
"Apa yang harus Aya lakukan agar Ayah berhenti bersikap dingin dan tak acuh seperti ini? Apa yang harus Aya lakukan Yah?"
Mendapati niat baiknya membuatkan kopi untuk sang ayah diabaikan begitu saja, Aya bergegas mengikuti kemana langkah kaki pria paruh baya itu. Tanpa basa-basi, Aya bersujud di bawah telapak kaki Candra dengan memegang erat kedua tungkainya.
Lagi, gadis itu menangis tergugu. Meminta agar sang ayah mengakhiri perang dingin yang terjadi di antara keduanya. Satu keadaan yang sama sekali tidak pernah diharapkan olehnya. Di mana ia dan sang ayah layaknya seorang musuh bebuyutan yang tidak saling bertegur sapa.
Candra bergeming. Bahkan dengan angkuhnya, ia berdiri sembari mengedarkan pandangannya ke arah sekitar tanpa peduli dengan apa yang dilakukan oleh Cahya. Tangis pilu dan permohonan yang keluar dari bibir gadis itu seakan tak mampu untuk meruntuhkan tembok ego yang teramat besar dan tinggi dalam dadanya.
"Apakah kali ini Aya harus mengorbankan perasaan Aya untuk menuruti kemauan Ayah? Menerima perjodohan dengan kak Biru, anak sahabat Ayah yang sama sekali tidak Aya kenal agar Ayah berhenti bersikap dingin seperti ini? Katakan Yah, katakan!"
Dengan suara bergetar Aya mencoba untuk membuat satu negosiasi dengan Candra. Satu hal yang teramat berat berada dalam keadaan seperti ini. Seorang anak perempuan yang sebelumnya bisa begitu dekat dengan sosok ayah, kini yang terjadi justru sebaliknya. Ia memilih untuk menurunkan egonya.
Biru, sosok lelaki yang bahkan tidak Aya kenal sama sekali. Lelaki yang merupakan putra dari salah satu sahabat karib sang ayah, yang berencana akan dijodohkan dengannya. Seorang sahabat yang berada di satu pulau yang sama namun berbeda propinsi. Jangankan mengenal, melihat wajah lelaki itu secara sekilas saja tidak pernah.
Candra tetap memilih hening tak berucap sepatah katapun. Lelaki itu membuang muka, sama sekali tidak mempedulikan keberadaan sang anak yang bersujud di bawah telapak kakinya. Bahkan isak tangis pilu yang keluar dari bibir Cahya, tidak cukup untuk membuat pria paruh baya itu merasa iba. Alih-alih membantu sang anak untuk berdiri tegak, Candra justru semakin terlihat begitu angkuhnya.
"Kalau memang seperti itu yang Ayah mau, baiklah, Aya akan membatalkan rencana pernikahan Aya dengan mas Awan. Aya akan turuti kemauan Ayah untuk dijodohkan dengan lelaki bernama kak Biru itu!"
Kristal-kristal bening yang berkumpul di pelupuk mata tidak semakin terkikis habis namun justru semakin bertambah banyak. Mereka menetes, membanjiri bingkai wajan Cahya seakan tidak bisa dihentikan. Seolah ada sebuah sayatan dalam dada kala lisan gadis itu mengatakan akan membatalkan rencana pernikahan dengan sang lelaki pujaan.
Tidak hanya Aya, Bintari yang sedari tadi melihat adegan ayah dan anak dari kejauhan juga hanya bisa meneteskan air mata. Tidak ia sangka jika sang putri memiliki rencana membatalkan pernikahannya di detik-detik mendekati hari H. Semua itu hanya untuk memperbaiki hubungannya dengan Candra. Sebagai seorang ibu, Bintari juga merasakan rasa sakit yang dirasakan oleh sang putri.
"Kamu bilang apa? Mau membatalkan pernikahanmu dengan lelaki itu, dan mau dijodohkan dengan Biru?"
Setelah sekian waktu hanya terdiam dan membisu, pada akhirnya Candra membuka mulut. Pria paruh baya itu seakan begitu tertarik dengan bahan obrolan ini.
Cahya mengangguk pelan. Kali ini ia benar-benar akan pasrah. Ia berpikir untuk menerima perjodohan dengan Biru saja daripada hanya membuat hubungannya dengan sang ayah terus menerus dingin layaknya bongkahan es di Kutub Selatan ini.
"Iya Yah, Aya akan membatalkan rencana pernikahan Aya dengan mas Awan. Sungguh, Aya tidak bisa jika harus melihat hubungan kita yang seperti ini. Aya akan mengalah Yah. Aya akan mengalah. Aya akan menu....."
__ADS_1
"Percuma jika baru saat ini kamu membuat keputusan semacam itu!"
Ucapan Cahya dipangkas oleh Candra. Bahkan Candra terkesan meremehkan apa yang menjadi keputusan sang anak.
Cahya terhenyak. "M-maksud Ayah?"
Candra membuang napas sedikit kasar. Ada rasa sedih yang menggelayuti hati jika mengingat sang calon menantu idaman pergi memilih untuk mundur karena tidak mendapatkan respon apapun dari Cahya.
