Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 64. Titah (Flashback)


__ADS_3


Brakk!!!!


Dengan kasar, Candra melempar dua travel bag ke arah halaman depan. Setelahnya, lelaki itu berdiri tegap di depan teras sembari berkacak pinggang, menyambut kedatangan sebuah mobil yang baru saja tiba di halaman.


"Ayah!!!"


Cahya beserta rombongan yang baru saja pulang dari KUA dan masih berada di dalam mobil, sama-sama terkejut kala melihat sajian apa yang terpampang jelas di depan mata. Gegas, semua yang berada di dalam mobil turun untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Pergi kamu dari rumah ini anak durhaka! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah meridhoi pernikahanmu dengan lelaki breng*sek itu!"


Candra berteriak lantang kala mulai melihat sang anak turun dari mobil dan mendekati dua travel bag itu. Tubuh wanita yang telah resmi menjadi istri dari Awan, hanya bisa berdiri tertegun, menatap nanar dua travel bag miliknya yang terhempas di atas tanah.


"Ayah, apa-apaan ini? Ini tas apa Yah?"


Bintari melayangkan sebuah tanya kepada sang suami sesaat setelah dari bibir Candra keluar kalimat pengusiran yang ditujukan kepada Cahya. Bintari masih belum bisa mencerna apa yang sebenarnya diinginkan oleh suaminya ini.


"Itu tas milik anak durhaka itu. Dia sudah berani menentang perintahku. Itu artinya dia tidak pantas lagi berada di sini!"


"Tapi Yah... Jangan seperti ini. Aya baru saja tiba dari KUA. Setidaknya biarkan dia masuk ke dalam rumah terlebih dahulu!" pinta Bintari sedikit mengiba. Ia sungguh merasa tidak enak hati di hadapan sang besan yang juga melihat kejadian seperti ini.


Candra menyilangkan lengan tangannya di depan dada. Lelaki itu tersenyum remeh mendengar permintaan sang istri.


"Tidak akan aku biarkan anak durhaka itu menginjakkan kakinya di dalam rumahku. Mulai hari ini, aku haramkan kamu dan kamu berhubungan dengan anak durhaka itu!" teriak Candra sembari menunjuk ke arah Bintari dan Angkasa.


Angkasa terhenyak. Gegas, ia berlari mendekat ke arah sang ayah yang tengah murka. "Tapi Yah, Aya masih anak kandung Ayah dan dia adalah adikku. Mana mungkin Ayah membuat larangan seperti itu?"


"Sejak dia memutuskan untuk menentang perintahku, itu artinya dia sudah tidak lagi menjadi anakku. Sehingga tempatnya bukan lagi di rumah ini!"


Cahya yang mendengar penuturan sang ayah hanya bisa terdiam, membisu dan membeku. Hatinya kembali dibuat remuk atas apa yang diucapkan oleh Candra. Jika kemarin luka hatinya hanya bertumpu pada restu yang tidak diberikan oleh Candra, namun kali ini hatinya semakin remuk karena telah dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.


Sendi-sendi tubuh Cahya terasa begitu lemas. Tulang-tulang wanita itu seakan tak mampu lagi untuk menopang bobot tubuhnya hingga ia pun memilih meluruhkan tubuhnya, terduduk di atas tanah. Marni yang melihat keadaan sang menantu terkesiap dan wanita paruh baya itupun memilih untuk mendekati Cahya. Ia ikut terduduk di atas tanah dan ia rengkuh tubuh sang menantu untuk ia peluk erat.


"Yah ... Aku mohon, jangan seperti ini. Kasihan Aya, Yah. Jangan hukum Aya dengan cara seperti ini!"

__ADS_1


Awan yang sudah tidak sanggup lagi melihat sikap sang mertua, tanpa pikir panjang lelaki itu bersimpuh di bawah telapak kaki sang ayah mertua. Seperti yang dilakukan oleh Cahya sebelumnya, lelaki itu juga mengiba di bawah kaki Candra. Meminta Candra untuk mengikhlaskan semua.


"Apa kamu bilang? Yah?" tanya Candra dengan seringai di bibirnya. "Aku tidak sudi kamu panggil 'yah'. Kamu bukanlah siapa-siapa dan tidak pantas untuk memanggilku dengan sebutan 'yah'."


"Baiklah pak Candra, saya tidak akan memanggil Anda dengan sebutan itu lagi. Namun tolong, jangan bersikap seperti ini kepada Cahya. Sampai kapanpun dia tetap anak kandung Anda, Pak!" ucap Awan lirih. Kali ini ia merasa akan sangat sulit untuk menghancurkan dinding ego mertuanya ini.


"Akar dari ini semua adalah kamu. Seandainya kamu tidak pernah ada di dalam kehidupan Cahya, dia pasti tidak akan pernah membangkang perintahku dan tidak akan pernah menjadi anak durhaka," kelakar Candra semakin tak terkendali. Lelaki itu seakan kian menunjukkan powernya sebagai seorang laki-laki.


"Baik Pak, saya terima jika saya yang disalahkan atas hal ini. Tapi tolong, beritahu kami apa yang harus kami lakukan untuk bisa membuat hati Bapak melunak? Saya sudah resmi menjadi suami Cahya, Pak. Kami sudah resmi menjadi suami-istri!"


"Kamu ingin tahu jawabannya? Apa yang harus kalian lakukan?" tanya Candra dengan nada retoris.


