
"Ada apa lagi sih Meg? Bapak lihat kamu akhir-akhir ini sering memasang wajah masam seperti itu. Kamu berantem sama Awan?"
Kardi memasang wajah yang dipenuhi oleh tanda tanya. Pasalnya, sore ini Mega pulang dari resto dengan wajah yang ditekuk. Sangat kusut, persis seperti cucian kering yang belum disetrika.
"Hari ini aku benar-benar kesal, Pak. Mas Awan sungguh sudah berubah semenjak kehadiran wanita bernama Mentari itu. Dia bahkan sama sekali tidak berpihak ataupun membelaku!"
Mega membuang napas kasar. Apa yang terjadi di hari ini sungguh di luar ekspektasi. Ia yang sudah bermimpi bisa berduaan dengan Awan sembari melihat restonya yang ramai akan pelanggan, yang terjadi justru sebaliknya. Moodnya sudah berubah sejak ia tiba di resto kala melihat sang suami duduk berduaan dengan Mentari. Ditambah perihal komplain customer yang membuatnya bersitegang dengan Awan yang semakin membuat hubungannya dengan Awan kacau balau.
"Tidak membelamu? Memang apa yang tengah terjadi kepadamu dan wanita bernama Mentari itu?" tanya Kardi begitu penasaran.
Mega menceritakan apa saja yang terjadi di hari ini sejak ia tiba di resto sampai akhirnya ia memilih untuk pulang ke rumah. Kardi begitu seksama mendengar cerita sang anak. Ia berupaya untuk menjadi tempat berkeluh kesah yang baik bagi anak semata wayangnya ini.
"Begitu ceritanya Pak. Coba Bapak ada di posisiku. Pasti sudah kesal dan marah sekali menghadapi situasi seperti ini."
"Kalau ceritanya seperti itu, wajar kalau Awan marah kepadamu Meg. Kamu memang keterlaluan!"
Mega terkejut setengah mati mendengar jawaban dari Kardi. Ia yang bermaksud meminta pembelaan dari sang ayah justru tidak ia dapati. Kardi malah ikut menyalahkannya.
"Bapak ini apa-apaan? Kenapa tidak membelaku sih? Aku ini dari tadi disudutkan oleh mas Awan loh Pak!"
"Kamu memang salah dalam menerima komplain dari pelanggan, Meg. Jika Bapak jadi Awan, pasti juga akan marah. Bukan seperti itu caranya menghadapi customer. Lebih baik kita yang mengalah asalkan citra baik resto bisa terjaga," ucap Kardi sedikit memberi pengertian kepada anaknya ini.
"Tapi Pak, kenapa juga mas Awan harus membanding-bandingkan aku dengan wanita gatal itu. Aku sangat tidak suka Pak!"
"Katapun tidak di banding-bandingkan, kamu juga kalah jauh dari Mentari dari sisi manapun Meg. Jika kamu tidak bisa mengendalikan emosi dan mengesampingkan ego, maka bersiap-siap saja kamu ditinggal oleh Awan!" timpal Kardi yang seketika membuat Mega mengernyitkan dahi.
"Maksud Bapak apa? Tidak mungkin mas Awan meninggalkan aku!" kekeuh Mega yang begitu yakin bahwa Awan akan tetap berada di sisinya.
"Ya kalau sikap dan tingkah lakumu seperti ini, jelas Awan akan semakin muak kepadamu Meg. Komunikasi kalian pasti tidak akan mulus karena selalu saja ada perdebatan akibat egomu yang kamu kedepankan."
"Tapi tidak mungkin mas Awan akan meninggalkanku Pak."
__ADS_1
"Apa yang membuatmu begitu yakin bahwa Awan tidak akan meninggalkanmu? Toh sekarang ini Bapak lihat wajahmu juga tidak secantik dulu. Kamu terlihat jauh lebih tua dari usiamu."
"Ki Prana sudah memasang susuk di pelipis ku Pak. Dia mengatakan bahwa mas Awan akan selalu berada di bawah pesonaku. Tidak mungkin dia meninggalkanku!"
"Apa? Kamu pasang susuk? Apa tidak terlalu berlebihan Meg?"
"Tidak ada yang berlebihan Pak karena dengan cara seperti ini aku bisa memikat mas Awan dan selamanya dia tidak akan pernah meninggalkanku. Aku hanya tinggal menjauhi pantangannya saja," jawab Mega dengan percaya diri bahwa Awan tidak akan meninggalkannya.