Pesan yang dikirim oleh Biru sebagai salam perkenalan untuk Cahya diabaikan begitu saja oleh wanita itu. Bahkan Cahya sempat memblokir nomor lelaki yang bahkan baru memiliki niat untuk mengenal Cahya lebih dekat.
"Biru sudah pergi jauh. Saat ini dia sudah tidak lagi tinggal di negara ini. Dia memilih untuk melanjutkan studinya di Malaysia. Dan kamu tahu kenapa? Itu semua karena kamu. Karena kamu menolak niat baiknya untuk dia bisa mengenalmu lebih dekat."
"Mengapa Aya yang harus disalahkan Yah? Aya tidak bisa menerima perjodohan dengan kak Biru dan sempat memblokir nomornya karena Aya memang tidak mencintainya. Semua rasa tidak bisa Aya paksakan Yah."
"Jelas kamu yang salah Ay. Kalau dari awal kamu mau menerima perjodohan ini, semua pasti tidak akan pernah terjadi. Biru tentu tidak akan melanjutkan studinya."
"Lalu, sekarang apa yang harus Aya lakukan Yah? Aya harus bagaimana agar hubungan kita bisa kembali seperti semula? Sungguh serba tidak mengenakkan jika hubungan kita seperti ini Yah!"
Merasakan lelah karena terlalu lama menangis, kini suara Cahya terdengar begitu pelan dan lirih. Ia seakan sudah berada di titik akhir rasa sabar yang ia miliki. Ia pasrah akan apa yang diinginkan oleh sang ayah.
"Tapi sebentar lagi Aya akan menikah Yah. Apa Ayah tetap teguh dalam pendirian untuk tidak memberikan restu dan tidak bersedia menjadi wali nikah?"
Candra tetap bersikap dingin meskipun wajah sang anak menampakkan raut sendu dan seakan meminta belas kasih. Hati pria itu terlampau keras dan beku, hingga tak ada satupun yang bisa menjebol benteng pertahanannya.
"Aku tetap tidak akan merubah keputusan yang sudah aku buat. Tidak akan pernah ada restu untukmu dan jangan berharap aku akan menjadi wali nikahmu. Aku sudah terlanjur kecewa karena dari awal kamu tidak pernah mau untuk mendengar semua perkataanku."
"Ayah!"
Tak lagi kuasa melihat sang anak diperlakukan sebegitu dinginnya oleh Candra, Bintari muncul dari tempatnya bersembunyi. Ia melangkahkan kaki, menghampiri sang suami dengan derai air mata yang juga mengalir tiada henti. Hatinya seakan ikut pilu melihat sang anak diperlakukan seperti ini oleh ayahnya sendiri.
"Ayo Nak bangun, jangan seperti ini!"
__ADS_1
Bintari membungkukkan sedikit tubuhnya. Ia pegang kedua bahu Cahya, memandu sang anak untuk berdiri dari posisinya.
Cahya menggelengkan kepala. Tangan gadis itu bahkan jauh lebih kuat mencengkeram tungkai kaki Candra.
"Tidak Bu, Aya tidak mau. Aya akan tetap memohon kepada Ayah dengan cara seperti ini sampai ayah merestui dan mau menjadi wali."
Hati Bintari seperti ikut merasakan sakit. Ia sungguh tidak menyangka jika keadaan justru semakin memburuk seperti ini.
"Apakah seperti ini cara Ayah memperlakukan Cahaya? Ingat Yah, Cahya ini putri kita, tidak sepantasnya Ayah bersikap seperti ini!"
"Aku berada di posisi yang benar Bu. Aku tidak pernah merestui pernikahan Cahya dengan kekasihnya itu karena lelaki itu bukan lelaki baik-baik."
"Lalu sekarang mau kamu apa Yah? Coba Ayah katakan apa yang harus dilakukan oleh Aya agar Ayah berhenti bersikap seperti ini!"
Tak tahan lagi, Bintari memaksa Candra untuk mengatakan apa yang menjadi kemauan suaminya itu. Semua sudah berada di titik terendah dan mencoba untuk mengalah juga menurunkan ego.
Tatapan mata Candra masih menerawang. Ia hentakkan kakinya agar terlepas dari cengkeraman tangan Cahya dan mulai beranjak pergi.
"Semua sudah terlambat. Biru tidak akan pernah lagi mengulangi niat baiknya untuk menikahi anak durhaka itu. Sekarang semua terserah pada kalian. Aku tidak akan peduli lagi!"
Tubuh Candra semakin lama semakin hilang dari pandangan Cahya dan Bintari. Ibu dan anak itu hanya bisa duduk di lantai sembari berpelukan untuk sama-sama saling menguatkan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Tiga part ke depan, kita flashback ke masa lalu Cahya dulu ya Kak... Hehehe... ini mungkin bisa menjadi jawaban bagi para pembaca yang bertanya-tanya perihal keluarga Cahya mengapa tidak muncul di scene sejak bab 1...🤗🤗🤗🤗