Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 109. Bahagia


__ADS_3


Cahya POV


Malam menjelang. Rembulan mulai bertahta menggantikan sang raja siang yang telah lelah berjaga seharian. Memancarkan sinarnya, untuk menjadi sumber kehidupan bagi para penduduk bumi manusia. Dan kini sang dewi malam mulai menampakkan wajah, memberikan penerangan, menembus pekat di malam hari ini.


Aku berdiri di depan jendela kamar yang terasa asing bagiku. Ya, malam ini aku dan mas Langit berada di sebuah kamar hotel yang berada di pusat kota. Setelah lelah dengan segala macam rentetan acara pernikahan dan resepsi, akhirnya detik ini aku bisa untuk segera mengistirahatkan diri.


Eh, tapi tunggu. Sepertinya aku tidak bisa untuk segera beristirahat dengan memeluk mimpi karea aku lihat mas Langit sudah begitu ingin melakukan ritual ibadah kami selanjutnya. Para pembaca pasti tahu kan maksudnya? 😂


Dari tempat aku berdiri saat ini, aku bisa melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi. Karena berada di pusat kota sehingga wajar jika di sini ditemui gedung-gedung pencakar langit, meskipun tidak setinggi di ibu kota ataupun kota yang mendapatkan sebutan kota metropolitan.


Hamparan permadani langit nan luas pun juga terlihat jelas. Dengan hiasan wajah bulan yang membulat penuh dan ribuan bintang yang menari-nari, seolah menjadi pertanda jika malam ini adalah malam yang indah bagi para penghuni bumi.


Aku masih mengenakan mukena saat berdiri di depan jendela kamar. Baru saja, aku dan mas Langit selesai melaksanakan sholat sunnah dua rakaat. Sebuah ritual ibadah yang kami lakukan untuk meminta keberkahan dari apa yang akan kami lakukan. Dan berharap apa yang akan kami lakukan nanti bernilai ibadah di hadapan Yang Maha Kuasa.


"Serius banget lihat langitnya. Memang pesona langit di luar sana jauh lebih memikat daripada pesona Langit yang ini ya Sayang?" tanya mas Langit yang tiba-tiba mendekat ke arahku.


Aku terkikik geli mendengar ucapan mas Langit. Aku menoleh ke arahnya. Dan kulihat mas Langit sangat tampan malam ini dengan celana pendek warna cream dan kaos putih tipis yang terlihat ketat di badannya.


Aku mendekat ke arah mas Langit. Ku lingkarkan tanganku ke pinggangnya. Dan ku letakkan kepalaku tepat di dadanya.


"Bahkan saat ini pesona langit di atas sana tidak berarti apa-apa lagi Mas. Karena Langit yang ini sudah berada di sini, di dekapanku."


Kurasakan mas Langit mengecup pucuk kepalaku dengan intens. Aaah... rasanya ada sepercik kedamaian yang begitu terasa mengalir di aliran darahku.


"Benarkah itu, Sayang?"


Aku mengangguk. "Tentu saja benar. Satu hal yang tidak bisa aku lakukan di depanmu adalah membohongimu, Mas."


Kudengar mas Langit tertawa renyah. Ia agak sedikit menggeser tubuhnya, hingga kini kami dalam posisi saling berhadapan. Perlahan, ia mengecup kening, pipi, dan bibirku. Setelahnya, ia mengulas sedikit senyum.


"Sudah lama aku menantikan saat-saat seperti ini. Bolehkah malam ini aku menikmati semua yang tersimpan di dalam tubuhmu Sayang?"


Aaahh... Mengapa kamu mengatakan kata-kata seperti itu Mas? Kata-kata mu sungguh terdengar begitu lembut namun berhasil membuat gejolak dalam dadaku. Aku begitu terlena dengan kata-kata mu itu.


Aku mengangguk sembari tersenyum simpul. Ku raih telapak tangan mas Langit. Aku kecup dengan intens.


"Saat ini semua yang ada dalam tubuhku adalah milikmu, Mas. Kamu boleh menikmatinya sebanyak yang kamu mau."


Mas Langit tersenyum. Ia dekatkan wajahnya di samping telingaku. Lirih ia berbisik. "Jika memang benar seperti itu. Selama satu minggu ini, aku hanya ingin kamu berada di atas ranjang, untuk aku nikmati Sayang."