"Lalu, apa pantangan dari susuk pemikatmu itu? Jangan-jangan kamu sudah melanggar pantangan itu karena saat ini wajahmu terlihat jauh lebih kusam dan Awan pun berani untuk bertindak kasar kepadamu," tembak Kardi.
Ucapan Kardi sukses membuat Mega terdiam dan membisu. Ia putar memori otaknya untuk mengingat-ingat pantangan apa yang harus ia hindari agar susuk pemikat yang ada di wajahnya ini tetap berfungsi.
Lama Mega terdiam hingga pada akhirnya ia terperangah, dengan kedua bola mata membulat penuh dan bibir yang menganga lebar. Ia baru ingat akan kata-kata yang diucapkan oleh Ki Prana.
"Ya ampun Pak. Aku lupa bahwa yang menjadi pantangan adalah pisang mas. Dan...."
"Dan sudah sejak tiga bulan yang lalu kamu hampir setiap hari makan pisang mas? Itu artinya susukmu sudah tidak berfungsi kan?" timpal Kardi.
"Aduh Pak, ini bagaimana? Pantas saja wajahku semakin kusam dan muncul beberapa jerawat. Sekarang aku harus bagaimana Pak?"
"Coba kamu hubungi Prana. Kamu pasti punya nomor ponselnya kan?" usul Kardi.
Mega membenarkan usulan Kardi. Gegas wanita itu mengambil gawainya dan segera menghubungi Ki Prana.
"Hallo Ki."
"Hallo Meg. Ada apa? Tumben kamu menghubungiku?"
"Ki gawat Ki, gawat. Aku sudah melanggar pantangan susuk pemikat yang Ki Prana tanam. Sekarang wajahku jadi kusam dan muncul jerawat di mana-mana. Aku harus bagaimana Ki?"
"Apa? Kamu sudah melanggar pantangan? Sudah berapa lama kamu memakan pisang mas itu?"
"Kira-kira dari dua atau tiga bulan yang lalu Ki. Saat ini aku tengah hamil dan aku ngidam makan buah pisang mas."
__ADS_1
"Gila, kalau sudah tiga bulan itu tandanya sudah tidak bisa dipulihkan Meg!"
"Apa Ki, tidak bisa dipulihkan? Bagaimana bisa begitu Ki? Tolong aku Ki. Aku sungguh tidak mau memiliki wajah buruk seperti ini."
"Kalau masih satu bulan aku bisa membantu untuk memulihkannya Meg. Tapi ini sudah tiga bulan dan sudah muncul jerawat di wajahmu. Itu artinya kamu kemakan susukmu sendiri. Aku tidak bisa membantumu karena nantinya akan ada sesuatu mengerikan yang terjadi padamu!"
Ucapan Ki Prana dari seberang telepon bagaikan petir di siang bolong yang membuat Mega terkejut setengah mati. Kedua bola matanya melotot seakan mau keluar dari tempatnya berada.
"Sesuatu mengerikan? Apa itu maksudnya Ki? Tolong jangan buat aku pemasaran seperti itu!"
"Maaf Meg, aku tidak bisa memberitahuknnya. Yang jelas saat ini aku tidak bisa berbuat apa-apa karena kamu sendirilah yang sudah melanggar pantangan itu!"
Tutt.... Tuttt.... Tuttt...
"Ki, Ki Prana! Tunggu, jangan tutup teleponnya!"
Tuttt.... Tuttt.... Tuuuttt....
"Aaarggghhhhh.... Sialaann!!!!"
Pyaaarrrrrr!!!!!
Mega melempar ke sembarang arah ponsel yang ada di tangannya hingga mengenai sebuah guci dari keramik yang berada di sudut ruangan. Seketika guci itu pecah dan ponsel miliknya pun juga remuk redam berserakan di atas lantai.
"Bagaimna ini Pak, bagaimana?" ucap Mega frustrasi sembari menangis tergugu dan menjambak-jambak rambutnya. Wanita itu seperti orang gila karena paranormal yang memasang susuk di wajahnya pun sama sekali tidak memiliki solusi dan jalan keluar.
"Apa yang dikatakan oleh Prana, Meg?" tanya Kardi begitu penasaran.
"Ki Prana tidak bisa melakukan apapun dan katanya akan ada sesuatu mengerikan yang menimpaku," lirih Mega yang semakin kehilangan tenaga. Apa yang ia alami seharian ini sungguh membuatnya lelah setengah mati.
"Kalau begitu siap-siap saja kamu Meg. Mungkin salah satunya Awan yang akan meninggalkanmu!"
.
__ADS_1
.
.