Awan menganggukkan kepala. "Iya Pak, saya akan melakukan apapun asalkan hati Bapak bisa melunak, tidak terlalu keras seperti ini."


"Pergi kalian dari sini. Jangan pernah kalian menampakkan wajah kalian di depan mataku. Jika perlu, pergi kalian dari kota ini!"


Candra menghentakkan kakinya agar bisa terlepas dari cengkeraman tangan Awan yang terasa begitu kuat. Lelaki itu berbalik badan untuk bersegera masuk ke dalam rumah. Namun pada kakinya baru menginjakkan area depan pintu, lelaki itu kembali berbalik punggung.


"Bu, Angkasa, ayo masuk! Ingat, aku haramkan kalian berhubungan dengan anak durhaka itu. Mulai hari ini, aku akan mengganti nomor kontak kalian agar kalian tidak bisa berhubungan dengan anak durhaka itu!"


"Aku bilang masuk. Jangan lagi membantah!" teriak Candra tak ingin mendengarkan pembelaan dari istri dan juga anak sulungnya lagi.


Angkasa dan Bintari bermaksud untuk mendekat ke arah Cahya yang masih meluruh di atas tanah. Namun...


"Jangan dekati anak durhaka itu lagi! Aku bilang masuk!" teriak Candra yang seketika menghentikan niat Bintari dan juga Angkasa.


"Yah, Ibu akan menuruti perintah Ayah, namun tolong izinkan Ibu memeluk Cahya untuk terakhir kalinya!" pinta Bintari dengan suara sedikit bergetar.


Candra bergeming. Ia hanya bisa berdiri terpaku di depan pintu. Tak menanggapi permintaan istrinya ini.


Seakan mendapatkan lampu hijau dari Candra, Bintari bersegera mendekati sang anak. Wanita itu memeluk tubuh Cahya yang sebelumnya dipeluk oleh sang besan.


"Nak, sampai kapanpun Ibu ridho atas jalan yang sudah kamu pilih. Pergilah, sembuhkan lukamu atas semua sikap ayahmu. Buktikan kepada Ayah, bahwa jalan yang sudah kamu pilih ini memang jalan terbaik. Buktikan kepada Ayah bahwa lelaki yang menjadi pilihanmu adalah lelaki baik-baik tidak seperti apa yang ada di dalam benak ayah."


"Tapi Bu...."

__ADS_1


"Nak, Ibu percaya suatu hari nanti hubunganmu dengan ayah bisa kembali seperti sedia kala. Ibu percaya bahwa ikatan darah akan tetap kental tidak akan ada yang bisa memisahkan. Saat ini, ayahmu hanya sedang menunjukkan kekecewaannya."


"Tapi, apakah Aya bisa pergi dari dalam keadaan seperti ini Bu? Di mana Ayah masih belum ridho atas apa yang terjadi?"


"Nak, akan menjadi kesia-siaan jika kamu tetap bertahan di saat ayah dipenuhi oleh emosi seperti ini. Sekarang, penuhi permintaan ayah untuk kamu pergi dari sini. Biarlah waktu yang nantinya akan menghapus rasa kecewanya."


Cahya hening sejenak memikirkan apa yang diucapkan oleh sang ibu. Ia pun menganggukkan kepala sebagai isyarat menyetujui saran dari Bintari. Cahya mengusap air matanya. Wanita itu beranjak dan mengayunkan tungkai kakinya untuk mendekati sang ayah. Lagi, wanita itu bersimpuh di bawah telapak kaki Candra.


"Jika dengan pergi dari hadapan Ayah bisa meredam sedikit rasa kecewa Ayah, Aya akan memenuhi permintaan Ayah untuk pergi dari sini. Untuk kesekian kalinya Aya minta maaf atas semua kesalahan Aya. Aya pamit, Yah!"


Tak lagi mengharapkan respon dari sang ayah, Aya kembali bangkit dari posisinya. Ia berjalan ke arah sang suami dan juga sang mertua yang sudah berdiri di samping mobil.


"Ayo Mas, kita segera pergi dari sini!"


Awan menganggukkan kepala. "Baik Ay."


Awan dan Marni masuk ke dalam mobil. Cahya masih menatap sendu wajah Angkasa dan juga sang ibu. Tanpa basa-basi, ia memeluk tubuh dua orang ini bersamaan.


"Aya pamit ya Kak, Bu. Maaf atas semua kesalahan Aya!"


"Pergilah Nak. Ibu memberikan ridho untukmu. Semoga suatu saat nanti kita bisa berkumpul kembali."


Dengan hati yang begitu berat, Cahya melepaskan dirinya dari pelukan Bintari dan juga Angkasa. Wanita itu bergegas masuk ke dalam mobil untuk menyusul sang suami dan juga mertuanya.


Perlahan, mobil yang dikemudikan oleh Angkasa bergerak meninggalkan halaman rumah Candra. Tak perlu menunggu waktu lama mobil itu mulai hilang dari pandangan Bintari dan juga Angkasa.


Tes... Tes... Tes...


Rintik hujan mulai turun ke bumi. Mengiringi kepergian Cahya dari kota ini. Rintik air hujan itu juga turun bersamaan dengan setetes kristal bening yang lolos dari kelopak mata Candra.


.


.


.

__ADS_1


Flashback Off


__ADS_2