Aahhh... Kata-katamu seperti menjadi mantra yang terasa begitu memabukkan Mas. Yang membuatku menganggukkan kepala dan tidak sanggup untuk menolaknya.

__ADS_1


***


Lampu kamar ini sudah padam, hanya menyisakan sebuah lampu tidur yang temaram, namun suasana intim justru semakin terasa. Dengan lingerie warna merah aku berdiri di depan cermin. Kulihat pantulan diriku di dalam cermin itu. Rasa-rasanya aku sangat malu mengenakan pakaian seperti ini. Apalagi warna ini, warna merah menyala yang seperti ikut membangkitkan hasrat mas Langit untuk segera menerkamku.


Mas Langit melangkahkan kakinya menghampiriku. Ia berdiri tepat di belakangku dan memelukku. Kepalanya ia letakkan di ceruk leherku yang sedikit membuat aku tersentak.


"Dengan pakaian ini kamu terlihat jauh lebih cantik, istriku!"


Suara mas Langit sedikit parau namun malah terdengar begitu sensual di telingaku. Seperti mentransfer sinyal hasrat yang menggelora dalam tubuhku. Aku pun hanya tersipu malu.


Mas Langit mulai menyapu bagian leherku dengan sapuan bibirnya. Tangan yang sebelumnya berada di pinggangku kini mulai merangkak naik ke atas menyentuh kedua benda yang menjadi kebanggaan kaumku. Ia mulai *******-***** milikku. Mataku terpejam, mencoba menikmati setiap sentuhan tangan mas Langit.


Ada apa dengan tubuhku? Jantungku tetiba berdetak tiada beraturan. Seakan memompa darahku lebih cepat. Membuatnya berpacu seperti tak terkendali. Sentuhan seperti ini, aaahhhh.... sungguh aku merindukannya. Aku tidak munafik. Aku juga hanya wanita biasa yang memiliki nafsu dan sudah lama tidak terjamah. Sentuhan mas Langit ini, sungguh membuatku merasa seperti melayang ke awan.


"Mmmphhh... Mas..."


Aku melenguh. Merasakan remasan tangan mas Langit yang semakin liar, dengan ciuman di ceruk leherku yang terasa begitu memabukkan.


"Ya Sayang...?"


Suara parau mas Langit terdengar semakin sexy di telingaku yang membuatku ingin mendapatkan yang lebih dari ini. Lebih dari sekedar belaian, ciuman dan sapuan bibir. Merasakan kenikmatan surgawi di bawah ikatan halal sepasang suami-istri.


"Jangan Mas... Jangan..."


Kulihat mas Langit mengerutkan dahi. "Jangan? Apakah kamu tidak menginginkannya malam ini, Sayang?"


Dalam hati aku terkikik geli. Sebenarnya bukan itu yang menjadi maksudku. Aku menatap lekat kedua manik coklat milik mas Langit. Aku belai wajah suamiku dengan lembut masih sambil menatap matanya. Perlahan tanganku mulai turun ke bawah. Menyusuri dada bidang mas Langit yang masih tertutup oleh kaos ketatnya. Jemariku membelai dadanya dengan lembut.


Kemudian turun lagi, hingga sapuan tanganku terhenti pada sesuatu yang sudah menegang dan berdiri dengan tegak. Tanganku menyentuh sesuatu itu. Dengan pelan aku memberikan sedikit remasan di sana. Kulihat mas Langit mulai memejamkan mata, seperti menikmati apa yang aku lakukan.


"Hhmmmpphhh .... Sayang ... Bukankah tadi kamu mengatakan 'jangan'?"


Aku menyeringai. Aku semakin menempelkan tubuhku ke tubuh mas Langit. Aku bisikkan sesuatu di telinganya. "Jangan berhenti Mas!"


Rona bahagia kembali merekah di wajah suamiku. Ia tersenyum sembari mengeringkan mata.


"Kamu nakal ya?"


Mas Langit mendekatkan wajahnya ke bibirku. Ia memulai aksinya ******* bibirku yang tipis itu. Tangannya perlahan bergerak melepas tali pengait lingerie yang aku kenakan. Hingga kini bagian bahu dan dadaku terekspos. Meski baru setengah yang terbuka, ia kembali memainkan jemarinya di dadaku.


