
Senyum merekah di bibir Mega kala mendengar kata-kata gombal yang diucapkan oleh Awan. Semburat warna merah jambu menghias pipi wanita berusia dua puluh enam tahun itu. Ia tersipu malu namun tak dapat diingkari jika apa yang diucapkan oleh Awan membuat hatinya berbunga-bunga.
"Jodoh dari mana Mas? Bukankah kamu sudah memiliki jodoh?" tanya Mega dengan senyum manja.
"Apakah kamu lupa jika seorang laki-laki itu boleh memiliki dua, tiga, atau empat orang istri, asal dia bisa berlaku adil?" tanya Awan balik.
Mega terkekeh pelan. "Jadi maksudmu, kamu ingin menjadikanku yang ke dua?"
Awan tersenyum kecil. Ia buang sisa rokok yang masih ada di tangan. Ia rapatkan tubuhnya di tubuh Mega. Ia raih telapak tangan wanita itu untuk kemudian ia kecup intens buku-buku jemarinya.
"Entah ke dua atau ke berapa, yang pasti saat ini kehadiranmu bisa mengalihkan pandangan dan perhatianku dari istriku, Meg. Aku sungguh ingin memilikimu, seutuhnya. Kehadiranmu seperti membuatku merasakan jatuh cinta untuk ke dua kalinya."
"Jadi, maksud ucapanmu?" tanya Mega pura-pura tidak paham.
Awan mengusap pipi Mega dengan lembut. Setelahnya, ia dekatkan bibirnya ke bibir merah wanita ini untuk kemudian ia kecup. Sejenak, mereka larut dalam ciuman itu. Hingga pada akhirnya Awan mengakhiri pagutan bibirnya.
"Aku ingin memilikimu seutuhnya Meg. Memiliki cintamu dan juga ragamu!"
Mega tersenyum penuh arti. Tangannya terulur menyentuh dada Awan dan perlahan turun hingga menyentuh milik Awan yang ada di sela pahanya. Dengan lembut, ia mengusap milik lelaki ini.
"Kamu boleh memilikiku seutuhnya Mas, namun dengan satu syarat."
Tubuh Awan sedikit menegang kala mendapatkan rangsangan dari Mega. Bahkan lelaki itu sampai memejamkan mata kala merasakan sentuhan nakal dari wanitanya ini.
"Katakan, syarat apa yang harus aku penuhi, Meg? Aku pasti akan memenuhinya," ujar Awan dengan tak kalah nakal. Tangannya pun terdorong untuk memegang gundukan sintal milik Mega.
"Kamu harus memenuhi semua yang aku butuhkan dan yang aku inginkan Mas. Dan .... Aku ingin kamu lebih memprioritaskan aku daripada istrimu."
Awan tersenyum tipis. "Itu hal yang mudah untukku, Meg!"
Kedua manusia itu semakin larut dalam keintiman yang ada. Keduanya kembali berciuman mesra dengan tangan yang sudah mulai menggerayangi di bagian sensitif masing-masing. Sampai-sampai terdengar suara desa*han lolos dari bibir Mega kala merasakan tubuhnya yang telah panas dibakar oleh hasrat.
Mega mengakhiri pagutan bibirnya. Ia tersenyum lebar seraya mengusap sisa-sisa cairan saliva milik Awan di bibirnya.
"Jangan di sini. Kapan-kapan bisa kita lanjutkan di tempat yang jauh lebih nyaman Mas," tutur Mega dengan kerlingan mata.
__ADS_1
Awan juga ikut tergelak. Bisa-bisanya ia lupa jika saat ini mereka ada di tempat umum. Meskipun suasana di tempat ini sedang sepi, namun akan menjadi masalah jika tiba-tiba ada orang lain yang memergokinya.
"Baiklah. Aku pasti akan menagih janjimu ini Meg. Karena kamu sudah membuatku terangsang."
Mega mengecup pipi Awan sejenak. Ia pun menepuk-nepuk pundak Awan sebagai isyarat bahwa semua bisa di atur.
"Sekarang kembalilah ke tempatmu Mas. Aku yakin anak dan istrimu sudah menunggu."
"Kamu tahu jika aku kemari dengan anak dan istriku?" tanya Awan dengan kenyitan di dahi. Tangan lelaki itu bahkan tidak lepas dari pinggang Mega. Tangannya melingkar di sana. Seakan melabeli tubuh Mega bahwa saat ini ia menjadi miliknya.
"Hahahaha ... Aku tentu tahu Mas." Mega merenggangkan sedikit posisinya dan kini tubuhnya terlepas dari rengkuhan tangan Awan. "Daripada istrimu curiga, lebih baik kamu segera kembali Mas."
Awan menganggukkan kepala. Kali ini ia sependapat dengan apa yang diucapkan oleh Mega. Ia baru saja akan berselingkuh, tidak lucu bukan jika baru langkah awal tapi sudah ketahuan?
"Baiklah Meg. Ingat, mulai malam ini kamu adalah milikku. Jaga sikapmu. Jangan sekali-kali kamu berdekatan dengan lelaki lain di luar sana."
