinggal di sini."
"Wah.... Asyiikkk. Jadi rumah ini semakin ramai karena ada pak Kasim dan bik Asih."
Melihat wajah sang putri yang berbinar, turut membuat Cahya tersenyum lebar. Wajah yang beberapa hari ini seringkali membiaskan rona kecewa karena sang ayah yang sering mengingkari janji, saat ini seakan kembali lagi.
"Iya Bunda, Alina senang."
"Baiklah, kalau Alina senang, Alina harus selalu hormat pada pak Kasim dan bik Asih ya. Anggap mereka kakek dan nenek Alina. Oke?"
"Oke Bunda."
Awan yang mendengar celotehan putri sulungnya ini hanya bisa meringis. Ia merasa sejak kemarin dicuekin oleh gadis kecil ini. Namun Awan mencoba untuk mengabaikannya. Ia berpikir jika sikap Alina yang cuek ini merupakan hal wajar yang ditampakkan oleh seorang anak karena merasa kecewa.
"Ya sudah, ayo kita berangkat!" ajak Awan yang tidak ingin terlalu banyak berspekulasi tentang sikap sang putri. Ia bangkit dari posisi duduknya dan berdiri di depan pintu.
"Ayo Yah!" balas Malika penuh kegirangan.
Awan tersenyum simpul. Seketika dalam benaknya muncul sebuah ide yang cukup cemerlang.
"Ayo Ayah gendong. Adek di depan dan kakak di belakang, seperti dulu!"
"Wah .... Mau Yah, mau, mau!!" teriak Malika sembari mendekat ke arah Awan dengan merentangkan tangan.
__ADS_1
Awan meraih tubuh Malika untuk ia bawa ke dalam gendongan. Lelaki itu berjongkok, bermaksud untuk mempersilakan Alina untuk naik ke punggungnya.
"Ayo Kak, naik ke punggung Ayah!"
Alina menatap sekilas wajah Awan. "Alina jalan saja. Tidak mau di gendong."
Alina berujar sembari melenggang pergi untuk menuju mobil yang sudah terparkir di halaman. Sikap Alin inilah yang membuat Awan dan Cahya semakin terperangah tiada percaya.
***
Mega terlihat sibuk mengaplikasikan kosmetik di wajah. Setelah semalam hatinya berperang mau sampai kapan ia berada di kampung halamannya ini, akhirnya wanita itu memutuskan untuk pulang hari ini. Rencana tiga hari ia akan bermalam di rumahnya ini akhirnya kalah dengan rasa ingin segera kembali ke Jogja.
"Nak, kamu benar ingin pulang hari ini?"
Lastri yang berdiri di ambang pintu kamar masih ingin memastikan akan niat anaknya ini. Ia merasa belum puas melepas rindu dengan Mega yang baru semalam berada di rumah. Wanita paruh baya itu masih ingin lebih lama lagi melihat wajah dan memeluk raga sang anak.
"Iya Bu, aku akan pulang hari ini. Aku tidak betah berlama-lama berada di sini," jawab Mega sembari mengaplikasikan eyeshadow.
"Padahal di sini adalah tanah kelahiranmu. Mengapa kamu tidak betah Nak? Terlebih Ibu juga masih belum puas untuk bertemu denganmu. Atau setidaknya kamu menunggu sampai bapak pulang dulu Nak? Biasanya di hari Minggu setelah gajian ia pulang?"
Lastri belum menyerah. Ia masih membujuk Mega agar anaknya ini mengurungkan niatnya untuk pulang hari ini. Berharap Mega mendengarkan dan mengabulkan permintaannya.
"Tidak Bu. Keputusanku sudah bulat. Aku akan pulang hari ini." Mega bangkit dari posisi duduknya. Ia ambil sebuah amplop dari dalam tas. Ia serahkan amplop cokelat itu kepada Lastri. "Ini uang untuk kebutuhan sehari-hari Ibu dan bapak."
Lastri menerima amplop cokelat yang terasa begitu tebal ini. Ia buka dan ia lihat isi di dalamnya. Kedua bola mata wanita paruh baya ini terbelalak dan membulat sempurna. Bibirnya pun menganga lebar saat melihat ada nomimal dua puluh juta di dalam amplop cokelat ini.
"Nak, ini banyak sekali."
Mega tersenyum tipis seraya mengangkat kedua bahunya. "Ya, gajiku bekerja di kota memang banyak, jadi Ibu tidak perlu terkejut seperti itu. Oh iya, katakan pada bapak agar berhenti menjadi buruh bangunan. Setiap bulan aku akan mengirim uang untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk merehap rumah ini."
"Apa? Merehab rumah?" pekik Lastri seakan tidak percaya. "Memang gaji kamu di kota berapa Nak? Sampai bisa mengirim uang untuk merehab rumah?" sambungnya pula.
Mega tergelak pelan. Menjadi wanita simpanan seorang bos besar perusahaan ekspedisi pastinya akan membuat kehidupannya berubah setatus delapan puluh derajat. Ia bisa meminta apapun termasuk merehab rumah yang berada di kampung.
"Sudahlah, Ibu tidak perlu tahu. Pokoknya aku ingin rumah ini direhab total hingga menjadi rumah paling mewah yang ada di kampung ini!"
.
.
__ADS_1
.