Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 137. Tidak Sudi


__ADS_3


"Astaghfirullahalazim.... Itu ada apa kok ramai-ramai seperti itu Srul?"


Rusma yang tengah melintasi jalanan berkelok ini seketika dibuat terkejut akan keadaan yang ada di sekitar. Banyak orang yang berkumpul di tempat ini dan dari raut wajah mereka nampak begitu panik. Namun dari pemandangan yang ia lihat, ada hal yang membuat Rusma bergidik ngeri. Ya, kondisi mobil dan motor yang sama-sama sudah ringsek.


"Sepertinya ada kecelakaan Bu. Itu ada mobil dan motor yang ringsek."


"Innalillahi ... Ayo kita turun dulu Srul. Barangkali ada yang bisa kita lakukan untuk menolongnya."


Rusma dan Asrul sama-sama keluar dari mobil. Mereka yang baru saja pulang dari kota untuk membeli beberapa kebutuhan panti, harus berhenti terlebih dahulu untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Maaf Pak, ini ada apa ya?" tanya Rusma kepada salah seorang warga yang berkumpul.


"Kecelakaan Bu. Sepertinya pemotor ini melamun karena tidak sadar ada mobil yang melaju dari arah berlawanan," ucap warga itu menjelaskan.


Rusma melihat sosok lelaki yang dalam posisi telungkup. "Astaghfirullah .... Mengapa tidak langsung diberikan pertolongan Pak?"


"Kami takut Bu. Takut kalau justru membuat semakin parah luka orang ini. Ini kami semua juga sedang menunggu ambulans."


Rusma begitu penasaran dengan sosok lelaki yang tengah berada dalam posisi telungkup ini. Entah mengapa ia merasa ingin sekali melihat siapa lelaki yang tengah mengalami kecelakaan ini. Hatinya seakan berbisik untuk melihat Siapakah gerangan dia.


"Srul, tolong bantu saya untuk melihat siapa lelaki ini!" pinta Rusma kepada Asrul yang merupakan sopir di panti.


Asrul menurut saja. Ia dan Rusma dengan pelan mencoba untuk membalik tubuh lelaki ini. Saat tubuh lelaki yang tengah mengalami kecelakaan ini dalam posisi terlentang, tiba-tiba saja Rusma dibuat terperangah tiada percaya. Sepasang netra wanita itu membulat sempurna dengan bibir menganga lebar.


"Astaghfirullahalazim .... I-ini kan pak Awan!!! Ya Allah...."


"Bu Rusma kenal orang ini?" tanya Asrul penasaran.


"Iya Srul. Dia ini anak dari salah satu penghuni panti. Anak dari bu Marni."


"Ya Allah .... Terus sekarang kita harus bagaimana Bu? Jika menunggu ambulans takutnya terlalu lama."


Rusma nampak berpikir sejenak. Ia melihat ke arah sekitar dan ia pun memiliki sebuah rencana.


"Bapak-Bapak ... Tolong bantu saya untuk meletakkan tubuh lelaki ini ke mobil saya ya. Kasihan dia jika tidak segera mendapatkan pertolongan."


"Tapi kalau sampai terjadi sesuatu bagaimana Bu?"


"Sudah, Bapak-Bapak tidak perlu khawatir. Biar saya yang bertanggung jawab. Sekarang bantu saya untuk mengangkat lelaki ini. Setelah itu akan saya bawa ke rumah sakit."


"Baiklah Bu!"

__ADS_1


Pada akhirnya orang-orang yang sebelumnya hanya melihat tubuh Awan terkapar di jalanan, kini mereka sama-sama mengangkat tubuh Awan untuk dimasukkan ke dalam mobil. Pastinya untuk mendapatkan pertolongan segera.


"Bapak, saya minta tolong salah satu dari Bapak-Bapak ini menghubungi pihak ekspedisi ya. Lelaki ini sepertinya salah satu kurir di CLA ekspress. Beri kabar kalau lelaki ini saya bawa ke Rumah Sakit Kasih Bunda," ucap Rusma.


"Baik Bu."


***


"Dok, jadi bagaimana keadaan lelaki ini?"


Di sebuah rumah sakit, seorang dokter terlihat tengah memeriksa keadaan Awan. Setelah mengecek keadaan Awan seluruhnya, ia keluar ruangan dan bertemu dengan Rusma.


"Pasien masih belum sadar Bu, mungkin sebentar lagi dia akan sadar. Alhamdulillah kepala pasien tidak sampai cidera karena terlindung oleh helm namun ada sesuatu yang dialami pasien."


"Sesuatu apa itu Dok? Apakah itu parah?"


"Kaki pasien cidera hebat dan kemungkinan akan lumpuh total."


Rusma semakin dibuat terkejut. "Apa Dok? Lumpuh total? Sepasang kakinya Dok?"


"Iya Bu. Kedua kaki pasien lumpuh total. Jadi jika ia pulih, maka ia harus menggunakan kursi roda ataupun kruk."