"Jika aku yang selalu menjadi prioritasmu, aku pastikan aku akan menjaga sikapku Mas."
***
"Dari mana saja Mas? Kok lama sekali?"
Kembali ke tempat di mana keluarganya berada, Awan sudah disambut oleh pertanyaan Cahya. Dari pertanyaan istrinya ini seakan terselip satu kecurigaan karena lelaki ini terlalu lama berada di kamar mandi.
"Maaf ya Ay. Tanpa sengaja aku bertemu dengan salah satu rekan bisnisku selepas dari kamar mandi. Dan kami sempatkan untuk mengobrol sejenak."
Cahya mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. "Memang di mana rekan bisnismu Mas? Mengapa tidak minta untuk bergabung dengan kita saja?"
Awan sedikit tergagap mendengar pertanyaan istrinya ini. Lelaki itu berpikir keras untuk bisa menemukan jawaban yang masuk akal.
"Oh itu dia tadi langsung pulang Ay. Ternyata acara makan malamnya di sini sudah selesai."
Cahya memindai ekspresi wajah Awan yang nampak sedikit berbeda. Ia seperti menangkap gelagat mencurigakan dari wajah suaminya ini.
"Benar seperti itu Mas? Kamu tidak bohong kan?"
"Sumpah Ay. Mana mungkin aku berbohong." Sekuat yang ia mampu, Awan mencoba menyembunyikan kebohongannya. "Oh iya Sayang, setelah ini bagaimana kalau kita mampir di toko boneka terlebih dahulu?"
__ADS_1
Mencoba mengalihkan pembicaraan, Awan memberikan usulan yang cukup menggiurkan di depan kedua putrinya. Ia yakin dengan cara seperti ini Cahya tidak akan lagi bertanya perihal rekan bisnisnya.
"Ke toko boneka? Mau beli kuda poni ya Yah?" tanya Malika dengan binar yang mulai terpancar di wajahnya.
"Tentu Sayang. Mau boneka kuda poni, atau yang lainnya boleh kakak dan adek beli. Ini semua untuk menunaikan janji Ayah beberapa hari yang lalu yang belum sempat Ayah tepati."
"Mau Yah, mau Yah .... Hore!!!" teriak Malika kegirangan. Gadis kecil itu terlihat jauh lebih ekspresif daripada kakaknya yang sejak berangkat tadi hanya lebih sering berdiam diri.
"Kakak bagaimana? Apa Kakak senang mau beli boneka?" tanya Awan yang masih sedikit mengganjal dengan sikap putri bungsunya ini.
"Iya Yah, Alina senang," jawab gadis kecil itu dengan datar.
***
Pukul sebelas malam, Awan masih sibuk dengan ponsel di tangannya. Lelaki itu menyenderkan punggungnya di head board ranjang sembari sibuk berkirim pesan dengan Mega. Terkadang ia terlihat senyum-senyum sendiri kala memandang layar ponselnya. Persis anak-anak remaja yang tengah kasmaran.
Cahya masuk ke dalam kamar setelah menemani kedua putrinya tidur. Wanita itu tersenyum simpul melihat sang suami yang sudah menunggunya di ranjang. Ia rasa, malam ini adalah waktu yang tepat untuk memperlihatkan lingerie yang baru saja ia beli di hadapan Awan. Ia akan mengenakan lingerie itu malam ini.
Sejenak, Cahya masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaian yang ia kenakan dengan lingerie baru miliknya. Tak memerlukan waktu yang lama, wanita itu kembali di hadapan Awan.
"Mas, masih sibuk?" tanya Cahya sembari ikut naik ke atas ranjang. Ia membaringkan tubuhnya di samping tubuh Awan dan meletakkan kepalanya di dada suaminya ini.
Awan gegas meletakkan ponselnya di atas nakas agar tidak ketahuan. Lelaki itu hanya menganggukkan kepala seraya tersenyum simpul.
"Sedikit sih Ay. Tapi semua sudah selesai kok."
Cahya menyunggingkan senyum. Ia belai dada milik suaminya ini. "Mas, sudah lama kita tidak bercinta. Apa kamu tidak merindukan kemesraan kita?"
"Jelas aku merindukanmu Ay." Awan menggeser tubuhnya. Kini posisi lelaki itu berada di atas tubuh Cahya. Ia tatap intens wajah sang istri yang berada di bawah kungkungannya itu.
Sebenarnya aku tidak terlalu berhasrat dengan Cahya. Tapi sudahlah, aku harus berpura-pura agar Cahya tidak curiga.
"Benarkah seperti itu Mas?" tanya Cahya dengan tersipu malu.
Awan menganggukkan kepala. Tanpa banyak kata dan ingin segera mengakhiri sandiwaranya ini, Awan mulai mencumbu tubuh sang istri. Meskipun saat ini ia bermain dengan istri sahnya namun fantasi liar lelaki itu tetap tertuju pada foto tubuh Mega yang sempat dikirim ke ponselnya beberapa menit yang lalu.
.
__ADS_1
.
.