Sentuhan demi sentuhan mas Langit nyatanya membuat tubuhku dipenuhi oleh senyar aneh yang sudah lama tidak aku rasakan. Seketika aku menarik tengkuk mas Langit seakan menginginkan sesuatu yang lebih dari ini.


Mas Langit m e l u m a t bibirku dengan rakus seolah tidak ingin satu kenikmatan yang ada di dalam sana terlewat begitu saja. Tangan mas Langit menuntun tanganku untuk membuka kaos yang dikenakannya. Dan kini kulihat mas Langit ber t e l a n j a n g dada di hadapanku.

__ADS_1


Aku sedikit terperangah melihat bentuk tubuh suamiku. Sebentuk dada bidang dan bentuk perut yang kotak-kotak layaknya roti sobek merk sari roti, yang semakin membuatku berdecak kagum.


Mas Langit menyeringai ketika melihat ekspresi wajahku. Tangannya kembali menuntun tanganku untuk memegang dadanya. "Ini semua sudah menjadi milikmu, kapanpun kamu bisa menikmatinya, Sayang."


Aaahhh... Aku lagi-lagi hanya tertunduk malu. Sungguh bentuk badan mas Langit terlihat begitu menggoda. Tanpa aba-aba, mas Langit membopong tubuhku ala bridal style. Aku mengalungkan tanganku di lehernya. Ia langkahkan kakinya menuju ranjang masih dengan m e l u m a t bibirku. Setelahnya ia hempaskan tubuhku di atas ranjang.


Mas Langit mulai membuka lingerie yang masih membalut tubuhku. Ia melemparkannya ke sembarang arah, dan seketika hanya menyisakan sebuah bra warna merah yang terlihat begitu menggoda. Tanpa membuang banyak waktu mas Langit mulai menyesap sari-sari yang ada di dalam dadaku yang membuatku mendesah nikmat.


"Aaaaahhhhhhh, Mas Langit...."


Nyatanya lenguhan-lenguhan yang keluar dari bibirku seperti membuatnya semakin terbakar oleh gairah. Padahal ia baru bermain di dadaku.


"Yaa... Sayang.."


"Mas..."


Gila, ini sungguh gila. Aku seperti sudah tidak sabar untuk segera menyatukan tubuhku dengan tubuh mas Langit. Permainan mas Langit benar-benar memabukkanku.


Mas Langit menghentikan sapuan bibirnya di dadaku. Ia kembali menatap lekat wajahku dengan teduh.


"Kamu tadi mengatakan jangan berhenti, bukan?"


Aku mengangguk pelan. Mas Langit tersenyum dengan seringai nakal.


"Aku tidak akan berhenti sampai kamu mengatakan berhenti, istriku. Bolehkah aku melakukannya sekarang?"


Aku hanya mengangguk malu-malu. "Lakukanlah Mas. Ini semua sudah menjadi milikmu."


Seketika mas Langit m e n a n g g a l k a n celananya. Aku melihat miliknya sedari tadi memberontak untuk segera masuk ke dalam sangkarnya. Ia berada tepat di atasku. Menatap wajahku dengan sorot mata penuh damba yang membuat hatiku menghangat seketika.


Napas kami sama-sama memburu. Detak jantung kami saling berpacu tiada terkendali. Kurasakan, milik mas Langit sudah mengenai sesuatu yang berada di s e l a p a h a yang membuat mataku terpejam merasakan begitu nikmatnya perbuatan suamiku ini.


Kami hanyut dalam lautan hasrat yang menggelora diiringi dengan deru napas yang menggebu layaknya ombak pantai yang bergulung-gulung di samudera. Dan malam ini adalah malam panjangku bersama suamiku untuk menyatukan raga kami yang sempat tertunda siang hari tadi.


.


.


. T A M A T


Tapi


Bohong.... 😂😂😂😂😂

__ADS_1


Yuk, yuk, yuk, mampir ke tulisanku yang satunya kak... berikan like, komentar, rate bintang 5, dan subscribe. Ramaikan ya Kak, biar gak sepi kayak kuburan 🤣🤣 Terima kasih 😘😘


__ADS_2