"Astaghfirullahalazim....."


"Baik Dok, terima kasih."


Sang dokter melenggang pergi meninggalkan Rusma, sedangkan pengurus panti itu masuk ke dalam ruang rawat untuk melihat kondisi Awan. Ia berdiri di sisi ranjang Awan dan menatap lekat tubuh lelaki yang tengah terbaring ini.


"Tidak ada yang tahu akan jalan hidup seseorang. Dulu Pak Awan membuang ibunya di panti jompo karena sudah tidak ingin mengurus sang ibu yang catat. Kini, keadaan seolah berbalik, Pak Awan pun juga ikut merasakan bagaimana rasanya lumpuh."


Jika mengingat apa yang sudah dilakukan oleh Awan kepada Marni, rasa-rasanya Rusma ingin tertawa puas karena saat ini Awan mendapatkan balasannya. Namun, ia harus menahannya karena setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah. Barangkali dengan adanya kecelakaan seprti ini bisa membuat Awan sadar akan kesalahannya.


"Sepertinya aku harus membawa Bu Marni kemari. Semoga dengan keberadaan Bu Marni bisa membuat Pak Awan segera pulih kembali."


Rusma kembali keluar ruangan. Wanita itu celingak-celinguk mencari keberadaan Asrul. Hingga akhirnya ia menemukan keberadaan Asrul yang tengah duduk di bangku taman yang berada di tengah-tengah gedung rumah sakit.


"Srul, aku mau minta tolong!" ucap Rusma ketika sudah sampai di belakang punggung Asrul.


Asrul bangkit dari posisi duduknya dan berhadapan langsung dengan Rusma. "Iya Bu, apa yang bisa saya bantu?"


"Tolong kamu jemput Bu Marni ya. Kamu bawa Bu Marni kemari. Aku ingin mempertemukan Bu Marni dengan putranya."


"Tapi apa Bu Marni mau, Bu? Padahal sejauh yang kita lihat, Bu Marni ini teramat membenci putranya."

__ADS_1


Rusma hanya tersenyum simpul. "Yang penting kita berusaha dulu. Untuk hasilnya kita serahkan kepada Yang Maha membolak-balikan hati. Lagipula aku yakin, sesalah-salahnya seorang anak, pasti akan mendapatkan pintu maaf dari orang tuanya."


"Baiklah Bu, coba saya bawa Bu Marni kemari."


"Yang terpenting, kamu rahasiakan dulu tujuannya. Bilang saja mau menyusulku."


"Baik Bu, kalau begitu saya langsung ke panti untuk menjemput Bu Marni."


"Terima kasih Srul."


"Sama-sama Bu."


***


"Mas Asrul, ini sebenarnya mau kemana? Kok berhenti di pelataran rumah sakit seperti ini?"


Entah sudah keberapa kalinya Marni menanyakan hal itu kepada Asrul, namun lagi-lagi Marni harus menelan rasa kecewa karena tidak ada satupun jawaban yang diberikan oleh Asrul.


Asrul menyiapkan kursi roda milik Marni. Dengan perlahan, lelaki itu membopong tubuh Marni dan ia dudukkan di atas kursi roda. Dengan pelan, Asrul mulai mendorong kursi roda milik Marni menyusuri lorong-lorong rumah sakit.


"Tenang ya Bu. Saya membawa Bu Marni ke rumah sakit atas permintaan Bu Rusma. Ada sesuatu yang ingin bu Rusma bicarakan."


"Ya Allah ... Mengapa harus di rumah sakit? Mengapa tidak di panti saja?"


Asrul tidak lagi menanggapi pertanyaan Marni. Tak selang lama lelaki itu tiba di depan ruangan Awan. Nampak Rusma duduk di bangku yang ada di depan pintu.


"Bu Rusma, ada apa? Mengapa bu Rusma ada di rumah sakit?" tanya Marni yang begitu penasaran.


Rusma tersenyum simpul. Ia berjalan mendekat ke arah Marni. "Tenang Bu, saya baik-baik saja. Justru saya meminta Bu Marni datang kemari untuk bertemu dengan seseorang."


Dahi Marni berkerut dalam. "Bertemu dengan seseorang? Siapa Bu."


"Bisa Bu Marni lihat sendiri di dalam."


Rusma membantu mendorong kursi roda milik Marni. Perlahan, ia buka pintu ruangan dan kini tubuh Marni sudah berada di ambang pintu.


Dari kejauhan, Marni melihat sosok lelaki yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit. Meskipun dari posisi yang sedikit jauh, wanita itu bisa melihat dengan jelas siapa sosok lelaki itu. Hatinya bergemuruh layaknya suara gelombang air laut yang tengah pasang. Raut wajahnya pun seketika berubah.


"Saya tidak sudi bertemu dengan anak itu lagi Bu! Tolong bawa saya pulang dari tempat ini!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2